“Ketika virus bernama cinta menjangkiti hati anak manusia, maka ia akan menyumbat akal sehatnya hingga melumpuhkan logika.”
***
Kalau kehidupan ini diibaratkan seperti layang-layang, maka Tisna adalah layang-layang putus yang terbang tanpa kendali. Terombang-ambing di angkasa, kemudian terjun bebas tanpa ampun. Seseorang yang dianggapnya sebagai matahari, membakar kepercayaannya hingga luluh lantah. Udara yang selalu dia butuhkan keberadaannya, menjelma menjadi karbon monoksida yang semakin dihirup, semakin mendekatkannya pada kematian. Seperti itulah Arjuna sekarang dalam pikirannya
Tisna berjalan dengan langkah sempoyongan ketika turun dari mobil Agung. Paving block yang mulai dikerumuni lumut, seolah sedang mengejek kebodohannya. Bumi pasti sudah kehilangan keseimbangan, sehingga tingkat kemiringannya membuat kepala gadis itu terasa pusing.
‘Larilah selagi kamu bisa berlari, selamatkan dirimu sebelum semuanya terlambat.’
Neuron otaknya begitu lihai memutar ulang kalimat Agung di mobil tadi. Sebagian hatinya menolak untuk memercayai laki-laki yang dikenalnya sebagai ayah Arjuna, tapi sebagian yang lain menyuruh untuk berlari sekencang mungkin. Dilema yang dirasakannya masih belum hilang, sampai sepasang kaki dengan kets putih itu berhenti di depan pintu rumah Jayu.
Begitu pintu dibuka, gadis dengan balutan kaos putih dan jeans panjang itu segera memeluk tubuh kekar yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Sasaaaa,” isaknya dengan air mata yang terus mengalir.
“Hei, Si Imut kenapa? Kenapa menangis begini?”
Tangan Satria mengangkat wajah gadis itu lembut. Tatapannya sayu dan penuh empati. Ada rasa ngilu yang menyerbu sebagian hatinya ketika melihat butiran bening menetes dari sudut mata Tisna.
“Saa, bawa aku lari dari dunia ini. Bawa aku pergi ke tempat, di mana seseorang bisa membunuh perasaannya sendiri. Aku benci semua ini, Sa. Aku benci perasaanku, dan juga keadaanku.”
“Tisna.” Venus menyusul Satria yang tidak juga kembali setelah beberapa saat. “Ada apa, kenapa kamu menangis begini?” tanya Venus dengan wajah khawatir.
Dia paling tidak bisa melihat orang lain menangis, itu membuat dadanya ikut sesak, dan air matanya sendiri juga selalu menjadi pengkhianat nomor wahid ketika seseorang menangis di hadapannya.
“Venus, apa yang harus kulakukan?”
Tisna melepaskan diri dari Satria, gadis itu menghampiri Venus dan hendak memeluknya, tapi urung. Dia sadar, kalau hal itu hanya akan menempatkan sahabatnya dalam dilema yang sama. Dia tidak mau membebani Venus dengan membuatnya merasakan sesak yang sedang mengimpit hatinya.
“Ceritakan padaku, aku akan mendengarkanmu.”
Venus mengajak Tisna ke ruang tamu, dan duduk di tempat di mana sebelumnya dia dan Satria sedang membicarakan tentang Arjuna. Melihat buku-buku yang berserakan di meja, tubuh Tisna luruh di lantai. Dia mengamati beberapa buku yang halamannya masih terbuka, air matanya kembali meleleh, pandangannya bergantian ke arah buku dan Venus.
“Ve, apa mungkin, kamu juga ... sudah menyadari semuanya, kalau Arjuna itu ....”
Venus menghindari tatapan Tisna, dia lebih memilih menatap ubin yang dipijaknya.
“Aku ... sebenarnya, tadi ... tadi Alana kembali menemuiku. Dia menunjukkan semuanya, dan aku berusaha mencari kebenarannya lewat buku-buku itu. Ternyata ....”
“Aku tahu, aku sudah tahu semuanya. Lalu, apa kamu percaya dengan semua ini? Apa menurutmu Arjuna adalah orang yang sekejam itu?”
Tisna masih berusaha memberikan harapan, terutama pada hatinya sendiri. Bahwa apa yang didengarnya sama sekali bukan kebenaran. Itu hanya mimpi buruk, dan Arjuna tetaplah Arjuna yang baik seperti yang dia kenal.
“Kamu mungkin tidak ingin memercayainya, tapi aku percaya dengan Kakak Ve.” Kali ini Satria yang bersuara. Dia paham kalau Venus pasti kesulitan mengambil sikap dalam keadaan seperti ini. “Awalnya aku juga tidak ingin percaya, pria secerdas, setampan, dan semenarik Arjuna, ternyata menyembunyikan sisi kelam yang menyeramkan. Padahal, menurutku dia juga imut, walau memang tubuhnya mirip ikan teri kurus, dan kakinya yang panjang mirip kaki burung,” lanjutnya masih mempertahankan logat Sasa di hadapan Tisna.
Venus diam-diam mengulum senyum, hampir tidak percaya dengan sikap Satria. Bagaimana bisa dia masih bercanda dalam keadaan seperti sekarang? Dan ya, sepertinya bakat akting Satria bahkan lebih bagus dari Jayu.
“Tapi, Sa, dia sangat baik padaku, aku yakin dia masih punya kebaikan di dalam hatinya. Kita hanya perlu tahu alasannya melakukan semua itu, untuk bisa memahaminya. Lagi pula, belum tentu semuanya benar, kan?”
Bicara dengan orang yang sedang jatuh cinta memang tak pernah mudah. Apa lagi soal keburukan orang yang dicintai. Sepertinya memang benar, cinta adalah penyumbat akal manusia, yang menjadikan seorang menjadi lemah dan bodoh ketika sudah terjangkiti virusnya.
“Memahaminya katamu? Apa menurutmu apa yang dilakukan Juna adalah sesuatu yang bisa dimaklumi?” sanggah Satria mulai kehilangan kendali. Dia berbicara tegas penuh penekanan, menanggalkan jiwa Sasa yang mati-matian berusaha dia pertahankan beberapa detik lalu.
“Apa kamu lupa, bagaimana tokoh utama dalam novel Red membuat Naomi jatuh cinta mati-matian padanya, kemudian menyerahkan diri untuk dibunuh atas nama cinta? Apa kamu mau menjadi Naomi yang selanjutnya?”
“Tidak mungkin. Seri novel Malaikat Maut yang ditulisnya, semua hanya fiksi. Percaya padaku, Sa, dia orang yang sangat baik. Kalaupun Arjuna menyembunyikan sebuah rahasia, aku yakin dia tidak akan sanggup membunuh orang.”
“Kenapa kita tidak mencari tahu saja kebenarannya?” sela Venus di antara perdebatan dua orang di hadapannya. “Aku juga ingin percaya kalau Arjuna adalah orang yang baik, aku ingin membuktikan kalau Alana hanya arwah yang belum bisa memaafkan masa lalunya, dan apa yang dia katakan tentang Arjuna adalah bentuk dari kekecewaannya pada kehidupan. Jadi, ayo kita cari bukti bahwa semua ini salah.”
“Tapi, bagaimana caranya?”
Tepat saat Tisna mengucapkan kalimat itu, ponselnya berdering dari dalam tas. Saat tangannya merogoh benda itu dan melihatnya, keningnya berkerut, pandangannya beralih dari ponsel ke Venus dan Satria secara bergantian.
“Bagaimana ini?” tanya gadis itu pada Venus.
Satria mengambil alih ponsel Tisna, lalu meletakkannya di atas meja. Dia mengangkat panggilan, dan menekan tombol load speaker.
“Tisna, Tisna, kamu di mana?” Suara Arjuna lebih terdengar seperti rintihan. “Aku mencintaimu, Tisna. Aku sangat mencintaimu, jangan pernah percaya apa pun yang dikatakan ayahku. Aku mohon.”
Air mata Tisna kembali meleleh mendengar suara itu. Dia bisa merasakan penderitaan yang sedang dirasakan oleh Arjuna. Hatinya mengatakan, bahwa apa yang dikatakan Arjuna adalah kejujuran.
“Tisna, jangan percaya dia. Jangan percaya,” pinta Arjuna dengan suara yang semakin lirih, sebelum panggilan itu terputus secara tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang, Tisna segera bangkit. Gadis itu meraih ponselnya, kemudian beranjak dari tempat duduk. Satu-satunya tempat yang ada dia pikirkan saat ini adalah rumah Arjuna. Mendengar suara pria itu, membuat hatinya semakin yakin kalau saat ini yang dibutuhkan Arjuna adalah dirinya. Apa pun rahasia yang disembunyikan kekasihnya, dia sama sekali tidak ingin peduli. Menurutnya, meninggalkan Arjuna saat seorang ayah justru berusaha menghancurkan cinta yang sedang mereka bangun, hanya akan melemparkan Arjuna pada jurang yang lebih dalam. Andai benar semua cerita yang dia dengar dari Agung dan juga Venus, dia memilih untuk mencari tahu alasan apa di balik semua itu. Arjuna masih punya sisi baik, Tisna yakin itu.
“Kamu mau ke mana?” Suara Venus menghentikan langkah Tisna.
“Menemuinya. Dia membutuhkanku sekarang.”
“Tapi ....”
“Ve, percayalah, aku akan baik-baik saja. Aku pernah berlari ke arah kematian, dan sekarang, aku juga tidak takut kalau harus menghadapi kematian lagi.”
“Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Aku ingin membuktikan, kalau Arjuna bukan monster seperti yang kalian pikirkan.”
“Baiklah,” Satria berjalan mendekati Tisna sambil melepaskan salah satu cincin batu akik di jari tengahnya, “Pakailah. Cincin ini dilengkapi mikro kamera, kamu harus membawanya agar kami tetap bisa mengawasimu. Aku berharap, kamu mau mencari bukti tentang kejahatannya.”
Tisna tersenyum miring mendengar ucapan Satria, yang seolah mengatakan kalau Arjuna memang penjahat.
“Aku akan membuktikan pada kalian, bahwa keyakinanku ini benar. Dia bukan orang jahat seperti yang kalian pikirkan.”
Tisna mengambil cincin itu kemudian memakainya. Dia mengangkat tangan ke udara, untuk menunjukkan bahwa dia sudah menggunakan cincin itu seperti keinginan Satria.
“Apa tidak apa-apa?” tanya Venus dengan nada khawatir, ketika melihat sahabatnya sudah menghilang di balik pintu.
“Arjuna tidak akan menyakitinya. Aku yakin itu. Sebaliknya, dengan cincin yang sekarang ada di tangan Tisna, kita bisa mengawasi mereka. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk dari sana.”
Satria mengambil laptop dari koper yang ada di dekat sofa. Setelah menyalakan benda canggih itu, dia memasukkan sebuah kode akses yang menghubungkan laptop itu dengan kamera di cincin Tisna. Selanjutnya, dia bisa melihat, kalau saat ini Tisna sedang berada di dalam taksi.
“Omong-omong, ini sudah siang, kenapa Jayu belum pulang juga? Tidak biasanya dia lari pagi sampai siang begini,” ujar Satria sambil menyandarkan punggung. “Entahlah, aku juga tidak tahu.”
***
“Arjuna ... kamu monster yang mengerikan.”
Arjuna terus mendengar kata-kata itu, baginya, mungkin itulah yang ingin dikatakan oleh mereka. Orang-orang yang nyawanya telah hilang di tangannya. Teringat bagaimana Meiryn menyerahkan pisau sambil tersenyum. Sahabatnya saat masih duduk di bangku SMA, seorang gadis yang sangat percaya, dan selalu mendukung apa pun yang dilakukan Arjuna. Satu-satunya orang di sekolah yang tidak pernah keberatan dengan sikap dinginnya, yang selalu duduk di depannya sambil memamerkan senyum tulus ketika makan siang di kantin sekolah. Gadis yang jika dia mengusirnya seribu kali, maka Meiryn akan datang seribu satu kali dengan tawa khasnya yang renyah. Sekarang dia sudah tiada.
“Ryn, kamu tahu, orang-orang menganggapku gila dan mengerikan. Ayah bilang aku seperti monster.”
Suara Arjuna hanya seperti desahan angin. Pria itu terlihat begitu menderita ketika menatap foto dirinya bersama seorang gadis berseragam SMA yang tersenyum lebar.
“Kamu bilang aku harus mengikuti kata hati. Hatiku bilang, aku memang moster. Apa yang harus kulakukan sekarang?”
Kamarnya terlihat berantakan, rak buku di samping tempat tidur sudah terbalik dan memuntahkan semua koleksi buku yang beberapa menit lalu masih tertata rapi di sana. Lampu di meja kecil dekatnya sudah jatuh, pecahan kaca dari bingkai foto keluarga yang sebelumnya menghiasi dinding kamar, berserakan di lantai.
“Meiryn, jawab aku! Kenapa kamu diam saja? Apa kamu juga tidak mau bicara denganku lagi?” Arjuna memegang erat-erat foto di tangan. “Kamu bilang, aku bisa menjalani hidup seperti manusia lain, tapi ayahku bilang, aku seperti monster. Siapa yang harus kupercaya? Apa aku harus percaya denganmu yang sudah menjadi mayat? Atau ...” Arjuna tidak melanjutkan kalimatnya. “Hahaaa ... hiks! Heheee ... aaaaaa! Hahaa!”
Sebentar dia tertawa, sebentar terdengar tangis yang mengerikan.
Kepalanya berdenyut nyeri ketika ingatannya terus memutar ulang wajah-wajah tak berdosa yang harus kehilangan nyawa di tangannya.
“Kenapa kamu hanya diam? Bicaralah! Aku ingin mendengarmu sekarang!” bentak Arjuna, tapi Meiryn tetap diam.
Gadis dalam foto itu masih tersenyum lebar tanpa sepatah kata pun, membuat kesabaran Arjuna mulai terusik.
“Bicaralah! Aku berjanji akan mendengarkanmu. Aku akan memercayai seluruh ucapanmu asal kamu bicara sekarang.”
Arjuna tertawa di akhir kalimatnya. Dia terus merintih merasakan sakit di kepala yang semakin menjadi. Tangan kanannya berusaha meraih botol obat di meja. Arjuna menuangkan hampir separuh isinya ke tangan, lalu meminum semuanya. Seharusnya dia hanya perlu dua butir untuk sakit kepalanya itu, tapi sekarang, setelah butiran-butiran putih yang pahit itu melewati tenggorokan, kepalanya terasa lebih ringan.
Tubuhnya tumbang, dan terkulai lemah di lantai kesadarannya mulai terurai satu-satu. Dirasakannya tubuh itu benar-benar ringan. Sangat ringan, hingga dirinya seakan sedang terbang di udara, ketika seorang bidadari dengan sepatu kets putih datang menghampiri.
“Juna, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu seperti ini?”
Tisna berlari ke arahnya dengan wajah panik. Melihat kamar itu berantakan, pasti sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada Arjuna. Pria itu membuka mata perlahan, samar-samar dia bisa melihat kekhawatiran yang terselip sempurna di wajah putih gadis di hadapannya.
“Meiryn? Kamukah itu?” Tangan Arjuna terulur membelai pipi Tisna. “Kenapa kamu baru datang? Aku ingin menunjukkan padamu, seorang gadis yang sangat kucintai melebihi diriku sendiri.” Arjuna terus berbicara yang terdengar lebih mirip gumaman. “Namanya Tisna. Dia gadis yang sangat baik, tapi aku takut akan menyakitinya seperti dirimu. Aku sangat mencintainya, Meiryn. Sangat mencintainya. Aku tidak ingin menyakitinya sedikit pun.”
“Aku juga mencintaimu, Arjuna. Aku sangat mencintaimu, tidak peduli apa pun yang dikatakan orang lain tentangmu,” jawab Tisna dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Sayang, Arjuna sudah tidak bisa mendengar kalimatnya. Pria itu kehilangan kesadaran, dia benar-benar tidak berdaya sekarang.
Susah payah, Tisna berusaha memindahkan Arjuna ke atas ranjang. Gadis itu membaringkannya, lalu menyelimuti tubuh Arjuna sampai batas d**a. Jari-jari lentik Tisna membelai wajah pria itu dengan lembut.
“Kehidupan macam apa yang sebenarnya kamu jalani? Apa yang kamu sembunyikan, sampai membuatmu seperti ini?”
Tisna hendak membereskan barang-barang yang berserakan di kamar itu, ketika tangan Arjuna tiba-tiba menahannya.
“Jangan pergi,” pinta Arjuna dengan mata terpejam.
“Aku ....”
“Aku mohon. Tetap di sini bersamaku.”
Mau tak mau Tisna duduk di samping Arjuna. Dia memerhatikan wajah lelah kekasihnya, mencoba mencari tahu, rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan di balik wajah itu. Seorang yang membuatnya kembali percaya bahwa harapan selalu ada, dan yang membuatnya jatuh cinta setiap kali melihat senyuman di wajah itu, saat ini membuatnya merasakan sakit bukan main. Bukan karena kenyataan tentang gadis bernama Meiryn yang terus disebut ketika Arjuna tidak sadarkan diri, tapi karena dirinya merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Karena merasa tidak berguna, dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan beban pikiran Arjuna.
Butiran bening kembali merembes dari sudut mata Tisna. Cairan hangat itu jatuh tepat di wajah Arjuna, yang membuatnya membuka mata. Tangan Arjuna bergerak, berusaha menghapus air mata Tisna.
“Jangan menangis, air matamu membuat hatiku sakit.”
“Kenapa?” Tisna meraih tangan Arjuna yang berada di wajahnya. “Kenapa aku mendengarkan orang lain? Kenapa aku tidak bisa percaya padamu saja? Aku minta maaf karena begitu bodoh,” isak Tisna penuh penyesalan.
“Kenapa kamu harus minta maaf?” Arjuna bangkit, dia berusaha duduk, meski kepalanya terasa pusing. “Jangan meminta maaf kecuali kamu bersalah. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun di mataku.”
“Aku sempat percaya dengan ucapan ayahmu, tapi sekarang ....”
“Lihat aku.” Arjuna mengangkat wajah Tisna, membuat gadis itu menatapnya, dan melihat bagaimana dirinya sangat menderita ketika melihat Tisna menangis. “Aku tidak apa-apa. Meski kamu berlari sejauh apa pun, aku percaya kamu akan kembali padaku. Aku bisa memahami kalau kamu memercayai ucapan orang yang kupanggil ayah, itu bukan masalah. Kenyataannya, sekarang kamu ada di sini bersamaku. Mulai sekarang, kamu harus menanyakan sendiri padaku. Aku akan menjawab semua yang ingin kamu ketahui dariku dengan jujur. Ini janjiku.”
Tisna mengangguk. Dia masih belum berani melihat wajah Arjuna.
“Apa kamu akan mendengarkanku?” tanya gadis itu dengan sedikit keraguan.
“Tentu.”
“Kalau begitu, istirahatlah. Kamu harus segera sembuh, aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”
Arjuna tersenyum mendengar kalimat Tisna. Dia segera membaringkan kepala di pangkuan gadis yang membuatnya bertekad untuk dia percaya luar dalam.
“Tidurlah. Pejamkan matamu.”
“Ini masih siang."
“Kamu butuh istirahat.”
“Aku ingin melihat wajahmu. Aku takut, kamu akan menghilang jika aku berkedip sebentar saja.”
“Tidak akan. Percayalah, apa pun yang terjadi, aku akan berada di sisimu.”
Mendengarnya membuat Arjuna sedikit lebih tenang. Kata-kata Tisna persis yang dikatakan Meiryn waktu itu, tapi kali ini, Arjuna berjanji pada dirinya sendiri, Tisna tidak akan pernah sama dengan Meiryn. Dia tidak ingin kehilangan Tisna, dan melakukan kebodohan yang sama seperti dulu lagi.
Melihat kebersamaan Arjuna dan Tisna, serta melihat bagaimana sikap Arjuna pada sahabatnya, Venus yang mengawasi mereka lewat laptop Satria mulai ragu. Mungkinkah pria selemah Arjuna mampu melakukan sesuatu yang mengerikan seperti yang ditunjukkan Alana?
“Ada apa ini?” Venus mengibas-ngibaskan tangan di dekat wajah. Tiba-tiba saja dia merasakan perubahan atmosfer udara yang berbeda, yang membuatnya gerah seketika. Padahal Venus sangat yakin, AC di ruangan itu sudah dinyalakan.
“Sat, apa kamu juga ....”
Venus tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat Satria yang mengepalkan tangan kuat-kuat. Tatapannya tidak beralih dari layar laptop yang memperlihatkan wajah Tisna, gadis itu terlihat menatap Arjuna dengan penuh cinta, juga kesedihan yang mendalam.
Tisna melepaskan cincin pemberian Satria, lalu berbicara tepat di depan cincin itu.
“Kalian lihat sendiri kan, bagaimana lemahnya seorang yang kalian anggap monster. Maaf, aku tidak bisa masuk pada rencana kalian, bagiku, semua ini sudah cukup membuktikan, bahwa aku harus berada di sisinya.”
Selesai mengucapkannya, Tisna membanting cincin itu dan menginjaknya sampai hancur. Layar laptop yang sedang diperhatikan Venus dan Satria memperlihatkan warna hitam, koneksinya sudah terputus, dan mereka tidak bisa melihat lagi apa pun yang terjadi di tempat Arjuna.
“Pilihan tepat,” ucap Arjuna dengan mata terpejam. Selanjutnya, pria itu membuka mata dan menampilkan seringai iblis. Wajah yang seolah belum pernah dilihat Tisna sebelumnya.
