“Saat mencium seseorang, semuanya menjadi senyap, dan waktu akan terasa berhenti.”
***
Tidak ada yang lebih lucu di dunia ini, ketimbang kelakuan Venus saat tidur di sembarang tempat. Jayu sudah memutuskan, mulai saat ini, gelar makhluk ter-absurd sejagat akan dia berikan pada gadis itu. Sebelumnya Jayu berpikir, bahwa perempuan adalah makhluk lemah lembut yang akan selalu bersikap anggun. Dia tidak pernah menyangka, takdir akan membawanya pada seorang gadis dengan tingkat keanehan yang haqiqi. Aneh, tapi sayangnya Jayu cinta. Jadi, hal-hal terkait ketidakwarasan yang sudah melekat sempurna pada seorang Venus, tetap terlihat menawan baginya.
Lihat saja sekarang, ketika gadis itu sedang tertidur sambil duduk di sofa ruang tamu dengan mulut melongo, laptop di pangkuan, kaki di atas meja, yang ternyata menggunakan kaos kaki beda motif dan warna, juga buku-buku dan kertas yang berantakan di dekatnya, sama sekali tidak membuatnya ilfeel. Bagi Jayu, Venus tetap terlihat cantik. Dia perempuan tercantik ke dua di dunia ini setelah ibunya. Dan ya, pria itu semakin yakin kalau kadar kewarasannya semakin limit sejak jatuh cinta pada gadis itu.
Jayu tersenyum lembut dan singkat. Dia meletakkan nampan yang berisi sandwich dan segelas s**u, lalu memindahkan laptop di pangkuan Venus dengan sangat hati-hati. Pria itu melepas kaca mata yang digunakan Venus, dengan gerakan yang sangat perlahan, tapi sayangnya hal itu tetap membuat Venus terbangun.
“Kapten,” lirih Venus dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu.”
Jayu menjauhkan diri, dia meletakkan kaca mata Venus di dekat laptop.
“Lagi pula, aku memang harus bangun.” Venus merenggangkan otot-otot sambil menguap. “Bagaimana lukamu, apa sudah baikan?” lanjut gadis itu, dia meraih kembali laptop putih kesayangannya.
“Aku punya istri yang sangat perhatian, jadi luka apa pun pasti minder kalau mau mendekatiku. Bahkan ....”
Jayu hendak mengambil kembali laptop Venus, tapi gadis itu menahannya.
“Sama-sama.”
Venus memotong ucapan suaminya. Kalimat Jayu barusan jelas sedang menyindir, tapi dia tak mau ambil pusing. Masih banyak yang harus dilakukan.
“Aku memang terlahir dengan hati ibu peri, jadi kamu tidak perlu sungkan begitu hanya karena aku terjaga semalaman di dekatmu.”
“Jadi kamu benar-benar tidak tidur semalam?” Venus mengangguk.
“Karena menjagaku?”
“Tentu saja. Aku menjagamu sambil mengetik, mataku benar-benar lelah. Karena itu sekarang aku ketiduran.”
Jayu sudah menduga, mana mungkin seorang Venus mengabaikan tulisan demi dirinya. Sepertinya benar kata orang, Venus adalah seorang penulis yang menikahi naskahnya sendiri.
“Kamu itu ...”
Jayu hendak mengumpat tapi urung, dia hanya mengembuskan napas kasar. Percuma saja berbicara dengan makhluk tidak peka seperti Venus. Dari pada meladeni kata-katanya, Jayu lebih memilih jongkok di depan Venus, mengambil piring sandwich dan memotong roti buatannya.
“Buka mulutmu,” perintah Jayu sambil menyodorkan garpu berisi potongan sandwich.
Venus berhenti sebentar, dia menatap Jayu sedikit bingung. Namun pada akhirnya, dia membuka mulut dan menerima suapan dari suaminya.
“Kenapa kamu selalu menyiksa diri sendiri saat menulis? Lihat keadaanmu, kantung matamu terlihat hitam, dan penampilanmu selalu berantakan. Aku bahkan tidak yakin apa kamu sudah mencuci rambutmu dalam seminggu ini.”
Venus berhenti mengunyah. Dia menyentuh rambutnya yang terhijab pashmina. Sepertinya memang benar, bahkan mungkin sudah hampir dua minggu Venus tidak mencuci rambutnya yang selalu terhijab kerudung. Ya, sampai saat ini, meski di rumah itu hanya ada Jayu, suaminya, tapi rasanya masih enggan melepaskan hijab di dalam rumah. Bahkan saat tidur. Sebagian hati Venus masih menganggap Jayu seperti orang asing yang tidak berhak melihat auratnya.
“Aku ....”
Kalimat Venus terhenti karena Jayu kembali menyuapinya.
***
“Awalnya aku juga berpikir seperti itu.” Venus meletakkan laptopnya, “Aku menghukum diri sendiri dengan menulis. Apa yang terjadi di masa lalu, membuatku tidak punya keinginan untuk melanjutkan hidup, tapi aku juga tidak bisa memilih mati hanya karena orang-orang yang kucintai sudah pergi.”
Venus tersenyum sekilas, tarikan bibir yang sangat sederhana dan begitu singkat, Jayu saja tidak yakin kalau dirinya baru saja melihat Venus tersenyum.
“Menulis adalah caraku untuk tetap hidup di dalam kematian. Caraku untuk menciptakan dunia baru, dan caraku melupakan masa lalu. Tulisan yang kubuat, seperti sebuah gerbang yang bisa membawaku pada masa lalu, dan memperbaiki semua kesalahanku, meski semua itu hanya ada di dalam tulisan. Namun, semakin lama aku semakin mengerti, bahwa ternyata bukan itu alasanku menulis. Aku melakukannya karena aku mencintai menulis.”
“Benarkah?”
“Hmmm ....” Venus mengangguk, matanya menyipit ketika bibirnya menampilkan senyuman sederhana.
“Lalu kapan kamu akan mulai mencintaiku?”
Pertanyaan Jayu membuat Venus bergeming. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan, yang dia sendiri tidak pernah tahu jawabannya.
“Aku selalu menahan diri dan menunggumu untuk melihatku sebagai seorang suami,” lanjut Jayu sambil menyodorkan segelas s**u di depan mulut Venus, “tapi sepertinya kamu tidak pernah menganggap pernikahan kita sebagai pernikahan. Apa bagimu, aku hanya seperti kapas ajaib yang selalu kamu bicarakan?”
“Kapten, aku ....”
“Aku selalu berusaha menahan diri, dengan harapan suatu saat kamu akan membalas perasaanku. Bahwa suatu saat kamu akan melupakan Gus Ayasmu, dan aku bisa menempati hatimu.” Jayu berhenti sebentar, sekarang dia menatap Venus lebih intens.
“Katakan, kapan kamu berencana mulai menyukaiku?”
“Berhenti berakting. Aku tidak suka kamu berkata seperti itu.”
“Lalu apa yang harus kukatakan, agar orang yang aku sukai bisa melihat perasaanku?”
Venus memandang wajah lesu Jayu, dia bisa melihat dirinya di dalam mata bening pria itu. “Apa kamu benar-benar menyukaiku?”
Jayu tidak menjawab, dia hanya mendekatkan diri, kemudian menempelkan bibirnya tepat di atas bibir Venus.
‘Saat mencium seseorang, semuanya menjadi senyap dan waktu akan terasa lama’
Venus teringat kata-kata yang pernah didengarnya dalam drama korea. Sebelumnya dia berpikir, bahwa kalimat-kalimat semacam itu hanya diksi kopong yang digunakan para penulis untuk mempermainkan perasaan pembacanya. Ternyata benar, saat bibir mereka saling bersentuhan, meski Jayu hanya menempelkannya, tapi waktu seolah telah berhenti begitu lama. Semuanya terasa senyap, kecuali irama detak jantungnya sendiri yang terdengar seperti alunan musik. Mungkinkah, di sudut hatinya yang paling tersembunyi, sebenarnya Venus juga menyukai Jayu sebagai seorang laki-laki?
“Meskipun kamu bertanya seribu kali, jawabanku akan tetap sama. Aku mencintaimu.”
“Tapi kenapa? Bagaimana bisa kamu me—menyukaiku?”
Mata Venus bergerak-gerak ingin tahu. Dia merasa berhasil karena mampu mengucapkan kalimatnya tanpa gemetar, setelah apa yang dilakukan Jayu barusan.
Seberkas cahaya yang menerobos masuk, menyihir ruangan itu menjadi mengerikan. Setidaknya menurut Venus, karena saat dia mendarat di kulit wajah Jayu, pria itu terlihat seperti malaikat yang diliputi cahaya.
“Boskuuuh, astaga! Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sudah sembuh. Kemarilah, biar kulihat lukamu.”
Satria tiba-tiba datang. Dia heboh sendiri memeriksa seluruh tubuh Jayu. Pria kemayu dengan scraft bunga-bunga yang melilit leher itu, memaksa Jayu berdiri, lalu memutarinya. Memastikan, apakah ada luka selain yang diperban di kepala bosnya.
“Ya ampun, sikumu juga lecet. Apa kamu bisa tidur nyenyak semalam?”
Jayu hendak berbicara, tapi Satria malah memasang ekspresi kaget sambil menutup mulut.
“Boskuuh, kamu tidak lupa ingatan, kan? Kamu masih ingat sama aku, kan, Boskuuuh?”
“Kamu siapa?” Jayu mengerutkan kening dan memasang wajah sok polos.
“Astagah ... Boskuuuh. Aku Sasa, ya ampun, apa kamu benar-benar kehilangan ingatan?”
Satria mengibas-ngibaskan tangan, lalu mengambil s**u di atas meja dan menghabiskannya dalam sekali tenggak. Venus yang melihatnya langsung melotot, dia kesulitan menelan ludah karena kelakuan Satria.
“Selain istriku, aku tidak ingat pernah mengenal orang lain,” jawab Jayu sok dramatis.
Saat mengucapkan kata ‘istriku’ dia melirik ke arah Venus dan pandangannya bertemu dengan mata gadis itu, membuat Venus jadi salah tingkah.
“Ya ampun, Kakak Ve, bagaimana ini? Apa dia benar-benar tidak bisa mengingatku?”
Satria semakin heboh karena Venus hanya menjawab dengan endikan bahu.
“Boskuuuh, bagaimana bisa kamu hanya mengingatnya? Akulah yang selama ini seperti istrimu. Aku menyiapkan pakaian untukmu, membersihkan rumah, bahkan aku juga yang selalu menemanimu setiap waktu sebelum kamu menikahinya. Bagaimana mungkin kamu tidak mengingatku?”
“Mana mungkin kamu seperti istriku.”
Jayu menempelkan jari telunjuk di kening Satria, lalu mendorongnya. Seperti itu yang selalu dia lakukan setiap kali Satria sedang kelabakan karena ulahnya.
“Aish! Tega-teganya kamu membohongiku.” Satria mengusap keningnya dengan gerakan melambai.
“Kenapa di dunia ini harus ada spesies seperti dirimu?”
“Yak! Apa maksudmu, Boskuuuh? Aku ini ....”
“Lanjutkan debat kalian. Aku akan membuka pintu, sepertinya ada tamu.”
Venus beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu ketika mendengar bel rumahnya berbunyi.
“Jangan sembarangan menerima tamu!” teriak Jayu lantang.
Khawatir Venus akan membuka pintunya begitu saja, dia memutuskan untuk mengikuti gadis itu.
Jayu menekan tombol kecil di layar intercom.
“Ve, ini aku.”
Di luar, Tisna melambaikan tangannya. Tanpa pikir panjang, Venus segera membuka pintu.
“Kenapa dia datang kemari?” gumam Jayu lirih.
Pria itu menyedekapkan tangan, terlihat kurang suka dengan kedatangan Tisna yang ternyata bersama Arjuna.
Venus menyikut perut Jayu, membuatnya mengaduh kesakitan.
“Jaga ucapanmu, Tisna itu sahabatku,” bisik Venus lirih penuh penekanan.
“Bukan dia, tapi dia.”
Jayu malah sengaja mengatakannya dengan cukup keras. Kentara sekali kalau dia tidak suka dengan kedatangan Arjuna. Sikut Venus kembali menyapa perutnya dengan kasar, dan membuat Jayu kembali mengaduh sambil meringis kesakitan.
“Aku datang kemari untuk melihat keadaanmu, juga, ada yang perlu kubicarakan dengan Venus,” Arjuna bersuara. Meski tidak enak hati karena sikap Jayu yang kurang menyambutnya, tapi dia tetap terlihat tenang.
“Benar, aku yang mengajaknya.”
“Tisna, aku tidak pernah melarangmu untuk menemui sahabatmu. Tapi lain kali, sebaiknya kamu tidak perlu mengajak orang asing.”
“Siapa yang datang?”
“Sasaaa.”
Tisna segera berlari kecil begitu melihat Satria keluar. Dia meraih kedua tangan Satria, mereka jingkrak-jingkrak bersama seperti anak kecil, lalu saling memeluk seolah sudah sangat lama keduanya tidak bertemu.
“Hallo ... Si Imut, ya ampun, bagaimana bisa kamu semakin imut setiap harinya?” Satria mencubit pipi Tisna gemas.
“Sekali lagi aku melihat kalian seperti itu, aku tidak akan segan-segan untuk menikahkan kalian.” Venus mengingatkan, membuat keduanya saling menjauh.
“Ya ampun, lihat siapa yang datang kemari. Arjuna.”
“Satria!”
Venus dan Tisna mengucapkan kalimat itu bersamaan, ketika Satria hendak memeluk Arjuna. Mereka teringat dengan perkataan Satria saat di rumah Tisna kemarin.
Satria tertawa kecil sok malu-malu, kemudian dia menowel bahu Arjuna. “Hallo, Ganteng!”
***
“Kalau boleh tahu, bagaimana kamu bisa kecelakaan?” tanya Arjuna ketika mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Ada kupu-kupu terbang, dia hampir menabrak mobil, lalu aku menyelamatkannya. Aksi penyelamatan yang heroik, kan?”
Arjuna tersenyum mendengar jawaban Jayu. Entah kenapa dia bersikap seperti itu. Apakah karena Jayu membencinya, atau karena dia cemburu padanya? Semua orang tahu, satu-satunya penulis di Indonesia yang masuk daftar penulis favorit Venus hanyalah Arjuna. Sepertinya hal itu memicu ketidaksukaan Jayu terhadap dirinya.
“Bersikaplah lebih sopan pada orang lain. Kenapa kamu seperti anak kecil?” Venus datang dengan minuman dan beberapa camilan.
“Lagi pula, aku juga ingin tahu. Bagaimana bisa kamu mengalami kecelakaan di depan studio? Setahuku, jalanan di sana tidak terlalu rame, kan?” lanjut Venus sambil menurunkan isi nampan.
“Benar, Boskuuuh. Aku juga perlu tahu.”
“Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepertinya orang itu tidak sengaja.”
“Tidak sengaja? Rasanya tidak mungkin. Kalau tidak sengaja, setidaknya dia pasti akan minta maaf.” Arjuna terlihat berpikir.
“Apa pedulimu?” Jayu masih saja bersikap ketus.
“Kapten.” Venus memperingatkan. Lagi.
“Ya, baiklah. Dia penulis favoritmu, dan suamimu harus menjaga sikap di depan idola istrinya.”
Arjuna tertawa kecil melihat tingkah Jayu yang benar-benar seperti anak kecil.
“Boskuuuh, apa Boskuuh bisa mengingat sesuatu, seperti pelat motornya, atau mungkin seperti apa ciri-ciri orangnya?”
“Dia memakai helm tertutup, jadi aku tidak melihat wajahnya.” Jayu menyandarkan punggung, Venus yang duduk di sebelahnya terlihat ikut berpikir. “Tapi aku mengingat pelat motornya.
Dia sempat berhenti sebentar, sesaat sebelum aku kehilangan kesadaran.”
“Bagus! Berapa nomor pelatnya.”
Satria terlihat antusias, tiba-tiba dia teringat pertengkarannya dengan dua orang di parkiran apartemen beberapa hari lalu. Dia mengenali salah satu dari mereka sebagai anak buah Raka. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan mereka? Mungkin mereka telah menyelidiki tentang dirinya dan Jayu, kemudian berusaha mencelakai Jayu untuk memperingatkan. ‘Dasar kutu busuk!’ Satria mengumpat dalam hati, tangannya mengepal kuat-kuat.
“Sepertinya aku tahu siapa dalangnya.”
Satria segera berdiri. Satu-satunya tempat yang ingin dia tuju saat ini adalah markas Raka. Dia perlu memberi pelajaran pada orang itu karena sudah berani mencelakai Jayu.
“Aku harus pergi sekarang,” pamitnya pada yang lain.
“Mau ke mana?” Tisna bertanya tapi tidak mendapatkan jawaban. Satria tidak mengindahkannya sama sekali, dia hanya berlalu pergi setelah berpamitan.
“Ada apa dengan anak itu?”
Jayu memiringkan kepala beberapa derajat, berharap volume otaknya yang tinggal beberapa gram, bisa digunakan untuk berpikir. Namun seaneh apa pun sikap Satria barusan, dia tidak bisa menemukan jawaban, kenapa dia bersikap seperti itu. Dan, nada bicaranya tadi tidak seperti Satria biasanya. Terdengar lebih laki-laki, dan terkesan dingin.
“Setan apa yang merasukinya barusan? Kenapa tiba-tiba dia seperti itu?”
“Benar, tidak ada hantu di sini. Kenapa dia seperti orang kesurupan?”
Venus juga ikut meratapi kepergian Satria. Dia mengabsen sekitar, tidak ada makhluk aneh di sana kecuali Alana yang sedari tadi berdiri di dekat Arjuna, dan hal itu membuatnya bertanya-tanya tentang Satria. Apa mungkin, anak itu merahasiakan sesuatu dari mereka?
“Oiya, Kak. Tadi Kak Juna bilang mau bicara denganku. Ada apa?” Venus kembali pada tamunya. Dia membuka suara setelah Satria keluar.
“Tidak. Aku hanya ingin minta maaf secara pribadi padamu, karena aku mengundurkan diri dari project MSN.”
“Apa? Kenapa kamu ... Eum, maksudku, kenapa Kak Juna mengundurkan diri?” Itu Tisna yang menyahut.
Dia tahu persis, salah satu alasan Venus mau novelnya difilmkan, adalah karena Arjuna yang akan mengadaptasi novelnya ke bentuk skenario. Kalau dia mengundurkan diri, bagaimana dengan Venus?
“Aku minta maaf, tapi aku bukan hanya mengundurkan diri dari project itu. Aku juga mundur dari BSP.”
“Tidak masalah.” Walau sedikit kecewa, tapi Venus berusaha tetap terlihat baik-baik saja. “Aku memahami satu hal di dalam hidup. Bahwa setiap orang, pasti punya alasan untuk melakukan sesuatu. Entah dia mengatakannya atau tidak, tapi orang lain yang tidak tahu apa-apa, tidak berhak menghakimi mereka dengan pertanyaan bertubi-tubi.”
“Bagus. Kamu selalu berada di pihaknya. Kalian benar-benar serasi,” cibir Jayu dengan wajah sinis.
“Kapten.” Lagi-lagi Venus yang harus memperingatkan Jayu agar menjaga sikap.
“Sebenarnya, aku juga mau minta maaf sama Kak Juna.”
“Untuk?”
“Alana.”
Jawaban Venus membuat Arjuna memasang wajah datar. Dia tidak peduli dengan gadis itu, tapi dia perlu tahu kenapa Venus meminta maaf padanya.
“Alana?”
“Iya. Sebelumnya, aku tidak akan memaksamu untuk percaya, tapi aku tetap akan memberitahumu.”
“Ada apa? Apa dia membuat kesalahan padamu di masa hidupnya?”
“Bukan. Sama sekali tidak. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya saat dia masih hidup.”
“Lalu kenapa kamu minta maaf?”
“Karena aku tidak bisa mengungkap kebenaran tentang kematiannya. Beberapa kali hantu Alana mendatangiku, dia menunjukkan kejadian kejadian yang dialami sebelum kecelakaan. Namun sampai saat ini, aku masih belum bisa melihat secara jelas, tentang siapa yang sudah mencelakainya.”
“Jadi, kamu bisa melihat hantu?”
Arjuna sedikit kaget dengan kenyataan itu, tapi dia tetap berusaha tenang di depan mereka.
“Bukan hanya melihat,” Tisna menjelaskan tanpa diminta. “Venus juga bisa merasakan perasaan orang lain, bahkan melihat apa-apa yang ada di pikiran mereka seperti film tiga dimensi kalau sampai dia bersentuhan dengan orang lain.”
“Pasti itu alasanmu mengasingkan diri.”
Venus hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan Arjuna. Dia merasa, pasti Arjuna juga akan menganggapnya tidak waras. Seperti kebanyakan respons orang-orang setelah mengetahui kenyataan tentang seperti apa dirinya.
***
Sebuah toko dengan nuansa klasik yang memajang barang-barang antik. Jika dilihat sekilas, tidak akan pernah ada yang menyangka, di dalamnya adalah markas para penyelundup n*****a, dan perdagangan wanita.
Di sepanjang dinding ada berbagai jenis topeng lawas, ada guci-guci tempo dulu, koper jadul, dan juga pemutar musik kuno yang dipajang di sana. Sekilas tempat itu benar-benar mirip sebuah museum atau semacam galeri benda antik.
Satria memarkirkan mobil tepat di depan toko tersebut. Dia melepaskan scarft di leher, lalu melilitkannya di telapak tangan. Sebelum keluar, pria itu menggunakan jaket kulit hitam, meraih pistol dan menyelipkannya di balik jaket.
“Di mana Raka?” bentak Satria pada salah satu penjaga yang berdiri di dekat pintu masuk.
“Raka siapa? Maaf di sini tidak ada karyawan yang namanya Raka.” Gadis dengan tatanan rambut yang dicepol ke atas itu terlihat sedikit gemetar.
“Aku tidak ingin menyakitimu, katakan saja di mana dia.”
“Tap—tapi ....”
“Simpan saja tapimu itu.”
Satria mendorong gadis itu, kemudian menerobos masuk. Untuk apa dia bertanya, kalau dia sendiri bahkan sangat hafal dengan setiap sudut tempat itu.
Menaiki tangga menuju lantai dua, Satria berteriak memanggil nama Raka seperti orang kesetanan. Di lantai dua, ada deretan kamar yang pintu-pintunya tertutup. Pria itu memeriksa satu-satu tapi yang dicari tidak ada di sana. Hanya ada orang-orang yang sedang memuaskan nafsu b***t mereka di atas ranjang. Ya, selain markas persembunyian yang berkedok toko barang antik, tempat itu juga dijadikan tempat jual-beli wanita. Sangat disayangkan, karena yang sering kali datang ke sana justru orang-orang berdasi yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat.
