Arman yang baru saja naik ke lantai atas mendapati pintu kamar Nindya sedikit terbuka. Ia tidak berniat menguping, tetapi langkahnya terhenti saat melihat istrinya berdiri di depan jendela. Nindya tersenyum sendiri sambil sedikit membuka tirai, menatap ke arah halaman depan. Arman mengerutkan kening. Senyum itu bukan senyum biasa. Ada sesuatu di sana, seperti kemenangan kecil yang dirahasiakan. “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” Suara Arman membuat Nindya sedikit terkejut. Ia segera menutup tirai dan menoleh. “Gak ada apa-apa, pengen aja senyum.” jawabnya ringan. “Aku kirain kamu udah tidur,” jawab Arman sambil bersandar di kusen pintu. “Lagi lihat apa?” “Mobil Ratna masih di depan,” jawab Nindya santai. “Ternyata dia belum pulang.” Arman memperhatikannya lebih saksama. “Kamu keli

