`“Jika ada sesuatu yang paling keras di dunia ini, maka dia bukan besi atau baja, melainkan waktu. Setiap detik yang bergerak, serupa anak tangga yang mengantarkan manusia pada ujung takdir. Setiap embusan napas, serupa b***k yang menghamba pada keangkuhannya.”
***
Venus menahan napas. Dadanya terangkat, dan dia mengembuskan napas dengan sangat perlahan. Gadis itu menggigit bibir bawah, kesulitan berkedip ketika melihat apa yang ada di hadapannya. Tangannya meremas mouse kuat-kuat, hampir saja dia melempar benda itu.
“Ternyata kamu selalu bangun lebih awal karena hal ini.” Suara Jayu mengagetkan Venus, membuatnya buru-buru berdiri dan membelakangi laptopnya. “Dasar m***m!” cibir Jayu dengan bibir yang terangkat sebelah.
“Kapten, ka-kamu sudah bangun.” Venus mendadak gagap. Dia berusaha menghalangi pandangan Jayu dari layar laptopnya.
“Jangan salah paham, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku ....”
“Salah paham?” Dengan satu gerakan, Jayu membuat Venus menyingkir.
Dia melihat dengan jelas, apa yang sedang dilihat gadis itu pagi-pagi begini di taman belakang. Gemercik air yang mengalir di sepanjang dinding yang terbuat dari batu alam, juga kolam kecil yang ada di sana memang menghadirkan suasana yang sangat menenangkan. Ditambah lagi, beberapa tanaman bunga yang tertata rapi di dekat kolam ikan, membuat teras belakang menjadi tempat paling favorit bagi Venus untuk menulis.
Darah Jayu berdesir hangat ketika melihat apa yang ada di layar. Dia menelan ludah dengan bola mata yang nyaris keluar dari kelopak. Ini berlebihan, tapi dia benar-benar terkejut saat mengetahui fakta baru, kalau istrinya ternyata diam-diam suka menonton adegan m***m.
Di sana, terlihat jelas dua orang yang sedang berbagi cinta lewat adegan bibir. Sepertinya itu adalah potongan adegan dari drama korea.
“Kapten, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.” Venus segera menutup laptop, dan menghalangi Jayu agar tidak melihatnya. Walau semua itu jelas sudah terlambat. “A-a-aku ... Aku hanya sedang ... Mencari referensi. Ya, benar. Aku mencari referensi.”
Entah alasan apa, tapi Venus yang biasanya tidak peduli dengan anggapan orang lain tentang dirinya, mendadak jadi sangat peduli dan merasa takut kalau Jayu akan salah paham. Percayalah. Dia bukan gadis m***m seperti yang ada di pikiran Jayu.
“Referensi? Referensi untuk apa? Apa kamu sedang merencanakan malam pertama denganku?” Jayu maju selangkah membuat Venus mundur sampai membentur meja di belakangnya. “Apa? Ma-malam pertama?”
Jutaan kosa kata dan koleksi u*****n yang ada di kamus besar otak Venus mendadak raib ketika memikirkan hal itu. Malam pertama dengan Jayu? Dia sama sekali tidak pernah memikirkannya sedikit pun. Jayu benar-benar sudah salah paham. Perlu diluruskan.
“Kamu sudah salah paham,” lanjut Venus tegas ketika otaknya sudah kembali. Untuk apa dia takut dengan Jayu? “Aku selalu kesulitan ketika harus membangun suasana romantis di dalam cerita.” Dia mulai menjelaskan, berharap Jayu tidak akan salah paham lagi padanya. “Kupikir dengan melihat keromantisan dalam drama korea, aku akan menemukan inspirasi. Setidaknya untuk menciptakan suasana yang membawa tokohnya dalam keadaan cukup dekat.”
Jayu nyaris tak percaya. “Oh, jadi menurutmu, romantis sama dengan m***m? Wow! Sempit sekali ternyata pemikiran seorang penulis tersohor sepertimu. Kalau sampai fans-fansmu tahu, mereka pasti akan sangat kecewa.”
“Bukan begitu, aku ....”
“Lagi pula ...” Jayu memotong kalimat Venus, dia melangkah lebih dekat lagi. “Kalau kamu ingin tahu, kenapa tidak melakukannya saja sendiri. Bukankah melakukan riset secara langsung, akan membuat tulisanmu semakin nyata? Jika kamu menuliskan sesuatu yang pernah kamu rasakan, orang-orang yang membacanya juga pasti akan ikut merasakan emosi yang kamu tiupkan pada tokoh itu. Iya, kan?”
Otak Jayu sudah mencetuskan ide usil. Dia menggoda Venus dengan terus mendekat dan mencondongkan wajahnya ke wajah gadis itu.
Venus menjauhkan diri, dia sudah terjebak dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Tubuhnya sudah membentur meja, dan tidak mungkin lagi untuk menghindar.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Menurutmu?”
“Aku mohon jangan.”
Venus masih berusaha menghentikan Jayu. Dia sudah tidak bisa bergerak lagi karena sekarang kedua tangan Jayu mengimpitnya. Aroma mint yang segar menghampiri indra penciuman ketika Jayu berbicara begitu dekat dengannya.
“Kenapa? Aku akan menunjukkan padamu, seperti apa rasanya bibir bertemu bibir seperti yang kamu lihat barusan.”
“Kapten, kamu seorang muslim.”
Venus memejamkan mata, takut melihat Jayu yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Dia sudah kehabisan akal untuk bisa menghentikan tingkah suaminya.
“Ya, aku tahu. Lalu?”
Jayu menelusuri wajah Venus, nyaris saja dia tertawa melihat ketakutan gadis itu. Ibu jarinya menyapu lembut permukaan bibir Venus yang membuatnya semakin ketakutan, dia menahan napas sambil berusaha menjauhkan wajah. Tangannya berpegangan pada sisi meja yang ada di belakangnya.
“Aku melihatmu sholat.”
“Lalu?”
“Perempuan itu makhluk yang harus dilindungi.”
“Aku tidak sedang merusakmu.”
“Kamu tidak seharusnya berbuat begini pada seorang perempuan.”
“Termasuk istri sendiri?”
“Ak-aku ....”
Venus kehabisan kata-kata. Jayu benar, bagaimanapun, dia adalah istri sah Jayu di mata agama. Tidak ada larangan bagi seorang suami mendekati istrinya, justru sebaliknya, seharusnya Venus bisa bersikap sebagai seorang istri yang baik. Namun, sepertinya dia belum siap. Batinnya masih belum setuju untuk menganggap pernikahannya dengan Jayu sebagai pernikahan.
“Gus Ayas.”
Jayu berhenti pada jarak yang sangat dekat. Dia menahan diri untuk tidak mendekat, tangan kanannya mengepal kuat-kuat sampai buku jarinya memutih. Nama itu lagi. Apa Venus benarbenar tidak bisa melupakannya?
“Dia akan marah padamu. Dia pasti akan datang.”
Jayu menarik diri. Ekspresi wajahnya mendadak dingin.
“Sampai kapan?” Jayu bertanya dengan nada yang sangat datar.
“Apanya?”
Venus bisa bernapas lega karena sekarang Jayu sudah tidak mengintimidasinya lagi. Pria itu sudah menjauh lebih dari sedepa.
“Sampai kapan kamu akan hidup dalam bayang-bayang masa lalu? Apa sekali saja, kamu tidak bisa menganggapku sebagai suami? Aku menikahimu, bukan membeli ragamu hanya untuk diakui sebagai istri di mata dunia.”
“Kapten?”
Benar yang dikatakan Jayu. Bagaimanapun mereka benar-benar menikah. Jayu adalah pria normal yang juga pastinya mengharapkan kepuasan batin dari istrinya, seperti yang pernah dikatakan Tisna waktu itu. Hubungan mereka tidak mungkin selamanya seperti ini.
“Ve,” Jayu kembali mendekat, dia meraih tangan Venus dan membuat gadis itu menatapnya penuh tanda tanya. “Sekali saja, bisakah kamu menganggapku sebagai suamimu, bukan hanya kapas ajaib seperti yang selalu kamu katakan?”
Ada luka di mata pria itu. Venus bisa melihatnya. Andai saja dia bisa merasakan emosi Jayu, andai saja hatinya juga memindai perasaan Jayu saat bersentuhan dengannya seperti saat kulitnya bertemu kulit orang lain, pasti semuanya akan lebih mudah. Dia akan merasakan cinta pria itu, sebagai cinta yang berasal dari hatinya. Namun sekarang, dia bahkan tidak tahu perasaan aneh apa yang dia rasakan saat Jayu seolah memohon untuk mendapatkan hatinya
“Aku tidak bisa bersaing dengan orang yang sudah mati. Keluar dari masa lalumu, dan hiduplah denganku. Aku akan melakukan segalanya untuk menjagamu, kalau perlu, panggil Gus Ayasmu kemari. Biar kita bicara sebagai sesama lelaki. Dia tidak bisa membuatmu seperti ini. Kamu harus melanjutkan hidup.”
“Kapten ....”
Jutaan diksi yang biasa dirangkai Venus di atas keyboard benar-benar berkhianat. Pada saat seperti ini, dia malah tidak bisa berkata-kata. Kemampuannya merangkai kata sama sekali tidak berguna ketika dihadapkan dengan kegundahan hati yang sedang mencoba diungkapkan suaminya.
“Kamu bisa memanggilnya seperti kamu memanggil ibuku, kan? Panggil dia sekarang.”
“Tapi ....”
“Tapi apa? Apa kamu takut?”
“Tidak, tapi ... Dia ada di belakangmu.”
“Di mana?”
Jayu melompat dan bersembunyi di balik punggung Venus seperti pengecut. Ternyata dirinya tidak benar-benar siap kalau harus bertemu dengan hantu Ayas.
Venus tertawa melihat tingkah Jayu. Pria jangkung itu beringsut ketakutan seperti anak kecil yang baru saja dikejutkan setelah mendengar cerita tentang Nenek Gayung.
“Apa? Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu? Aku bukan takut.” Jayu mengedarkan pandangannya dengan takuttakut. “Ini tidak adil karena aku tidak bisa melihatnya.”
Venus makin terbahak sampai memegangi perut, karena sekarang Jayu memasang wajah persis maling yang ketahuan lagi nyolong jemuran.
Mungkin benar kata orang, cinta bisa mengubah mindset tentang sesuatu. Venus yang seharusnya tidak masuk kriteria gadis idaman seorang Jayu, gadis berantakan dengan lingkar hitam di bawah mata, dan selalu menggunakan jilbab dengan asal-asalan, tetap terlihat cantik di mata Jayu. Dia sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Sebagian otak warasnya sudah dijajah dan dikuasai oleh kesablengan Nyobes Venus.
***
Satria keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggang. Rambutnya basah, beberapa tetes air mengalir di wajah, dan beberapa yang lain ada yang jatuh ke bahu. Wanita mana pun jika melihatnya dalam keadaan seperti sekarang, pasti akan dengan suka rela berlari ke pelukannya. Bahunya terlihat kukuh, otot perutnya terbentuk sempurna, dan kulit putihnya terlihat begitu bersih. Pria itu mengibaskan kepala, membuat butir-butir air yang menggantung di ujung rambut, terpaksa melepaskan diri.
Satria melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Ada bekas luka di d**a sebelah kiri, dan bekas jahitan yang memanjang di bagian perut. Tangannya menyentuh bekas luka yang dia dapatkan bertahun-tahun lalu. Matanya terpejam, ingatannya memutar kembali memori yang telah usang, tentang hidupnya yang begitu gelap, juga pertemuannya dengan Prasetya kemarin. Permintaan untuk memanggil laki-laki itu dengan sebutan ayah kembali terlintas.
“Ayah?”
Satria berdecih. Apa pantas, manusia seperti dirinya memiliki seorang ayah? Pandangannya tertuju pada telapak tangan, entah apakah Tuhan masih bisa mengampuni dosa-dosanya di masa lalu.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Satria. Jayu Samudra. Nama itu tertera di layar tujuh inci tersebut.
“Ha ...” Hampir saja Satria bicara dengan suara yang maskulin. “Hallo, Boskuuuh. Ada apa? Aku baru selesai mandi, kamu jangan mengintip, ya,” ujarnya dengan suara yang dibuat mendayu-dayu.
Dia menekan tombol load speaker, dan meletakkan benda itu di atas meja. Hari ini Satria sudah menyiapkan jeans skinny putih, dengan sweater hijau berbahan woll. Satu hal yang tidak boleh dilupakan agar membuatnya terlihat lebih kemayu, scarft cokelat dengan motif bunga-bunga yang melilit leher. Walau tidak seheboh biasanya, tapi kesan Sasa masih terlihat begitu kental.
“Hari ini kamu bebas tugas. Aku akan mengurus semuanya sendiri.”
“Kenapa, Boskuuuh? Apa Sasa melakukan kesalahan? Kenapa tiba-tiba ....”
“Bukan begitu. Venus ingin pergi ke rumah sahabatnya. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi sendirian, kamu temani dia. Bisa, kan?”
“Kakak Ve? Tapi, bagaimana denganmu?” Satria sedikit khawatir.
“Aku akan baik-baik saja. Kamu mau kan, menemaninya?”
“Tentu. Dengan senang hati Sasa akan menempel padanya, Boskuuuh.”
“Kenapa menempel? Kamu tetap seorang pria. Jaga jarak dua meter darinya. Kalau berani menyentuhnya, aku akan menjadikanmu samsak tinju.”
“Ta ...”
Jayu sudah mematikan panggilan sebelum Satria sempat menjawab. Bocah itu memang selalu bertindak semau sendiri.
Satria tersenyum memandangi layar ponselnya. “Kamu memang adik kecil yang harus selalu dilindungi.”
Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna versi Sasa, Satria segera bergegas ke rumah Jayu. Sebenarnya dia bukan bekerja untuk anak itu, bos yang sesungguhnya adalah Willy, tapi dia bersyukur karena pekerjaan itu mempermudah dirinya dalam melakukan tugas dari Prasetya. Menjaga dan melindungi Jayu.
Saat hendak membuka mobil di area parkiran basement, ada seorang yang mencekal tangannya. Perempuan dengan luka lebam di bagian wajah, dan pakaian yang koyak.
“Tolong, tolong saya.” Perempuan itu berbicara dengan tergesa-gesa.
“Dasar w***********g! Mau lari ke mana kamu!”
Dua orang laki-laki dengan tubuh tegap mengejarnya. Mereka berhenti tidak jauh dari tempat Satria berdiri.
“Tolong saya, saya mohon,” pinta perempuan itu dengan mata memohon. Satria masih terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti ini.
“Dasar perempuan jalang! Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja?”
Salah satu dari dua orang itu mendekat, yang satunya lagi hanya memandang bengis dengan satu tangan di pinggang.
“Sebentar, Boskuuh.”
Satria menghentikan pria yang hendak menyeret tangan perempuan tadi. Dia masih manusia, bagaimanapun perempuan itu perlu ditolong.
“Siapa kamu? Berani-beraninya ikut campur urusan kami!” Pria itu menatap Satria tidak suka.
“Bukan begitu, Boskuh. Aku hanya ingin pergi dari sini, tapi perempuan ini menghentikanku. Sebaiknya kalian jangan ganggu dia, biar aku bisa segera pergi.” Satria malah nyerocos tidak penting. “Sudah jam segini, aku sudah terlambat masuk kerja, ayolah. Lebih baik kalian pergi saja.”
“Kurang ajar! Berani-beraninya ....”
