Aku memiliki sebuah buku kesayangan. Buku lama yang sudah usang, tapi selalu k****a berulang-ulang. Di sana tersimpan duniaku, dia menemaniku tertawa, menangis, dan juga selalu membuatku rindu untuk membacanya lagi dan lagi. Lalu tiba-tiba aku mendapatkan buku baru yang terlihat megah.
Dari sampulnya, aku melihat banyak warna yang membuatku seolah menemukan dunia baru. Ketika membuka halaman pertama, aku mulai tersenyum karena barisan kalimat yang ada di sana. Lalu saat membuka halaman selanjutnya, aku menemukan semakin banyak keajaiban.
Ada begitu banyak kosa kata baru yang kutemukan, dalam buku baru yang indah itu, aku mampu melihat warna dunia yang selama ini kuanggap kelam. Aku bisa bertualang dengannya, melewati lorong-lorong mimpi yang sebelumnya kuanggap mustahil. Namun saat aku kembali dan menemukan buku lama, aku mulai berpikir, jika aku menutup halaman terakhir buku itu, siapa yang akan membacanya? Aku tidak ingin mengkhianatinya, aku tidak mau meninggalkan setiap kenangan yang tertulis di dalamnya. Meski sering kali menangis setiap membaca ulang buku itu, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia akan sendirian dalam laci tua yang berdebu. Aku tidak mau hal itu terjadi.
Apa yang harus kulakukan, jika kedua buku itu begitu penting bagiku?
***
“Mereka terlihat serasi, kan?” Venus mengatakannya sambil melihat Tisna dan Arjuna yang berjalan menjauh dari halaman. Entah, sepertinya mereka sama-sama menyukai petualangan. Meski Arjuna memiliki kendaraan pribadi, tapi dia hampir selalu pergi ke mana-mana dengan kendaraan umum. Termasuk sekarang.
“Itu bagus. Setidaknya kamu akan menyadari sesuatu,” jawab Jayu masih dengan nada ketusnya.
“Menyadari apa?”
“Menyadari kalau semua orang punya pasangannya masingmasing. Arjuna dengan Tisna, dan seharusnya Venus juga hanya untuk Jayu.”
Menanggapi ucapan Jayu, Venus hanya menghadiahinya dengan sikutan di bagian perut.
“Aku suka ketika kamu menanggapi ucapanku dengan anarkisme seperti itu.” Jayu mengusap perutnya sambil menyunggingkan senyum manja. “Itu semacam sinyal, bahwa hubungan kita semakin berkembang. Bisakah aku mengambil langkah lebih dekat lagi mulai sekarang?” Jayu benar-benar mendekat. Satu langkah yang menghapuskan jarak sebuah hubungan. Berdiri pada jarak yang membedakan antara teman biasa dan teman hidup. Ujung kaki mereka saling bersentuhan, membuat Venus berusaha mencari rahasia di balik pendaran mata Jayu yang terlihat berbinar.
“Kenapa kamu selalu mengatakan omong kosong?” tanya Venus masih dengan keraguan. Dia belum bisa menyimpulkan bahwa Jayu adalah cinta.
Jayu tersenyum kecut. Ada kekecewaan di mata itu saat melihat respons Venus.
“Oke, katakanlah aku percaya bahwa kamu men—cintai—ku tapi aku butuh alasan. Bagaimana aku bisa mempercayaimu, jika saat pertama kali kita bertemu kamu bahkan selalu bersikap kasar padaku. Seseorang yang kamu anggap sebagai benalu, dan hanya menginginkan hartamu, tidak mungkin bisa membuatmu jatuh cinta begitu saja.”
“Kalau aku menjawabnya, apa kamu akan menyukaiku?”
“Anggap saja begitu.”
“Sungguh?”
Venus mundur karena Jayu menundukkan kepalanya. Embusan napasnya yang hangat membuat Venus tidak nyaman. Sesuatu menggelitik hatinya saat terlalu dekat dengan pria itu.
“Katakan saja, sejak kapan kamu menyukaiku? Kenapa sikapmu begitu berbeda setelah kita menikah?”
“Baiklah, aku akan memberitahumu. Dengarkan ini. Seperti halnya pelangi, kita tidak pernah tahu kapan dia mulai terbentuk. Saat menyadarinya, tiba-tiba dia sudah melengkung di langit sana. Seperti itulah perasaanku padamu, aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menyukaimu. Yang aku tahu, duniaku sudah berubah, dan aku seperti orang gila yang tergila-gila pada dirimu. Aku hanya membutuhkanmu untuk terus ada di dalam jangkauan penglihatanku. Dua puluh empat jam sehari, satu-satunya orang yang ingin kulihat hanyalah Venus. Ketika membuka mata di pagi hari, hal pertama yang ingin kulihat adalah dirimu. Seperti itu. Semua hal akan terasa hambar jika itu tanpamu, tapi aku merasa racun sekalipun akan terasa manis jika kamu yang memberikannya.”
Bibir Venus menipis, matanya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Entah mengapa, bualan yang dikatakan Jayu barusan terdengar seperti puisi paling romantis yang pernah dia temukan.
“Kalau begitu aku tidak akan menyukaimu.”
Venus pura-pura cemberut sambil menyedekapkan tangan, ketika dirinya sudah bisa menguasai hatinya kembali.
“Kalau perasaanmu itu hanya seperti pelangi, itu artinya hanya sesaat. Lagi pula, berapa nilai IPA-mu di sekolah? Kenapa kamu begitu bodoh? Pelangi tidak terbentuk begitu saja. Cahaya matahari yang melewati titik-titik hujan, memisahkan warna putih dan membiaskannya menjadi warna spektrum. Jangan asal membuat analogi.”
“Kamu ini. Kamu kan seorang penulis, kenapa sama sekali tidak romantis? Bisa-bisanya kamu merusak suasana dengan kalimat sadis seperti itu. Menyebalkan!”
Jayu kesal bukan main. Dia sudah mati-matian berusaha mencari kalimat yang tepat agar terdengar seperti pujangga yang mengungkapkan cinta, tapi Venus malah menanggapi dengan mematahkan analoginya menggunakan logika.
“Romantis juga harus logis. Kamu pikir penulis asal ketik saat menulis? Kami juga berpikir agar tulisan yang kami buat tidak terkesan receh. Orang sepertimu mana bisa memahami dunia kami.”
“Benar, aku tidak bisa memahamimu. Kalau begitu, nikahi saja naskahmu itu! Benar ....”
Jayu tidak melanjutkan kata-katanya. Seluruh kalimat yang hendak dia ucapkan lenyap dari peredaran ketika Venus tiba-tiba berjinjit dan mencium ujung bibirnya. Jayu menyebutnya kecupan kilat ekspres karena Venus hanya menempelkannya sepersekian detik.
“Ayo kita bereskan rumah,” ucap Venus meraih kedua tangan Jayu dengan senyuman yang membuat Jayu merasa seperti ada ribuan kupu-kupu mengepakkan sayap di dalam perutnya. Geli, melayang, terbakar, ah! Sensasi macam apa itu?
“Ya Tuhan, kenapa kamu membuatku seperti orang bodoh?” Jayu menyembunyikan wajah pada daun pintu, membenturkan kepalanya pelan, kemudian menghentak-hentakkan kaki seperti seorang gadis remaja yang sedang dimabuk cinta. “Bagaimana ini, kenapa mendadak kakiku terasa lemas. Apa bibirmu itu mengandung racun? Racun apa yang terlihat semanis itu, ya ampun.”
Venus tersenyum melihat kelakuan absurd Jayu yang ternyata begitu imut saat tersipu.
“Aaah, kamu membuatku jatuh cinta setiap detik.” Jayu mencubit pipi Venus gemas. “Cium aku lagi.” Pria itu memonyongkan bibir dengan mata yang terpejam penuh harap.
“Dasar berandal m***m!” Bukannya menuruti keinginan Jayu, Venus malah menabok bibir suaminya.
Walau begitu, Jayu sama sekali tidak marah. Seperti yang dia katakan sebelumnya, dia suka ketika menanggapi candaan Jayu dengan sikap anarkis. Itu terasa romantis menurutnya.
