Jayu Samudra

2276 Words
“Aku adalah sepenggal rindu  yang menunggu untuk kautemukan. Sebab aku bukanlah  pilihan, melainkan kejujuran sebuah perasaan.” ***     Venus berdiri di depan pintu keluar gedung BSP. Matanya berkeliling mencari keberadaan Jayu, tapi pria itu masih belum muncul juga. Gadis itu kemudian mengikuti pergerakan Arjuna yang sedang berjalan keluar lewat pintu sisi lain gedung. Dia mengenakan kacamata hitam,saat hampir sampai ke halaman.  Dari tempatnya berdiri, Venus bisa melihat ada dua orang gadis yang menghampiri Arjuna. Mereka menyodorkan salah satu novel yang ditulis pria itu. Sepertinya gadis-gadis itu meminta tanda tangan. Namun lihatlah, apa yang dilakukan Arjuna. Dia hanya memandangi buku di tangan mereka sebentar.     “Maaf, sepertinya kalian salah orang,” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan mereka.     “Kenapa dia bersikap seperti itu dengan penggemarnya?” gumam Venus. Dia sedikit menyayangkan sikap Arjuna.     Meski selama ini, telinganya memang sudah sering menangkap berita tentang bagaimana Arjuna yang dingin, tapi sikap pemuda itu saat konferensi pers tadi membuktikan kalau Arjuna sebenarnya adalah pemuda yang baik. Ada apa sebenarnya dengan anak itu sekarang?     “Maaf.” Seorang gadis berambut pirang dengan poni ke depan, tidak sengaja menubruk Venus, dirinya masih sibuk menerka-nerka tentang Arjuna.     Kulit tangan keduanya saling bersentuhan. Ada rasa takut di mata gadis itu, dan ... Venus melihat gadis yang ada di depannya melemparkan lembar-lembar kertas ke wajah Tisna dengan sangat kasar.     “Siapa dia?” Venus hanya bisa memandangi punggung gadis yang kini telah menghilang, dia masuk ke salah satu mobil mewah di area parkir.     “Boskuuuh,” Satria tergopoh-gopoh mengikuti langkah panjang Jayu. “Kenapa Boskuuuh tidak mau menemuinya? Biar bagaimanapun, dia itu ayahmu. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini padanya.” Jayu tidak menjawab. Venus hanya mengamati perdebatan dua orang itu.     “Kita ke kantor polisi sekarang.” Jayu meraih tangan Venus.     “Kapten ....” Venus hendak bertanya tapi urung. Ekspresi wajah Jayu terlihat begitu tidak bersahabat. Ada apa sebenarnya?     “Boskuuuh ... tunggu, kenapa kita ke kantor polisi?” Satria menghadang langkah Jayu.     “Kamu boleh tetap di sini.”     Dingin dan datar, suara Jayu seolah berasal dari tumpukan salju di kutub utara. Dia menatap asistennya tidak suka, tapi yang ditatap hanya merentangkan kipas dengan gaya super kemayu.     Saat seperti ini, Venus benar-benar menyesal, kenapa dia tidak bisa merasakan emosi Jayu? Gadis itu ingin tahu, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah seperti sekarang, tapi Venus hanya bisa diam. Baginya, seorang yang sedang marah hanya perlu didiamkan. Seperti genangan air yang terkoyak, kita harus mendiamkannya agar kembali jernih dengan sendirinya.     “Venus!” Tisna melambaikan tangan sambil berlari kecil ke arah mereka. Pandangannya kini tertuju pada tangan Jayu yang menggenggam tangan Venus. Dia tersenyum jahil pada sahabatnya, lalu berdeham.     “Kalian mau ke mana? Boleh numpang sampai halte, nggak?”     “Boleh banget.” Venus yang menjawab. “Iya kan, Kapten?” Jayu melihat mata Venus yang memohon. Itu adalah kelemahan terbesarnya. Dia tidak akan pernah bisa menolak permintaan Venus, yang dia ajukan dengan bola mata seperti itu.     “Ikutlah. Nanti kuantar setelah dari kantor polisi.” Jayu memberikan persetujuan dengan nada bicara yang masih datar.     Sepanjang perjalanan, Jayu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Mobil itu begitu hening walau di sana juga ada Satria. Beberapa kali, Venus berusaha mencuri pandang ke wajah suaminya. Namun tetap saja wajah itu terlihat kaku, sangat berbeda dari biasanya.     “Tis,” Venus membuka suara. Dia teringat dengan gadis berambut pirang yang tadi. “Saat kamu mau bunuh diri, aku melihat seseorang yang melemparkan kertas ke wajahmu. Dia siapa? Aku rasa, orang dari penerbit besar sekalipun, tidak akan pernah berlaku kasar seperti itu.”     “Dia bukan orang dari penerbit,” jawab Tisna dari kursi belakang. “Aku menjual hak cipta “Secret Love” padanya. Dulu dia bilang tulisanku terlalu sampah, jadi dia tidak mau menerimanya. Dan saat aku mengirimkan ke penerbit, mereka bilang itu karya plagiat. Ternyata Lisa sudah mengajukan naskahku atas namanya ke penerbit yang sama tanpa sepengetahuanku.”     “Apa? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku? Kita bisa menuntutnya. Kenapa kamu diam saja?” Venus tidak terima, tapi Tisna malah menunduk. Dia menangis dalam diam, sampai bahunya bergetar.     “Tis?” Venus yang tadinya hanya melihat Tisna lewat pantulan spion, kini menoleh ke belakang. “Ada apa? Kenapa kamu menangis?”     “Aku tidak bisa menuntutnya.”     “Kenapa? Pencuri seperti itu harus diberi pelajaran.” Itu Satria yang menyahut. Walau mobil Jayu dilengkapi AC, cowok kemayu dengan celana ketat berwarna pink dan kemeja bunga-bunga ala baju pantai itu tetap memainkan kipasnya dengan luwes.     “Aku tidak bisa melakukannya, Sa. Dia sahabatku sejak SMP. Aku banyak berutang budi padanya. Aku juga tahu sebesar apa keinginannya untuk bisa menjadi seorang penulis. Kalau aku melaporkannya sebagai pencuri, kariernya akan hancur. Dia pasti akan di-blacklist oleh penerbit. Aku tidak mau itu terjadi.”     “Lalu bagaimana denganmu?” Venus berapi-api. “Kamu melepaskan kerja kerasmu selama bertahun-tahun. Dan sekarang, mungkin kamu yang di-blacklist oleh para penerbit. Ini salah, Tisna.”     “Ve, kamu mengajarkan banyak hal padaku. Termasuk bagaimana cara memaafkan.” Tisna mengusap air mata, meyakinkan Venus bahwa dirinya tidak apa-apa. “Saat hal buruk terjadi pada kehidupan kita, kita hanya perlu mengingat-Nya. Semua itu tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Kita hanya perlu percaya, bahwa kebaikan dan keburukan, semuanya sudah ditentukan. Kenapa aku harus marah pada yang Maha Berkehendak, saat aku tahu kalau kehendak-Nya sudah pasti yang terbaik?”     Ucapan Tisna menyentil Jayu yang sejak tadi hanya diam. Dia melihat Venus yang sekarang sedang tersenyum ke arah Tisna. Gadis itu, sepertinya Venus memang kegilaan yang ajaib. Jayu perlu tahu lebih banyak tentang wanitanya.     “Sasa tidak setuju.” Satria memainkan kipasnya dengan wajah ditekuk. “Bisa saja, Tuhan mengirimkan Lisa padamu, agar kamu membuatnya sadar. Kalau kita tetap membiarkan kelakuannya seperti itu, bisa jadi akan ada penulis-penulis lain yang jadi korban. Kita harus melaporkannya.”     “Benar, Tis. Kita tidak boleh membiarkan kejahatan tetap terjadi, sedangkan kita mampu menghentikannya,” Venus menimpali. Dia berharap, kali ini Tisna akan setuju.     “Ve, aku percaya padanya. Lisa sudah berjanji, kalau aku merelakan naskah itu, dia tidak akan melakukannya lagi.” Tisna berusaha meyakinkan.     Kesempatan kedua, dia rasa juga perlu diberikan pada orang lain. Sebagaimana Tuhan telah memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, setelah hampir melakukan kesalahan terbesar dengan mencoba bunuh diri.     “Kamu tenang saja, kalau sampai dia melakukan hal itu lagi, aku tidak akan segan untuk melaporkannya. Percayalah.”    ***      “Bagaimana bisa itu kecelakaan, Pak?!” Venus tidak bisa mengendalikan diri, saat mendengar pernyataan polisi tentang kematian Alana. Jayu berusaha menahan Venus yang seolah ingin menerkam polisi di depannya.     “Aku melihat sendiri, mobil itu diretas. Ada dua orang yang mengikuti mobil Alana dan mengendalikannya dari luar.”     “Kami sudah melakukan pemeriksaan barang bukti secara menyeluruh. Tidak ditemukan adanya peretasan seperti yang Anda bilang, Nyonya.”     “Sudahlah, Ve. Kita tidak punya bukti.” Jayu berusaha menenangkannya.     “Tapi aku melihat sendiri.” Venus menangis. Dia tidak bisa membiarkan ketidakadilan atas kematian Alana. “Alana yang memberitahuku. Apa perlu aku membiarkannya masuk sekarang? Dia terus mendatangiku dan memperlihatkan semuanya, dia datang sendiri, memintaku untuk mengungkap kasus ini. Kamu percaya, kan?” Venus masih terus berusaha meyakinkan Jayu. Wajahnya sudah penuh oleh air mata. “Dia ada di sini, Kapten. Kita harus membantunya.”     Jayu mengamati sekitar. Dia yakin, siapa pun yang mendengar Venus, pasti akan menganggap kalau gadis itu sedang mengalami gangguan mental. Siapa yang akan percaya?     “Maafkan istri saya, Pak. Dia masih syok dengan kematian idolanya.”     “Apa?” Venus menatap Jayu tidak percaya. “Kapten ....”     “Maafkan kami, Pak. Kami permisi.” Jayu segera mengajak Venus pergi dari sana. Gadis itu masih berusaha melawan, tapi Jayu menggendong dan membawanya masuk mobil.     Di depan kantor polisi, bayangan Alana berdiri melihat kepergian Venus. Gadis itu menghilang bersama sebuah mobil yang melintas. Ada kekecewaan yang masih merundung hati Alana. Keadilan masih begitu jauh dari dirinya. Sekarang, siapa yang akan membantunya mengungkap kebenaran tentang kematiannya?   ***     Ruangan itu dipenuhi buku. Rak-rak yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit, tertata rapi berbagai judul dari dalam dan luar negeri. Arjuna duduk bersandar di sebuah kursi, dia memegang sesuatu di tangan kanan. Senyum pria itu terlihat sinis dan penuh kesombongan.     “Alana. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apa kamu sudah sampai di surga?” Arjuna mematahkan chip di tangannya. Benda kecil itu sekarang tidak lebih dari remukan sampah tak berguna.     Pria itu mengingat-ingat saat dirinya datang ke kantor polisi, dan para polisi itu dengan mudahnya mengizinkan Arjuna ke tempat pemeriksaan barang bukti, hanya karena mereka tahu kalau Arjuna adalah tunangan Alana. Hal itu membuatnya lebih leluasa untuk mengambil chip tanpa mereka sadari.     Alana menatap Arjuna penuh rasa kecewa. Seorang yang sangat dicintai selama hidupnya, dia juga yang mengakhiri hidup gadis itu dengan sangat kejam.     Bel rumah Arjuna berbunyi. Siapa yang sedang mengantarkan dirinya ke neraka seperti itu?     Arjuna meraih remot kecil, menyalakan monitor yang terhubung ke CCTV rumahnya. Di sana terlihat Tisna dengan dua gelas kopi di tangan. Gadis itu merapikan rambutnya sekali lagi, dan dia juga menggunakan jepit rambut biru pemberian Arjuna tempo hari. Tidak kunjung dibuka, Tisna menekan belnya sekali lagi.     “Dia benar-benar datang.”     Arjuna bangkit. Dia berjalan menuju lift yang membawanya ke lantai utama. Rumah Arjuna mempunyai design yang sederhana, tidak banyak ruangan di sana. Ruang tamu dan ruang makan, keduanya hanya dipisahkan oleh rak buku yang menjulang sampai atap. Di sepanjang dinding yang menghubungkan ruang tamu dengan kamar, juga dipenuhi rak buku yang terisi penuh, dan tertata begitu rapi. Dia maniak buku. Bukan hanya kutu buku yang suka membaca dan membaca, tapi dunia Arjuna ada di dalam buku-buku itu.     “Hai.” Tisna melambaikan tangan begitu Arjuna membuka pintu. Gadis itu menunjukkan dua gelas kopi di tangan kirinya. “Aku datang sesuai janjiku.” Arjuna tertawa kecil. Ternyata benar. Tisna memang sangat polos. Dia bahkan menganggap serius gurauan Arjuna yang memintanya untuk membawa kopi saat datang ke rumah.     “Masuklah.” Tisna mengekori langkah Arjuna dan mereka berhenti di ruang tamu.     “Aku mau konsultasi masalah kepenulisan. Kalau kamu tidak keberatan.”     “Tentu saja tidak. Aku senang kamu benar-benar datang.” Tisna menurunkan bawaannya. Bukan hanya kopi, dia juga membawa beberapa bungkus makanan ringan. Dia pikir, akan sangat membosankan jika mengobrol tanpa camilan.     “Kenapa kamu repot-repot?”     “Sepertinya kamu salah paham, sebenarnya aku sedang menyuap, agar kamu mau memuntahkan ilmumu padaku.”      “Ah, benar, aku sedang disuap. Bagaimana ini?” Mereka tertawa bersama. Tisna terlalu lugu dan polos. Dia tidak boleh tahu siapa Arjuna, kalau tidak, gadis itu pasti akan menjaga jarak ribuan mill darinya.     “Oh iya, Juna, boleh aku numpang sholat? Sebentar lagi isya, tapi aku belum sempat sholat magrib.”     “Sholat?” Arjuna terdengar sedikit ragu. Wajahnya berubah datar.     “Iya. Boleh, kan?”     “Kenapa tidak?” Arjuna memaksakan sebuah senyum. “Sholatlah. Ambil wudu di sebelah sana.” Pria itu menunjuk kamar mandi di dekat ruang tamu.     “Kamu sendiri, sudah sholat?”     Arjuna terlihat kurang suka dengan pertanyaan Tisna. Kenapa dia harus menanyakan hal semacam itu padanya? Entah sudah berapa lama Arjuna tidak menyapa Tuhannya melalui sebuah sujud. Terakhir, mungkin saat SD. Ketika dia masih tinggal dengan sang ayah. Namun tidak sekarang. Kehidupannya sudah berubah jauh sejak tinggal dengan ibunya. Wanita itu mengendalikannya seperti robot. Arjuna seperti bukan anak manusia, tapi boneka bionik malang yang selalu dituntut untuk memenuhi ambisi Clarissa.     “Pergilah. Sebentar lagi isya.” Hanya itu jawaban Arjuna. Dia meninggalkan ruang tamu menuju kamar. Tisna hanya melakukan apa yang dikatakan Arjuna. Mungkin pemuda itu sudah shalat. Begitu pikirnya.   ***     “Oh Tuhan, kenapa sulit sekali rasanya membuat tulisan yang romantis?” Venus meletakkan kepala di atas meja.     Semua imajinasi yang berusaha dia muntahkan, terasa hambar ketika dibaca ulang. Sepanjang menjadi penulis, hal yang paling menyulitkan adalah ketika dia harus membangun suasana yang romantis untuk tokoh-tokohnya.     Bagaimana tidak? Satu-satunya hal paling romantis yang pernah dia alami adalah ketika dilamar oleh Gus Ayas. Setelah itu, dia tidak pernah mengalaminya lagi. Biasanya nonton drama korea cukup ampuh untuk membangkitkan imajinasi liar tentang romantisme sepasang kekasih, tapi kali ini semua ide seolah melarikan diri, menolak untuk dieksekusi. Isi kepalanya kosong melompong.     Venus hendak mulai menulis lagi, tapi air matanya tiba-tiba menetes. Sebutir kesedihan jatuh di atas keyboard. Kenapa ini? Kenapa dia menangis?     “Kapten?”     Gadis itu teringat Jayu. Satu-satunya orang di rumah itu selain dirinya adalah Jayu. Apa mungkin pria itu sedang menangis? Rasanya Venus tidak punya alasan untuk meneteskan air mata saat ini, kecuali ada orang lain yang sedang bersedih.     Gadis itu bangkit, meninggalkan laptopnya yang masih menyala. Venus menuruni tangga secara perlahan, takut kalau ternyata emosi yang sedang dirasakannya bukan berasal dari manusia, tapi hantu.     “Kapten, apa kamu sudah pulang?” Venus menyusuri setiap ruangan di rumah itu. Hening, tidak ada jawaban, tapi dia mendengar isakan kecil dari kamar yang ada di dekat ruang makan.     “Kapten, apa kamu di dalam?” Venus mengungkit gagang pintu. Gadis itu mengintip, mencari keberadaan Jayu di sana. Benar saja, suaminya sedang duduk di kursi dekat meja rias. Dia memeluk sebuah bingkai foto sambil terisak.     “Kapten, kamu kenapa? Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?” Venus menghampiri suaminya. Dia menyentuh punggung Jayu, walau tidak bisa merasakan emosi pria itu, tapi air matanya terus mengalir. Ini tidak adil, kenapa bahkan di saat seperti ini, dia tetap tidak tahu apa-apa tentang kapas ajaibnya?     “Kenapa orang-orang yang kita sayangi selalu pergi lebih cepat?”     Jayu menyandarkan kepala di pinggang Venus. Gadis itu hanya diam, mengusap-usap rambut Jayu seperti anak kecil. Membiarkan pria itu menumpahkan seluruh emosinya.     Jayu melingkarkan tangan di pinggang Venus, membenamkan wajahnya di perut gadis itu. Venus sendiri hanya membiarkannya, berharap hal itu bisa meringankan beban yang sedang memenuhi pikiran Jayu. BestRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD