“Ada jutaan kata cinta yang pernah kudengar tapi hanya cintamu yang membuatku merasa sempurna.”
***
Usai bertemu Willy untuk membahas tentang cuti yang diambilnya, Jayu masih tampak berpikir. Pria itu memang sudah memberitahukan niatnya untuk berhenti sementara dari dunia peran, dia juga sudah menghubungi Abimanyu, terkait perpanjangan kontrak yang sudah sempat dia tandatangani. Dengan alasan kalau dirinya baru saja mengalami kecelakaan, dan ingin menikmati waktu untuk bulan madu dengan Venus, dia berhasil meyakinkan Abimanyu untuk menunda kegiatan syuting, setidaknya sampai sebulan ke depan.
Ya, satu bulan rasanya lebih dari cukup untuk mengobati kegilaannya pada seorang Venus. Setidaknya, selama tiga puluh hari ke depan, dia dapat memenuhi keinginannya untuk bersama gadis itu dua puluh empat jam sehari.
Membayangkannya saja sudah bisa membuat Jayu bahagia, tapi sekarang, dia perlu memikirkan sesuatu sebagai hadiah pertama untuk istrinya. Pria dengan lesung pipi yang memperindah paras rupawannya itu ingin memberikan sesuatu yang berkesan untuk Venus.
“Ada apa, Boskuuuuh? Kenapa kamu kelihatan bingung begitu? Apa kamu masih memikirkan tentang pekerjaan?”
Satria merentangkan kipas dan memainkannya saat masuk mobil. Jari-jarinya yang kekar, terlihat lentik dan manis. Entah ke mana perginya sisi maskulin Satria ketika bertingkah seperti itu.
“Bukan, aku hanya sedang berpikir tentang hadiah seperti apa yang disukai oleh Venus. Aku ingin memberinya sesuatu, tapi aku tidak tahu sama sekali, hadiah apa yang cocok untuknya.
***
Menurutmu, apa aku harus membelikan cincin berlian, kalung, atau lebih baik aku mengajaknya keliling Eropa saja?”
“Hmmmmm, no no no!” sanggah Satria cepat. “Kurasa dia bukan tipe gadis yang menyukai kemewahan. Dari pada Boskuuuh memikirkan sesuatu yang mewah dan mahal, lebih baik berikan dia sesuatu yang sederhana, tapi berkesan. Letakkan cintamu pada porsi yang sederhana seperti kepribadiannya.”
“Lalu apa?” Jayu menatap Satria penuh harap. Tidak ada orang lain yang bisa dijadikannya tempat berbagi kecuali pria kemayu yang duduk di sebelahnya itu.
Satria menutup kipasnya, mengetuk-ngetukkan benda itu ke dagu seolah sedang berpikir dengan sangat keras. Dia menjentikkan jari ketika otaknya mencetuskan sebuah ide yang menurutnya sangat brilian.
“Bagaimana kalau gelang? Gelang yang terbuat dari biji kopi asli,” ucapnya penuh semangat. “Aku kenal dengan seorang yang menjual produk gelang seperti itu. Lihat ini,” perintah Satria sambil menyodorkan ponsel. “Aku sudah pernah lihat, bentuknya sederhana, tapi wangi kopinya benar-benar menenangkan. Kurasa itu cocok untuk penulis seperti Kakak Ve yang sering begadang. Gimana?” lanjutnya lagi sambil mengotak-atik ponsel. Dia menunjukkan beberapa koleksi foto gelang kopi yang ada di laman instagramnya.
Jayu mengamati layar ponsel Satria, telunjuknya bergerak-gerak meneliti beberapa foto yang ada di sana.
“Hanya lima puluh ribu. Apa itu tidak terlalu murah? Aku ingin sesuatu yang berkesan buatnya. Ini bahkan seperti abege yang baru jatuh cinta. Kenapa aku memberikan gelang seperti itu pada seorang istri?”
“Jangan melihat harganya, tapi lihatlah, seperti apa istri yang sedang kamu bicarakan. Kalau kamu menikahi seorang princess mungkin akan beda cerita. Dia itu Venus. Seorang yang bahkan orang-orang menganggapnya seperti alien, dan bukan manusia. Kalau kamu mau, kamu bisa memborong perhiasan atau mengajaknya keliling dunia, tapi aku tidak yakin dia akan menyukai hal itu. Sudah kubilang, kan? Letakkan cintamu dalam porsi yang sederhana. Kamu tidak harus menunjukkan cinta dengan uang, bahkan mungkin hal kecil seperti mengikatkan rambut, menemaninya begadang saat mengetik, atau membaca buku bersama, akan jauh lebih berkesan untuk seorang Venus.”
“Benar juga, dia sangat unik dan berbeda dari orang lain.” Jayu melepaskan napas lega, kemudian mulai melajukan kendaraannya.
“Kalau begitu, tolong kamu urus, ya. Pesan dua untukku, lalu kirim langsung ke alamat rumah. Mulai hari ini sampai sebulan ke depan, selama aku istirahat, kamu bebas tugas. Kuharap kamu tidak akan mengganggu waktuku bersamanya.”
“Ya ampuuuun, Boskuuuh, apa kamu sedang berusaha mencampakkanku?” canda Satria dengan nada manja.
Mereka tertawa bersama, dalam hatinya, Jayu sudah membayangkan waktu yang akan dia habiskan bersama Venus. Sementara Satria, otaknya mulai menyusun rencana, bagaimana agar tetap bisa mengawasi Jayu ketika dia justru dibebastugaskan.
Sampai saat ini, pria itu bahkan mendapat ancaman baru dari Raka dan anak buahnya. Tidak mungkin rasanya Satria meninggalkan Jayu, sementara dia tahu, karena kecerobohannya, Jayu sedang dalam bahaya.
“Boskuuuh, apa aku boleh melakukan apa saja, dan pergi ke mana saja saat libur nanti?”
“Tentu saja, kenapa tidak?”
“Kamu tidak akan melarang atau protes, kan?” “Pegang kata-kataku,” jawab Jayu mantap. “Oke, Boskuuuuh. Aku percaya padamu.”
***
Venus menggeliat kecil, gadis itu membuka mata dengan malas-malasan ketika merasa ada sesuatu yang menggelitik wajah. Sesuatu yang terasa lembut dan panas sekaligus, terus bergerak-gerak seperti seekor ulat bulu kelaparan.
Ini sangat menyebalkan. Baginya ini adalah pelanggaran, siapa pun yang berani mengusik tidurnya, makhluk itu pasti sudah bosan hidup.
“Ya, Allah. Kenapa ada ulat bulu di tempat seperti ini?” ujarnya malas dengan nada manja seperti bocah yang sedang merengek.
Dia yakin, matahari bahkan belum menetas, kenapa tidurnya harus berakhir?
“Ulat bulu? Mana ada ulat bulu seganteng ini?”
Jayu yang dari tadi mengusili istrinya merasa geli sendiri membayangkan dirinya disamakan dengan makhluk kecil berbulu.
“Kapten, apa yang kamu lakukan?”
“Membangunkanmu, memangnya apa lagi?” sahut Jayu tanpa rasa bersalah.
Dia sama sekali tidak peduli dengan wajah kesal Venus. “Kamu mengirim pesan, minta dibangunkan kalau pulang. Kamu bilang kamu belum shalat isya, aku rasa kamu juga perlu makan dan mandi. Benar, kan?” lanjutnya panjang lebar. Jayu melepaskan jaket yang ia kenakan, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
Venus merengek. “Kenapa kamu pulang secepat ini? Aku memintamu membangunkanku, karena kupikir kamu akan pulang larut malam.”
Gadis itu berguling-guling ke tepian ranjang, dengan selimut tebal yang menggulung tubuh.
“Ada apa?” Jayu duduk di dekatnya sambil menggulung lengan baju. “Apa sesuatu yang buruk terjadi saat aku tidak ada di rumah? Kenapa istriku kelihatan begitu kesal?”
Venus manyun. Dia membentur-benturkan kepalanya ke kasur. Tangannya berada di dalam selimut, membuatnya seperti bayi dalam bedongan.
“Hari ini benar-benar menyebalkan. Otakku rasanya sudah kering. Seharian ini berusaha menulis, tapi semua yang kutuliskan terasa hambar. Aku kehilangan nyawa dari tulisanku sendiri.” Kakinya bergerak-gerak kecil, persis putri duyung yang mengibaskan ekor.
“Begitu rupanya.” Jayu mengusap pipi Venus, membuat gadis itu tersenyum kecut.
Jilbab yang dia kenakan sudah acak-acakan, dan menutupi sebagian wajah tapi dia tidak bisa merapikan karena tangannya yang terkunci di dalam selimut.
Gadis itu menggerak-gerakkan bibirnya, berusaha meniup jilbab yang dia gunakan, berharap bisa kembali seperti semula tapi semua sia-sia, dan hanya membuatnya semakin kesal.
Jayu tertawa kecil melihat kelakuan istrinya. Dia hendak membantu untuk membenarkan jilbab Venus, tapi ketika tangannya baru saja menyentuh jilbab, fokusnya malah berada pada bibir Venus yang terlihat ranum. Jantungnya bersikap kekanakan, ketika otaknya mulai memikirkan ide untuk mencium bibir itu. Apa salahnya, toh, dia istrinya, kan?
Jayu mendekat, bersiap melancarkan ide di dalam otak, tapi saat jaraknya tinggal beberapa senti, tangan Venus berhasil melepaskan diri dan menarik jilbabnya sendiri.
Gadis itu kesulitan menelan ludah, ketika melihat wajah Jayu yang begitu dekat dengan wajahnya. Aroma mint dari napas pria itu, membuat sebagian otaknya mendadak kabur. Ini kabar buruk, dia baru bangun tidur, dan ya, gadis itu masih ileran, dia tidak mau Jayu menemukan aroma tidak enak, jadi dia memutuskan untuk menghindar.
“Kapten, tolong bantu aku melepaskan selimut ini,” perintahnya sambil memalingkan wajah.
Mendadak, Jayu malah jadi salah tingkah. “Benar, aku akan membantumu.” Setelah itu, Jayu membantu Venus duduk dan turun dari ranjang, kemudian menarik selimut yang melilit tubuhnya.
“Bagaimana bisa kamu tidur seperti ini?”
“Kenapa tidak? Aku bahkan pernah tidur sambil mandi,” jawab Venus, dia membuat Jayu tertawa mendengarnya.
“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu boleh menulis, tapi harus tetap memperhatikan kesehatan. Jangan sampai kamu sakit. Ya?”
“Aku hanya ....”
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Jayu malah membopong tubuh gadis itu.
“Kapten! Apa yang kamu lakukan, turunkan aku!”
“Aku rasa aku perlu memandikanmu,” jawabnya santai sambil menyeringai. Jayu membopong Venus ke kamar mandi, lalu membaringkannya di dalam bathub.
“Kapten ....”
“Diamlah, kalau kamu tidak mau aku berbuat kasar.”
Mendengar ucapan Jayu, Venus otomatis menyilangkan tangan di depan d**a.
“Ka—kasar ap—apa?” Venus gagap seketika.
Dia bahkan tidak berani melihat Jayu. Di dalam otaknya, kasar versi Jayu jelas bukan main tangan sembarangan. Tapi ... Tapi ... Tentang hal-hal yang memikirkannya saja malah membuat gadis itu malu.
Jayu sudah melepaskan kerudung yang menghijab rambut Venus. Gadis itu memiliki rambut hitam yang lurus dan cukup panjang, tapi sayangnya tidak terlalu terurus. Setelah melepaskan hijab, dia menarik ikat rambutnya dengan lembut agar tidak menyakiti gadis itu. Venus hanya bisa terdiam ketika Jayu mengucurkan air hangat dari shower untuk membasuh rambutnya.
Pijatan tangan Jayu di kepalanya benar-benar membuat Venus lebih rileks. Dia memejamkan mata, ketika Jayu mengusapkan sampo beraroma strawberry-mint ke rambut, kemudian memijat perlahan. Sensasi dingin dari sampo itu membuatnya merasa lebih segar.
“Mau mandi sendiri, atau kumandikan?” canda Jayu ketika dia sudah selesai membersihkan rambut Venus.
“Eh ... ap—apa? Ak—aku mandi sendiri. Keluar sana!” bentak gadis itu setengah gelagapan.
Entah kenapa, dia merasa perlakuan Jayu kali ini benar-benar romantis. Dia tidak pernah membayangkan akan ada orang lain yang mencucikan rambutnya, karena seumur-umur, Venus belum pernah pergi ke salon untuk sekadar creambath.
Jangankan mengurus rambut sampai ke salon, mencucinya sendiri saja jarang. Otaknya penuh dengan kehidupan tokoh-tokoh fiksi dari cerita yang dia tulis. Mereka seolah benar-benar hidup dan terus berjalan ke sana-kemari, menuntut untuk segera diselesaikan.
Seperginya Jayu dari kamar mandi, Venus malah senyum-senyum sendiri. Dia memainkan air yang menggenang di dalam bathub, sambil menggigit bibir bawah, mengingat apa yang barusan dilakukan oleh suaminya.
“Ya Allah, kenapa ini?” Venus menangkup wajahnya sendiri yang menghangat seketika.
“Aihh, berandal itu. Kenapa membuatku seperti ini?” gumamnya masih dengan senyum malu-malu. Malu pada diri sendiri, bagaimana bisa dia melayang karena hal receh yang dilakukan oleh Jayu padanya?
“Jeaa!” Jayu berteriak dari luar, setelah cukup lama menunggu.
“Jea sudah mati. Berhenti memanggilku dengan nama itu.”
Jayu tertawa mendengar jawaban Venus. Dia memang tidak suka dipanggil Jea, bukan karena tidak menghargai nama pemberian orang tuanya, tapi untuk saat ini dia ingin hidup sebagai Venus, dan membiarkan Jea terkubur bersama masa lalunya.
“Ya ya yaaa, terserah apa katamu. Jangan lama-lama mandinya, setelah selesai, dandan yang cantik, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“Ke mana?” jawab Venus keluar dari kamar mandi, sambil mengikatkan tali kimono.
“Kita lihat saja nanti.”
Meninggalkan Venus, Jayu sibuk mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan cinta. Venus tipe yang sulit ditebak, dia akan mematahkan kata-kata Jayu lagi seperti kemarin kalau sampai salah pilih kalimat.
Ternyata, punya istri seorang penulis cukup merepotkan, ya? Hahaa!
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan uranium, pada timbal yang mengharuskannya luruh tiada.” Jayu menemukan kata-kata itu di salah satu situs web. Gombalan anak IPA. Mengingat jawaban Venus tentang pelangi kemarin, sepertinya kata-kata itu cocok untuknya.
‘Apa? Jadi kamu menyamakanku dengan timbal? Keterlaluan!’
“Tidak-tidak, dia pasti akan marah-marah lagi kalau aku mengatakan ini,” gumam Jayu pada diri sendiri, setelah membayangkan reaksi Venus saat mendengar kata-katanya.
“Astagaa! Kenapa ini membuatku frustrasi?”
Jayu kembali melihat ke arah pintu kamar. Masih hening, tidak ada tanda-tanda kalau Venus akan segera keluar.
“Kenapa dia lama sekali? Apa mungkin, dia sedang sibuk memilih baju seperti orang yang akan pergi kencan di film-film?” Membayangkan hal itu membuat Jayu kembali tertawa. “Ternyata dia juga sama dengan wanita lain. Baguslah, artinya dia masih normal,” lanjutnya lagi.
Cukup lama menunggu, tapi Venus belum juga keluar, Jayu memutuskan untuk menyusul gadis itu ke kamar.
“Ve, apa yang sedang kamu lakukan, kenapa lama se ....”
Jayu terperangah ketika melihat Venus. Dia kehilangan kata-kata, juga kehilangan kepercayaan yang tadi sempat diyakini, bahwa Venus merupakan manusia normal.
“Ya Allah, Venus! Apa yang kamu lakukan? Kenapa malah ....” Jayu benar-benar tidak bisa mempercayainya.
Gadis itu bahkan masih menggunakan kimono mandi, dan sedang duduk di lantai sambil mengetik.
“Ada apa? Kenapa mukamu jelek begitu?” tanya gadis itu dengan tampang wajah tanpa dosa.
“Ada apa katamu? Kamu pikir kenapa? Aku sudah menunggumu sejak tadi, dan kamu malah ... Ya ampun, pantas penggemarmu selalu memanggilmu dengan sebutan penulis sableng. Ternyata kamu memang tidak waras.”
“Eh? Apa maksudmu!” Venus berdiri dengan gerakan cepat. “Kenapa kamu menghinaku? Apa kamu sadar, kalau wanita yang sedang kamu katakan tidak waras itu istrimu sendiri?”
“Lalu apa? Apa yang harus kukatakan pada seorang istri yang sudah membuatku menunggu, tapi malah mengabaikanku demi ... Ah, sudahlah! Tidak ada gunanya bicara denganmu.”
“Memangnya aku salah apa?” Venus menggaruk bagian samping rambutnya yang tidak tertutup handuk. “Astaghfirullah!” pekiknya kemudian. Dia baru ingat kalau Jayu mengajaknya pergi sebelum ini.
“Kapten, aku minta maaf. Aku lupa kalau kamu mengajakku pergi. Setelah kamu mencuci rambutku, kepalaku rasanya sangat enteng dan seolah ada sungai yang mengalirkan begitu banyak ide. Aku ... Aku ....” Venus memutuskan untuk mendekati Jayu yang berdiri di dekat tempat tidur. “Jangan marah, ya?” ucapnya kemudian dengan mata memohon.
“Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak suka bola matamu.”
Jayu memalingkan wajah. Dia tidak mau terkesan plin-plan kalau sampai dengan mudah memaafkan Venus, hanya karena gadis itu memohon padanya. Jayu bukan suami takut istri. Venus harus tahu itu.
“Suamiku yang imut, aku mohon maafkan aku, ya,” rengek Venus lagi.
Kali ini dia merayu dengan mencium dagu Jayu. Sebenarnya dia ingin mencium pipi pria itu, tapi posturnya terlalu tinggi membuat Venus hanya bisa mendaratkan ciumannya di dagu.
“Whoaaa ... apa-apaan ini? Apa kamu sedang berusaha mengejekku? Aku ini keren, bukan imut. Memangnya aku anak kecil?” Jayu masih bersikeras mempertahankan diri.
“Bukan begitu, tapi lihatlah, kamu mempunyai telapak tangan yang sangat besar, tapi wajahmu mungil dan imut.” Venus meraih tangan Jayu, kemudian mendongak. “Bentuk telingamu juga sangat unik.” Venus kembali berjinjit dan meniup telinga Jayu lembut.
Ya Tuhan, rayuan macam apa itu? Kenapa malah mengatakan omong kosong tidak penting? Venus mengutuk kebodohannya sendiri. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjadi romantis untuk Jayu.
“Apa kamu sedang menggodaku sekarang?” Jayu menarik tubuh Venus dalam satu hentakan, membuat tubuh gadis itu menempel padanya.
“Aku hanya ingin kamu memaafkanku, kenapa kamu menatapku seperti itu?”
Venus menundukkan kepala, tidak berani melihat tatapan Jayu yang seperti singa kelaparan, dan ingin menerkamnya hidup-hidup.
“Apa seperti ini caramu meminta maaf pada seorang suami?” Jayu mengusap bibir Venus dengan ibu jari, membuat gadis itu memejamkan mata, menikmati sensasi magis yang tiba-tiba muncul. “Apa aku perlu mengajarimu caranya meminta maaf?”
“Ka—Kapten!” Venus nyaris memekik ketika Jayu menarik tali jubah yang ia kenakan.
“Kenapa? Bukankah kamu ingin aku memaafkanmu?”
Jayu mengelus punggung Venus, turun ke lengan, kemudian menyelip pinggang. Dia menghirup dalam-dalam aroma segar yang menguar dari tubuh Venus, ketika dia mendekatkan wajah ke arah cekungan lehernya.
Sebuah kecupan mendarat di kening Venus dengan lembut, membuat gadis itu seperti dibacakan mantra yang mengubahnya menjadi bongkahan batu. Dia tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan sekadar untuk berkedip. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Bibir Jayu turun, mencium kelopak matanya, membuat Venus semakin membeku. Dia berusaha mencari kekuatan dengan mencengkeram ujung jubah yang dikenakan, tapi lututnya benar-benar terasa lemas. Sihir apa yang dimiliki Jayu sebenarnya? Kenapa setiap yang perlakuannya membuat Venus seolah sedang melayang di antara ribuan bintang. Dia menginginkan lebih, ketika Jayu mencium bibirnya penuh kelembutan.
Tangan pria itu menyelip di balik tengkuk, yang satunya lagi di pinggang, mengunci pergerakannya, membuat Venus tidak bisa mundur. Ada cinta dan kejujuran, juga sesuatu yang membakar jiwanya ketika ciuman Jayu perlahan turun ke leher.
“Ka—Kapten, bisakah ka—mu berhenti se—bent—tar?” ucap Venus terbata di antara ketidakberdayaan ketika Jayu seolah tidak memberikannya ruang untuk bernapas.
Mendengar kalimat istrinya, Jayu berhenti, pria itu mengerutkan kening, tapi menuruti keinginan Venus. Dia menjauhkan diri.
“Ada apa?”
“Aku ... aku tahu kalau aku harus memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Tapi ....”
“Tapi apa?”
“Bisakah kita sholat sunah terlebih dahulu? Aku ingin hubungan kita dibangun dengan cara yang diridai-Nya.”
Jayu tersipu ketika mendengar kalimat Venus. Sepertinya dia baru saja berubah menjadi berandalan liar yang hanya menginginkan Venus, dan kata-kata istrinya barusan membuatnya malu.
BestRegards,
MandisParawansa