“Apa—apa itu artinya mulai sekarang kita....” Jayu memainkan kedua ujung jarinya membuat simbol dua orang yang saling mendekat. Matanya mengedip seiring bibirnya yang ikut menyungging.
Venus tersenyum sambil mengangguk. Dalam sekejap, dunia Jayu sudah berubah dan dipenuhi warna pink. Sudah cukup kecemburuannya pada Gus Ayas, dan sudah cukup kekhawatirannya tentang Arjuna.
“Kapten, omong-omong, apa jatuh cinta itu semacam virus aneh yang menjungkir balikkan dunia seseorang? Kenapa kamu jadi mirip Sasa begitu?”
Jayu gelagapan menyadari kelakuannya. Dia segera menguasai keadaan dan menegakkan tubuhnya. Tangannya menangkup wajah Venus lalu menempelkan keningnya tepat di kening Venus.
“Kamu akan segera merasakannya. Dan satu hal, semandiri apa pun dirimu, sehebat apa pun kamu di mata dunia, bagiku kamu hanya seorang gadis yang harus dilindungi. Aku akan melindungimu dengan nyawaku.”
Jayu mendaratkan sebuah kecupan lembut di puncak kepala, lalu membawanya dalam pelukan. Untuk kali pertama Jayu benar-benar merasa memiliki gadis itu. Dunia seolah berada dalam genggaman, ketika Venus membalas pelukannya dan menyandarkan kepala di d**a bidangnya. Meski mereka sering kali berpelukan, tapi Jayu merasa kali ini begitu berbeda. Dia bisa merasakan hati Venus ikut memeluknya, ada kepercayaan yang diserahkan gadis itu bersamaan dengan kepalanya yang disandarkan dengan sangat nyaman.
***
Kembali ke markas Raka itu sama saja mengantarkan nyawanya sendiri bagi Satria. Raka tidak akan pernah melepaskannya begitu saja setelah dia menghabisi nyawa Enggar. Ayah Raka yang juga menjadi ayah bagi Satria selama bertahun-tahun. Delapan tahun yang lalu mungkin Raka gagal membunuhnya, tapi kali ini, Galuh tidak yakin kakaknya akan membiarkan Satria selamat. Atas alasan itu, Galuh tidak membiarkan Satria bertemu dengan kakaknya. Gadis itu membawa Satria menjauh dari markas melalui jalan rahasia.
Di sinilah mereka sekarang. Sebuah taman yang terlihat sepi, dengan rumput hijau dan pohon cemara kembar di tengah taman. Jalan setapak yang melingkarinya, terlihat basah oleh gerimis yang turun perlahan.
Galuh menatap pemuda di hadapannya penuh kerinduan. Matanya berkaca-kaca, ada kebahagiaan yang meletup-letup ketika akhirnya dia bisa melihat Satria lagi. Tanpa aba-aba, gadis itu memeluk Satria erat, seolah dia akan menghilang lagi jika Galuh melepaskannya.
“Aku merindukanmu.”
Satria masih bergeming. Tidak ada gerakan sedikit pun, tatapannya begitu tajam dan dingin.
“Apa kamu tahu seperti apa perasaanku saat melihatmu jatuh ke sungai dengan luka tembak di lenganmu? Aku selalu berharap suatu saat akan bertemu lagi denganmu, karena aku percaya kamu masih hidup. Sekarang kamu benar-benar ada di sini. Aku bahagia karena akhirnya keyakinanku menang. Aku sangat merindukanmu, Satria.”
Galuh melepaskan pelukannya karena Satria sama sekali tidak merespons.
“Kenapa? Kenapa kamu hanya diam saja? Apa sebegitunya kamu membenciku dan kakakku?”
“Apa menurutmu aku harus mengampuni orang-orang yang sudah mempermainkan hidupku?”
Jawaban Satria seperti pedang maha tajam yang ditusukkan tepat di jantung Galuh. Gadis itu meneteskan air mata dengan perasaan terluka yang sangat dalam.
“Ayahku mungkin bersalah karena sudah membohongimu, tapi kamu sendiri bahkan sudah menghabisinya. Kenapa kamu masih begitu membenciku? Apa salahku? Kita berteman dan menjadi saudara yang saling melindungi, kenapa kamu selalu menatapku dengan tatapan kebencian? Apa kebersamaan kita sama sekali tidak berarti bagimu?”
