Api yang Mulai Menyala

1156 Words

“Kenapa kamu belum berangkat?” Nindya berhenti di anak tangga terakhir ketika melihat Arman sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi di tangannya. Biasanya pria itu sudah berangkat lebih dulu sebelum ia sempat turun. “Aku tunggu kamu. Mau sarapan bareng,” jawab Arman singkat. Nindya mengangkat alis sedikit. “Sejak kapan?” Arman tidak langsung menjawab. Ia hanya mendorong piring roti ke arah Nindya. “Makan dulu.” Nindya duduk perlahan. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi sorot matanya mengamati Arman dengan tenang. Perubahan kecil itu tidak mungkin luput dari perhatiannya. “Sekolah selesai jam berapa hari ini?” tanya Arman setelah beberapa saat. “Seperti biasa. Jam tiga,” jawab Nindya. “Aku jemput.” Nindya menatapnya. “Aku bisa pulang sendiri.” “Aku tetap jemput.” Nada s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD