“Untuk memahami orang lain, kamu hanya perlu mengambil satu langkah mendekat. Selanjutnya, jarak itu akan hilang tanpa kamu sadari.”
***
Jayu baru saja keluar dari ruang kerja Abimanyu. Dia datang ke kantor itu, untuk membicarakan perpanjangan kontrak yang kemarin sudah diberitahukan Satria. Walau dunia entertainment yang digelutinya sering kali dicap rusak secara moral, setidaknya pria itu merasa nyaman saat bekerjasama dengan BSP. Rumah produksi milik Abimanyu, mereka sangat menghargai komitmen Jayu, jadi dia tidak perlu melakukan adegan yang melanggar prinsipnya. Meski dia bukan bujangan suci seperti yang selalu diteriakkan fans-fansnya, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang akan membuatnya semakin rendah di hadapan-Nya. Apalagi kalau hanya demi uang semata. Bukan itu tujuan utamanya memilih terjun ke dunia lakon.
Jayu sedang memikirkan Venus, ketika dirinya mendengar kegaduhan di luar kantor. Belakangan ini, nama Venus seperti terjebak di dalam kepalanya. Berputar dan terus berputar, membentuk wajah gadis itu dengan sangat nyata. Tiba-tiba Jayu terkekeh saat mengingat ekspresi Venus, ketika dirinya mengingatkan kalau gadis itu belum mengambil wudu. Menggemaskan.
“Astaga!” Jayu menggetok kepala sendiri. “Aku pasti sudah gila. Kenapa malah memikirkan gadis setengah waras itu?”
“Mereka tidak tahu siapa Maul.”
Seorang Satpam berjalan memotong langkah Jayu. “Maulana dikibulin. Mengaku-ngaku Venus segala. Aku ini penggemarnya, mana bisa ditipu. Anak muda zaman sekarang memang keterlaluan.”
“Ada apa?” Jayu menghentikan Maul. “Kenapa di luar ribut sekali?"
"Ada Venus."
"Venus?"
Maul tertawa. “Venus jadi-jadian. Gadis kecil berwajah pucat, dengan lingkaran hitam di bawah matanya, dia mengakungaku sebagai Venus. Mereka pikir aku akan percaya begitu saja. Haha!”
Jayu terlihat berpikir. Ciri-ciri yang disebutkan Maul sangat mirip dengan Venus yang sedang merecoki otaknya. Gadis itu memang memiliki postur tubuh yang pendek dan kecil, juga lingkaran hitam di bawah kelopak matanya, yang selalu membuat Jayu berpikir kalau gadis itu tidak pernah tidur. Kelihatan sekali mata lelahnya.
“Lalu sekarang, di mana dia?”
“Mereka di depan, aku membuat mereka menghadapi keganasan para pencari berita yang sedang memburu informasi tentang Arjuna.”
“Apa?”
“Sudahlah, biarkan saja. Mereka harus menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri.” Maul melenggang pergi. Dia berjalan sambil terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala.
Jayu hendak berlari ke arah pintu utama, dia ingin memastikan sendiri, apa orang itu benar-benar Venus atau bukan. Gadis bodoh itu terlalu gegabah kalau berani datang ke BSP sekarang.
“Kenapa aku peduli? Memangnya siapa dia?”
Jayu menghentikan langkah, ketika salah satu hatinya yang pendengki mengingatkan. Pria itu memutar arah dan memilih untuk keluar lewat pintu selatan.
‘Dia tidak bisa berada di tengah orang banyak. Tubuhnya akan kewalahan menerima energi dari emosi orang-orang di sekitarnya.’ Kalimat Tisna kembali berdengung nyaring di kepala.
‘Tapi sejak bertemu denganmu, dia bilang dia tidak perlu merasakan hal itu lagi, asal kamu berada di sisinya.’
Kalimat-kalimat itu terus terdengar seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang.
‘Venus gadis yang baik, saya harap Nak Jayu bisa menjaganya.’
Kalimat Lusi, harapan perempuan setengah baya itu, tatapannya yang memohon, semua itu kembali terlintas di kepala Jayu.
“Sial!” Ternyata hati dan pikirannya tidak bisa mengabaikan Venus. Pada akhirnya, Jayu berlari ke arah pintu utama.
Venus terlihat semakin limbung saat Tisna tidak memeganginya. Dia menangis karena ketakutan yang tiba-tiba memeluknya. Rasa takut, khawatir, sedih, dan juga ambisi yang entah berasal dari mana, membuat keringat dingin mengucur deras di wajah. Tisna masih berusaha mengusir para wartawan agar menjauh, sementara Alana terus saja berusaha merasuki Venus.
“Tolong aku. Kumohon.” Venus mendengar suara Alana lagi.
“Kapten.”
Venus memikirkan harapannya agar Jayu datang, tubuhnya serasa dihantam oleh ribuan ton beban. Sekarang dia benarbenar sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Gadis dengan kemeja katun sederhana, dan jilbab cokelat yang menutupi rambutnya itu hampir terjatuh kalau Jayu tidak menarik pergelangan tangannya. Pria jangkung itu menariknya ke dalam pelukan. Membuat Venus merasakan ketenangan yang luar biasa.
“Apa ini surga? Apa aku barusan mati? Kenapa aku melihat ada malaikat di sini?
Venus menenggelamkan kepalanya di d**a Jayu, gadis itu terkulai lemah, dan tak sadarkan diri.
‘Kamu belum mati, hanya sudah gila. Kamu gila karena berani datang ke tempat ini, dan aku juga sudah gila karena mengambil langkah untuk berlari ke arahmu.’
Jayu mengatakan kalimat itu dalam hati. Jantungnya sedang berontak, membentuk persekutuan dengan hati, mengkhianati kemampuan otak dan membuatnya lumpuh akal.
“Venus!” Tisna kembali pada sahabatnya. Wartawan di sana masih berlomba-lomba mengambil foto mereka. “Ya, Allah, Ve. Kamu kenapa? Ini salahku karena tidak melarangmu untuk datang kemari.”
“Sudahlah. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Lebih baik, kita bawa dia ke rumah sakit.”
Jayu mau membopong tubuh Venus, tapi Tisna menghentikan. Gadis itu memegang tangan Jayu sambil menggeleng. Air matanya sudah menggenang di pelupuk, kentara sekali kalau saat ini Tisna sedang khawatir.
“Jangan rumah sakit. Lebih baik, kita bawa dia ke rumahku. Rumah sakit hanya akan membuatnya semakin menderita.”
***
“Apa-apaan ini!” Willy melempar lembar-lembar foto ke meja yang ada di hadapan Jayu.
“Kenapa kamu memeluk wanita sembarangan?” Pria tinggi berwajah oriental, dengan jas hitam yang membuatnya tampak berwibawa itu berkacak pinggang. Dia mengusap wajahnya kasar. “Aku tahu kamu bukan pria kolot, aku juga paham kalau kamu menjalin hubungan dengan seorang wanita. Itu hakmu, tapi setidaknya jangan memeluknya sembarangan. Kamu seorang bintang yang diidolakan remaja saat ini, karena keteguhanmu dalam memegang syari’at. Kamu selalu dipuja sebagai bujangan suci. Dan apa katamu selama ini? Wanita adalah makhluk yang harus dijaga kehormatannya, tapi dengan apa yang terjadi hari ini, semuanya pasti akan hancur. Dunia akan melabeli dirimu sebagai pendusta yang sok suci. Lalu imbasnya? Manajemen ini akan runtuh perlahan karena dituduh mengorbitkan artisnya hanya dengan pencitraan.” Willy menunjuk sebuah foto di atas meja.
“Dan ini? Apa ini? Dia datang ke apartemen Sasa tengah malam, dan memelukmu di depan pintu begini. Apa kalian sudah tidak punya otak?”
“Will, ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak sengaja memeluknya. Dia ....” Jayu berusaha bicara dengan Willy sebagai sahabat. Mereka memang sangat akrab, bahkan sebelum Jayu masuk ke dunia entertain.
“Tidak sengaja? Menurutmu siapa yang akan percaya? Tidak sengaja memeluk seorang gadis. Jelas-jelas dalam foto ini terlihat kalau kalian saling mencintai.”
“Mencintai apanya?! Kamu jangan sembarangan. Itu hanya karena dia berbeda. Dia membutuhkanku.”
“Omong kosong! Kalau begitu kenapa tidak menikahinya saja? Itu akan menjadi penyelesaian paling masuk akal, sebelum berita ini beredar semakin luas.”
“Sudah terlambat, Bos Will. Gosip tentang Jayu yang sok suci, menyebar secepat kanker. Berita tentang dia dan Venus sudah beredar di seluruh platform berita, dan menurutku, menikah bukan ide yang buruk.”
Satria mengayun-ayunkan ponselnya di dekat dagu, seolah dirinya sedang berpikir. Dia sedang menimbang-nimbang sesuatu untuk dikatakan di depan Willy atau tidak.
“Jangan gila! Kenapa aku harus menikahinya. Aku justru menyelamatkannya. Seharusnya dia yang membuat klarifikasi di depan media, kenapa jadi aku yang kena masalah?”
“Kenapa, Boskuh? Kalian bahkan sudah pernah ....”
Satria tidak jadi melanjutkan kalimatnya, karena Jayu melotot ke arah cowok kemayu itu.
“Pernah? Pernah apa?”
Willy mendesak Satria. Pria itu mendekat ke arah Satria dan menatapnya dengan kening yang mengkerut. Mata Willy yang tajam membuat nyali Satria ciut.
“Ti ... dur ... ba-reng.”
Satria segera menutup mulut begitu menyadari kelancangannya. Sekarang, pasti Willy sedang memikirkan kata ‘tidur bareng’ dengan terjemahan yang macam-macam. Padahal maksud Satria bukan itu.
“What! Aku pikir selama ini kamu ....” Willy menatap Jayu tak percaya. “No, no, no! Ini nggak bisa dibiarin. Kamu harus bertanggungjawab. Terserah bagaimana pun caranya, aku tidak mau usahaku hancur dan harus mengganti rugi pada BSP, karena mereka merasa dirugikan atas berita ini.”
Willy meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Jayu yang sedang menatap Satria penuh cibir. Dasar kaleng-kaleng! Kira-kira begitulah arti tatapan Jayu kalau diterjemahkan.
“Boskuh.”
Satria mengangkat dua jarinya yang membentuk huruf ‘V’ dengan mata memohon ‘sorry’ Satria mengucapkannya tanpa suara.
“Apa!”
“Boskuh, aku rasa menikah tidak akan merugikanmu. Kamu jomlo, dia juga jomlo. Lagi pula, kamu juga akan terbebas dari tuduhan gay yang selalu diteriakkan oleh para hatters, kan?”
Satria segera pergi dengan langkah super kilat setelah mengucapkannya. Ide yang barusan dia katakan, membuat Jayu seperti orang kesetanan yang hendak melemparkan vas bunga ke arahnya.
***
“Ve, kamu sudah sadar? Kamu tidak apa-apa, kan?”
Tisna segera memeluk sahabatnya begitu Venus duduk. Ada perasaan bersalah yang membuat dadanya sesak. Bagaimana bisa dia membiarkan Venus pergi ke luar saat siang hari, menuju ke tempat yang dipenuhi orang-orang. Dunia ini terlalu mengerikan bagi orang seperti Venus. Harusnya Tisna tahu itu, dan melarang untuk pergi. Bukan malah menemaninya.
Venus menangis. Bukan karena rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya, tapi karena perasaan Tisna. Air mata itu jatuh untuk kekhawatiran sahabatnya.
“Aku tidak apa-apa, Tis. Kamu jangan khawatir.”
“Aku tidak khawatir.” Tisna melepaskan pelukannya. “Tapi aku takut setengah mati. Aku takut kamu tidak akan pernah bangun lagi.”
Venus menyapu wajah Tisna dengan ibu jarinya. Saat kulitnya menyentuh kulit, sekilas dia melihat isi kepala gadis itu.
Ada bayangan dirinya yang sedang dipeluk oleh Jayu.
“Kapten?” Venus tampak berpikir. “Apa tadi dia datang?”
“Jayu yang mengantarkanmu kemari. Dan dia ....”
“Aku tahu. Aku bisa melihatnya dalam ingatanmu. Tapi, kenapa hal itu malah yang memicu emosi terkuatmu? Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada. Kamu lebih baik istirahat saja.”
Tisna membantu Venus untuk kembali berbaring. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh Venus sampai batas d**a.
“Tis?”
Tisna malah menangis. Dia tidak berani melihat wajah Venus.
“Hei? Ada apa?” Venus kembali duduk.
Dia menyentuh pundak Tisna. Dadanya terasa sesak. Udara di rumah Tisna seakan lenyap dalam sekejap. Venus melihat deretan u*****n dan ribuan hujatan yang tertuju padanya. Dunia menuduh gadis itu sebagai jalang yang berusaha menjerumuskan Jayu. Rupanya Tisna barusan membuka laman i********:.
“Tis, aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menangis.”
Venus berusaha menenangkan sahabatnya. Dia sangat tersiksa karena apa yang dirasakan Tisna.
“Tapi, Ve ....”
“Tis ... kamu tahu aku pernah mengalami hal yang jauh lebih berat dari ini. Bagiku ini bukan apa-apa. Aku tidak akan mati hanya karena apa yang mereka katakan. Lagi pula, mereka tidak tahu siapa aku. Aku hanya perlu tinggal di rumah seperti sebelumnya, dan waktu akan membuat orang-orang lupa tentang kejadian itu. Percayalah.”
“Lalu, bagaimana dengan rencanamu untuk melamar Jayu?”
Venus tertawa kecil. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Tisna menganggap serius ucapannya?
“Kamu tenang saja, Tis. Aku sudah terbiasa dengan hidupku yang seperti ini. Kapten memang spesial. Dia bisa mengubah kehidupanku, tapi aku juga tidak seegois itu. Aku tahu siapa diriku. Aku sudah cukup bahagia karena Allah membiarkanku bertemu dengannya. Aku tidak boleh serakah, takdirku dan takdirnya sangat berbeda.”
Venus mengurai sebuah senyum yang membuat Tisna semakin nelangsa. Kenapa Venus begitu tegar, sedangkan dirinya bahkan berpikiran untuk mengakhiri hidup hanya karena hal sepele? Allah sedang menamparnya melalui senyuman Venus. Tisna yakin itu.
***
Langit Jakarta masih mendung. Gumpalan awan hitam bergelayut manja di kolong langit. Sebentar lagi, hujan pasti akan kembali mengguyur ibu kota.
Tisna baru saja mengantar Venus ke kosnya. Saat keluar dari gang, dia teringat Syafa yang sedang kurang sehat. Bocah tiga tahun itu selalu merengek minta ayam goreng. Gadis itu merogoh saku, hanya ada uang lima puluh ribu. Hasil yang dia dapatkan dari bekerja di rumah makan kemarin. Sayangnya gadis itu harus kehilangan pekerjaan, karena tidak masuk selama dua hari tanpa izin saat Venus hilang.
Tisna berjalan ke restoran cepat saji yang menjual ayam goreng sebagai menu utama mereka. Gadis dengan rambut acak-acakan yang dicepol ke atas itu berjalan agak terburu-buru, karena gerimis sudah mulai turun.
Sepertinya gaya hidup gadis itu sudah tercemar oleh Venus. Mereka sama-sama berantakan dan tidak ambil pusing soal penampilan. Menurutnya, bisa mengganjal perut untuk hari ini saja sudah alhamdulillah. Untuk apa memikirkan hal remeh temeh seperti harus tampil cantik saat ini dan itu? Terlalu menyita waktu. Lebih baik, waktu yang berharga itu digunakan untuk melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan rezeki, seperti menulis. Dia harus merevisi naskahnya lagi.
Venus menyarankan agar Tisna menerbitkan naskah secara Self Publishing. Dia bilang, novel SP bukan berarti low kualitas. Asal Tisna bersungguh-sungguh, dia pasti bisa membuktikan kemampuannya pada dunia. Selama ini Tisna juga cukup terkenal di dunia w*****d, followers dan pembacanya cukup banyak dari kalangan remaja, walau memang belum sebanyak Venus. Venus menyarankan agar Tisna segera merampungkan tulisannya. Setelah revisi, dia bisa langsung mengajukan ke penerbit. Gadis itu bisa membuka P.O untuk novelnya. Uang yang masuk selama pre order bisa digunakan untuk cetak, setelah itu dia hanya perlu menunggu sambil terus mempromosikan karyanya. Uang hasil penjualan, seluruhnya bisa masuk kantong Tisna. Keuntungan yang dia dapat juga bisa lebih cepat, karena tulisannya sudah punya pasar tersendiri.
“Astaga!”
Tisna menubruk seseorang sampai ayam gorengnya jatuh.
“Maaf.”
Mereka mengucapkan kata itu bersamaan. Tisna sibuk mengambil makanannya dengan wajah kesal.
“Jangan diambil. Biar aku ganti saja dengan yang baru. Ini salahku.” Arjuna menghentikan pergerakan tangan Tisna.
“Kak Arjuna?” Tisna berdiri.
Dia sudah lupa dengan ayam gorengnya. Lagi-lagi hujan yang turun di luar sana seolah berubah menjadi butiran salju. Arjuna pasti jelmaan malaikat, atau minimal dia itu malaikat cinta yang selalu melesatkan panah asmara lewat bola mata indahnya. Mata yang terlihat tajam dan teduh sekaligus.
“Hai. Kamu yang kemarin, kan?”
“Hai.”
Tisna melakukan gerakan seperti menyelipkan rambut ke belakang telinga, padahal rambutnya diikat semua. Itu refleks paling buruk yang selalu dilakukan jari-jarinya saat berada di dekat cowok ganteng. Menyadari kalau tangannya sedang bersikap ganjen, Tisna segera memperbaiki sikap.
“Kakak ingat sama aku?”
Arjuna hanya tersenyum sekilas, membuat Tisna rasanya melayang. Ini si namanya rezeki nomplok. Bukan masalah ayam gorengnya jatuh, tapi ketemu sama penulis idola. Eh, ayam goreng, astaga!
“Ayamku!”
Tisna hendak mengambilnya, tapi Arjuna malah memungutnya duluan, dan melemparkan ke tempat sampah. Ayam goreng itu menggelinding dan keluar dari plastik, menurut Arjuna itu sudah tidak layak makan.
“Sudah kubilang akan kuganti. Kamu tunggu sebentar, aku pesan dulu.”
Arjuna baru berjalan beberapa langkah, tapi dia berhenti dan kembali ke Tisna.
“Kamu mau makan apa? Biar sekalian kupesan. Sambil menunggu pesananmu, lebih baik kamu makan dulu bersamaku.”
Jackpot! Tisna tidak sedang bermimpi, kan? Dia barusan diajak makan bareng sama Arjuna. Catat! AR-JU-NA!
Akan tetapi, rasanya terlalu tidak tahu diri kalau harus menerima tawaran itu. Arjuna sudah sangat baik mengganti ayam gorengnya yang jatuh. Masa iya dia juga harus membelikan makanan untuk perut Tisna?
“Tidak usah, Kak. Aku masih kenyang.”
Jawaban Tisna membuat Arjuna menahan tawa, karena di saat yang bersamaan perutnya memainkan orkestra yang begitu lantang. Tisna menggaruk kepala sambil meringis. “Baiklah. Aku akan makan.”
***
“Kak Arjuna, boleh aku bertanya tentang dunia kepenulisan?”
Tisna bertanya takut-takut. Mereka tidak cukup dekat untuk terlibat obrolan yang panjang.
Arjuna menghentikan gerakannya mengunyah. Fokusnya beralih pada gadis di hadapannya.
“Kalau tidak boleh, aku tidak memaksa.”
Menurut Arjuna, Tisna benar-benar unik. Gadis itu berbeda dengan gadis-gadis lain. Dengan Alana sekali pun.
Tunangannya yang meninggal itu, sering kali memaksanya melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan, tapi Tisna, bahkan dia sangat menghargai Arjuna. Dia juga berbeda dengan fans-fansnya yang lain, yang sering kali menyerbu kolom komentar i********: dan blog pribadinya dengan pertanyaan-pertanyaan dan terus menerornya sebelum dia menjawab mereka.
“Dengan satu syarat.”
“Syarat? Syarat apa, Kak?”
“Panggil aku Arjuna, dan ngomong sama aku santai saja. Nggak perlu tegang begitu. Aku nggak gigit, kok.”
Rupanya Arjuna bisa bercanda juga. Tisna pikir, dia tipe orang yang serius, dingin, dan tak tersentuh. Ternyata salah. Dia justru orang yang sebaliknya. Hangat, dan penuh perhatian.
“Kakak ....”
Arjuna menaikkan alis, memperingatkan gadis itu dengan seulas senyum mematikan. Setidaknya itu menurut Tisna. Senyuman itu sudah membius, dan membuatnya semakin dalam terjatuh pada pesona seorang Arjuna. “A- Ar-ju-na.”
Tisna mengembuskan napas lega setelah mengucapkannya. Tanpa sadar, keringat dingin mulai mengalir. Dia yakin, hujan di luar masih lebat, ruangan itu juga ber-AC, tapi dia malah keringatan. Ini memalukan. Kelihatan sekali kalau dia sedang grogi.
“Apa yang mau kamu tanyakan?”
Arjuna mengelap tangan dengan tisu, lalu menyeruput lemon tea yang masih utuh. Mereka sudah selesai makan.
“Kak ... maksudku, Juna,” Tisna mengganti panggilan seperti permintaan Arjuna. “Setiap kali membaca tulisanmu, aku selalu merasa kalau akulah penjahatnya. Aku juga merasakan kengerian, setiap kali ada tokoh yang terbunuh. Semuanya terasa begitu nyata, seolah benar-benar terjadi. Lalu pada akhir cerita, setelah sepanjang jalan disuguhi dengan kegilaan tokoh antagonis yang membuat kita membencinya setengah mati, pembaca dibuat kasihan dengannya. Bahkan tidak jarang, aku sedikit setuju dengan alasan penjahat itu melakukan kejahatan. Itu ajaib. Perasaanku diaduk-aduk selama membaca tulisanmu. Bagaimana caranya membuat tulisan seperti itu?”
“Aku menjadi penjahat saat menulis.”
“Maksudnya? Kamu benar-benar jadi penjahat, atau ...”
Arjuna tersenyum. Wajah Tisna saat penasaran terlihat lucu. Dia bukan tipe gadis yang jaim hanya untuk menjaga agar tetap kelihatan cantik dan elegan di depan orang lain. Gadis itu begitu lugu dan apa adanya.
“Saat menulis, kita harus membentuk karakter setiap tokohnya senyata mungkin. Membuatkan visualnya sedetail mungkin agar terkesan hidup. Nama, alamat, tinggi badan, makanan kesukaan, dan jangan lupa selipkan hal kecil yang unik. Misal, tokoh Crishtian, penjahat level wahid yang membenci wortel. Atau nama Agni yang berarti api, karena dilahirkan saat ayahnya meninggal dalam perang. Ibunya berharap, si anak bisa menjadi kobaran api semangat dan bisa membalaskan dendam ayahnya. Hal-hal kecil seperti itu akan menjadi kesan yang mendalam dan selalu diingat oleh pembacanya.”
“Lalu, apa maksudnya menjadi penjahat? Apa aku harus melakukan kejahatan, biar aku bisa nulis tentang kriminal yang keren sepertimu?”
“Aku menjadi penjahat di sepanjang menulis cerita. Sebagai penulis kita menciptakan tokoh utama, dengan tujuan utama yang harus diraih, tapi saat itu juga kita harus menjadi penjahat untuk menghalangi tokoh utama menyelesaikan misinya. Semakin mudah tokoh utama mencapai tujuan, maka cerita kita akan semakin lemah. Begitu juga sebaliknya.”
Seorang pelayan berjalan ke arah mereka, mengantarkan pesanan Tisna yang dibungkus. Hujan di luar sudah mulai reda, pengunjung di restoran itu juga sudah mulai pergi satu-satu. Ternyata sudah cukup lama mereka berbincang. Tisna melihat ponselnya, mengamati angka yang tertera di layar. Sudah jam lima tiga puluh menit. Sebentar lagi azan magrib.
“Arjuna, sebenarnya aku masih ingin menanyakan banyak hal. Tapi aku harus pulang.” Tisna berdiri. “Terima kasih untuk waktunya. Dan untuk ini juga.” Gadis itu mengangkat kantong plastik yang berisi makanan.
“Kamu boleh datang ke kantor atau rumahku kalau mau.” Arjuna mengambil kartu nama dari saku bajunya.
“Ok- oke. Sekali lagi, terima kasih. Lain kali aku yang akan traktir. Semoga kita bisa ketemu lagi.” Tisna melambaikan tangan. “Aku pulang dulu.”
Arjuna ikut berdiri. “Kamu bisa berterima kasih dengan membawakan kopi untukku saat datang ke rumah.”
“Oiya.” Tisna berhenti mendadak, dia membalikkan badan, dan membuat Arjuna hampir menabraknya. Lagi.
“Maaf.”
Lagi-lagi mereka mengucapkan maaf bersamaan, membuat keduanya merasa sedikit canggung, sebelum akhirnya tertawa bersama. Jenis tawa malu-malu yang lebih ke menertawakan diri sendiri.
“Aku cuma mau bilang. Namaku Tisna. Dari tadi kita ngobrol, aku belum sempat memperkenalkan diri. Aku memang pelupa kalau sudah asyik dengan sesuatu.”
Gadis itu segera berpamitan. Dia malu, sudah ngobrol panjang lebar, malah lupa belum memperkenalkan diri. Ini salah Arjuna juga. Siapa suruh tidak bertanya? Memangnya Tisna tahu, nama itu penting atau tidak bagi seorang Arjuna? Huh! Dia pria yang aneh. Aneh, tapi ganteng, dan baik juga ternyata.
Tisna sibuk menilai Arjuna sepanjang jalan. Dia benar-benar baru tahu tentang karakter asli Arjuna yang ternyata sangat welcome pada penggemarnya. Tidak seperti selama ini yang dia kenal, Arjuna yang sombong, dan dingin. Sebaliknya, pemuda itu ternyata asyik diajak ngobrol.
***
“Gamma harus terluka. Dia harus meninggalkan jejak darah untuk bukti polisi. Sebentar, apa yang harus kulakukan padanya?”
Venus berbicara sendiri di depan laptop. Gadis itu mengetuk-ngetukkan jari di atas meja. Matanya terpejam, mencoba membayangkan tentang apa yang sedang dia tulis.
Ketika matanya terpejam, dia melihat dengan jelas, sebuah ruangan yang gelap dengan jendela terbuka, balok-balok kayu yang berserakan, juga batang besi yang melengkung di dekat jendela. “Apa yang harus kulakukan pada Gamma?”
Gadis itu masih berusaha membayangkan sosok Gamma.
“Dia sedang diburu polisi, bersembunyi di sebuah bangunan tua, lalu melarikan diri. Sudah pasti gerakannya cepat dan serabutan, ah, ya, benar, dia tidak akan memperhatikan sekitar. Jadi, aku harus membuat jebakan, tapi apa?”
“Gelap, tua, dan rusak. Benar, paku. Lengan Gamma terkena paku saat melompati jendela. Ada bekas darah dan sobekan bajunya tertinggal di sana. Itu bisa jadi petunjuk agar polisi menemukan pelakunya. Perfect!”
Venus menuliskan apa yang ada di dalam otaknya. Seperti itulah dia. Baginya, semua yang ditulis harus terasa senyata mungkin. Tidak jarang, dia juga melakukan simulasi adegan yang sedang dibuatnya. Setidaknya, dengan begitu Venus merasa lebih yakin, kalau apa yang dia tuliskan, masuk akal dan lebih hidup.
“Akan lebih menarik, kalau ternyata darah itu bukan milik pelaku sebenarnya. Jadi misterinya akan lebih sulit dipecahkan, buat pelaku aslinya mengecoh polisi. Biar makin greget!”
Tiba-tiba saja Jayu sudah berdiri di belakangnya. Rupanya pria itu sudah mengetuk pintu berulang-ulang, tapi Venus tidak mendengar, karena pintu tidak dikunci, dan Venus sedang serius mengetik, Jayu memilih untuk masuk.
“Kapten? Kenapa kamu di sini?”
Venus memperhatikan wajah Jayu yang terlihat kusut. Malam ini dia juga menggunakan kaos dengan gambar tameng Kapten Amerika, dan jaket hitam. Sayangnya, sampai saat ini, Venus masih tetap tidak bisa merasakan emosi pria itu. Bahkan saat Jayu menatapnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
“Kenapa? Apa setelah memelukku, sekarang kamu jadi jatuh cinta padaku? Kamu merindukanku, ya?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Venus. Jayu masih bergeming. Bibirnya terasa kaku, kerongkongannya seolah disumbat dengan sesuatu yang sangat padat.
“Jea ... izinkan aku memelukmu. Menikahlah denganku, agar sempurna penjagaanku atasmu.”
Venus melongo mendengar kalimat yang diucapkan Jayu. Bukan hanya karena sebagian otak yang sedang melompat-lompat di udara mendengar kalimat Jayu barusan, tapi pria itu juga memanggilnya dengan nama Jea. Kalimat yang barusan dia katakan, itu tidak asing. Venus pernah mendengarnya sebelum ini.
Tunggu ... apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba Jayu datang ke rumahnya malam-malam, dan mengatakan hal aneh begitu? Jayu lagi kesurupan, ya?
BestRegards,
MandisParawansa