“Arjuna, ap—apa maksudmu?” Tisna mulai ketakutan ketika Arjuna bangkit dan mencengkeram pergelangan tangannya kuatkuat. “Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya lagi, ketika Arjuna mendekatkan diri.
“Menjadikanmu tokoh dalam novelku. Apa lagi? Hanya dengan cara itu, kisah kita akan abadi. Bukankah itu yang kamu inginkan?”
***
“Kamu cemburu?” tanya Venus ketika dia terus merasakan emosi Satria yang membuat ruangan itu terasa panas baginya.
Satria hanya tersenyum separo.
“Cinta dan cemburu hanya milik orang-orang yang lemah. Aku tidak sebodoh itu untuk bisa jatuh cinta,” jawabnya tanpa melihat ke arah Venus.
“Dan menurutku, saat ini kamu sedang menjadi orang bodoh yang lemah,” goda Venus sambil menopang dagu dengan tangan kanan, membuat Satria mulai salah tingkah. “Kamu mungkin bisa membohongi orang lain, tapi kamu tahu itu tidak termasuk aku,” lanjut Venus. Dia mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuk hendak menyentuh kulit lengan Satria. “Apa aku perlu menyentuhmu?”
“Kamu mengerikan.” Satria menjauhkan diri, membuat Venus tersenyum penuh kemenangan. “Tapi untuk saat ini, aku tidak sedang dalam kondisi untuk memikirkan orang lain selain suamimu,” lanjut Satria membuat senyum di wajah Venus memudar, berganti ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
“Apa maksudmu? Dasar ....”
Tepat saat Venus hendak melemparkan buku di hadapannya, ponsel Satria berdering, panggilan masuk dari Jayu. Candaan mereka harus terhenti sekarang juga, padahal dalam hati Venus sangat yakin dengan perasaan Satria, dan dia ingin mencoba menghibur pria itu, ketika sedang patah hati karena cinta sepihaknya.
“Halo ... Sasa di sini, ada yang bisa dibantu?” jawabnya sambil berlenggok-lenggok membuat Venus geli sendiri melihatnya.
Seorang pria dengan postur tinggi dan tubuh kekar, berpura-pura menjadi lelaki setengah matang begitu, benarkah hanya karena alasan uang agar dirinya bisa bekerja sebagai asisten Jayu? Pikiran Venus mulai menerka-nerka.
“Selamat siang, Satria.” Suara dari seberang terdengar berat, suara yang sangat dikenal oleh Satria, dan bukan milik Jayu. “Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah lama kita tidak saling bicara. Kupikir kamu sudah menyusul orang tuamu.”
“Raka!” Satria berdiri dengan gerakan yang sangat cepat.
Mendengar suara itu membuatnya berpikir, sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi pada Jayu. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa ponsel Jayu ada padamu? Di mana dia?”
“Ada apa?” tanya Venus tanpa suara. Satria hanya mengangkat bahu, memberikan isyarat bahwa dirinya juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Ohohooo! Santailah. Sudah terlalu lama kita tidak berbicara, apa kamu tidak merindukan Kakakmu ini?”
“Berhenti bicara omong kosong. Katakan apa maumu?”
***
“Kamu masih belum berubah, tapi aku senang mendengarnya. Itu artinya, kamu akan melakukan apa saja untuk orang ini.” Raka mengangkat wajah Jayu menggunakan moncong pistol. Jayu terlihat tak berdaya, kedua tangannya diikat pada sebuah tiang, dan kepalanya terkulai lemah.
“Datang ke markas sekarang juga. Sendirian. Jangan berani melibatkan polisi, atau kepala bocah ini akan menjadi sarang timah panas.”
“Berengsek! Berani menyentuhnya, aku akan melemparkanmu ke neraka.”
Satria menutup panggilan, sesuatu yang dia takutkan benar-benar terjadi. Raka menjadikan Jayu sebagai sandera untuk membuatnya menyerah.
“Ada apa? Apa Kapten baik-baik saja?”
“Tidak akan terjadi apa-apa padanya selagi aku masih bernapas. Kamu tenang saja, dan tunggu di sini. Aku pasti akan membawanya kembali,” ucap Satria mantap. Dia segera bergegas menuju markas persembunyian Raka. Apa pun yang terjadi, sekalipun dia harus kehilangan nyawa, Satria akan melakukannya demi melindungi Jayu, seperti janjinya pada Prasetya.
BestRegards,
MandisParawansa