“Aku mengakui kalau kamu adalah teman terbaikku, tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu.”
“Lalu, siapa aku bagimu? Katakan dengan jujur,” pinta Galuh tulus. Dia akan menerima apa pun yang dikatakan Satria, walau mungkin akan menyakitkan.
“Musuh,” jawab Satria dingin. Dia bahkan sama sekali tidak melihat ke arah Galuh saat mengucapkannya.
“Musuh? Kenapa aku harus menjadi musuhmu? Bukan aku atau ayahku yang membunuh kedua orang tuamu. Tanganmu sendiri yang melenyapkan mereka kenapa ....”
“Jaga ucapanmu.” Satria mencengkeram mulut Galuh, membuat gadis itu ketakutan. Satria seperti kerasukan iblis paling kejam dan akan melenyapkan Galuh saat itu juga.
“Apa?” Galuh melepaskan cengkeraman tangan Satria dengan kasar. “Apa aku salah? Aku benar, kan? Bukan aku, kakakku atau ayahku yang membunuh kedua orang tuamu, tapi kamu sendiri. Kenapa kamu melampiaskan kekesalanmu pada orang lain? Satu-satunya kesalahan ayahku adalah menyembunyikan fakta itu. Fakta bahwa tanganmulah yang membuat nyawa mereka melayang.”
“Berhenti mengatakan omong kosong!”
Satria memilih pergi dari pada harus mendengar ocehan Galuh. Kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu terus menyemburkan garam pada lukanya yang masih belum kering.
Gerimis yang tadinya hanya rintik-rintik, sekarang turun semakin lebat. Air yang berjatuhan dari langit, seolah ikut mengaminkan air mata Galuh. Gadis itu menangis di bawah hujan.
“Pulanglah. Kamu akan sakit kalau terus di sini.” Satria kembali, dia melepaskan jaket, lalu meletakkannya di punggung Galuh agar gadis itu memakainya.
Tangis Galuh semakin menjadi.
“Dasar, b******k! Untuk apa kamu berlagak seolah peduli padaku tapi terus menyakiti perasaanku? Aaaaaaaaaaa!” Galuh memukuli d**a Satria berkali-kali, tapi pria itu sama sekali tidak menghentikan.
Dia hanya berdiri kaku seperti robot yang tidak mengenal rasa sakit, membuat Galuh semakin membenci sekaligus menginginkannya.
***
Menghentikan mobilnya di dekat rumah Jayu, Satria mengurungkan niat untuk melepaskan sabuk pengaman, ketika melihat seorang sedang mengamati rumah Jayu dari kejauhan. Seorang dengan pakaian serba hitam yang menggunakan helm tertutup. Penampilannya mengingatkan Satria pada ciri-ciri orang yang sudah menabrak Jayu kemarin.
Menyadari hal itu, Satria segera meraih ponsel dan menghubungi Jayu.
“Boskuuuh, tadi kamu bilang kalau kamu ingat pelat motor orang yang menabrakmu. Bisa kamu beritahukan padaku sekarang?”
Satria mengucapkannya dengan logat Sasa. Tatapannya masih tajam mengawasi setiap gerak-gerik orang yang ada di depan sana.
“Kenapa kamu bertanya? Bukannya katamu tidak perlu?” jawab Jayu dari seberang.
“Sudahlah, Boskuuh. Katakan saja, aku akan meminta Bos Will melacak nomor itu sekarang juga.”
“Ya ya ya, terserah kamu. B 1953 DNZ, itu nomor pelatnya.”
Nomor yang disebutkan Jayu sama persis dengan pelat motor orang yang ada di depannya.
“Sial!”
Satria mematikan panggilannya begitu saja, lalu bersiap keluar dari mobil untuk menghajar siapa pun orang itu. Tetapi baru saja melepaskan sabuk pengaman, motor yang diperhatikannya malah pergi dengan kecepatan tinggi.
Mati-matian Satria berusaha mengejarnya. Motor itu membelah jalanan kota Jakarta dengan derunya yang memekakkan telinga. Tak mau kehilangan jejak, dia juga melajukan mobil seperti orang kesetanan.
Motor itu berhenti di depan rumah bergaya minimalis. Danzel memarkirkan motornya di depan gerbang, kemudian berlari tanpa menutupnya lebih dulu.
“Berhenti!” teriak Satria yang berhasil menghentikan langkah Danzel.
Tanpa aba-aba, Satria segera mendaratkan pukulan di wajah pria bermata sipit itu. Danzel mengusap darah yang keluar di ujung bibir.
“Apa-apaan ini? Kamu siapa, tiba-tiba datang dan main pukul orang sembarangan?”
“Main pukul sembarangan katamu? Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada Jayu?” Satria mencengkeram krah jaket yang dikenakan Danzel.
“Oh, jadi kamu kacungnya Si b******k itu?”
Danzel hendak membalas ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Kinara.
“Kak, Kinar minta Kakak jangan pernah menyakitinya lagi. Kinar akan pergi saja. Kinar tidak bisa hidup tanpa dia, tapi juga tidak mau kalau dia menderita karena Kinar. Kinar hanya mencintai Jayu, Kak. Dia tidak bersalah. Kakak baik-baik ya, Kinar pamit.”
Panggilan terputus dengan tiba-tiba. Selanjutnya Danzel sudah tidak peduli lagi pada Satria. Apa pun yang akan dilakukan adiknya di dalam sana, pasti bukan sesuatu yang baik.
Melepaskan diri dari Satria, Danzel segera berlari ke rumah. Dia mencari keberadaan Kinara di setiap sudut rumahnya, tapi tidak ada. Dia berlari ke lantai dua diikuti Satria, mereka menuju kamar Kinara. Satria tercengang ketika melihat keadaan kamar itu, bantal dan bulu yang berhamburan, juga foto-foto Jayu yang berserakan di lantai.
Danzel berlari ke arah jendela yang terbuka, dia melongok ke bawah, tapi nihil, Kinara tidak ada di sana. Terdengar gemercik air di kamar mandi, pria berwajah oriental itu segera menuju ke sana.
“Kinar!” Danzel berteriak histeris ketika mendapati Kinara sedang menenggelamkan diri di dalam bathub.
“Tidak! Kenapa kamu melakukan ini?” Danzel kehilangan akal, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat tubuh adiknya sudah tak berdaya. Pria itu bersimpuh di samping bathub sambil menangisi kemalangan adiknya.
“Dasar bodoh!” Satria menubruk Danzel dan membuat pria itu tersungkur.
Dengan sigap, Dia mengangkat tubuh Kinara dan membaringkannya di lantai.
Satria mendekatkan punggung tangannya di depan hidung Kinara, memastikan apakah gadis itu masih bernapas atau tidak. Tidak ada embusan napas yang dia rasakan, Satria segera memberikan pertolongan pertama. Dia meletakkan kedua telapak tangan di tengah d**a gadis itu, kemudian menekannya sekitar tiga puluh kali dalam dua puluh detik.
Dia kembali mengecek pernapasan Kinara, tapi gadis itu masih belum bernapas. Dengan sangat hati-hati, Satria menengadahkan kepalanya, dia mengangkat dagu gadis itu, kemudian memencet hidungnya. Satria mendekat dan meniupkan udara ke dalam mulut Kinara.
Kinara terbatuk. Dia mengeluarkan banyak air dari mulut. Satria mundur, kepanikan yang entah berasal dari mana, lenyap begitu saja ketika melihat Kinara kembali bernapas.
“Kakak,” bisik gadis itu lemah.
“Kinar!” Danzel segera memeluk adiknya, bersyukur karena Kinara masih hidup.
Satria sendiri masih duduk lemas menyandarkan tubuh ke dinding kamar mandi. Kejadian barusan mengingatkannya pada peristiwa beberapa tahun lalu. Ketika Prasetya menyelamatkannya dari sungai. Dia pernah nyaris mati saat terbawa arus setelah bertarung dengan Raka dan anak buahnya.
***
“Terima kasih.”
Danzel menyerahkan secangkir kopi pada Satria setelah menggantikan pakaian adiknya.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada adikku kalau kamu tidak ada di sini.”
“Aku tidak butuh terima kasihmu.”
Satria bangkit dari duduknya. Dia mengabaikan minuman yang disodorkan Danzel dan menatap pria itu penuh dendam. Seperti itulah Satria ketika sedang dikuasai amarah. Seolah dia bahkan bisa memindahkan gunung hanya dengan satu tendangan.
“Katakan, apa tujuanmu mencelakai Jayu?”
Danzel meletakkan cangkir kopinya di meja. Terdengar dentingan kecil ketika p****t cangkir itu beradu dengan meja kaca yang tidak dialas kain.
“Seperti yang kamu lihat.” Danzel mulai berbicara. “Adikku begitu tergila-gila pada b******n itu. Dia begitu terpuruk ketika mendengar kabar tentang pernikahannya dengan seorang penulis yang sebenarnya juga merupakan penulis favorit Kinar. Dia terus berusaha bunuh diri sejak melihat berita itu. Aku membenci Jayu, sebesar rasa sayangku pada adikku, jadi aku ingin memberinya pelajaran. Aku ingin dia merasakan sakit seperti adikku, tapi ternyata aku tidak punya cukup keberanian untuk menghabisi nyawa seseorang. Karena itu, aku hanya mencelakainya sedikit. Aku tidak tahu, ternyata hal itu justru menyakiti Kinar. Entah dari mana dia tahu kalau aku berusaha mencelakakan idolanya. Dia malah kembali mencoba bunuh diri karena ulahku. Karena dia tidak mau aku menyakiti pria berengsek itu.”
“Itu sama sekali bukan alasan. Bukan salah Jayu kalau ada orang yang menggilainya seperti adikmu. Seharusnya kamu sadar akan hal itu.”
“Aku sadar. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah mengusik hidupnya lagi, tapi kalau boleh aku meminta padamu, katakan padanya untuk menemui adikku walau satu kali. Semoga itu bisa sedikit mengobati rasa sakit Kinar dan membantunya untuk lebih cepat sembuh.”
***
Turun dari angkutan umum, Arjuna dan Tisna saling menggenggam tangan. Mereka terus bergandengan tangan sambil berjalan. Senyum merekah di bibir keduanya. Mereka sedang dimabuk asmara. Daun yang jatuh tertiup angin pun tahu kalau mereka sedang jatuh cinta.
‘Suatu saat nanti, kamu akan membaca kisah kita. Tentang dua orang yang saling mengisi celah jari-jarinya, kemudian berjalan di bawah langit malam yang menyembunyikan cahaya bulan di balik awan. Aku akan mencatat kisah cinta paling romantis di dunia ini dengan tanganku sendiri’
Arjuna mengucapkan kalimat itu dalam hati, ketika bibirnya terus mengembangkan senyuman penuh kebahagiaan. Dia semakin yakin, bahwa Tisna adalah cinta terakhir dalam hidupnya. Gadis itu ditakdirkan untuk membawanya pada kehidupan yang dipenuhi warna pelangi.
Memasuki rumah Arjuna, mereka dikagetkan dengan keberadaan Agung di ruang tamu.
“Jadi ini, wanita yang akan menggantikan Alana dan Meiryn di ranjangmu?”
Agung mengabsen Tisna dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Sepertinya selera wanitamu sedikit berubah.”
Bibir Agung terangkat sebelah ketika melihat ekspresi ketakutan di wajah Tisna. Gadis itu berusaha mencari perlindungan di balik punggung Arjuna.
Arjuna masih menggenggam erat tangan Tisna, berusaha meyakinkan gadis itu , bahwa dia akan aman bersamanya.
“Untuk apa Ayah di sini?”
“Untuk apa? Oh, dengarlah, aku masih ayahmu, kamu baru saja memanggilku begitu. Pertanyaanmu sama sekali tidak pantas dilontarkan pada seorang yang kamu sebut Ayah.” Agung mendekati mereka yang masih berdiri di depan pintu.
Ujung telunjuk Agung mengangkat dagu Tisna. Dia mengamati wajah gadis itu lekat-lekat, berusaha mengirimkan peringatan, bahwa tidak seharusnya dia berada di rumah itu.
“Gadis yang manis. Kamu pasti sangat berhati-hati memperlakukannya.” Tangan Agung berusaha menyentuh wajah Tisna, membuat gadis itu mengeratkan genggamannya di tangan Arjuna.
“Hentikan!” bentak Arjuna sambil menyingkirkan tangan Agung dari wajah gadisnya.
“Ohohoo, lihatlah, putraku mulai serakah sekarang. Kenapa? Apa kamu tidak mau berbagi buruan lagi? Oh, apa mungkin dia tidak tahu kebejatanmu?”
Agung menurunkan tangan, ujung bibirnya terangkat sebelah, mengejek sikap protektif Arjuna pada Tisna.
“Biar kuberi tahu. Putraku adalah seorang anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Dia bahkan berbagi tubuh gadis yang dicintainya denganku. Sebentar ... Sepertinya kata cinta terlalu megah untuk sebuah hubungan yang hanya akan berakhir di ranjang untuk beberapa malam. Tapi percayalah, Arjuna adalah pria sejati yang tidak akan pernah menyakiti wanitanya pada pengalaman pertama. Dia selalu menaklukkan wanitanya dengan kelembutan.”
Mendengarnya membuat d**a Tisna sesak. Dia melepaskan tautan tangannya dari Arjuna, kemudian mundur selangkah. Air matanya sudah tidak bisa lagi ditahan. Benarkah hubungan semacam itu yang sedang ditawarkan Arjuna padanya? Apakah dia terlihat sangat murahan di mata pria itu?
“Tis ....”
“Jangan menyentuhku.” Tisna menangkis tangan Arjuna yang hendak meraih tangannya kembali.
“Aku harus pergi.”
Tisna benar-benar pergi dengan hati yang terluka. Dia tidak pernah berpikir bunga-bunga di hatinya yang sempat mekar beberapa saat lalu, akan gugur begitu mudah. Gadis itu berlari sambil menyeka air mata. Rencana masak bersama dan makan malam di rumah Arjuna hanya tinggal sebuah rencana.
“Ayah keterlaluan!”
Arjuna hendak mengejar Tisna tapi Agung mencegahnya.
“Ayah hanya berusaha menyelamatkannya.”
“Menyelamatkan apa? Ayah menyakiti hatinya dengan cerita yang menjijikkan. Sejak kapan aku mengencani sorang gadis hanya untuk mengambil keperawanannya?”
“Bukan keperawanan, tapi nyawanya. Katakan, kematian seperti apa yang sudah kamu siapkan untuk gadis itu? Membunuhnya seperti Alana, atau membuatnya menyerahkan diri untuk kamu bunuh secara suka rela seperti Meiryn?”
“Ayah!” Kalimat Agung membuat kepala Arjuna seperti ditusukkan ribuan jarum secara bersamaan.
Tidak, dia tidak pernah membunuh siapa pun. Mereka mati, karena memang kematian adalah yang terbaik. Bukan karena Arjuna yang membunuhnya. Benar begitu. Tangannya tidak pernah dikotori oleh darah. Jika ada seorang yang nyawanya melayang, dia tidak pernah benar-benar mati, mereka hanya berpindah dunia ke dalam karya abadi yang ditulis Arjuna. Kalaupun ada seseorang yang harus disalahkan, maka itu adalah Clarissa. Bukan Arjuna. Wanita mengerikan itu yang telah mengajarkan bahwa kematian adalah hadiah bagi orang yang hidupnya sengsara di dunia.
“Tidak. Aku tidak membunuh. Aku bukan pembunuh.”
Ingatan Arjuna memutar ulang bagaimana Meiryn menyodorkan pisau kepadanya, dan menyerahkan diri untuk dijadikan kelinci percobaan demi menyelamatkan seorang bocah yang tak berdaya. Lalu senyuman dan kebahagiaan Alana yang menghilang seketika saat dia menyuntikkan racun ke dalam tubuh gadis itu.
Agung merasa telah gagal menjadi seorang ayah ketika melihat keadaan Arjuna saat ini. Dia tidak ingin menyakiti hati Tisna, tapi dia juga tidak bisa membiarkan gadis itu dalam bahaya jika terus bersama dengan putranya.
BestRegards
MandisParawansa