Konfrontasi Terselubung

1169 Words

“Nindya?” Ia berjalan perlahan menuju pintu depan, jantungnya masih berdegup cepat. Tangannya sempat menyentuh dinding untuk menenangkan diri sebelum membuka pintu kamar. Arman berdiri di depan pintu dengan wajah sedikit kesal. “Aku sudah panggil kamu berkali-kali. Kamu dari mana saja?” Dalam hati, Nindya mengembuskan napas lega. Berarti benar, suara yang memanggil namanya tadi memang suara Arman. “Aku di kamar. Suara kamu gak kedengeran,” jawabnya tenang. Arman menatapnya beberapa detik lebih lama. “Kamu kelihatan tegang.” “Aku cuma capek,” sahut Nindya singkat. “Ngajar anak kelas dua itu lebih melelahkan dari rapat direksi.” Arman mendengus pelan, tapi sudut bibirnya sempat terangkat. Ketegangan di pundak Nindya sedikit mengendur. Namun pikirannya tetap siaga. Video itu. Telepon a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD