Izinkan Aku Memelukmu

2925 Words
“Saat malam menghujanimu dengan rindu bertubi-tubi, kecuplah ia pada temaram yang sunyi.” ***     Sebagai manusia yang dibekali perasaan super peka terhadap orang lain, Venus merasa iba ketika seorang wanita menyodorkan tangan di hadapannya. Wanita itu memelas, memohon belas kasihan dari Venus yang tengah duduk di bangku halte.     “Nak, tolong ibu. Ibu baru dari rumah teman buat nagih utang.” Wanita itu menampilkan wajah yang membuat hati Venus serasa teriris. “Dia tidak ada di rumah. Padahal ibu sama sekali nggak punya uang buat pulang ke Depok. Tolong saya, Nak. Tolong kasih saya uang tiga puluh ribu saja, buat naik kereta.”     “Ya Allah, Bu, Ibu kelihatannya lelah sekali. Duduk dulu sini, Bu. Minum dulu.” Venus mengambil air mineral dari tas, lalu menyodorkannya pada wanita itu.     “Terima kasih, Nak. Kamu gadis yang baik. Saya hanya ingin pulang secepatnya, anak saya masih kecil di rumah. Tadi saya titipkan sama tetangga, nggak enak kalau ditinggal terlalu lama.” Wanita itu hanya memandangi botol air yang diulurkan Venus, tanpa sedikit pun niat untuk mengambilnya. Mengerti maksud wanita itu, Venus segera merogoh dompet yang ia letakkan di dalam tas.     “Ibu yakin, tiga puluh ribu cukup?”     “Cukup, Nak.”     Wanita itu tersenyum ketika hendak mengambil uang dari tangan Venus. Tapi senyum itu segera memudar, begitu ada tangan lain yang lebih dulu mengambilnya.     “Hai, Ibu? Habis nagih utang lagi, ya?”     Cowok jangkung dengan seragam putih abu-abu, dia menatap wanita itu dengan tatapan ‘kena kau!’     “Oiya, Bu, kereta dari sini ke Depok, hanya butuh dua belas ribu, itu juga udah sama uang jaminan kartu. Setahu saya, kemarin ibu bilang, rumahnya dekat stasiun, kan? Lalu kenapa ibu butuh uang sampai tiga puluh ribu? Stasiun kereta terdekat dari sini juga kelihatan loh, Bu. Nggak perlu naik angkot kan, ya?”      Cowok itu bicara panjang lebar dengan penuh kesombongan. Dia sedang memamerkan kecerdasan di hadapan wanita tua.      “Satu lagi, tadi ibu sudah dapat dua puluh ribu dari laki-laki di sebelah sana.” Cowok itu menunjuk ke sebelah kanan mereka, tidak jauh dari situ, ada seorang lelaki yang baru saja masuk mobil. “Terus, saya juga lihat ibu dapet duit dari orang yang jualan boneka di sebelah sana, apa masih belum cukup juga?”     “Maksud kamu apa, ya?” Venus turun dari tempat duduk. Dia menghampiri wanita yang terlihat ketakutan karena ocehan panjang anak bau kencur di hadapannya.     “Mbak, dia itu penipu. Dia ....” Jayu tidak melanjutkan katakatanya. Venus baru saja merampas kembali uang dari tangan cowok itu, lalu memberikannya pada wanita tadi.     “Maaf ya, Bu. Dia pasti lagi kelaparan. Saat lapar, otak manusia memang sering bermasalah, makanya bersikap seperti itu.”     Venus memang melihat adanya kegelisahan dan kesedihan, juga rasa takut di mata wanita itu, tapi dirinya tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Jayu. Untuk memastikan, apakah wanita itu berbohong atau tidak, Venus sengaja menyentuh tangannya saat memberikan uang. Tidak ada yang dia rasakan. Dia tidak melihat apa-apa. Saat seorang ketahuan berbohong, emosi terkuat yang paling mungkin di rasakan adalah panik, dan juga takut. Dengan begitu, Venus akan bisa melihat kebohongannya, karena sudah pasti apa yang dia sembunyikan itulah yang membentuk rasa takut.     “Hati-hati di jalan ya, Bu.” Venus segera membiarkannya pergi, setelah yakin kalau wanita itu memang tidak berbohong.     “Dasar bodoh. Kamu pasti baru di Jakarta, ya?” Jayu menyedekapkan tangan, matanya melirik Venus yang sedang tersenyum memandangi kepergian wanita tadi. “Dia itu penipu. Modus seperti itu sudah basi, berpura-pura ini-itu, lalu bersilat lidah meminta belas kasihan dari orang lain. Itu pekerjaan mereka. Menipu.”     “Dia nggak bohong. Aku pasti tahu kalau dia bohong. Aku sama sekali tidak merasakan kekhawatiran akan diketahui kebohongannya. Asal kamu tahu, aku ini sangat peka terhadap orang lain.”     “Biar kutunjukkan.”  Jayu meraih tangan Venus, lalu menariknya agar mengikuti langkah cowok dengan cacat otot di pipinya itu.     “Singkirkan tanganmu. Aku paling jago melemparkan orang yang berani menyentuhku.” Venus menatap tangan Jayu yang mencengkeram pergelangan tangannya. Kendaraan yang lalu lalang membuat udara semakin panas, bau aspal yang tersengat matahari, membuat kepala Venus terasa pusing.     “Sorry.”      Jayu segera mengangkat tangan ke udara. Venus menyilangkan ujung pashminanya ke belakang. Matanya mengawasi bus yang melintas, memeriksa nomornya. Bukan. Itu bukan bus yang harus dia naiki.     "Lihat.”  Jayu menunjuk ke arah wanita tadi, dia sedang memelas di depan sebuah warung makan. Seseorang mengusirnya, lalu dia berpindah ke warung bakso di sebelahnya. Gadis penjual bakso juga hanya mengusirnya.      “Mereka sudah tahu siapa wanita itu. Makanya dia diusir dari sana. Orang-orang seperti dia menjadikan orang bodoh sepertimu sebagai sasaran empuk.”     “Aku tidak peduli. Apa pun yang dia lakukan, terlepas dari dia bohong atau tidak, niatku adalah membantu. Urusan dosa, jika dia memang benar-benar berbohong, itu urusan dia sama Allah. Bukan aku.” Venus hendak meninggalkan Jayu, sepertinya lebih baik dia naik angkot atau kereta saja. Apa pun, asal tidak harus bertemu orang seperti cowok sok pintar itu. Tidak, terlalu banyak orang di kereta, dia bisa pingsan, jadi sepertinya Venus harus memilih naik angkot. Itu pilihan cerdas.     “Lalu bagaimana, kalau karena orang-orang sepertimu, mereka jadi semakin gencar melancarkan aksi. Berbohong, menipu, dan melakukan hal-hal seperti itu setiap hari? Apa menurutmu, kamu tidak ikut andil dalam mencetak para pemalas seperti mereka? Ada banyak pekerjaan lain yang bisa dikerjakan dengan tangan mereka ketimbang meminta-minta, apalagi sampai berbohong, tapi mereka lebih memilih untuk berbohong, karena orang-orang naif sepertimu selalu mengasihaninya.”     “Anak kecil, kamu boleh bicara sesukamu.” Venus mendekat. “Tapi aku punya cara sendiri untuk mengubah dunia.” Dia mendorong Jayu dengan jari telunjuk, lalu membalik badan.      Gadis itu mengambil kaca mata hitam dari saku tas, lalu mengenakannya dengan gaya sok keren. Padahal, itu adalah cara untuk melindungi diri sendiri, agar dia tidak perlu melihat ke dalam mata orang lain, hanya untuk menyerahkan diri dan menampung emosi mereka, yang akan membuat dadanya sesak.     “Anak kecil? Bahkan tingginya tidak ada sedadaku, tapi berani memanggilku anak kecil. Yang benar saja?”     “Nak, aku masih bisa mendengarmu.” Venus bicara tanpa menoleh. Dia merentangkan payung, cuaca hari ini terlalu panas.     “Dengan seragam SMA yang kamu gunakan, aku bahkan bisa menebak kalau usiamu masih belum genap dua puluh. Ditambah, kamu yang belum bisa mengancingkan resleting celana dengan benar, itu membuatku semakin yakin kalau kamu memang anak kecil.” Jayu segera mengecek resleting celana. Sial! Rupanya cowok itu lupa mengancingkannya setelah dari toilet tadi. Wajahnya langsung memerah dan panas seketika. Venus berjalan menjauh sambil tertawa kecil. Dia yakin, cowok sok keren tadi pasti sedang malu bukan main. Gadis itu menyetop angkutan umum, lalu melipat payungnya. Sebelum masuk, dia sempat berhenti sebentar untuk melihat ke arah Jayu. Beberapa saat setelah masuk, kepalanya menyembul ke luar.     “Je ....”     Venus tidak jadi melanjutkan kalimatnya, gadis itu tampak berpikir, lalu sebuah senyum menghiasi wajahnya.      “Venus. Suatu saat nanti, kamu akan mendengar nama Venus di seluruh dunia. Kamu akan tahu bagaimana caraku mengubah dunia.” Jayu tertawa kecil ketika kenangan itu kembali terlintas di kepala. Ingatannya memang pengkhianat nomor wahid dalam urusan melupakan gadis itu. Sialnya lagi, hal itu masih berlaku sampai saat ini. Saat delapan tahun sudah berlalu, dia masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Venus.     “Venus. Jadi ini yang kamu sebut mengubah dunia?” Jayu memandangi tumpukan buku di meja kecil. Semua judul novel yang ditulis Venus ada di sana.     “Biru, gadis dengan dendam pada keluarga sendiri. Jea, seorang yang tidak bisa memercayai orang lain, Galuh yang memiliki kelainan genetik, lalu Elfarra, seorang penulis yang menghawatirkan masalah jodoh. Bagaimana bisa ini disebut mengubah dunia, bahkan hampir semua tokoh yang diciptakannya memiliki kisah yang mengenaskan. Dan setelah melakukan apa yang katanya mengubah dunia, dia malah mengasingkan diri dari dunia. Dia masih sama seperti dulu, aneh, dan sulit dimengerti.”     Jayu melihat langit-langit rumah. Saat ini dia sedang duduk di sofa ruang tamu. Ruangan itu sangat luas, terkesan lembut dengan warna putih dan beige untuk pintu dan dinding, serta perabotan. Chandeliner dan dinding yang dipadukan dengan kaca, melengkapi tampilan ruang tamu itu. Di sebelah ruang tamu, jika berjalan masuk sedikit, di sana ada ruang makan. Ruangan itu digabungkan dengan dapur bersih, dengan meja makan panjang yang terlihat elegan. Di sana juga ada lampu dinding dan chandeliner yang menghilangkan kesan kosong, juga membuatnya terlihat lebih berkelas. Dengan dinding kaca dan banyaknya jendela, ruang makan di rumah Jayu begitu nyaman dengan pencahayaan alami. Benar-benar rumah yang sangat mewah dan elegan.     “Kamu benar. Kemewahan ini hanya membuatku semakin merasa sendiri.” Jayu menggumam lirih. Pria itu duduk mengamati sekitar, begitu dingin dan kosong. Dia sudah kembali ke rumahnya setelah hampir sebulan tinggal di apartemen Satria. Rumah itu baru direnovasi sebulan lalu.     Tangan Jayu meraih buku biru dengan gambar seorang gadis menyandang busur panah, di bawah naungan langit yang dipenuhi bintang-bintang. Di bagian bawahnya tertera nama Venus. Mahar Seribu Nadhom, sebuah novel yang dikabarkan merupakan separuh dari Venus. Ada kisah kelam tentang dirinya yang dituangkan dalam buku itu. Namun sejauh Jayu membacanya, jika dibandingkan dengan cerita Tisna, itu berbanding terbalik. Semenyedihkan apa pun kisah Jea, dia bahagia bersama Gus Ayas. Dan seingat Jayu, Tisna bilang kalau Gus Ayas telah meninggal, bahkan sebelum Venus datang ke Jakarta.     “Kamu memanipulasi takdir di dalam duniamu.”  Jayu melihat miris pada buku di tangannya. Sebagian hatinya terasa ngilu ketika mengingat tentang Venus, dia ingin menemui gadis itu sekarang juga. Ada yang ingin dia katakan pada gadis itu.    ***      “Jea, izinkan aku memelukmu. Menikahlah denganku, agar sempurna penjagaanku atasmu.” Venus melongo tidak elegan sama sekali saat mendengar kalimat Jayu. Otaknya masih berhamburan di udara, karena Jayu tiba-tiba ada di rumahnya malam-malam begini. Sekarang, dia malah mengatakan hal-hal yang kurang waras menurut Venus. Gadis itu tidak bisa menerimanya sebagai kalimat yang masuk akal, apalagi dia memanggilnya dengan nama Jea. Kecuali Jayu lagi kesurupan, pria itu pasti sedang bercanda. Dan percayalah, candaannya sama sekali tidak lucu. Kalimat itu pernah diucapkan oleh Gus Ayas pada dirinya. Mendengarnya untuk kedua kali, dari orang yang berbeda, dengan kalimat yang sama persis, itu hanya menyeret Venus pada luka lama yang sedang susah payah ingin dia kubur.     “Kapten? Apa maksudmu?”    Jayu memamerkan deretan giginya yang putih, cacat otot di pipi sebelah kanan, membuat senyum pria itu semakin memesona. Dia mengeluarkan novel Mahar Seribu Nadhom dari balik punggung.     “Aku membacanya di sini. Kenapa? Apa kamu berharap aku benar-benar akan melamarmu dengan cara konyol seperti itu?” Venus tidak menjawab. Gadis itu melongok ke luar. Tidak ada Satria, Jayu datang sendirian ke rumahnya.     “Ada apa malam-malam datang kemari? Rasanya tidak etis seorang pria terhormat sepertimu, datang ke rumah perempuan tengah malam. Aku tidak mau dicap sebagai w*************a oleh para penggemarmu.”     “Melamarmu.” Jayu duduk di kasur tanpa permisi.     “Jangan bercanda hal seperti itu denganku. Aku bisa menyeretmu ke KUA sekarang juga.” Itu hanya gertak sambal, percayalah. Venus tidak akan punya keberanian untuk benar-benar melakukannya. “Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga.”     “Jadi aku ditolak? Uuu ... sedihnya.”     “Maksudmu?” Venus mendekatkan wajah, mengamati ekspresi Jayu dari dekat. “Kamu serius?” Jayu menjauhkan wajahnya dari Venus. Pria itu menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan. Dari posisinya duduk, Jayu bisa melihat ada harapan di mata Venus. Apa gadis itu menyukainya?     “Aku nggak bisa bilang ini bercanda. Untuk masalah hidup, aku selalu serius. Lagi pula, aku harus menyelesaikan masalah ....” Jayu agak sedikit ragu. “Pe ...” Pria itu mengembuskan napas kasar.  “Berita tentang aku yang memelukmu sudah tersebar luas.”     “Aku tahu, dan aku tidak peduli.” Venus sudah berubah menjadi gadis yang dingin dan tak tersentuh.     “Tapi karierku akan hancur dalam sekejap. Mereka juga pasti akan segera menemukanmu. Dan mungkin ... kamu nggak akan bisa menulis lagi. Kariermu sebagai penulis juga akan hancur kalau sampai publik tahu, gadis yang kupeluk itu adalah Venus. Venus si penulis misterius, yang selama ini menyembunyikan jati dirinya, ternyata hanya w************n yang menggoda bintang top untuk mengangkat namanya. Terlebih lagi, kamu juga sudah menyetujui BSP untuk mengangkat novel MSN ke layar lebar, netizen tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan semakin menyudutkanmu.”     “Aku tidak peduli.”     “Tapi aku peduli. Ayo selesaikan masalah ini. Kamu membutuhkanku, dan aku juga membutuhkanmu. Kita sama-sama akan diuntungkan dengan pernikahan ini.”     “Sudah?” Mata Venus berkaca-kaca. “Sudah selesai bicaramu? Kalau sudah, silakan pergi. Aku menolak untuk membuat kesepakatan denganmu.”     Gadis itu membuang wajah. Hatinya seperti baru saja dipotong kecil-kecil, harga dirinya dicabik-cabik dengan tidak manusiawi oleh Jayu. Venus juga wanita, dia juga manusia, mendengar apa yang diucapkan Jayu barusan, itu sangat menyakitkan. w************n katanya? Memangnya siapa yang minta dipeluk? Tidak ada. Venus memang membutuhkan Jayu, tapi dia juga butuh seseorang yang menganggapnya sebagai wanita untuk menikah. Bukan sekadar simbiosis mutualisme.     “Ve ... aku ... aku.”     “Pergi.”     Venus menunjuk pintu yang masih terbuka. “Dan jangan pernah datang kemari lagi.”     “Tapi ....”     “Pergi. Atau aku akan berteriak.”     “Aku ingin melindungimu.”     “Aku bisa melindungi diri sendiri.”     “Aku ingin menikahimu.”     “Aku menolak menikah dengan orang sepertimu.”     “Tapi ...”     “Kubilang pergi.”     Pada akhirnya, Jayu memilih untuk keluar, tapi baru sampai depan pintu, pria itu kembali lagi, dia menarik tangan Venus lalu menempelkannya ke d**a.     “Ini. Kamu mungkin tidak bisa merasakan emosiku. Kamu juga berpikir, kalau aku berbohong atau apa, tapi kamu bisa merasakan sendiri. Jantungku, di dalam sana, dia berdetak atas namamu. Aku benar-benar ingin melindungimu, karena kamu adalah Venus.”     Venus sama sekali tidak merespons. Gadis itu bahkan enggan melihat wajah Jayu.     “Aku jatuh cinta padamu, dan aku ingin menikahimu, karena kamu adalah Venus. Seorang yang telah mengajarkanku arti kehidupan yang sesungguhnya. Venus yang mengajariku cara berbagi, dan Venus yang mengubah dunia dengan tulisantulisannya. Aku jatuh cinta padamu. Itu faktanya. Aku mohon, menikahlah denganku, dan jadilah pelengkap hidupku. Jadilah penggenap separuh napasku, dan jadilah teman seumur hidup untukku.”     Jayu mengatakannya dengan terus menggenggam tangan Venus di d**a. Detak jantungnya seperti genderang perang.     “Kapten ....” Venus melihat kesungguhan di mata Jayu. Mata sebening samudra, yang selalu mengingatkannya pada Gus Ayas. Sebenarnya dia benci itu, tapi di sisi lain, ada rasa rindu yang hanya bisa terobati ketika dirinya melihat ke dalam mata Jayu. Kerinduannya pada Gus Ayas.     “Aku mohon, jangan tolak aku.”     “Tapi ....”     “Aku bersedia menunggumu. Kamu bisa belajar mencintaiku setelah menikah, tapi jangan katakan kalau kamu menolakku.”     “Tapi, Kapten ....” Venus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jayu.     “Tapi apa?”     “Kita belum menikah. Lepaskan tanganku.”     Menyadari kelancangannya, Jayu segera melepas tangan Venus.     “Maaf.”     “Dimaafkan, tapi jangan pernah ulangi lagi sebelum kita menikah.”     “Artinya?”     “Hmmm.” Venus mengangguk malu-malu.     “Hmmm, apa? Katakan?”     “Iya.”     “Iya? Iya apa?”     “Iya, aku mau membuat kesepakatan denganmu.”     “Yuhuuu!”     Jayu melompat sambil mengepalkan tangan di udara. Kelakuannya benar-benar mirip dengan Gus Ayas. Dia hampir memeluk Venus, tapi gadis itu mengacungkan jari, dan menggeleng, memberikan isyarat agar Jayu tidak melakukan kesalahan itu lagi.     ‘Gus, aku tidak bermaksud menggantikanmu dengan dirinya. Semoga kamu tidak marah padaku. Hatiku masih untukmu, ini hanya kesepakatan antara dua orang yang saling membutuhkan. Semoga kamu memahami itu.’     Venus mengatakannya dalam hati. Dia juga berharap, keputusan ini benar-benar tepat, dan tidak akan pernah disesalinya nanti.     Jayu naik ke kasur, lalu melompat-lompat di atasnya. Dua masalah telah selesai. Dia bisa mengatakan pada dunia, bahwa gadis yang dia peluk kemarin adalah istrinya sendiri. Dan yang satu lagi masalah hatinya. Venus, mulai sekarang, gadis itu akan terus berada di sisinya.     Oke dunia, siapa yang lebih waras dan siapa yang lebih sinting sekarang? Jayu, atau Venus? Lihat kelakuan orang yang mengaku bintang top itu, dia seperti anak kecil yang baru diberitahu, kalau dirinya akan diajak jalan-jalan ke kebun binatang. Absurd!   ***     Sepasang sepatu hitam yang mengkilap, menyusuri gang sempit di pinggiran kota Jakarta. Langkahnya penuh ambisi, ada keangkuhan yang sedang ditunjukkan oleh orang yang memakai sepatu itu.     “Anak-anak.”     Langkah kakinya berhenti di dekat bedeng yang terbuat dari tumpukan kardus. Tempat itu terlihat kumuh, bahkan tidak pantas untuk disebut tempat tinggal. Aliran sungai yang memanjang tak jauh dari deretan rumah kardus, airnya terlihat semakin pekat di bawah langit malam.      Segerombol angin membentuk koloninya sendiri, mengoyak atap-atap yang terbuat dari barang bekas. Sekelompok yang lain, menyambut kilat putih yang disusul suara menggelegar. Malam ini, hujan pasti akan turun lagi.     “Ambil ini.” Pria dengan pakaian serba hitam itu menyodorkan sekantong makanan. “Bagi yang rata sama yang lainnya juga, ya.”     Dia mengucapkan kalimat itu, pada bocah laki-laki yang menghampirinya dengan langkah terseok. Ada luka di kaki kanannya. Tidak ada balutan perban, hanya sepotong kain lusuh yang digunakan untuk penutup luka.     “Pembunuh! Di mana Bian?” Seorang bocah keluar dari bedeng. Usianya sekitar tujuh tahun lebih, belum genap delapan tahun.     “Bian? Dia sudah pulang dengan tenang. Sebaiknya kalian lupakan dia, atau salah satu dari kalian akan segera menyusul bocah itu.”     Pria bertopi yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker hitam, dia pergi dari sana dengan langkah secepat kilat. Bayangannya menghilang, bahkan saat Dika belum yakin, kalau seseorang baru saja datang ke tempat persembunyian mereka. Bocah itu hanya bisa memandangi kantong plastik di tangan, lalu kembali ke dalam bedeng dengan sekantong makanan penuh, yang membuat semua anak di sana kembali tersenyum. Setidaknya ada harapan tentang hari esok yang mungkin akan datang lagi. BestRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD