“Setiap manusia memiliki sisi gelap dan terang yang tak selalu tampak. Seperti dua sisi mata uang, jika satu sisi terlihat, maka yang lain akan tersembunyi.”
***
Pagi ini, Jayu dibuat terperangah dengan apa yang ditemukannya di ruang tamu. Seorang pria dalam balutan selimut bulu yang tebal sedang meringkuk di sofa.
Bagaimana bisa Satria berada di rumahnya sepagi ini? Kapan dia datang, dan untuk apa? Seluruh pertanyaan itu berloncatan di kepala Jayu, yang kini tengah bersiap untuk lari pagi.
“Pagi, Boskuuuuuh.”
Pria itu menggeliat, dia mengucek-ngucek mata sambil menguap. Jangan tanyakan tentang rasa bersalah atau semacamnya di wajah Satria, di sana hanya ada wajah kusut dengan rambut berantakan yang berbicara seolah keberadaannya di rumah itu adalah hal yang sangat wajar.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Aku sudah bilang kalau kamu bebas tugas selama sebulan. Kamu tidak perlu mengurusku, jadi pulanglah.”
Satria bangkit, menyingkirkan selimut yang sebelumnya menghangatkan tubuh. Dia sudah tahu kalau Jayu akan menanyakan hal itu, jadi dia juga sudah menyiapkan senjata pamungkas untuk menjawabnya.
“Aku sedang berlibur,” jawabnya santai. “Kamu bilang, aku bebas ke mana saja, bebas melakukan apa pun, dan kamu tidak akan melarang. Setelah dipikir-pikir, rumah ini selalu menjadi tempat favoritku. Selain berlibur, aku juga bisa membantumu menjaga, dan membersihkan rumah ini. Boskuh tidak perlu khawatir, oke?”
“Ada begitu banyak tempat bagus yang bisa dikunjungi, kenapa kamu malah datang kemari?”
Jayu mengacak-acak rambutnya sendiri. Menyesal, kenapa kemarin harus bilang kalau dia tidak akan melarang apa pun yang dilakukan Satria selama sebulan? Bagaimana bisa dia melupakan fakta, kalau Satria itu makhluk super ajaib yang menjengkelkan. Apa yang dilakukan pria itu, sama sekali tidak bisa ditebak. Gerakannya lebih mengecoh dari kocokan kaki pemain sepak bola handal.
“Benar sekali, Boskuuuh. Ada banyak tempat indah, tapi rumahmu tetap yang paling favorit buatku. Aku bisa menghabiskan waktu untuk membaca buku koleksimu, atau memainkan game di ruang rahasia milikmu, tanpa kamu bisa melarang. Ini kesempatan paling emas yang selalu kutunggu.”
“Tapi ....”
“Hmmmm,” Satria menggeleng-gelengkan telunjuknya, “kamu sudah berjanji tidak akan melarang, jadi jangan ada tapi di antara kita. Pria sejati pasti selalu menepati janji. Benar, kan?”
“Terserah!”
Jayu akhirnya menyerah. Percuma saja berusaha mendebat, Satria jauh lebih pandai berkelit dari orang yang ditagih hutang. Berharap bisa menghentikan apa yang akan dilakukannya, hanya akan membuat Jayu semakin banyak menerima kekalahan.
“Aku mau lari pagi, jangan berani menyentuh istriku, atau ....” Jayu memainkan jarinya di leher memperlihatkan gerakan seolah dia akan memotong leher Satria kalau berani mendekati Venus.
“Ashiaaaap!” Satria memberikan hormat dua jari sambil menghentakkan kaki kanan.
Setelah kepergian Jayu, Satria kembali termenung. Dia masih belum tenang ketika pikiran tentang Raka kembali melintas. Galuh benar, Raka tidak akan pernah melepaskannya dengan mudah setelah tahu kalau dirinya masih hidup. Pria itu pasti akan menggunakan berbagai cara untuk bisa membunuh Satria. Hal itu membuat dirinya menghawatirkan keselamatan Jayu. Satria tidak bisa memilih untuk menjauh dari Jayu karena janjinya pada Prasetya. Dia akan selalu di sisi putranya seperti bayangan, tapi saat ini, berada di dekatnya juga tidak akan membuat Jayu benarbenar aman. Dia adalah kelemahan terbesar Satria, kalau sampai Raka tahu, pasti pria itu akan menggunakan Jayu sebagai alat untuk menghancurkannya.
“Tidaaak!”
Venus berteriak di dalam kamar, membuat Satria segera berlari menghampirinya.
“Kakak Ve, ada apa? Apa Kakak Ve mimpi buruk?”
Satria menyentuh tangan Venus, berusaha menenangkan gadis itu. Wajahnya terlihat cemas, takut, dan gelisah. Entah mimpi macam apa yang baru saja menghampirinya, tapi apa pun itu, yang dilakukan Satria sama sekali tidak membantu. Dengan menyentuh Venus ketika Jayu tidak ada, itu sama saja menyeret Venus pada sebuah lorong gelap yang tersembunyi di dalam diri Satria.
Belum hilang rasa terkejutnya atas apa yang barusan dilihat, sekarang Venus kembali merasakan emosi Satria. Tangan pria itu mengirimkan berjuta pesan pada syaraf-syaraf otak Venus, yang membuatnya kesulitan menyimpulkan, benarkah yang dilihat itu nyata atau sekadar mimpi tidak tahu diri.
Dalam kepala gadis itu, dia melihat sebuah kejadian yang tak pernah dilihatnya sebelum ini. Seorang laki-laki mabuk yang sedang menghajar perempuan tak berdaya, lalu bocah laki-laki yang menghantamkan batu besar tepat di kepala laki-laki yang lebih tua. Bocah itu memukulnya berulang-ulang, sampai tubuh gagah itu ambruk menimpa perempuan yang sudah tidak bernyawa karena kebiadabannya.
Bocah kecil itu mundur selangkah, memandangi tangannya yang berlumuran darah, lalu berlari sambil menangis di bawah langit malam yang gerimis.
“Tidak! Aku tidak membunuh mereka. Bukan aku yang membunuh!” Bocah itu terus berlari tanpa arah, sambil berteriak bahwa dirinya bukan pembunuh.
Selanjutnya, seorang remaja dengan pistol di tangan. Satria melesatkan timah panas, membuat benda kecil itu menerobos kulit dan bersarang di tubuh orang-orang. Tatapannya begitu tajam, penuh amarah dan dendam.
“Siapa kamu?”
Venus mendorong Satria, tidak sanggup melihat apa yang ternyata disembunyikan oleh pria yang selama ini dia anggap baik. Pria yang asyik dan penuh warna itu, menyimpan sulaman hitam pekat dari masa lalunya.
“Siapa apa? Apa maksud Kakak Ve? Aku Sasa. Apa yang ....”
Melihat Venus yang seperti itu, Satria memandangi tangannya. Benar, dia sudah mendengar bagaimana Venus akan melihat rahasia orang yang bersentuhan dengannya. Pasti sekarang Venus sudah tahu segalanya.
Satria mengembuskan napas berat. Raut wajahnya berubah serius, dan terkesan dingin, tapi kemudian dia tersenyum, mencoba mengusir ketakutan Venus.
“Aku bersyukur ada orang sepertimu di dunia ini. Setidaknya aku tidak perlu menjelaskan apa pun untuk membuatmu tahu segalanya.”
“Apa maksudmu?”
Satria kembali mendekat, tapi Venus memberikan isyarat agar pria itu tetap menjaga jarak.
“Apa pun yang sudah kamu ketahui, itu pasti bukan sesuatu yang baik. Aku tidak akan memintamu mengubah apa yang kamu pikirkan tentangku sekarang, tapi percayalah, aku di sini untuk melindungi Jayu.”
“Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua itu? Siapa kamu sebenarnya?
Venus menundukkan pandangan, kepalanya terasa berat. Entah bagaimana dia harus menyebut kemampuan dalam dirinya? Anugerah, atau kutukan? Mengetahui apa yang tidak ingin diketahuinya itu sangat menyiksa. Dia tidak bisa melupakan begitu saja semua yang sudah dilihat.
“Kenapa kalian menyembunyikan banyak sekali rahasia? Kenapa kalian suka bermain dengan darah dan nyawa orang lain?”
“Venus,” suara Satria terdengar berat, dia juga memanggil Venus tanpa embel-embel kakak seperti sebelumnya, “aku juga tidak mau melakukannya, tapi semua terjadi tanpa bisa dihentikan, seolah Tuhan telang menuliskan takdirku seperti itu.”
“Tetap saja, kalian membuatku takut.”
“Kalian? Maksudmu?”
“Benar!” Venus turun dari ranjang, wajahnya terlihat cemas ketika mengingat tentang mimpinya. “Tisna dalam bahaya.”
“Ap—apa? Tisna? Kenapa dia dalam bahaya?”
“Alana kembali mendatangiku. Dia sudah menunjukkan segalanya.”
Venus berjalan dengan cepat ke ruang tamu. Dia menuju rak buku di dekat pantry, tangannya sibuk mengumpulkan novel-novel yang ditulis Arjuna.
“Ada apa?”
“Aku harus memastikan sesuatu dari novel-novel ini.”
“Novel Arjuna? Kenapa?”
Satria mengikuti Venus yang berjalan dengan tumpukan buku di tangan. Gadis itu meletakkannya di meja, kemudian mulai membaca sambil duduk di lantai. Judul pertama yang diambil adalah “Black” diterbitkan tahun 2012, tentang seorang pria yang tidak bisa mempercayai orang lain.
Pria bernama Steve yang memandang dunia dari kaca mata hitam. Sebuah keyakinan bahwa dunia butuh keseimbangan, dan sebagian populasi manusia harus dimusnahkan. Buku itu terbit akhir tahun, dan pada pertengahan 2012 lalu ada tragedi keracunan masal di beberapa daerah yang akhirnya merenggut nyawa banyak orang.
Selanjutnya, dia mengambil judul “Red” sebuah novel yang membangun keyakinan, bahwa kematian adalah hadiah terindah. Mengisahkan tentang orang-orang yang hidup sengsara, kemudian memilih untuk menjemput kematiannya sendiri. Dalam novel itu, dikisahkan ada seorang pemuda dengan kutukan yang membuatnya hidup sendirian. Setiap kali ada orang lain yang datang ke rumahnya, maka darah akan mengalir, dan malaikat maut terbang dengan sayap beracun, menyeret ruh manusia-manusia itu.
Berdekatan dengan terbitnya novel Red, sering terdengar berita tentang orang-orang hilang. Orang-orang seperti pemulung, anak yatim, atau orang tua yang sudah tidak memiliki keluarga. Mereka hilang tanpa jejak, dan tanpa mendapat perhatian lebih dari pihak berwajib, karena memang tidak ada keluarga yang melapor.
“Dia benar.”
Mendadak seluruh tubuh Venus terasa lemas. Bagaimana bisa ada manusia sekejam Arjuna di dunia ini?
“Ada apa?”
Satria mengambil buku yang sedang dibaca Venus. Pria itu ikut membaca beberapa baris kalimat yang ada di dalamnya, tapi tetap saja tidak bisa memahami, kenapa Venus terlihat sangat terkejut.
“Alana bilang, Arjuna selalu melakukan riset secara nyata. Dia melakukan simulasi tentang apa saja yang ditulis di dalam novel. Setelah membaca semua ini lagi, kalau diingat-ingat, seluruh peristiwa tragis yang dia ceritakan memang pernah terjadi. Aku juga sempat berpikir, kalau setiap membaca novel Juna, membuat kita seakan melihat kejadian yang belum lama terjadi. Kupikir dia hanya terinspirasi, rupanya dialah pelakunya. Dia yang melakukan kejahatan itu untuk dijadikan bahan tulisan.”
“Bagaimana mungkin ....”
Satria tidak melanjutkan. Fokus pandangannya kini beralih pada buku di tangan. Dia memilih untuk membacanya lagi, kemudian mengingat-ingat beberapa peristiwa tragis yang pernah terjadi.
“Dia memang orang yang dingin dan misterius, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau Arjuna menyembunyikan rahasia sekelam ini. Dia bahkan lebih mengerikan dari yang pernah kubayangkan. Pembunuh berdarah dingin.”
“Aku harus memberi tahu Tisna untuk menjauhinya.”
Venus hendak beranjak mencari keberadaan ponsel, tapi Satria menghentikannya.
“Bagaimana kalau kita gunakan Tisna untuk mengungkap kebusukan Juna? Aku memang belum lama mengenal pria itu, tapi caranya memandang Tisna begitu berbeda. Aku rasa dia benar-benar jatuh cinta. Sejauh yang aku pahami, cinta selalu menjadi kelemahan terbesar bagi seseorang. Aku yakin, dia memang mencintai sahabatmu.”
“Itu terlalu berbahaya. Aku tidak mau hal buruk terjadi pada Tisna.”
Venus tidak bisa menyetujui ide gila Satria. Tentu saja, mana mungkin dia menjadikan Tisna sebagai umpan.
“Mana yang lebih berbahaya dari pada Tisna terus terjerat cinta pria itu? Gadis yang sedang dimabuk asmara, apa bisa begitu saja menyerah hanya karena sahabatnya melarang dia mendekati orang yang dicintai? Selain itu, kalau kejahatannya tidak terungkap, Juna akan leluasa melakukannya lagi dan lagi, dengan korbankorban baru yang akan terus berjatuhan.”
“Jadi menurutmu Tisna juga sudah jatuh cinta?”
“Itu terlihat dengan sangat jelas.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan? Bagaimana caranya menjauhkan Tisna dari Juna?”
“Kita bicarakan ini pelan-pelan. Dia pasti bisa mengerti asal kita berhati-hati, setelah itu kita ajak dia masuk rencana kita untuk membongkar kejahatan Arjuna.”
***
Matahari baru saja menetas, cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah. Tisna masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Mata sembab gadis itu membuatnya malas bertemu dengan ibu atau adiknya. Lusi pasti akan melontarkan banyak pertanyaan padanya, sementara Syafa akan merengek dan mengacaukan paginya yang sudah kacau. Saat seperti ini, berdiam diri di kamar adalah pilihan paling tepat.
Menemui Venus dan mengharapkan untuk dipahami seperti dulu, adalah hal yang mustahil. Segalanya sudah berubah. Venus sudah memiliki kehidupan sendiri, terlalu tidak tahu diri rasanya kalau masih saja merepotkan gadis itu.
“Juna, aku tidak ingin mempercayai apa pun yang kudengar tentangmu, tapi dia ayahmu. Aku yakin dia tidak menyukaiku, makanya dia mengatakan omong kosong agar aku menjauhimu. Aku yakin kamu bukan orang yang seperti itu.”
Tisna memandangi layar ponsel yang menampilkan foto dirinya bersama Arjuna. Mereka terlihat bahagia di foto itu, tersenyum dan saling memandang penuh cinta.
“Aaa! Kenapa!”
Tisna hampir melemparkan benda persegi panjang itu, sebelum handphonnya bergetar dan menampilkan nama Venus di layarnya.
“Assalamu’alaikum.” Tisna berbicara dengan suara serak.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Tis, ada apa, kenapa suaramu serak begitu? Apa kamu sedang menangis?”
“Aku ... aku hanya ....”
“Lupakan! Aku tidak perlu jawabanmu. Datang ke rumahku sekarang, ada yang perlu kita bicarakan, ini sangat penting.”
“Tapi, Ve ....”
“Tis, aku mohon. Ini masalah Juna.”
“Juna? Ada apa dengannya?”
“Kemarilah. Nanti kamu akan tahu semuanya.”
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.”
Tisna menutup sambungan telepon setelah mengucap salam. Tidak ada gunanya meratapi nasib, air mata tidak akan bisa mengubah jalan hidup seseorang. Iya, kan? Karena itu, Tisna memutuskan untuk melanjutkan hidup, dengan atau tanpa Arjuna. Tetapi kenapa Venus memintanya datang untuk membahas hal penting tentang Arjuna? Ada apa? Apa mungkin Venus tahu sesuatu tentang sisi lain Arjuna yang ternyata b***t seperti yang dikatakan ayahnya kemarin?
Tidak mau hanya menerka-nerka dan semakin penasaran, Tisna segera bersiap dan bergegas pergi ke rumah Venus.
Baru saja keluar rumah, gadis dengan wajah imut yang mengikat rambutnya ke atas itu dikejutkan dengan keberadaan Agung. Laki-laki itu sedang berdiri di dekat mobil sambil memandangi rumahnya.
***
Untuk beberapa saat, suasana di mobil Agung sangat hening. Tidak ada yang memulai percakapan, hanya deru halus mesin yang terdengar samar-samar.
“Apa yang Anda inginkan dari saya?”
Tisna memberanikan diri untuk bertanya. Melihat wajah Agung yang kebapakan, Tisna sama sekali tidak yakin dengan apa yang pernah dikatakan pria itu kemarin.
“Jawaban apa yang ingin kamu dengar?” jawab Agung dengan nada yang sangat tenang. “Apa kamu sedang berpikir, bahwa saya tidak menyetujui hubunganmu dengan Arjuna, karena status sosial, kemudian menceritakan omong kosong?”
“Apa pun yang Anda katakan, saya percaya bahwa Juna tidak seperti itu. Saya tahu persis bagaimana dia. Dia bukan seorang yang akan meniduri kekasihnya hanya untuk memuaskan nafsu binatang.”
Agung tertawa. Sejurus kemudian dia menepikan mobil. Gadis ini terlalu mendramatisir kebersamaannya dengan Arjuna, atau dia memang benar-benar bisa memahami putranya? Namun apa pun itu, tetap saja tidak baik bagi keselamatannya sendiri. Dan Agung harus mengambil tindakan secepatnya.
“Saya tidak akan melarangmu untuk bersama dengan putra saya, tapi segeralah berlari selagi bisa berlari.”
“Kenapa? Kenapa saya harus menjauhi orang yang saya cintai, dan sangat mencintai saya? Kalau Anda tidak suka dengan hubungan kami, katakan saja, apa alasannya? Kenapa menyuruh saya berlari seolah Arjuna itu monster?”
Mata Tisna berkaca-kaca. Perasaannya tidak keruan, antara tidak terima, dan juga sakit karena mengetahui fakta bahwa orang tua dari orang yang dicintainya menentang hubungan mereka.
Agung mengambil sebuah foto keluarga dari laci mobil. Di foto itu, terlihat Agung, Clarissa dan Arjuna kecil di gendongan ibunya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia, dengan senyuman yang mengembang dari bibir ketiganya.
“Dulu, kami adalah keluarga yang bahagia. Sampai ibunya Arjuna memiliki sebuah obsesi yang berlebihan dalam membuat sebuah cerita. Dia mengawali karier menulisnya dengan mengangkat kisah nyata pembunuhan tragis sebuah keluarga, yang terjadi di tahun 1998. Novel itu langsung meledak di pasaran. Tahun berikutnya, dia menulis tentang kisah gadis yang bertahan dalam siksaan selama 44 hari. Kisah legenda dari Jepang yang dia buat menjadi cerita fiksi dengan bumbu-bumbu fantasi. Novel itu juga menjadi best seller, tapi novel ketiga, dia seolah kehilangan nyawa dari tulisannya sendiri karena menulis cerita fiksi yang benar-benar fiksi. Menurutnya, untuk menulis sesuatu yang bernyawa, setidaknya dia pernah mengalami apa yang dia tuliskan, atau minimal hal itu pernah terjadi. Lalu dia memilih untuk berpisah denganku, sebelum akhirnya menuliskan kisah seorang ibu tunggal yang memberi makan anaknya dengan daging manusia karena tidak memiliki uang untuk membeli daging sungguhan. Apa yang kamu pikirkan setelah mendengar kisah ini?”
“Sa—saya masih tidak mengerti maksud Anda. Apa Anda ingin mengatakan bahwa Penulis Clarissa benar-benar memberikan daging manusia pada putranya, yang berarti itu adalah … Arjuna?”
Agung tidak menjawab. Dia mengambil beberapa buku dari jok belakang. Novel-novel karya Clarissa dan Arjuna.
“Kalau kamu membaca ini semua, kamu pasti akan menemukan sesuatu yang mungkin tidak akan ditemukan oleh orang lain, yang belum mendengar kisah tadi.”
Tisna mengamati satu-satu buku yang diberikan Agung. Sebagian dari buku itu sudah pernah dibacanya. Selain penggemar Arjuna, dia juga banyak mengoleksi novel-novel karya ibunya, sebagai bentuk rasa cinta pada Arjuna. Dia ingin lebih dekat dengan apa-apa yang berhubungan dengan penulis favoritnya. Karena itu, dia juga membeli dan membaca novel Clarissa.
“Mereka memiliki gaya penulisan yang mirip, dan juga, tulisan mereka punya warna yang sama. Gelap, dan penuh darah.”
“Jadi, apa kamu sudah bisa menyimpulkan sesuatu?”
“Saya masih belum mengerti maksud Anda. Kenapa ....” Otak Tisna loading dengan kecepatan penuh. Neuron-neuronnya mulai membuat sebuah peta permasalahan, yang menuju pada satu titik, bahwa Arjuna dan Clarissa, mereka berdua adalah psikopat gila.
“Ap—apa mungkin ....”
Tisna membuka kembali novel Arjuna, dia mengingat kejadian kejadian dalam novel itu memang pernah terjadi. Dia juga ingat perkataan Arjuna tentang riset dalam tulisan, dan bagaimana caranya berbicara ketika mengatakan tentang kelinci percobaan untuk racun aconite waktu itu.
“Benar. Clarissa tidak pernah puas dengan pencapaiannya, lalu dia membentuk putranya menjadi iblis seperti dirinya. Dan aku ... Aku sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa, saat melihat putraku sudah tumbuh seperti ibunya yang mengerikan. Dia hidup dalam tekanan selama bertahun-tahun, membuatnya menjadi manusia yang tidak punya perasaan, bahkan saat membuat nyawa seseorang melayang, dia seolah tidak punya rasa bersalah.”
Tisna tidak bisa berhenti berpikir, tentang bagaimana Arjuna yang sebenarnya. Seorang yang sudah mencuri hatinya, rindunya dan juga harapannya tentang pernikahan, ternyata seorang yang sangat mengerikan.
“Kalau Anda tahu semua itu, kenapa Anda tidak melaporkannya ke polisi. Apa karena dia putra Anda, jadi Anda berusaha menutupinya?”
“Sama sekali tidak. Aku sudah sering kali berusaha mencari setidaknya satu saja barang bukti, tapi kerjanya terlalu rapi, nyaris tidak meninggalkan jejak meski itu setetes darah, atau jejak angin yang mungkin menerbangkan aroma korbannya. Aku tidak bisa menemukan itu. Karena itu, sampai aku bisa membuatnya sadar, aku harap kamu menjauh darinya. Ini demi kebaikanmu sendiri.”
Tidak mungkin. Tisna masih belum bisa mempercayai hal itu. Dia tidak bisa menelan mentah-mentah informasi yang barusan dia dengar dari orang yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya saat pertama bertemu kemarin.
Dalam ingatan Tisna, sosok Arjuna adalah pria yang hangat, penuh pengertian, dan juga lembut. Yang selalu melekat di dalam hatinya, adalah Arjuna yang romantis dan melakukan banyak hal untuk dirinya. Bukan pria dengan masa lalu kelam yang tumbuh menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
BestRegards,
MandisParawansa