“Kamu yakin kita tidak gegabah?” bisik Indri pelan saat mereka duduk di sudut perpustakaan sekolah yang sepi. Nindya menutup map cokelat di pangkuannya dan menatap sahabatnya itu dengan tenang. “Justru karena ini bahaya, kita tidak boleh terburu-buru.” Sudah tiga hari sejak mereka mendatangi bengkel lama dekat jembatan. Sejak mendengar cerita tentang perempuan yang datang dua hari sebelum kecelakaan, pikiran Nindya tidak pernah benar-benar tenang. Ia tidak mencari bukti besar. Ia mencari celah. Retakan kecil yang selama ini luput dari perhatian. Dan pagi itu, retakan itu mulai terlihat. “Aku minta izin kepala sekolah SMA Harapan Bangsa untuk pinjam ruang arsip lama,” lanjut Nindya lirih. “Katanya ada beberapa dokumen kegiatan sekolah lima tahun lalu yang belum sempat dipindahkan.” Indr