Merasa semuanya sia-sia, Satria kembali turun dan menuju pintu belakang. Karyawan yang ada di sana berusaha menghentikan Satria, tapi gadis itu terlalu lemah untuk bisa menghalangi amarahnya yang membara. Dia bahkan sanggup membunuh Raka, kalau sampai benar dugaannya tentang orang yang sudah mencelakai Jayu.
“Raka! Keluar kamu!”
Satria mendobrak sebuah pintu yang merupakan gerbang bawah tanah. Tempat di mana Raka menyimpan barang-barang haram, dan senjata ilegal yang diselundupkan dari luar negeri.
Di dalam ruangan yang terlihat redup, Raka sedang bersama seorang anak buahnya. Di depannya ada sebuah koper berisi benda padatan berwarna hitam. Itu adalah campuran kokain dan plastik yang dibuat mirip dengan dinding koper. Kokain yang beratnya sekitar 4,7 kilo gram itu datang dari Amerika Selatan, dan memiliki nilai lebih dari sepuluh milyar.
“Luar biasa. Ini benar-benar sempurna.” Raka mengambil padatan hitam itu, mengangkatnya ke udara, kemudian menghirup aromanya.
“Aku bisa mencium aroma milyaran uang dari sini.”
“Bos! Gawat ....”
Seorang anak buahnya yang memiliki tubuh tidak terlalu berisi, datang dengan napas terengah-engah. Dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan, sudut bibirnya terluka dan berdarah.
“Ada apa?”
“Satria, Bos. Di luar ada Satria, dia mengamuk dan menghabisi orang-orang kita. Dia terus berkata kalau Bos berusaha mencelakai Jayu, maka dia akan menghabisi kita semua.”
“Jayu?” Raka terlihat berpikir. “Siapa dia?”
“Jayu itu artis papan atas. Aku tidak tahu apa hubungannya dengan Satria, tapi sepertinya dia terlihat sangat murka karena mengira kalau Bos sudah mencelakainya.”
“Menarik. Dia datang sendiri ke tempat ini, bahkan sekarang kita tahu kelemahan terbesarnya. Kita lihat saja nanti, anak itu pasti akan kembali pada kita,” tukas Raka penuh kesombongan. Bibirnya memicing sebelah, dan sorot matanya terlihat penuh keyakinan.
“Raka! Keluar kamu, atau aku akan menghabisi semua anak buahmu!” Satria masih mengamuk, ruangan yang dipenuhi tumpukan kardus itu sudah berantakan karena ulahnya. Beberapa orang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
Dia hendak masuk ke ruangan rahasia Raka, tapi seseorang menarik pergelangan tangannya dan membungkam mulut pria itu, tepat sebelum Raka keluar.
“Diam di sini, atau Raka tidak akan membiarkanmu pergi hidup-hidup.”
Seorang wanita dengan pakaian serba hitam yang dikenalnya sejak sepuluh tahun lalu. Gadis itu masih memiliki tatapan yang sama seperti saat terakhir kali mereka bertemu. Kali ini ada kerinduan di mata itu, yang membuat Satria merasa bersalah.
“Galuh.”
“Sat, aku mohon pergi dari sini. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.”
Air mata Galuh hampir terjatuh. Ingatan tentang apa yang terjadi pada Satria waktu itu masih sangat menyiksa. Dia tidak akan sanggup kalau harus melihat orang yang dicintainya menghadapi kematian yang ke sekian kalinya di tangan Raka.
“Bukan urusanmu.”
Galuh tersenyum sinis. “Kamu masih begitu dingin dan sombong.”
Satria tidak menjawab, dia hanya membuang wajah. Pria itu benar-benar seperti manusia salju berwajah datar ketika berbicara dengan Galuh.
“Terserah apa katamu. Aku sama sekali tidak peduli, tapi mungkin kamu bisa menyampaikan pesanku untuk Raka. Katakan padanya, kalau dia berani menyentuh Jayu lagi, aku tidak akan segan untuk membuat timah panasku menerobos otaknya.”
BestRegards,
MandisParawansa