Alien Ganteng

2590 Words
   “Sebab, tak dapat kubenci Tuhan, yang mengatur pertemuan kita, pada alur yang telah Dia tetapkan.”    ***     Sesak, kepala terasa berat, dan dunia seolah terbalik. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanya bernapas, itu pun sulit. Seluruh alat geraknya seperti dikutuk menjadi batu, kecuali mata. Alana bisa melihat, berkedip, dan bernapas. Hanya itu.     Seseorang yang memanggul tubuhnya, meletakkan gadis itu di dalam mobil. Dengan cekatan, tangan itu memasangkan sabuk pengaman.     “Tenang, Sayang, penderitaanmu akan segera berakhir.” Tangan yang dibungkus sarung hitam. Tangan itu mengusap wajahnya, menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Alana ke belakang telinga. Gadis itu hanya mampu menangis. Sebanyak apa pun koleksi kata yang ingin dimuntahkan, bibirnya sama sekali tidak bisa bergerak. Tatapan gadis itu terlihat begitu sedih dan kecewa. Bukan perasaan takut yang terlihat di mata itu, justru iba dan kasihan.     “Aku tidak ingin melakukan ini, tapi kamu tidak boleh hidup.” Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup kening, dan kedua kelopak matanya.     “Pergilah, jemput malaikat mautmu sekarang.” Tangan pria itu menempelkan sesuatu di balik kursi kemudi. Sebuah chip berwarna hitam seukuran kuku. Benda itu terlihat berkedip merah secara berkala. Setelah melihat wajah Alana sekali lagi, pria itu menyalakan mobil, dan menutup pintunya dari luar.     “Sekarang.” Pria itu berbicara melalui telepon. “Selesaikan permainan ini, dan jadilah pemenang. Jaga jarak dalam dua puluh meter, kamu harus membuat semuanya seperti kecelakaan.” Beberapa saat setelah mobil Alana melaju, dua orang yang menaiki sepeda motor besar segera menyusul. Seseorang yang membonceng, terlihat memegang remote kontrol seperti ponsel. Mobil Alana diretas. Mereka membuat mobil itu melaju secara ugal-ugalan, dengan kecepatan yang membuat Alana memejamkan mata karena takut. Lalu lintas kacau, beberapa kali mobil itu menyerempet kendaraan lain, dan membuat kecelakaan beruntun tidak bisa dihindari. Pengendara motor itu terus menaikkan kecepatan, membuat mobil Alana semakin tidak terkendali. Saat ada sebuah truk besar yang berjalan dari arah berlawanan, seseorang yang memegang kendali mobil segera menubrukkannya, sehingga mobil Alana terpental dan jungkir balik, lalu meledak.     “Beres, semua berjalan sesuai rencana.” Mereka segera meninggalkan tempat itu, setelah berbicara melalui telepon.   ***     Jayu baru saja pulang, dia melihat Venus tertidur di sofa ruang tamu. Gadis itu terlihat gelisah di dalam tidurnya. Ralat. Gadisnya. Mereka sudah menikah selepas magrib tadi, di masjid dekat rumah Tisna, dan sekarang Jayu sudah memboyong Venus ke rumahnya. Bagi Jayu, wajah Venus seperti teka-teki, sesuatu yang ingin dia pecahkan misterinya. Dia selalu terlihat menyembunyikan banyak rahasia di balik wajah itu.     “Kenapa gadis sepertimu bisa mengacaukan perasaanku begini?” Jayu mendekat, mengamati wajah Venus yang terlihat lelah. Dia bahkan tidak seperti orang yang sedang istirahat walau sedang terpejam.     “Tidak! Alana!” Venus terbangun. Samar-samar, dia masih bisa melihat keberadaan Alana di sana, sebelum bayangan gadis dengan wajah pucat itu menghilang seperti angin.     “Alana?” Jayu bertanya dengan kedua alis yang saling bertaut.     “Kapten, dia dibunuh. Itu bukan kecelakaan.” Venus terlihat gelisah, wajahnya penuh dengan keringat, dia juga menangis.     “Kita harus ke kantor polisi sekarang.” Venus hendak berdiri, tapi Jayu menahannya.     “Tenanglah, itu hanya mimpi.”     “Tidak, Kapten.” Venus menggeleng, dia berusaha melepaskan tangan Jayu. “Dia datang ke sini untuk memberitahuku. Itu bukan mimpi.” Venus terus menangis dengan napas yang masih belum teratur.     “Venus, lihat aku.” Jayu meraih wajah Venus, memaksa agar melihat ke arahnya. “Itu hanya mimpi. Polisi juga sudah menyatakan kalau kejadian itu murni kecelakaan karena kelalaian berkendara. Kasus itu sudah ditutup.”     “Apa! Tapi ....”     “Sudahlah.” Jayu menarik Venus ke dalam pelukan. Hatinya ikut terluka setiap kali air mata Venus terjatuh. “Kamu tidak perlu memikirkannya. Kamu hanya bermimpi.”     “Tidak.” Venus melepaskan diri, dia menjauhkan wajah dari Jayu. Napasnya sudah lebih teratur, dan sudah lebih bisa mengendalikan diri. “Kapten, mungkin bagimu ini hanya omong kosong, tapi tadi Alana benar-benar datang kemari. Aku rasa dia ingin aku mengungkap tentang kematiannya.”     “Kamu pasti sedang berhalusinasi. Seorang yang sudah mati, dia tidak akan pernah kembali lagi. Kamu seorang muslim, seharusnya kamu paham akan hal itu.” Jayu masih berusaha meyakinkan.     “Benar, seorang yang sudah mati tidak akan pernah kembali,” Venus mengusap air matanya. “Tapi ....” Gadis itu melihat ke dalam mata Jayu. “Seorang guru pernah bercerita padaku, saat anak manusia dilahirkan, maka bersamaan dengannya juga dilahirkan Jin Qorin. Jin yang menyerupai wujud kita, dan hidup dengan perasaan, juga kebiasaan kita. Lalu setelah kita meninggal, jin itu akan tetap hidup sampai hari kiamat, dengan perasaan orang yang telah meninggal. Aku rasa Alana menginginkan aku mengungkap kebenaran tentang kematiannya, karena itu, Jin Qorin yang menyerupainya terus mendatangiku.”     “Kapten,” Venus memegang tangan Jayu. “Antarkan aku ke kantor polisi. Aku mohon.” Gadis itu menahan napas, menanti jawaban Jayu.     Saat kulitnya bertemu kulit dengan Venus, dan saat dia melihatnya dengan tatapan memohon seperti itu, otak Jayu mendadak macet. Kepalanya mengangguk tanpa perintah dari otak. “Baiklah. Kita ke kantor polisi besok.”     “Terbaik!”     Venus tersenyum semringah, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Jayu sampai heran, apa di dalam otaknya hanya ada orang lain? Kenapa dia bisa sebahagia itu, hanya karena Jayu setuju untuk ikut campur dalam kasus kecelakaan Alana? Dan lagi, kenapa emosinya begitu labil? Sedetik lalu dia masih menangis, dan sekarang, sisa kesedihan yang sempat membuat hati Jayu tersayat benar-benar sudah hilang. Tidak terlihat sama sekali kalau Venus baru menangis.     Jayu menggelengkan kepala, tersenyum kecil, lalu mengusap puncak kepala Venus yang terhijab kerudung.     “Tidurlah. Besok pagi kita harus mengadakan konferensi pers.” Jayu berdiri, tapi Venus menahannya.     “Terima kasih.” Dua bola bening Venus menatapnya dengan binar yang membuat hati Jayu berdesir hangat.     “Itu tidak gratis.” Jayu kembali duduk. “Kamu harus membayarku.” Pria itu tersenyum jahil.     “Dasar pamrih!” Venus menyesal sudah berterima kasih.     “Temani aku selama tinggal di bumi.” Venus membuka mulutnya lebar-lebar. Otaknya terlalu sederhana untuk bisa mencerna perkataan Jayu barusan.     “Buat aku betah di sini, karena sekarang aku mulai merindukan Mars.”     “Jadi ... kamu Alien?”     “Alien ganteng,” jawab Jayu penuh percaya diri.     Jayu tidak bisa menahan tawa saat melihat Venus dengan wajah terkejut. Luar biasa konyol. Bagaimana bisa gadis itu menganggap serius ucapan Jayu? Apa dia benar-benar selugu itu, ya?     Menyadari keusilan Jayu, Venus pasang muka nelangsa. Dia menopang dagu dengan kedua tangan, pandangannya lurus ke depan.     “Sebenarnya, aku juga sudah lama tidak pulang ke Pluto.”     “Rupanya kamu berasal dari sana, ya?” Jayu ikut-ikutan menopang dagu dengan dua tangan, meniru gerakan Venus, dengan wajah yang tak kalah nelangsa. “Omong-omong, apa Pluto jadi rujuk dengan Matahari?”     “Sepertinya tidak. Toh dia juga tidak sendiri, ada Charon yang selalu setia bersamanya.”     “Syukurlah. Kasihan juga kalau dinikahi lagi tapi tidak pernah dipeluk.”     “Dia sudah bahagia bersama Charon. Untuk apa menyakiti diri sendiri dengan kembali pada Matahari?” Mereka masih larut dalam obrolan yang semakin mengawur.     “Tapi,” Venus sudah kembali. Dia menoleh ke Jayu. Pria itu juga terlihat menunggu kalimatnya. “Kita gibah gini dosa nggak, ya?”     Kalimat Venus barusan membuat Jayu tertawa. Venus ikut tertawa atas kekonyolan mereka. Ini kali pertama bagi Venus setelah sekian lama, begitu juga Jayu. Mereka seperti menemukan kembali sebuah kehidupan, sesuatu yang telah lama hilang dari diri mereka.     Venus masih tertawa saat Jayu sudah bisa mengendalikan diri. Pria itu memandang Venus dengan tatapan yang dia sendiri tidak bisa menerjemahkannya. Entah apa yang membuat jantungnya terus berdetak dengan irama tidak teratur. Satu hal yang dia tahu, dia bahagia melihat Venus tertawa lepas seperti itu.     “Aku mencintaimu.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Jayu. Venus berhenti tertawa, dia berusaha mencari sesuatu dari kalimat Jayu. Sesuatu seperti candaan atau semacamnya. Tidak ada. Dia serius dengan ucapannya. “Aku sangat mencintaimu, dan aku ingin melindungimu.”     “Kapten?”     Jayu berdiri, “Sudahlah, jangan terpesona begitu. Aku memang tampan.” Pria itu berjalan ke arah kamar. Meninggalkan Venus yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.     Kenapa? Kenapa setiap apa yang dikatakan Jayu membuatnya teringat pada Gus Ayas?     “Kamu tidak mau tidur?” Jayu berhenti karena Venus tidak juga berdiri. Venus membuang napas kasar. Dia berdiri dan berjalan ke arah Jayu.     “Aku harus menyelesaikan tulisan. Lagi pula, aku tidak bisa tidur saat malam hari. Saat aku tidur, hal buruk pasti selalu terjadi.”     Gadis itu berjalan lemas. Dasar bodoh! Ada Jayu di dekatnya, kenapa dia harus takut? Tidak akan ada hantu yang datang mengganggunya. Iya, kan? Dia tidak harus bermimpi macam-macam tentang masa lalu hantu-hantu yang mendatanginya.     Malam ini, dia pasti akan bermimpi indah.     “Benar!” Gadis itu seperti baru saja menemukan berlian dalam tumpukan roti busuk. Lupakan tentang naskahnya, malam ini, surganya sudah di depan mata. Kasur. “Aku bisa tidur denganmu, kenapa harus khawatir?” Gadis itu tertawa sambil berlari kecil mendahului Jayu.     “Bantal, guling, kasur, aku merindukan kalian.” Venus melompat ke atas ranjang seperti anak kecil. Gadis itu memeluk dan menciumi guling Jayu. “Akhirnya, aku akan tidur denganmu.” Jayu masih berdiri di ambang pintu. Dia tidak habis pikir, benarkah yang dinikahinya itu adalah sosok Jea, kenapa kelakuannya jauh lebih mirip dengan Marningsih? Absurd!     “Matikan lampunya.” Venus menutupi tubuhnya sampai batas d**a. “Aku tidak bisa tidur dengan lampu menyala.”     Anehnya, tangan Jayu segera melakukan perintah itu sebelum otaknya memberi persetujuan. Sekarang, dia semakin yakin, kewarasannya pasti sudah diambil alih oleh seorang Venus.     Saat lampu utama dimatikan, lampu kecil di samping ranjang otomatis menyala. Menyisakan cahaya remang-remang yang membuat kesan hangat pada ruangan itu.     Ini adalah malam pertama bagi mereka, seharusnya malam ini dilalui dengan segenap cinta yang membara. Dengan membuat malaikat cemburu, karena dua insan mereguk nikmat surga yang menetes ke dunia. Namun bagi Venus, hubungan mereka hanya kesepakatan. Ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai pernikahan.      Dua orang seharusnya menikah karena saling mencintai, tapi mereka, Jayu dan Venus menikah karena saling membutuhkan. Venus tidak pernah menganggap serius ucapan cinta yang keluar dari mulut Jayu. Itu hanya bualan. Seorang aktor yang pandai memainkan peran seperti Jayu, kata-katanya tidak harus dipercaya oleh gadis seperti Venus. Iya, kan?    ***     Tisna berjalan terburu-buru. Dia ingin menghadiri konferensi pers yang akan mengumumkan tentang siapa Venus, dan pernikahannya dengan Jayu. Bukan seperti orang-orang yang juga berjalan ke arah pintu yang sama di gedung itu, dia datang bukan untuk mencari berita. Tentu saja, dia tahu segalanya. Tisna hanya khawatir tentang Venus. Ini kali pertama bagi gadis itu berada di tengah orang banyak, juga sorot kamera. Tisna takut, hal itu akan membuat Venus berada dalam keadaan sulit.     “Astaga!” Tisna menubruk seseorang, membuat orang itu menjatuhkan tumpukan kertas yang dibawanya.     “Maaf, aku sedang ....” Tisna tidak melanjutkan kalimatnya. “Arjuna?”     “Hai, kita ketemu lagi.” Arjuna tersenyum, matanya begitu indah di balik kaca mata yang membingkai wajah.     Tisna membantu Arjuna membereskan kertas-kertas yang berserakan. “Hai, kamu hadir juga rupanya,” jawab Tisna sambil terus membereskan kertas. Beberapa helai rambutnya bergerak lembut, jatuh menutupi wajah yang hari ini terlihat lebih fresh. Tangannya refleks membenarkan rambut, tapi ternyata rambut-rambut itu terlalu keras kepala. Tetap saja dia jatuh lagi dan lagi, mengganggu penglihatan Tisna.     “Pakai ini.” Arjuna mengulurkan klip hitam yang biasa digunakan untuk menjepit tumpukan kertas miliknya.     Dengan sedikit ragu, Tisna mengambil klip itu. Tangan Arjuna bergerak memutar saat Tisna hendak mengambilnya, membalik telapak tangan, lalu klip yang dia genggam menghilang. Berganti penjepit rambut berbentuk pita kecil berwarna biru. Sangat lucu.     “Wow, ternyata kamu bisa sihir juga, ya?” Tisna mengambil benda itu dengan penuh rasa takjub. Arjuna tertawa, “Aku pernah belajar sulap.” Mereka sudah selesai membereskan semua kertas. Sekarang, keduanya berjalan beriringan ke aula gedung BSP.     “Sebentar.”     Arjuna menghentikan Tisna, dia mengambil jepit rambut yang dipasang asal-asalan, lalu memperbaiki letaknya. Agak sedikit kesulitan karena tangan kirinya memegang barang, tapi tingginya cukup menguntungkan. Dia bisa merapikan rambut Tisna, dan menyelipkan jepit rambut untuk menyingkirkan poninya.     “Sekarang kamu terlihat cantik.”     Pujian itu tulus dari hati Arjuna. Tisna memang cantik, dan hiasan kecil itu membuat aura kecantikannya semakin terpancar.     “Terima kasih.”     Gadis itu menunduk malu, dia tidak bisa membiarkan Arjuna melihat pipinya yang sekarang pasti sudah mirip tomat busuk gara-gara pujiannya barusan.     Mereka memasuki Aula, Tisna duduk di belakang para wartawan. Sementara Arjuna ikut duduk di depan. Hari ini, selain pengumuman pernikahan Jayu dengan Venus, BSP juga mengumumkan tentang novel Venus yang akan segera difilmkan. Termasuk keterlibatan Arjuna dalam project film tersebut. Kilat cahaya dari kamera yang menyerbu ke arah Venus, membuatnya mencengkeram tangan Jayu kuat-kuat. Gadis itu sedikit ragu untuk melihat semua yang ada di sana.     “Hai, senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Arjuna menyapa Venus, dia mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi lihatlah siapa yang menyambutnya. Jayu. Pria itu menyalami Arjuna sambil tersenyum jemawa. Matanya melirik Venus yang terlihat senang karena kedatangan Arjuna, tapi segera hilang kesenangan itu begitu melihat Jayu menyambut tangan penulis favoritnya.     “Aku juga senang bisa bekerjasama denganmu lagi.” Jayu menegaskan kata kerja sama, dengan penuh penekanan. Maksudnya adalah, Arjuna harus menjaga sikap terhadap Venus, istrinya.     “Bukan kamu, tapi dia.” Arjuna sedikit bingung karena sikap Jayu. Yang duduk tepat di sampingnya adalah Venus, yang ingin disalaminya juga Venus, tapi yang menyambut malah Jayu.     “Sama saja. Intinya aku senang kita semua bisa terlibat dalam satu project yang sama.” Jayu kembali memamerkan cacat otot di wajah. Sekarang, dia sudah siap untuk mengatakan semuanya di hadapan awak media.     “Baiklah semuanya, terima kasih karena sudah datang kemari. Sekarang, aku akan menjawab keingintahuan kalian terhadap wanita di sampingku.” Pandangan Jayu beralih dari para wartawan ke wajah Venus.     “Wanita cantik ini,” Jayu kembali pada media. Dia mengangkat tangan Venus yang sedang digenggam, lalu menciumnya. “Dia istriku.” Jayu memejamkan mata, dia terlihat begitu mencintai Venus.     “Apakah benar, kalau orang yang kamu akui sebagai istri itu adalah Venus, penulis yang selama ini menyembunyikan jati dirinya?”     “Tepat sekali.”     “Jadi, apakah benar rumor yang beredar, bahwa Nona Venus mendekatimu untuk mengangkat namanya. Menurut rumor yang tersebar di kalangan fansmu, novel milik Venus, untuk pertama kalinya akan difilmkan, dan kamu mengambil peran utama dari film tersebut.”     “Tentu saja bukan.” Kali ini Arjuna yang angkat bicara. “Selama ini Venus selalu menolak novelnya difilmkan, dan kalau kalian menganggap dia numpang tenar sama Jayu, maka kalian pasti belum tahu siapa Venus. Dia bahkan lebih terkenal dari suaminya itu. Novel yang dia tulis selalu best seller, dia tidak perlu orang lain untuk mengangkat namanya sendiri.”     “Benar begitu, Nona Venus. Lalu, kenapa sekarang kamu setuju novelmu difilmkan?”     “Karena,” Untuk pertama kalinya Venus membuka suara, “aku sudah menemukan kembali duniaku.” Pandangan Venus sama sekali tidak tertuju pada kamera-kamera yang terus membidiknya, tapi pada wajah Jayu. Dia mencari ketenangan, dan kekuatan dari wajah itu. Mereka berdua saling memandang, membuat dunia iri dengan cinta yang terlihat begitu jelas dari keduanya.     “Kalian benar-benar luar biasa.”     Acara itu berlanjut dengan tanya jawab seputar novel Mahar Seribu Nadhom, juga tentang keterlibatan Arjuna dalam film itu. Selama konferensi pers berlangsung, Jayu sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari tangan Venus. Ada rasa nyaman yang luar biasa, ketika jemari tangan mereka saling mengisi celah masing-masing.     Di barisan paling belakang, di antara semua yang hadir, seorang lelaki setengah baya terlihat berdiri. Dia tersenyum bangga melihat apa yang ada di depan sana. Lelaki itu meninggalkan ruangan dengan mengusap air mata. Ternyata dirinya tidak cukup kuat untuk membendungnya.     “Berbahagialah. Aku benar-benar bangga padamu.” BestRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD