Melamar

2891 Words
           “Seindah apa pun senja yang kulihat hari ini, ia takkan pernah sama dengannya  yang telah menghilang bersama petang kemarin.” ***     “Kamu yang ketuk.” Revan menyikut Nita, memberikan isyarat agar gadis itu mengetuk pintu ruangan bosnya.     “Kamu saja.”     “Aku lebih senior, kamu harus menuruti perintahku.”     “Nasib kita sama-sama di ujung tanduk, tidak usah sok begitu.”     “Baiklah, kalau begitu, kita suit saja biar lebih adil.” Mereka heboh sendiri di depan pintu, karena tak kunjung ada yang menang.     “Jangan curang. Kenapa kamu terus mengikutiku?” Nita tidak terima, karena Revan selalu mengeluarkan jari yang sama dengannya.     “Siapa yang curang?”     “Kamu.”     “Enak saja. Kamu yang dari tadi terus mengikutiku. Keluarkan jari yang berbeda.” Mereka terus bertengkar sambil saling dorong, sampai akhirnya pintu terbuka. Tidak ada yang mengetuk.     “Bos.”     Revan menyapa Abimanyu, pria itu sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia tengah asyik melihat sesuatu di layar laptop. Abimanyu tersenyum semringah ke arah Revan. Namun sayangnya, mereka masih datang dengan tangan kosong, belum berhasil membujuk Venus agar mau bekerja sama dengan BSP untuk memfilmkan novelnya.     “Kalian sudah datang rupanya.”     “Benar, Bos.”     “Kemarilah. Lihat ini.” Pria setengah baya dengan rambut klimis dan kaca mata bulat yang membingkai    wajahnya itu membalik layar laptop.     “Jayu Samudra, Arjuna Ramadhan, dan juga Venus. Mereka adalah perpaduan sempurna untuk project kita.”     Revan mengamati layar yang ditunjukkan bos besarnya. Rupanya Abimanyu sedang mengamati tagar-tagar yang populer di twitter.     “Lihat tagar-tagar teratas, yang sedang jadi trending topik. Itu semua tentang mereka bertiga. Dan juga tentang Alana. Kalau saja gadis itu masih hidup, project film kita pasti akan sempurna.” Abimanyu menerawang.     Dia membayangkan kesuksesan novel MSN yang ditulis Venus, diadaptasi menjadi sebuah film dengan Arjuna sebagai scriptwritter dan Jayu sebagai tokoh utama. Bioskop pasti akan dipenuhi oleh penggemar mereka bertiga.     “Tapi, Bos. Alana baru saja meninggal, Arjuna pasti masih berduka. Manajemen Jayu belum menandatangani perpanjangan kontraknya, dan Venus ... Dia juga belum setuju novelnya difilmkan.” Nita berbicara takut-takut. Dia yakin, sebentar lagi Abimanyu pasti akan memuntahkan lahar amarahnya.     “Kalian tenang saja. Masalah Jayu dan Arjuna, aku sudah mengatasinya. Tinggal Venus yang jadi urusan kalian. Kalian tidak perlu terburu-buru, ini proyek besar, kita harus berhati-hati. Lagi pula, untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kita harus menikmati prosesnya. Waktu tidak akan tinggal diam, kesuksesan novel ini pasti akan membuat kita meraih banyak keuntungan.”     Revan saling pandang dengan Nita. Bos mereka pasti sedang kesurupan. Tidak biasanya dia menyuruh untuk santai saat ingin mengadopsi novel best seller.     “Ada apa?” Revan bertanya tanpa suara. Dia hanya mengisyaratkan dengan dagu. Nita balas dengan mengendikkan bahu. Dia juga merasa, kalau bosnya pasti sedang mabok micin.    ***     Langit Jakarta sedang berduka. Cuaca hari ini sangat tidak bersahabat, hujan yang turun tidak terlalu deras, tapi belum berhenti sejak pagi tadi. Tisna berdiri di halte bus, sambil mengusap-usap lengan yang terasa dingin.     “Hatchim!” Tisna bersin. Gadis itu mengucap hamdalah dengan lirih.     “Yarhamukallah.” Suara itu terdengar begitu lembut di telinga Tisna.     Saat menoleh, dia mendapati seorang pria tengah berdiri di sampingnya. Pria itu menggunakan jaket hitam, dan menggendong ransel kecil. Rambutnya dibelah tengah, kacamata yang dia kenakan, memberikan kesan cerdas dan membuatnya terlihat semakin rupawan. Kalau Tisna melihat penampilannya, mengingatkan gadis itu pada sosok Lee Jong Suk dalam drama terbarunya, yang berperan sebagai penulis hebat dan head editor di penerbit ternama Korea. Bukan hanya itu, pria di sampingnya juga memiliki postur yang tinggi, dan tubuhnya tidak terlalu berisi. Benar-benar Lee Jong Suk kw super.     “Yahdikumullah.” Tisna menyahut pelan.     Dia meruntuki dirinya sendiri, yang malah larut mengagumi sosok manusia berparas malaikat di sampingnya. Neuronnya begitu lihai memutar-mutar suara lelaki yang mendo’akannya ketika bersin.     Tunggu sebentar, orang itu terasa tidak asing bagi Tisna. Bukan karena kemiripannya dengan aktor negeri ginseng yang sempat terlintas di kepala, tapi, dia terlihat sangat mirip dengan ....     “Kak Arjuna?” Tisna mengamati wajahnya lekat-lekat.     “Hai.” Arjuna tersenyum sekilas, tapi jangan salah, bibirnya yang menipis beberapa detik itu, mampu membuat Tisna melayang. Gusti Allah, ternyata benar rumor yang beredar selama ini. Arjuna Ramadhan, penulis novel thriller yang terkenal sadis dalam setiap goresan penanya, dia memiliki wajah yang sangat mirip dengan Lee Jong Suk.     “Jadi benar, Kakak ini Arjuna Ramadhan?”     Arjuna hanya mengedipkan mata sambil kembali tersenyum. Mendadak hujan yang turun, terasa seperti butiran salju yang jatuh dengan begitu tenang. Di mata Tisna, wajah Arjuna seperti diliputi cahaya. Ketika pria itu melompat ke dalam bus, dan melambaikan tangan dengan bibir yang simetris, otak Tisna benar-benar dibuat macet.  ***      “Tis, menurutmu apa yang harus dilakukan seseorang, jika keputusannya mempengaruhi nasib orang lain?”     Venus berhenti mengetik. Ingatannya kembali pada katakata Satria. Dua temannya akan dipecat, jika Venus tetap menolak novelnya difilmkan.     “Aku akan melemparkan dadu. Menghitung kancing baju, atau kelopak mawar untuk memutuskan apa yang harus kulakukan.” Tisna ikut berhenti. Venus mengetik di meja, sedangkan Tisna duduk di kasur, dengan laptop di depannya. Gadis itu sedang merevisi naskah yang kemarin sudah dibaca oleh Venus.     “Aku serius.” Venus melemparkan kulit kacang ke wajah Tisna. Gadis itu malah tertawa sambil menghindar.     “Menurutmu apa? Aku bukan orang sepertimu, yang bersikap seolah bertanggungjawab atas hidup seluruh manusia di atas bumi. Aku tidak akan mengambil risiko, membuat mereka dalam keberuntungan karena keputusan yang kuambil. Sedangkan aku sendiri tersakiti karena hal itu,” Tisna berbicara sambil menuangkan segelas air putih.     “Ini, jika aku hanya memiliki segelas air, lalu ada orang lain di jalanan yang membutuhkannya, sedangkan seharian ini aku berpuasa, maka aku tidak akan memberikan air ini padanya. Masih ada tangan lain yang bisa menolong mereka. Sedangkan aku, aku tidak punya yang lain. Aku bisa mati kehausan.” Gadis itu menandaskan segelas air di tangannya, dalam sekali tenggak. Analogi yang sama sekali tidak nyambung dengan maksud ucapan Venus.     “Ada apa? Apa kamu sedang menulis sesuatu tentang hal itu?”     “Bukan. Ini bukan tentang tulisan. Aku sedang memikirkan dua orang yang datang kemari beberapa hari lalu. Kata Satria, mereka akan dipecat kalau aku tidak mau bekerja sama dengan BSP untuk novelku.”     “Satria? Siapa?”     Tisna turun dari kasur. Gadis itu berdiri di dekat Venus, mengamati layar laptop sahabatnya. Tidak ada nama Satria di sana.     “Dia asistennya Kapten Kapas Ajaib. Cowok kemayu yang selalu di sisi Kapten.”     “Kapten? Maksudmu Jayu?”     “Kamu kenal?” Venus tersenyum lebar, bola matanya berbinar kebahagiaan. Gadis itu terlihat sangat antusias ketika membicarakan tentang Jayu.     “Dia Jayu Samudra. Kemarin aku bertemu dengannya, saat datang kemari pagi-pagi. Aku rasa, di negeri ini, tidak ada satu gadis pun yang tidak mengenalnya.” Ada rasa khawatir di dalam hati Tisna. Dia takut hati Venus akan patah, bahkan hancur jika berhubungan dengan seorang seperti Jayu.     “Memangnya kamu kenal?”     “Tentu saja.” Tisna menyandarkan punggung pada lemari pakaian. “Dia aktor yang sedang naik daun. Idola remaja masa kini. Sudah banyak film yang dibintanginya, terutama yang diproduksi oleh Blue Sky Production. Kabarnya, dia punya kontrak jangka panjang dengan BSP. Selain kemampuan aktingnya yang luar biasa, dan pesonanya yang sulit ditolak oleh para gadis, dia juga selalu menolak adegan semacam ciuman, atau pelukan dengan lawan jenis di setiap film. Itu membuatnya mendapat citra bujangan suci di mata para penggemar. Kenapa? Kamu tidak sedang memikirkan ide gila untuk menerima tawaran BSP karena dia, kan?”     “Bukan.” Venus tersenyum semakin lebar. Matanya menerawang, ada sesuatu yang lebih gila di otaknya dari sekadar menerima tawaran BSP. “Hanya saja, aku sedang berpikir, bagaimana kalau aku melamarnya.”     “Apa? Yang benar saja, kamu masih wanita, walau mungkin semua orang menganggapmu setengah normal, tapi melamarnya, aku rasa itu bukan ide yang bagus.”     “Memangnya kenapa? Wanita bukan berarti tidak boleh memilih siapa yang akan dinikahinya, kan? Lagi pula, seingatku, dulu juga Bunda Khadijah yang melamar Nabi Muhammad. Jadi anggap saja, aku sedang mengikuti jejak Bunda Khadijah.” Tisna melongo.     “Kamu bercanda, kan?”     “Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya.” Tisna benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Venus. Gadis itu terlalu ajaib dan sulit ditebak. Apa yang dia lakukan dan katakan, sering kali membuat Tisna tak percaya kalau Venus itu masih manusia.     “Aku mengerti alasanmu mengatakan hal itu, tapi setidaknya kamu kenali dulu siapa Jayu.” Tisna masih belum menyerah. Dia tidak mau Venus gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi tentang melamar seseorang seperti Jayu. Tisna tidak siap melihat Venus patah hati karena pria itu.     “Aku sudah pernah tidur dengannya dua kali ....”     “Apaa! Jadi ... Kamu ....” Tisna menutup mulut sendiri yang melongo semakin lebar.     “Jangan salah paham dulu. Ini bukan tidur seperti yang ada di pikiranmu. Justru itu yang membuatku semakin yakin untuk melamarnya. Saat tidur dengannya, aku merasa nyaman, aku bisa tidur nyenyak dan bangun pagi dengan perasaan bugar, hanya karena menggunakan tangannya sebagai bantal.”     “Jad-jadi, kalian benar-benar ....” Tisna menyatukan dua jari telunjuknya. Mengisyaratkan dua orang yang menjadi satu.     “Sudah kubilang bukan begitu.” Venus memutar bola mata tak percaya. Kenapa dia bisa punya sahabat seperti Tisna yang selalu berpikiran m***m? “Aku di atas, dan dia di bawah.”     “Ap-apa?” Tisna memiringkan kepala, sambil merobohkan jari telunjuknya.     “Aku tidur di sofa, dan dia di lantai, tapi tangannya dibiarkan menjadi bantal untukku. Aku hanya butuh dia untuk berada di dekatku. Dengan begitu, aku tidak perlu melihat apa yang tidak ingin kulihat, dan mendengar apa yang tidak seharusnya kudengar. Juga ... sepertinya dia pria yang baik.”     “Siapa yang tahu?” Tisna masih belum setuju dengan ide gila Venus.     “Aku tahu. Walau aku tidak bisa merasakan emosinya, tapi aku bisa melihat, kalau dia pria yang baik meski kadang menyebalkan.”      “Tapi, melamar itu artinya kamu berniat menjadi istrinya. Kamu mungkin hanya perlu berada di dekatnya, tapi bagaimana dengan dia? Dia laki-laki normal, pasti membutuhkan seorang istri yang juga mencintainya, bukan hanya hubungan di atas kertas, lalu tinggal bersama tanpa melakukan apa-apa. Maksudku, dia juga pasti butuh kepuasan batin, dan pastinya dia juga ingin punya keturunan. Kalau dia menikah denganmu, yang hanya membutuhkan keberadaannya untuk mengusir kutukan di dalam dirimu, apa itu tidak terlalu egois?” Venus tersenyum menanggapi pertanyaan Tisna.     “Seperti yang kubilang, aku hanya butuh berada di dekatnya. Jadi, kalau suatu saat dia menemukan seseorang yang mencintai dan dicintainya, aku tidak keberatan untuk membiarkannya menikah lagi. Asal aku masih bisa berada di dekatnya. Kamu juga tahu persis, siapa yang selalu ada di sini.” Tangan Venus menyentuh d**a sebelah kiri. Tempat yang sering kali terasa nyeri setiap kali pikirannya dipenuhi sosok Gus Ayas, tapi terus mengikat kenangan itu di sana. Menikmati rasa sakit sebagai rindu tak berujung.     “Lalu, bagaimana caranya agar dia bisa menerimamu?”     “Tenang saja. Aku sudah memikirkan ide yang sangat cerdas.”     Lalu di sinilah Venus dan Tisna sekarang. Di depan gedung BSP. Dia berencana menemui Abimanyu, untuk menerima tawaran tentang novelnya yang akan difilmkan.     “Ve, kenapa kamu berbuat nekat seperti ini?” Tisna mengedarkan pandangan ke sekitar gedung.     Ada banyak orang di tempat itu. Sekelompok wartawan pencari berita ada di sana. Arjuna juga memiliki kantor di gedung itu, sudah pasti banyak wartawan yang datang ke sana untuk mengulik tentang kematian tunangan pria itu. Mereka butuh sesuatu untuk dijual pada dunia, tapi sayangnya, yang membuat Venus kecewa pada media Indonesia, mereka sering kali hanya berfokus pada hal negatif untuk diberitakan. Tentang kematian Alana sendiri, sudah banyak gosip yang beredar. Mereka memberitakan analisa dangkal, lalu diterima sebagai fakta oleh masyarakat. Alana yang kecelakaan, dikabarkan karena bertengkar dengan Arjuna, lalu menyetir dengan serabutan sehingga membuatnya kecelakaan. Banyak juga yang menyudutkan gadis itu, dan menuduhnya macam-macam. Bahkan ada yang mengatakan kalau dirinya berselingkuh dari Arjuna, hanya karena foto lawas dengan mantan pacar Alana sebelum terkenal, yang tiba-tiba saja begitu ramai jadi perbincangan warga net. Menyedihkan.     Perut Venus mulai terasa mual. Berkali-kali dia seperti mau muntah. Keringat dingin memenuhi wajah, saat dia berusaha untuk bersikap biasa saja, pandangannya semakin kabur. Di tengah kesadarannya yang mulai terurai, Venus melihat sosok Alana. Gadis itu berdiri di depan pintu utama gedung BSP.     “Ve, kamu tidak apa-apa, kan?”     “Aku tidak apa-apa, Tis. Kita lanjut saja.”     “Huek!” Venus hampir muntah lagi. Perutnya semakin mual. Terlalu banyak orang di sana.     Arjuna berjalan santai dari arah samping gedung. Pria itu menggunakan kaca mata hitam. Langkahnya terhenti saat melihat banyaknya wartawan di halaman kantor. Dua orang yang membawa papan cukup besar lewat di sampingnya. Arjuna berjalan menunduk di samping dua orang itu. Dia terlalu malas menemui para wartawan, yang hanya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol padanya.     “Permisi, Pak.” Tisna berhenti di depan seorang satpam yang sedang berjaga. “Kalau boleh tahu, kantor Pak Abimanyu di lantai berapa ya, Pak?”     “Pak Abimanyu?”     “Iya, produser BSP. Kami ingin bertemu dengannya.” Tisna memegangi Venus yang terlihat semakin lemah.     “Kalian siapa, dan ada perlu apa?”     “Dia Venus, Pak. Kami datang kemari karena dua hari lalu ada orang dari BSP yang datang ke rumah.” Satpam dengan perut buncit itu mengamati sosok Venus. Gadis itu tersenyum lemah. Dia sudah tidak bisa melihat dengan jelas, siapa dan seperti apa orang yang ada di dekatnya. Tubuhnya panas dingin. Lagi-lagi Alana berusaha menguasai tubuhnya saat dia lemah.     “Venus? Yang benar saja. Kalau dia Venus, berarti saya Abimanyu.” Satpam itu mengangkat ujung bibirnya, mencemooh.     “Apa maksud Bapak?” Tisna berusaha menopang tubuh Venus yang sempoyongan.     “Memangnya apa? Hari ini sudah dua orang yang datang kemari dan mengaku-ngaku sebagai Venus. Kalian yang ketiga. Kalian pikir, saya akan percaya begitu saja?” Laki-laki dengan seragam hitam-putih itu memilin kumisnya yang tebal. “Venus memang bersalah, karena selama ini selalu menyembunyikan identitasnya. Tapi saya tidak akan membiarkan orang seperti kalian memanfaatkan keadaan. Saya tidak akan membiarkan kalian meraih keuntungan dari kerja kerasnya.”     “Tapi, Pak, dia memang Venus.” Tisna tidak menyangka, ternyata ada orang-orang seperti yang dikatakan Pak Satpam. Orang-orang yang mencoba memanfaatkan keadaan, dan mengambil keuntungan dari kerja keras orang lain.     Venus semakin lemah. Dalam kepalanya, dia seolah melihat Jayu yang berjalan menjauh.     “Kapten. Dia ada di sini, Tis.” Venus memegangi pergelangan tangannya sendiri yang terasa ngilu. Alana masih belum menyerah untuk masuk ke tubuhnya.     “Alana. Dia juga di sini.” Venus menggumam lirih, napasnya pendek-pendek, dan kepalanya terkulai.     “Ve ... Venus, kamu tidak apa-apa, kan?”     “Aku tidak apa-apa, Tis. Tidak akan apa-apa, aku bisa merasakan keberadaan Kapten. Dia pasti akan datang kemari.”     Astaga, Tisna bersusah payah menopang tubuh Venus, tapi gadis itu malah terus berkhayal tentang Jayu. Venus pasti sudah tergila-gila pada pria itu.     “Apa buktinya kalau temanmu itu si penulis misterius Venus? Dengan kalian datang ke sini, itu sudah membuktikan kalau kalian adalah pembohong. Venus menolak novelnya difilmkan, dan kalian melakukan hal sebaliknya. Tidak tahu malu. Apa kalian sedang belajar menjadi pencuri? Mau jadi apa bangsa ini, kalau anak mudanya saja seperti kalian begini.”     “Kami bisa buktikan.”     “Kalau begitu buktikan sekarang.” Satpam itu melihat ke arah kumpulan wartawan, tangannya melambai, menyuruh mereka untuk mendekat. “Hei! Kalian, sini. Ada Venus di sini, kalian pasti ingin tahu banyak hal tentang penulis misterius yang akhirnya menunjukkan batang hidungnya, kan?”     Dalam sekejap, para wartawan itu sudah mengelilingi Venus.     Kilat cahaya dari kamera membuat Venus semakin pusing.     “Nona Venus?”     “Apakah benar Anda adalah Venus si penulis misterius?”     “Nona Venus, apa yang membuat Anda akhirnya muncul di hadapan publik?”     “Venus, apa sekarang kamu mau novelmu difilmkan?”     “Apakah Anda datang kemari untuk membicarakan kontrak dengan Blue Sky?”     “Wanita kucel itu Venus, yang benar saja?”     “Tolong aku.”     Suara mereka, kalimat yang diucapkan, dan yang disembunyikan di dalam hati, Venus bisa mendengarnya. Tangis Alana, perasaan sedih, amarah, kecewa, dan rasa sakit, seluruh emosi orang-orang di sana datang ke arah Venus dan dirasakannya sebagai emosi sendiri. Gadis itu menangis.     “Tidak ... bukan, tolong kalian semua menjauh.” Tisna berusaha menghalau para wartawan yang terus menyerbu Venus dengan berbagai pertanyaan.     “Tisna. Aku takut.”     Satpam yang tadi berbicara dengan mereka sudah melenggang pergi. Dia mengambil sebuah buku bersampul biru, dengan gambar seorang gadis yang menyandang busur panah. Mahar Seribu Nadhom.     “Ada apa? Kenapa di luar gaduh sekali?” Jayu menghentikan langkah satpam yang hendak berjalan ke arah pos utama. “Ada Venus di luar.” “Venus?”     Jayu sudah tidak mendengarkan kalimat satpam itu lagi. Dia segera berlari ke arah pintu utama. Matanya menangkap sosok gadis yang sedang dikerumuni wartawan. Tisna berusaha mengusir para pemburu berita itu agar menjauh, sedangkan Venus berdiri ketakutan di belakangnya.     “Dasar bodoh.” Jayu berlari ke arah Venus, menarik tangan gadis itu, lalu membawanya ke dalam pelukan. Venus merasa seluruh dirinya baru saja dijatuhkan ke dalam surga. Aman, tenang, dan nyaman. Hanya itu yang dia rasakan sekarang. Gadis itu tersenyum lemah di d**a Jayu. Dia melihat tubuh Alana memudar bersama embusan angin.     Kamera seluruh wartawan yang ada di sana, berlomba-lomba mendapatkan foto terbaik. Ini berita besar yang luar biasa. Tisna sendiri kaget saat melihat ke belakang, sahabatnya sudah berada di dalam pelukan Jayu. Pria itu mengusap kepala Venus penuh kelembutan.     “Sudahlah, tenang. Aku ada di sini. Kamu akan baik-baik saja.” BestRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD