“Kepada Tuhan, kupermainkan kalimat permohonan. Untuk kepergianmu, sekaligus keabadianmu di sisiku. Nanti.”
***
Sandekala. Hujan semakin deras, bocah kecil itu masih meringkuk di belakang rumah. Dia menggigil, memeluk lutut sambil mengusap-usap lengan, mencoba mengusir dingin dari tubuhnya yang menggunakan kaos dan kolor pendek bergambar Kapten Amerika.
“Cari dia! Dasar bocah tidak berguna!”
Suara dari dapur mengagetkan bocah itu. u*****n dan segala sumpah serapah yang keluar dari mulut laki-laki dengan kulit legam masih terdengar. Isak tangis perempuan di hadapan lelaki itu, sama sekali tidak mampu membuat hatinya luluh.
“Begini jadinya karena kamu selalu memanjakan anakmu! Ngurus anak saja tidak becus!”
Mata lelaki itu seolah hampir keluar. Rahangnya mengeras, tangannya yang kekar membanting piring ke lantai. Menciptakan suara gaduh yang membuat istrinya semakin ketakutan. Perempuan itu menangis, suara petir yang membelah langit sandekala, bersahutan dengan kilat perak yang mengerikan.
“Sekarang kita mau makan apa? Kalau kamu selalu memanjakannya begitu, lebih baik kamu urus sendiri saja anakmu itu!”
Laki-laki itu pergi sambil menyapukan tangannya di atas meja makan, membuat benda-benda di sana berjatuhan, pecahan piring dan gelas berserakan di mana-mana.
“Ayah, maafin Jayu.”
Bocah itu hanya berani mengintip dari balik jendela. Tangannya menggenggam lego Kapten Amerika yang dibelikan ibunya siang tadi. Dia menangis ketika mengamati benda kecil di tangannya.
Hujan tak kunjung reda, langit semakin gelap. Tetes-tetes air yang berjatuhan dari langit, membuat tubuhnya semakin menggigil.
“Kamu di sini, Nak?”
Sepasang kaki yang keriput berhenti di depan bocah itu.
“Ayo masuk. Sudah gelap, nggak baik masih di luar. Nanti kamu digondol Sukma.” Wanita itu menyebutkan nama hantu yang dipercaya suka mencari anak kecil untuk dijadikan anaknya.
Tangan renta sang nenek merengkuh tubuh kecil Jayu. Menggendongnya dengan sayang.
“Jayu nggak mau masuk, Nek. Jayu takut sama ayah.”
“Sudah-sudah, jangan nangis lagi. Kita ke rumah nenek saja, ya?”
Wanita renta itu membawanya masuk ke rumah, melilitkan handuk di tubuh Jayu yang menggigil.
“Nak, kalau sudah besar nanti, kamu harus membuktikan pada ayahmu, pada dunia, bahwa cucu nenek yang satu ini bukan bocah tidak berguna. Kamu adalah api yang membara di atas langit.”
Wanita tua itu mengoleskan sedikit salep pada bekas luka di lehernya. Semangkuk sayur bayam yang masih mengepul, ditemani nasi putih dan tempe goreng, sekarang sudah tertata rapi di depan Jayu.
***
“Kenapa orang-orang yang kita sayangi selalu pergi lebih cepat?” Jayu berbicara dengan suara bergetar. Dia menangis. “Aku sudah membuktikan pada dunia tentang siapa diriku, tapi nenek dan ibuku tidak bisa melihatnya. Ini semua karena laki-kali biadab itu.”
Tangan Venus bergerak lembut mengusap rambut Jayu. Pria itu masih menangis, air mata yang memenuhi wajahnya juga membuat Venus ikut menangis. Angin malam yang berembus perlahan, menerbangkan gorden yang menutupi jendela. Sekilas, Venus bisa melihat keberadaan seseorang di balik jendela kamar itu. Wajahnya sama persis dengan foto perempuan yang ada di tangan Jayu.
“Kapten, percayalah, ibumu sedang menyaksikanmu sekarang. Orang tua tidak akan pernah meninggalkan anak-anaknya.”
Venus berbicara sambil terisak. Air mata Jayu membuat dadanya ikut sesak. Ini menyebalkan. Meski tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya, tapi Venus tetap menangis ketika pria itu menangis.
“Tidak, ibuku sudah pergi.” Jayu mendongak demi melihat wajah Venus saat berbicara. Pandangannya beralih pada foto yang dia pegang, lalu memeluknya lebih erat lagi. “Ibu bahkan tidak pernah makan sesuap nasi dari hasil kerjaku. Aku belum sempat memberikannya pada ibu.
Hati Venus terasa nyeri saat melihat keadaan Jayu yang seolah begitu tak berdaya. Meski begitu, dia tetap tidak bisa merasakan emosi pria itu. Satu-satunya cara untuk membuatnya tenang, adalah dengan membiarkan Regina meminjam tubuhnya. Membiarkan Jayu berbicara dengan perempuan itu.
Venus memejamkan mata, dia berusaha memanggil Regina untuk mendekat, gadis itu mengangguk ketika Regina sudah berada di sisinya, memberikan isyarat, bahwa dirinya mengizinkan perempuan itu menggunakan tubuhnya.
Perlahan, kesadarannya mulai terurai, dan raut wajahnya berubah keibuan. Detik berikutnya, dia mengusap punggung Jayu penuh kasih sayang.
“Nak, ibumu baik-baik, saja.” Perempuan itu berbicara dengan wajah Venus. “Jangan pernah gunakan hatimu untuk membenci. Semua yang terjadi, memang terjadi karena kehendak-Nya. Jangan pernah membenci ayahmu, dia tidak bersalah.”
Jayu kembali mendongak, mengamati wajah Venus, dia bisa merasakan kehadiran Regina dalam tubuh gadis itu. “Ibu?”
“Nak, percayalah, ayahmu juga sangat menyayangimu. Tidak ada satu pun orang tua yang benar-benar membenci anaknya. Begitu juga ayahmu. Hanya saja, dia mungkin lupa untuk mengatakan perasaannya padamu.” Venus mengusap air mata Jayu menggunakan ibu jari.
“Walau aku tidak membencinya, dia juga melarangku untuk ....” Jayu tidak melanjutkan kalimatnya, jari telunjuk Venus menempel di bibir Jayu, menghentikan apa pun yang hendak dia katakan.
“Bersabarlah, Nak. Ayahmu hanya belum bisa memaafkan dirinya sendiri, karena itu dia tidak bisa menemuimu.” Venus maju selangkah, dia mengusap kepala Jayu dengan sayang, lalu mengecup keningnya penuh kelembutan.
“Ibu.”
Jayu memegangi tangan Venus, bayangan Regina keluar dari tubuh gadis itu, seperti cahaya yang memudar. Venus ambruk ke pelukan Jayu, dan dia terlihat sangat lemah.
“Ibu?” Jayu menyentuh pipi Venus, dia berusaha melihat wajah yang kini dipenuhi keringat.
“Kapten ....” Venus berbicara dengan napas pendek-pendek.
“Ve, kamu baik-baik saja, kan?” Jayu menepuk-nepuk pipi gadis itu. “Kenapa kamu harus melakukan ini?” Pria itu semakin panik karena Venus tidak memberikan jawaban. Matanya terpejam, dan kepalanya terkulai.
“Hei! Bangun, aku mohon, jangan mati.”
Jayu segera mengangkat tubuh Venus dan membaringkannya di atas ranjang. Tangannya bergerak dengan cekatan menyelimuti gadis itu. Dia sudah melupakan kesedihan dan kerinduannya pada seorang ibu, rasa takut akan kehilangan, tiba-tiba saja menyerbu hatinya.
“Ya Tuhan, kenapa dia selalu membuatku khawatir?” Jayu sudah hampir menangis lagi. “Kenapa kamu selalu ceroboh dan bertindak semau sendiri? Seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal itu kalau hanya akan membuatmu seperti ini.”
“Kapten.”
Venus tersenyum lemah. Energinya seolah terkuras habis dalam sekejap. Sudah lama dia tidak membiarkan siapa pun masuk ke tubuhnya, tapi Regina, Venus merasa dia perlu membiarkan perempuan itu berbicara dengan putranya.
Jayu segera mendekat, tangannya menyentuh pipi Venus, dari caranya memandang, Venus tahu kalau suaminya sedang khawatir, tapi menurutnya itu terlalu berlebihan.
“Kapten.”
“Aku di sini. Ada apa? Katakan.”
Jayu mengucapkan kalimat itu dengan tergesa-gesa. Dia hanya ingin Venus tahu, bahwa dirinya akan melakukan apa pun untuk gadis itu.
“Aku lapar.”
“Lapar? Baiklah, aku akan ...” Jayu berhenti sejenak, keningnya berkerut ketika berusaha mencerna kalimat sederhana yang diucapkan Venus. “Lapar? Apa maksudmu?”
Venus bangkit, dia duduk dan menurunkan kakinya, membuat Jayu semakin tidak mengerti.
“Aku ngantuk, tapi aku juga lapar. Meminjamkan tubuh pada hantu membuatku kehabisan energi. Apa di rumah masih ada masakan?”
“Apa! Apa kamu sudah gila?”
Jayu berdiri, dia kesal bukan main. Dia sudah takut setengah mati, kalau-kalau terjadi hal buruk pada Venus, tapi lihatlah gadis itu. Apa yang dia katakan barusan? Lapar? Apa menurutnya hidup ini hanya lelucon? Setelah membuat orang lain seakan mau mati, dia malah bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Menyebalkan!
“Kenapa?” Venus melongo ketika melihat ekspresi kesal Jayu. Memangnya apa yang salah dengan kata lapar? “Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa kamu masih ingin berbicara dengan ibumu?”
“Kenapa katamu? Apa kamu tidak tahu betapa takutnya aku karena kamu tak sadarkan diri? Dan setelah bangun, kamu ... Benar-benar tidak bisa dipercaya.”
“Apanya yang tidak bisa dipercaya?” Venus berdiri. “Setelah meminjamkan tubuh, aku kehabisan energi. Karena itu aku lapar. Lagi pula, aku tidak memintamu untuk membawakanku makanan. Kenapa kamu harus marah?”
Jayu mengembuskan napas kasar. Tidak ada gunanya berdebat dengan gadis tidak peka itu. Hanya akan membuang-buang tenaga. Kenyataan bahwa Venus baik-baik saja, itu sudah sangat melegakan.
“Baiklah. Aku akan pesan makanan untukmu.”
“Untuk apa pesan makanan? Aku bisa masak mi instan, kamu tidak perlu repot-repot!”
Venus berbicara dengan nada ketus, dia hendak menuju dapur, tapi Jayu menahannya. Kenapa pria itu marah-marah tidak jelas hanya karena dirinya lapar? Dasar tidak tahu terima kasih!
“Jea ....”
“Jea sudah mati.”
Venus menyedekapkan tangan dengan wajah yang ditekuk. Dia cemberut seperti anak kecil yang sedang ngambek.
“Baiklah, aku akan masak untukmu. Tunggu di sini.”
Setelah lebih bisa mengendalikan diri, Jayu memilih untuk mengalah, dan memasak mi instan seperti yang diinginkan Venus.
“Nah, begitu lebih baik. Masak yang matang, tambahkan saus dan kecapnya langsung sambil direbus saja biar enak.”
“Satu lagi.” Suara Venus kembali menghentikan langkah Jayu.
“Dua telur. Yang satu jangan ditusuk, yang satu dikocok.”
Jayu hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Venus. Dia benar-benar gadis aneh yang sulit ditebak. Sedetik seperti orang mau mati, sedetik lagi marah-marah, dan detik berikutnya dia sudah seperti anak kecil yang banyak maunya. Nyobes alias nyonya besar dengan segudang perintah yang harus dilakukan saat itu juga. Detail, tanpa kesalahan.
Selesai memasak, Jayu membawanya ke kamar utama. Tadi Venus sudah pindah ke sana. Pria itu membuka pintu dengan susah payah karena tangannya membawa nampan. Dan lihatlah, Si Nyobes sudah tertidur. Gadis itu tidur terlentang dengan posisi kaki yang masih menyentuh lantai.
“Anak ini.”
Jayu menggelengkan kepala karena tingkah istrinya. Dia meletakkan nampan di atas meja, hendak membangunkan Venus tapi tidak tega. Sepertinya dia benar-benar kelelahan.
“Kapten.” Tangan Venus bergerak-gerak kecil di kasur, mencari keberadaan Jayu. Matanya masih terpejam. “Aku di sini.”
Jayu mengangkat kaki Venus dan membenarkan posisi tidurnya.
Pria itu ikut berbaring di sampingnya, dia mengusap lembut wajah Venus. Wajah yang selalu menyembunyikan begitu banyak misteri, teka-teki yang sampai saat ini masih belum terpecahkan.
Venus menggeliat kecil, dia menarik tangan Jayu dan menjadikannya sebagai bantal. Jayu tersenyum sambil melingkarkan satu tangannya yang lain di pinggang. Venus meringkuk dalam pelukan Jayu. Dalam jarak sedekat itu, yang Jayu dengar bukan detak jantung istrinya, melainkan detak jantungnya sendiri. Sepertinya, gadis ceroboh itu benar-benar sudah membuatnya jatuh cinta mati-matian.
Tangan kekar Jayu bergerak lembut menyusuri wajah Venus. Ada cinta yang begitu besar terpancar dari mata pria itu.
“Kapten?” Venus membuka mata perlahan. Dia meraih tangan Jayu yang masih berada di wajahnya.
“Tidurlah, aku akan menjagamu,” ucap Jayu seraya menggenggam tangan Venus. Gadis itu hanya tersenyum, merapatkan tubuhnya lebih dekat ke arah Jayu.
“Maafkan aku, karena membuatmu dalam keadaan seperti ini.” Jayu mengeratkan pelukan, lalu mendaratkan sebuah kecupan sayang di puncak kepala Venus.
‘Kamu seperti gadis kecil yang membuatku selalu ingin melindungimu. Meletakkanmu di relung hati yang terdalam, tapi apa aku juga ada di hatimu? Atau ... Hanya ada masa lalumu di sana?’
***
“Sudah kuduga Anda di sini.”
Seorang pemuda duduk di sebelah lelaki yang usianya sudah lebih setengah abad. Lelaki itu masih terlihat gagah dengan rambut putih yang tersembunyi di balik topi koboi
Prasetya tersenyum tanpa menoleh. Dia masih memegangi gagang pancing, walau dia sepenuhnya sadar, tidak akan ada ikan yang akan menyambar kail kosong.
“Itulah kenapa namamu Satria. Kamu mempunyai insting yang sangat tinggi untuk menemukan apa yang kamu inginkan.” Prasetya menarik dan melemparkan lagi kailnya lebih jauh. “Tapi seorang ksatria, seharusnya tidak bersembunyi di balik celana ketat warna pink,” pria itu melanjutkan.
Satria hanya tersenyum sekilas menanggapi guyonan recehnya. Tangan pemuda itu meraih kaleng minuman bersoda, membukanya, lalu menyodorkan pada Prasetya.
“Apa sekarang saya harus menyesal karena dibesarkan oleh Anda?”
Satria ikut duduk di pinggiran kolam. Dia memasukkan kaki ke air seperti yang juga dilakukan Prasetya sejak tadi. Saat sudah malam begini, hanya mereka berdua yang masih ada di pemancingan itu.
“Sepertinya kamu memang menyesal.” Prasetya mengalihkan pandangan pada pemuda di sampingnya.
Lihatlah, Satria begitu gagah tanpa busana kemayu yang selama ini selalu dia gunakan di depan Jayu. “Kenapa kamu terus berbicara denganku seperti orang asing? Apa setelah Jayu, kamu juga tidak bisa menjadi anakku?” Pria itu menepuk punggung Satria.