Pria itu hendak memukul Satria, tapi berhasil menghindar karena bisa membaca gerakan lawan dengan sangat mudah. Ketika sudah mengepalkan tangan dan bersiap membalas, matanya menangkap keberadaan CCTV di sana. Tidak mau orang lain tahu tentang siapa dia yang sebenarnya, Satria memikirkan ide untuk mengalihkan perhatian. Kalau dia melawan dengan otot, penyamarannya selama ini akan sia-sia.
“Satpaaam!”
Satria pura-pura berteriak dengan suara cempreng sambil melambaikan tangan ke belakang mereka. Saat kedua orang itu lengah, dia berlari sambil memegang tangan perempuan tadi.
“Sial!”
Merasa tertipu, dua orang itu segera mengejar Satria yang kini bersembunyi di antara mobil-mobil.
“Keluar kalian! Aku tahu kalian masih di sini.”
Pria itu terus berusaha menemukan Satria. Sementara yang dicari, dia berusaha mengendap-endap untuk bisa masuk ke mobil sendiri. Begitu berhasil, dia segera menyalakan mesin dan tancap gas meninggalkan area parkir.
“Hei! Berhenti!” Salah satu dari pria itu berlari dan berusaha mengejar mobil Satria.
“Sudahlah, kita tidak perlu mengejarnya. Aku tahu siapa dia.”
“Dia? Dia siapa, manusia aneh itu? Apa gunanya?”
Rekannya tertawa mendengar ucapan pria dengan luka di wajah yang berbicara dengan napas pendek-pendek.
“Satria. Walau dia mengubah penampilan seperti apa pun. Aku pasti akan mengenalinya.”
“Satria?”
“Benar. Kita melepaskan ikan teri, tapi mendapatkan buaya. Kita lihat saja nanti. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan pecundang itu.”
***
“Tisnaaa, aku kangen.”
Venus terlihat begitu bahagia ketika sampai di rumah sahabatnya. Gadis berambut hitam sebahu itu sedang sibuk mengetik di ruang tamu.
“Venus.”
Tisna tidak kalah girangnya. Dia segera berdiri hendak menyambut dan memeluk sahabatnya, tapi tidak jadi, dan hanya memamerkan wajah cemberut sok kecewa. “Kupikir kamu sudah melupakanku.”
“Mana mungkin. Tisna adalah separuh napas dari Venus. Melupakanmu, berarti aku sudah siap mati,” canda Venus sambil mengacungkan telunjuk, hendak menyentuh hidung Tisna seperti biasa, tapi gadis itu menjauh.
“Kenapa? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
Venus mengernyitkan kening, dia paham betul bagaimana Tisna. Gadis itu tidak akan menghindar jika tidak menyembunyikan sesuatu darinya.
Saat di mobil bersama Satria, dia terus dihantui rasa penasaran karena emosi pria itu terasa aneh. Venus curiga kalau Satria juga menyembunyikan rahasia besar. Ada perasaan khawatir yang terus menyerbu hatinya, dan menurut Venus itu berasal dari perasaan Satria. Sekarang, emosi itu semakin kuat saat berada di dekat Tisna. Dia juga merasakan hal yang sama, bahwa Tisna merahasiakan sesuatu dan khawatir kalau Venus akan tahu jika mereka saling bersentuhan.
“Bukan begitu, Ve. Hanya saja ...” Tisna menyentuh hidungnya sendiri. “Aku berkeringat,” lanjut Tisna agak ragu kalau Venus akan percaya.
“Ya ampun, si imut ini lucu sekali, ya. Cuaca hari ini sangat dingin, bagaimana bisa kamu malah berkeringat?”
Satria bersuara saat memasuki rumah Tisna. Di tangannya ada beberapa kantong belanjaan, keperluan sehari-hari untuk keluarga Tisna. Venus sudah biasa membelikan mereka kebutuhan pokok seperti beras, minyak, sabun dan sebagainya. Dia merasa kalau itu adalah tanggung jawabnya. Selama tidak memiliki pekerjaan tetap, Tisna juga selalu bersikap seperti seorang asisten yang siap membantu melakukan apa pun pekerjaan Venus.
“Sasaaa.” Tisna malah berlari ke arah Satria dan memeluknya. “Aku merindukanmu. Hari ini aku baru saja mendapat konfirmasi dari penerbit, bahwa ISBN untuk novel Pure Love sudah turun. Sebentar lagi mereka akan mulai proses cetak. Aku benar-benar bahagia.”
Venus berdeham. “Tis, kamu tidak lupa kan, kalau Sasa itu Satria.” Gadis itu menyedekapkan tangan. “Kalau kamu tidak mau aku menikahkanmu dengannya, sebaiknya jaga jarak.”
Menyadari fakta yang diucapkan Venus, Tisna mengundurkan diri dengan canggung. “Ma-maaf.”
“Iiih, nggak pa-pa, Cantik,” ujar Satria sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja. “Lagi pula, Tisna itu seperti adik kecil yang imut,” lanjutnya sambil menowel pipi gadis itu.
Ponsel Satria kembali berbunyi. Jayu terus menelepon hampir setiap lima menit sekali.
“Iya, Boskuuuh. Kami baru saja sampai.”
Satria berbicara dengan nada kesal. Bagaimana bisa ada seorang yang bersikap seperti Jayu pada istrinya? Dan menyebalkannya, Jayu langsung mematikan panggilan setelah Satria memberitahu kalau mereka sudah sampai, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kamu sedang menulis apa?” Venus mengeja beberapa baris kalimat di laptop Tisna dengan mata menyipit. “Novel baru?”
“Iya, aku sedang mencoba keluar dari zona nyaman.” Tisna menghampiri. “Selama ini aku terus menulis cerita romance, sekarang aku ingin menulis sesuatu yang berbeda. Tentang pembunuhan, aku sudah banyak konsultasi tentang novel ini ke Arjuna.”
“Arjuna?”
Venus melongo. Dia sama sekali tidak tahu tentang kedekatan Tisna dengan penulis idolanya. Bahkan meskipun pemuda itu yang menjadi scriptwritter untuk mengadaptasi novelnya ke bentuk skenario, tapi mereka belum sempat bertemu di luar pekerjaan, apa lagi sampai mengobrol tentang dunia menulis.
“Iya. Dia benar-benar berbeda dengan yang selama ini digosipkan di kalangan penggemar. Dia pribadi yang hangat dan ramah.” Tisna tidak berhenti tersenyum saat membicarakan tentang Arjuna.
“Benarkah? Menurutku dia pria yang sangat lempeng. Aku memang belum sempat mengobrol dengannya, tapi saat bertemu di kantor, dia selalu terlihat serius dan lebih terkesan dingin.”
Venus berbicara sambil mengingat-ingat. Ketika dia melihat dua remaja yang menghentikan langkah Arjuna tepat di depan gedung. Mereka membawa buku karya Arjuna dan meminta tanda tangan, tapi pria itu mengatakan kalau mereka telah salah orang dan hanya berlalu begitu saja.
Ponsel Satria kembali berdering. Jayu lagi.
“Apa dia senang?”
“Sangat senang, tapi kalau Boskuuuh terus menelepon, dia pasti akan sangat terganggu,” jawab Satria ketus, lalu segera mematikan sambungan telepon.
“Percaya padaku, dia orang yang sangat asyik.”
Tanpa sadar Tisna menyentuh tangan Venus. Ketika itu, Venus melihat apa yang dilakukan Tisna dengan Arjuna. Di sebuah ruangan yang dipenuhi buku-buku, wajah Arjuna begitu dekat dengan Tisna, kemudian mereka ... “Tisna!” Venus refleks mendorong Tisna karena tidak sanggup melihat apa yang berusaha disembunyikan sahabatnya.
“Tis, kamu ....” Venus sudah berkaca-kaca, dia benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan Tisna.
“Ve, aku, aku tidak sengaja melakukannya. Arjuna ... Dia, dia tidak bisa ditolak. Dia terlalu ....”
“Tidak sengaja berciuman? Kamu pikir aku bodoh?”
“Bukan begitu. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku tidak sadar sudah melakukannya.” Tisna berusaha meyakinkan. “Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji padamu.”
“Berjanjilah pada dirimu sendiri.”
Venus melihat penyesalan dan kesungguhan di mata Tisna. “Sayangi dirimu, dan jangan biarkan siapa pun menjerumuskanmu, apalagi sampai diperbudak oleh napsu sendiri. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu, Tisna.”
“Aku janji.”
“Bibirmu memang terlihat sangat manis.”
Tanpa sadar, Satria berbicara dengan suaranya yang maskulin.
“Apa!” Venus dan Tisna menyahut bersamaan.
“Ma-maksudku Arjuna.” Satria gelagapan. “Dia punya bibir yang sangat s*****l. Walau tubuhnya kerempeng mirip ikan teri kurus, tapi dia punya b****g yang indah, seperti apel.” Satria sok mendramatisir ucapannya seolah membayangkan betapa menggodanya seorang Arjuna. “Dia benar-benar tipeku.” Pria itu menggigit bibir bawah, sambil berpura-pura mencakar udara. “Wraaaww!”
“Astaga! Satriaaa!” Venus dan Tisna berteriak bersamaan. Venus melemparkan buku di depannya, dan Tisna melempar pulpen ke arah Satria.
“Aku bicara jujur.”
Satria memasang wajah polos. Tisna dan Venus saling berpandangan lalu bersiap untuk menyerang Satria. Saat itu juga, ponsel Satria kembali berbunyi.
“Iya, Boskuuuh.” Satria menekan tombol load speaker, dan mengacungkan tangannya ke arah Venus.
“Kalian sedang apa? Apa dia baik-baik saja? Ah! Bagaimana ini, kenapa aku merasa sangat merindukannya?”
Tisna tersenyum menggoda ketika mendengar ucapan Jayu. Venus benar-benar beruntung menikahi pria itu.
“Aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Apa pemotretanmu berjalan lancar?” jawab Venus dengan sedikit ragu.
“Semuanya berjalan lancar, kecuali hatiku. Dia terus merindukanmu.”
“Dasar ....”
Venus hendak mengumpat, tapi di seberang sana terdengar teriakan Jayu kemudian sambungan teleponnya terputus.
“Kapten!” teriak Venus karena terkejut. “Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dia berteriak?”
“Ini yang aku khawatirkan. Belakangan dia sering diteror oleh hatters yang berusaha mencelakainya,” ucap Satria dengan wajah panik.
Dia segera meraih kunci mobil dan bergegas keluar. Venus mengekori langkah panjang Satria. Bibirnya komat-kamit, berdoa agar Jayu baik-baik saja. Memohon pertolongan Allah untuk menjaga dan melindungi suaminya dari segala bahaya.
***
Arjuna menggunakan masker dan sarung tangan berbahan karet. Ruangan itu terlihat gelap dengan cahaya lampu yang hanya terfokus pada sebuah meja. Di depannya ada seorang pemuda dengan usia sekitar dua puluhan. Wajahnya pucat, dan tubuhnya dingin, juga kaku. Kalau dilihat sekilas, mayat itu seperti terletak di meja operasi, lengkap dengan lampu dan seluruh perlengkapan bedah yang ada di dekatnya.
Pertama, tangan pria itu memeriksa bagian-bagian mayat secara menyeluruh, lalu membuat beberapa catatan di buku kecil. Selanjutnya, tangan kanannya mengambil skalpel, dia memejamkan mata sesaat sebelum benda kecil itu menyentuh permukaan kulit.
Tangannya membuat sebuah sayatan yang cukup besar menyerupai huruf U, dari kedua sisi bahu sampai daerah tulang pinggul. Setelah itu, dia memisahkan kulit dengan jaringan bawahnya, membuat tulang rusuk dan bagian tengah tubuh terlihat dengan sangat jelas.
Arjuna melepaskan tulang rusuk itu satu-satu, memperlihatkan organ leher dan d**a. Setelah itu, dia mengeluarkan organ trakea, kelenjar tiroid, jantung, paru-paru, dan juga usus. Dia memindahkannya ke sebuah kotak yang berisi es batu.
Mayat di hadapannya sudah nyaris tak berbentuk, Arjuna mundur dua langkah, memandangi tangannya yang penuh darah. Dia melihat wajah pemuda yang membujur kaku. Terlihat seperti orang yang sedang tidur, tapi sekarang, semua organ tubuhnya sudah terlepas. Anak itu tidak akan pernah terbangun lagi.
Kepala Arjuna terasa nyeri. Dia terhuyung ke belakang sampai membentur dinding. Ruangan itu seperti berputar-putar, dan sesuatu terus ditusukkan oleh seseorang ke bagian otak. Suara Clarissa terdengar begitu jelas.
“Dasar bodoh!”
Ingatan tentang perempuan itu kembali berputar. Clarissa memaksanya mendekat pada tubuh anak kecil yang membujur kaku.
“Lakukan seperti yang aku perintahkan! Kamu harus melakukannya untuk tahu seperti apa proses pembedahan mayat.”
Perempuan itu memaksa Arjuna kecil memegang skalpel dan menyayatkan pisau bedah itu di perut mayat bocah yang mungkin usianya seumuran dengannya.
“Mama, Juna takut. Juna tidak bisa. Bagaimana kalau dia bangun, dia pasti kesakitan.”
“Mayat mana yang akan merasa sakit?”
Clarissa mengambil pisau bedah dari tangan Arjuna, lalu menusukkannya secara sembarangan.
“Mama, jangaaan! Kasihan dia.”
Arjuna menangis, dia berusaha mencabut skalpel itu dari perut si mayat, tapi malah menciptakan sayatan memanjang di area perut sampai bagian d**a.
“Bagus. Seperti itu. Kamu akan terbiasa dengan semua ini.” Clarissa mengelus rambut anaknya dengan sayang. “Mereka ini hanya sampah, tidak akan ada yang menyadari tentang keberadaan atau kematiannya. Kamu harus melakukan penelitian tentang apa yang kamu tulis. Setelah ini, kamu akan menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Mama yakin, kamu pasti bisa.”
“Tapi dia kasihan, Ma. Dia senang ketika kita memberikan makanan, tapi sekarang dia tidak bisa bangun. Dia pasti sangat sedih.”
“Bagi orang-orang seperti mereka, kematian adalah keberuntungan.”
Ingatan itu terus berdatangan, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang, potongan kenangan bersama Clarissa terus terbayang.
Arjuna berteriak frustrasi. Bau amis menyeruak memenuhi setiap sudut ruangan.
“Mamaaa! Apa kamu puas sekarang?”
Dia melemparkan skalpel di tangan, dan menancap di foto Clarissa yang terpasang di dinding.
Pria itu kembali berteriak, nyeri di kepalanya terus menggerogoti kesadaran. Dia menjambak rambut sendiri secara brutal, wajahnya penuh peluh dan juga darah.
“Apa aku ini manusia? Mama sudah menjadikanku monster. Kenapa Mama diam saja? Jawab, Ma! Apa sekarang Mama sudah puas?”
Arjuna tertawa, sebentar-sebentar dia menangis, dan sebentar-sebentar kembali tertawa. Kepalanya terasa semakin berat. Dia bangkit, kembali ke meja mayat yang sudah tidak berbentuk. Mengobrak-abrik organ tubuhnya, membuat semua yang ada di sana semakin berantakan. Gumpalan darah yang sudah hampir membeku terlempar ke udara, dan beberapa mendarat di lengan. “Haaaah!” Arjuna berteriak, dia menjungkir balikkan meja itu, dan membenturkan kepalanya sendiri ke tembok.
“Aku bukan manusia. Aku bukan manusia. Tidak mungkin aku seorang manusia.”
Perlahan kesadarannya mulai terurai. Dia terus menggumam tidak jelas sampai benar-benar tak sadarkan diri karena rasa nyeri di kepalanya.