“Aku rasa, memanggil seseorang dengan sebutan ayah terlalu istimewa bagi orang sepertiku.” Pandangan Satria tertuju pada langit malam yang sedang memeluk bintang-bintang.
Memang benar, hanya kegelapan yang mampu membuat benda-benda lagit itu terlihat bersinar. Seperti halnya kegelapan yang pernah menyelimuti kehidupan Satria sebelum bertemu Prasetya. Saat ini, dia merasa seperti bintang-bintang, yang harus berterima kasih pada kegelapan, karena gelaplah membuatnya senantiasa dipuja.
“Putramu, aku sudah berusaha membujuknya agar bersedia menemuimu, tapi dia keras kepala. Persis seperti ayahnya.” Satria menenggak seteguk minuman bersoda di tangan. “Tapi dia hidup dengan baik. Kehadiran Venus dalam hidupnya, membuat Jayu seolah lebih punya tujuan. Bukan hanya sibuk memikirkan popularitas yang membuatmu semakin sulit menggapainya, dia sekarang terlihat sangat peduli dengan gadis itu. Aku rasa dia benar-benar sudah jatuh cinta.”
Prasetya tertawa. “Syukurlah, dari awal aku tidak pernah setuju denganmu yang terus mengatakan kalau putraku memiliki penyimpangan seksual.”
“Benar, dia bahkan terlihat sangat mencintai istrinya.”
Satria bangkit, “Pak, angin malam tidak baik untuk kesehatan Anda, lebih baik Anda ....”
“Ayah.” Prasetya ikut berdiri. Dia memotong ucapan Satria. “Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan ayah?”
“Maaf,” Satria menunduk, “Saya tidak bisa.” Pemuda itu tersenyum sinis, dia sedang mencibir diri sendiri.
“Hidupku tidak sesuci yang kamu bayangkan.” Prasetya berjalan di pinggiran kolam. Pancingnya masih dibiarkan di tempat. “Aku juga pernah hidup di dunia yang gelap. Dunia yang telah memisahkanku dari anak dan istriku, dan membuatku kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ayah. Kemiskinan membuatku gelap mata dan memilih jalan sesat. Sekarang, uang sama sekali tidak berguna saat dihadapkan dengan penyesalan. Uangku tidak pernah bisa digunakan untuk menukar waktu yang telah kusia-siakan.”
“Saya akan menjaga Jayu untuk Anda.”
“Tapi kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu sendiri. Kenapa kamu harus berpenampilan aneh seperti itu di hadapannya?”
“Tidak, Pak.” Satria membantah. “Saya tidak melakukannya untuk putra Anda. Jika saya memilih berpenampilan seperti itu, karena saya merasa, dengan begitu saya akan lebih mudah melupakan masa lalu saya.”
“Baiklah, aku percaya padamu.”
Prasetya tersenyum bangga saat melihat kesungguhan Satria. Tangannya menepuk punggung pemuda yang menundukkan kepala penuh rasa hormat di hadapannya.
***
“Ada dua cara sederhana untuk memainkan perasaan pembaca, saat kita menulis cerita tentang pembunuhan.” Arjuna berdiri di dekat mesin espresso yang menderu lembut.
Aroma kafein mengepul memanjakan indra penciuman Tisna. Gadis itu sudah menandaskan gelas kopi yang ketiga, dan sekarang, Arjuna sedang membuatkannya lagi.
“Pertama, tebarkan ranjau dan biarkan pembaca mencurigai orang lain sebagai pelakunya. Dan yang kedua,” Arjuna mematikan mesin kopi ketika gelasnya sudah terisi penuh, “Biarkan pembaca tahu secara jelas tentang siapa pelakunya, lalu tempatkan pemeran protagonis di sisinya. Jadikan si tokoh seperti orang bodoh yang selalu mendekati bahaya.”
Tisna terlihat sangat antusias. Gadis itu menutupi mulutnya dengan punggung tangan saat menguap.
“Aku sering berusaha memikirkan hal seperti itu. Namun saat mulai menulis, konflik yang berusaha kubangun melebar ke mana-mana. Akhirnya aku sendiri kebingungan bagaimana menyelesaikannya.”
“Cobalah untuk membuat outline. Pertama kita tentukan premisnya. Dua kalimat tema dari cerita itu. Kembangkan menjadi outline per bab. Kalau kamu mau sistem panter, komposisinya harus who, where, what, when. Dan kita bisa merumuskan sebuah cerita dengan sederhana. Apa yang harus dilakukan si tokoh, sesuatu yang menghalangi caranya, bukan menghalangi tujuan. Dan yang terakhir, cara menghadapi masalah yang kita ciptakan.”
“Lalu setelah itu?” Walau mengantuk dan mulai suntuk dengan naskahnya sendiri, tapi Tisna begitu tertarik dengan obrolan mereka. “Aku juga sering kebingungan menggambarkan tokoh. Venus sering bilang, kalau aku terlalu labil dalam memberikan karakter pada tokoh yang kuciptakan. Pada akhirnya, resolusi yang coba kubuat juga kacau.”
“Buat semuanya sesederhana mungkin.” Arjuna terlihat sangat cerdas di mata Tisna. Dan saat membicarakan tentang dunia kepenulisan, pesonanya juga bertambah berkali-kali lipat. “Ada tokoh. Siapa dia, jelaskan. Kuatkan penggambaran fisik atau karakter. Kamu bisa membuat bagan karakter terlebih dahulu agar lebih konsisten. Ada konflik, dan yang terakhir resolusi konflik utama. Dalam rumus sederhana itu, masukkan emosi dengan diksi yang tepat.”
“Diksi yang tepat, maksudnya yang bagaimana? Aku masih miskin diksi, kadang aku juga merasa kalau pilihan kata yang kugunakan terlalu sederhana. Sampai-sampai terlihat ...” Tisna berhenti sejenak, dia sedikit ragu dan malu untuk mengatakannya, “terlihat ... Bodoh.”
Arjuna malah tertawa. “Diksi yang sederhana, asal penempatannya sesuai jauh lebih ngena di hati pembaca, ketimbang kalimat sok nyastra yang muter-muter, malah bikin mual yang baca. Kamu tidak perlu minder begitu. Yang penting, kita juga harus melakukan riset tentang apa yang kita tulis. Itu jauh lebih penting dari sekadar diksi yang wah.”
“Apa setiap kali menulis kamu juga melakukan riset yang mendalam tentang tulisanmu?”
Tisna berhenti mengetik. Dia sudah hampir selesai dengan naskahnya. Tinggal layout, novelnya yang berjudul Pure Love akan siap cetak.
“Tentu. Kalau tidak, tulisan kita akan terlihat kopong.”
Arjuna berjalan memutari kursi yang diduduki Tisna. Tangannya memegang segelas kopi. Sudah tengah malam, tapi mereka masih berkutat dengan tulisan masing-masing.
“Saat menggunakan racun Aconite untuk membunuh tokoh dalam tulisanku, aku juga menggunakan kelinci percobaan untuk melihat bagaimana racun itu menggerogoti kesadaran seorang, sampai nyawanya benar-benar melayang. Aku perlu memastikan, berapa lama racun itu bekerja, sampai membuat korbannya mati lemas.”
“Waw!” Tisna berdecak kagum. “Kamu bahkan melakukan riset sedalam itu?”
“Hmmm,” Arjuna meletakkan kopinya di meja. “Aku adalah robot pembunuh nomor satu.” Pria itu mendekat, membuat Tisna merinding dengan berbisik tepat di samping telinganya.
“Arjuna, ka-kamu membuatku ... Takut.”
Tisna gagap, dia tidak berani melihat wajah Arjuna. Mendadak dia merasa kalau Arjuna adalah orang yang sangat mengerikan.
Tawa Arjuna meledak saat melihat wajah ketakutan Tisna yang menggemaskan. “Kenapa? Apa kamu pikir aku akan membunuhmu dengan racun Aconite?” Arjuna masih terbahak, matanya jadi segaris saat tertawa.
“Dasar!”
Tisna hendak memukul Arjuna saat menyadari kalau pria itu sedang mengusilinya, tapi Arjuna dengan sigap menangkap pergelangan tangan gadis itu. Pandangan mereka beradu. Mata gelapnya mengirimkan mantra yang membuat otak Tisna macet.
Jantung Tisna berdegup kencang saat Arjuna menatapnya begitu intens, seolah dia satu-satunya objek yang bisa dilihat. Hawa panas yang tercipta ketika kulit tangan mereka bersentuhan, menciptakan sengatan-sengatan listrik yang membuat dirinya melayang.
Fokus Arjuna kini ada pada bibir ranum gadis yang membiarkan rambutnya tergerai. Tangannya yang masih belum melepaskan tangan Tisna, menarik gadis itu mendekat dalam satu gerakan, membawanya semakin dekat, dan menghapus jarak yang masih tersisa di antara mereka.
Tisna nyaris mengerang ketika bibir mereka saling bersentuhan. Dia merasakan sensasi melayang yang membuat otaknya cuti mendadak. Arjuna tersenyum sekilas, ketika gadis lugu itu berusaha membalas pagutan di bibir bawahnya. Dari caranya yang benarbenar kaku, Arjuna yakin, itu adalah ciuman pertamanya.
Tangan kanan Arjuna menyelip di balik tengkuk, membuat Tisna hanya mampu mencengkeram pinggiran kursi, pria itu seolah tidak mengizinkannya untuk bernapas. Debit darahnya melonjak drastis.
Ini salah, batin Tisna mengingatkan. Namun bibir Arjuna terlalu memabukkan. Gadis itu memejamkan mata, semakin jauh terjatuh dalam pesona seorang Arjuna. Tahu-tahu tangannya sudah menggantung di leher Arjuna, dan duduknya sudah berpindah ke atas meja. Pria itu seperti candu yang membuatnya menginginkan lebih dan lebih.
Tiba-tiba wajah Venus dan ibunya terlintas dalam ingatan Tisna. Ini salah, ibunya tidak pernah mengajarkan Tisna menjadi gadis murahan, yang membiarkan dirinya masuk ke jurang neraka dengan suka rela.
“Astaghfirullahal’adzim!”
Tisna mendorong Arjuna agar menjauh. Dia tidak pernah tahu, sejauh mana mereka akan bertindak kalau tidak berhenti sekarang juga.
“Maaf.” Arjuna mundur selangkah.
“Ini salah, Juna. Kita tidak boleh seperti ini.” Tisna menunduk, dia turun dari meja, lalu segera membereskan barang-barangnya.
“Aku tidak bermaksud ....”
“Lupakan.”
Arjuna hendak bicara, tapi Tisna segera memotong ucapannya. “Ini sudah lewat tengah malam. Aku harus pulang.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.” Tisna segera membawa tasnya dan meninggalkan Arjuna dengan air mata yang hampir jatuh.
“Jangan menghukumku, Tisna.” Kalimat Arjuna menghentikan langkah Tisna. “Untuk pertama kalinya aku merasa nyaman dengan kehadiran seseorang. Seumur hidup, baru kali ini aku merasa senang dengan keberadaan orang lain di rumah ini.” Arjuna meraih tangan Tisna, “Aku tahu aku salah, dan kamu berhak marah, tapi tolong, jangan menjauhiku.”
Tisna mengembuskan napas kasar. Ada kesungguhan di mata Arjuna yang membuatnya iba. Gadis itu mengusap air mata yang sempat menerobos pertahanan.
“Kita akan tetap berteman.”
Kepala Tisna terasa pusing saat mengingat apa yang barusan terjadi. Entah iblis mana yang sudah merasukinya, hingga dia lupa diri dan membiarkan Arjuna mencuri ciuman pertamanya.
BestRegards,
MandisParawansa