"Matamu serupa labirin raksasa. Aku adalah seorang yang menyerahkan diri intuk tersesat di dalamnya. Tanpa ingin menemukan jalan pulang.”
***
Nyawa Jayu masih menempel separuh di sofa ketika mendengar kegaduhan di depan pintu. Dia mengucek mata penuh rasa kesal, tangannya meraih ponsel dan mengamati angka yang tertera di sana. Jam dua belas lima puluh menit. Siapa yang berusaha membobol rumahnya tengah malam begini?
Siapa pun itu, dia pasti sudah bosan hidup. Jayu baru pulang setengah jam yang lalu, karena tertahan di pesta perayaan tidak penting yang diadakan management. Dia bahkan ketiduran di sofa ruang tamu saking lelahnya. Lalu sekarang, seseorang memaksanya untuk terjaga.
Jayu berjalan malas ke arah pintu, dia mengamati sosok yang terlihat di layar intercom dengan mata setengah melek.
“Gadis itu ....” Jayu mengucek mata sekali lagi, memastikan kalau dirinya tidak sedang berhalusinasi.
“Ini pasti mimpi.” Jayu menampar wajah sendiri. Sungguh malapetaka kalau sampai itu benar-benar kenyataan. Sayangnya memang nyata. Pipinya terasa sakit saat ditampar.
“Dia lagi?” Jayu mengacak rambutnya frustrasi. Dia memilih untuk tidak membukakan pintu, dan hanya mengamati dari dalam.
“Apartemen macam apa ini? Kenapa orang seperti dia bisa sampai di sini tengah malam begini?”
Jayu mulai menyesal karena memilih tinggal di apartemen Satria. Seharusnya satpam dan resepsionis di lantai satu bisa menghalangi Venus untuk mendatanginya, terlebih Jayu Samudra adalah seorang bintang top. Bagaimana bisa mereka memperbolehkan sembarang orang datang ke tempat tinggalnya?
Tidak tahu saja, kalau Venus juga bersusah payah untuk bisa mendapat izin. Dia juga sempat dicegat satpam, karena penampilannya yang acak-acakan. Sangat beruntung, karena resepsionis yang berjaga malam ini, entah bagaimana ceritanya, dia mengenali Venus sebagai wanita yang pagi tadi keluar bersama Jayu. Dia percaya saja saat Venus mengatakan, bahwa dirinya adalah calon asisten baru Jayu yang sedang menjalani serangkaikan tes untuk bisa diterima. Wanita itu merasa kalau Jayu sudah keterlaluan, terlebih melihat keadaan Venus yang pucat dan lemah.
Venus terus menggedor pintu, dadanya terasa sesak, pandangannya semakin kabur.
“Kapten!”
“Kapten kapten, apa? Dia pikir dia siapa?”
Jayu berjalan mondar-mandir di depan pintu. Tangannya bersedekap ketika kakinya berhenti melangkah. Dia kembali mengamati wajah Venus, gadis itu terlihat pucat dan tidak berdaya, tapi terus berusaha menggedor pintu.
“Sial! Kalau dia terus begini, aku bisa terkena masalah.”
Jayu meletakkan tangannya di bawah dagu, mencoba menebak tentang tujuan Venus yang sebenarnya. Apa dia memang sebodoh itu? Datang ke rumah seorang pria malam-malam begini. Apa dia benar-benar tidak punya harga diri?
“Hei! Kenapa kamu terus menggedor pintu? Di sebelah kananmu ada bel, seharusnya kamu pencet saja tombol itu. Dasar udik!”
Jayu mengumpat sambil menunjuk layar intercom. Di luar, Venus terlihat seperti berusaha mencari sesuatu. Sepertinya dia mencari bel pintu, persis yang barusan dikatakan Jayu.
“Bodoh. Kenapa baru sekarang kamu mencarinya?” Jayu kesal sendiri.
Tombol yang dia butuhkan berada tepat di dekat tangan Venus, tapi gadis itu tidak bisa menemukannya. Dia malah berjinjit-jinjit, mungkin dia pikir Jayu yang jangkung meletakkan bel pintu sesuai tinggi badan pria itu.
“Dasar boncel! Memangnya siapa yang akan meletakkan bel pintu di atas kepala?”
Venus semakin gelisah, Alana masih berada di dekatnya.
Bayangan gadis itu terus mengikuti Venus sampai ke rumah Jayu.
“Kapten, aku mohon buka pintunya.”
Kesal, akhirnya Jayu memutuskan untuk membuka pintu. Lagi pula kalau gadis itu dibiarkan terus di sana, maka bisa dipastikan, besok pagi namanya ada di seluruh media gosip.
“Ada apa lagi?”
Akhirnya Venus bisa bernapas lega. Gadis itu tersenyum di sela napasnya yang tinggal satu-satu.
“Kapten ... biarkan aku tidur denganmu malam ini.”
“Apa? Apa kamu sudah gila ....”
Gadis itu tak sadarkan diri. Seketika tubuhnya ambruk ke pelukan Jayu.
“Hei!” Jayu melotot, otot-ototnya tegang seketika, saat kepala Venus menubruk d**a. “Benar-benar!” Pria itu mengamati sekitar. Terlihat sepi, lalu dia buru-buru mengangkat tubuh Venus ke dalam.
Seseorang tersenyum puas sambil mengamati hasil jepretan kameranya. Pria bertubuh pendek dan lumayan berisi, menyembunyikan diri di balik tembok. Saat menyadari kalau Jayu tidak melihatnya, pria itu menyeringai penuh arti. “Kena kau, Jayu.”
***
Jika dilihat sekilas, Venus tidak seperti orang gila. Walau penampilannya acak-acakan, gadis itu masih terlihat cantik, dan kalau Jayu mengingat tentang siang tadi, sepertinya gadis itu juga waras. Walau memang sedikit aneh.
Jayu masih berdiri di depan Venus yang kini tidur di sofa. Tangannya terulur hendak membenahi jilbab Venus yang sudah menutupi sebagian wajah.
“Kapten, Kapten ....”
Jayu berhenti, fokusnya kini berada pada bibir Venus yang bergerak-gerak. Gadis itu menggumam lirih, membuat Jayu mendekat karena Venus memanggilnya. Tunggu ... Memanggilnya? Sejak kapan namanya berubah jadi Kapten?
“Astaga! Aku pasti sudah gila!” Jayu segera menjauh, saat menyadari kebodohan motoriknya.
Bagaimana bisa dia menyuruh telinganya mendekati wajah gadis itu, hanya karena Venus terus menggumam memanggil Kapten? Dasar syaraf tidak tahu diri!
“Kapten.”
“Apa!” Lagi-lagi mulut merespons lebih cepat dari kerja otak.
Pria itu menepuk mulutnya sendiri saat menyadari, bahwa dirinya baru saja melakukan kebodohan yang ke sekian kalinya di dekat Venus.
Venus bergerak kecil, dia memeluk tubuhnya sendiri. Sepertinya gadis itu kedinginan. Jayu mengembuskan napas kasar saat menyadari hal itu.
“Baiklah, aku akan mengambilkan selimut!”
Pada akhirnya, pria itu berjalan ke arah kamar, lalu keluar dengan selimut tebal di pundaknya. Jayu menyelimuti tubuh Venus, dan membenarkan jilbabnya. Gadis itu terlihat sangat kelelahan.
“Kehidupan macam apa yang sebenarnya kamu jalani? Kenapa kamu selalu terlihat menyedihkan?”
Kali ini Jayu terlihat bersimpati pada Venus. Pandangannya melembut, tangannya menyentuh kening Venus. Suhu tubuhnya normal. Dia tidak demam, tapi apa yang membuatnya datang ke rumah Jayu selarut ini? Mereka bahkan tidak saling mengenal. Jayu masih belum menemukan jawaban yang masuk akal untuk membenarkan keberadaan Venus di rumah itu.
Tidak mau terus larut dalam pikirannya tentang Venus, Jayu memilih untuk pergi tidur.
“Jangan! Jangan lakukan itu!” Venus kembali mengigau. Gadis itu menangis dengan mata terpejam.
“Aku mohon. Jangan sakiti dia.”
Tangis gadis itu semakin menjadi, membuat Jayu merasa iba.
Siapa Venus? Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada gadis itu?
Jayu mendekati Venus, hendak membangunkannya agar berhenti mengigau, tapi Venus malah memegang tangannya. Dia menarik tangan Jayu dengan cukup kuat, membuat pria itu jatuh berlutut. Jayu hendak mengumpat ketika lututnya terasa sakit, tapi dilihatnya wajah Venus yang penuh air mata, tiba-tiba satu tangannya yang lain malah menyentuh pipi gadis itu dan menghapus air matanya.
“Kapten, jangan pergi.”
Venus menggunakan tangan Jayu sebagai bantal, gadis itu terlihat lebih tenang saat Jayu membiarkannya.
“Jangan pergi.”
***
Pagi hari, Venus terbangun dengan tubuh yang terasa sangat bugar. Ada sesuatu di dekat wajahnya, sesuatu yang terasa hangat dan lembut sekaligus. Venus menggeliat, matanya terbelalak saat menyadari kalau dia tidak berada di rumah sendiri.
“Astaghfirullah!” Nyawanya sudah benar-benar terkumpul. “Aku di mana?” Gadis itu melihat langit rumah yang begitu tinggi, ingatannya kembali pada kejadian semalam.
Alana. Semalam Alana mendatanginya. Gadis itu berusaha masuk ke tubuh Venus, tapi kenapa dia ada di sini sekarang? Venus baru menyadari keberadaan Jayu saat dirinya melihat ke bawah. Jayu tidur di lantai dekat sofa, dengan tangan yang berada tepat di depan wajah Venus.
Saat tertidur, Jayu terlihat seperti bayi tanpa dosa. Wajahnya benar-benar tenang dan menggemaskan. Venus menopang dagu sambil tengkurap, dia memandangi wajah Jayu dari atas.
“Ya, Allah. Kupikir wajah seperti itu hanya ada di dalam novel. Ternyata benar-benar ada.”
Alarm ponsel Jayu berbunyi, ada pengingat yang tertera di layarnya.
“Bangun, subuh dulu. Nanti tidur lagi boleh-boleh.” Venus nyaris tertawa saat mengeja deretan huruf yang ada di sana.
“Subuh? Jadi dia manusia, dan seorang muslim juga?”
Pandangan Venus masih belum lepas dari ponsel Jayu, saat tangan pria itu bergerak-gerak mencari keberadaan ponselnya. Tak juga menemukan benda yang membuat telinganya serasa mau pecah, Jayu memutuskan untuk membuka mata.
“Selamat pagi.”
“Huaaa!” Jayu refleks duduk dengan gerakan super kilat, saat melihat Venus berada di atasnya.
Sialnya, saat pria itu hendak duduk, tangan Jayu malah menarik selimut yang melilit tubuh Venus, membuat gadis itu terjatuh. Tepat di atas tubuh Jayu.
“Tategat! Boskuuuh!” Tiba-tiba saja Satria sudah berdiri di sana.
“Ap --apa yang kalian lakukan?” Mata Satria sudah hampir copot dari kelopaknya.
“b******a, memangnya apa lagi?” Jayu malah menjawab sembarangan, membuat Satria makin lebar membuka mulut.
“Subuh-subuh begini? Ya Tuhan, kenapa kalian melakukannya di ruang tamu? Apa cinta sudah membuat kalian kehilangan akal?”
“Eh, tidak. Jangan dengarkan dia, kamu sudah salah paham.” Venus menjauhkan wajahnya dari tubuh Jayu, lalu menatap pria itu dengan mata mengancam.
“Apa?”
“Apanya yang apa? Kamu baru saja melukai harga diriku.” Venus membuang wajah.
“Harga diri?” Jayu berdecih, “lalu kenapa kamu masih di sini?” Jayu memperingatkan Venus yang masih berada di atasnya dengan tangan yang masih mencengkeram bajunya. “Kamu bahkan terlihat sangat bernafsu padaku.”
“Astaghfirullah!”
Gadis ceroboh itu baru menyadari posisinya. Dia segera bangkit dengan gerakan serampangan, membuat kepalanya membentur pinggiran meja.
“Awww!”
“Dasar ceroboh.”
Venus sudah bangkit, dia mengulurkan tangan dan membantu Jayu untuk berdiri.
“Ke mana saja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?” Jayu menatap Satria kesal.
“Revan tadi datang bersama Nita. Mereka sedang frustrasi, jadi kutemani mereka dan mendengarkan keluhannya.”
“Kenapa lagi? Apa mereka terancam dipecat lagi?”
Jayu berjalan ke arah dapur, membuka pintu kulkas lalu mengambil sebotol air mineral.
“Sepertinya iya.” Satria melirik Venus, gadis itu masih berdiri di tempat. “Kalau Kak Venus tidak mau menerima tawaran dari Blue Sky, maka kemungkinan besar mereka berdua akan dipecat.”
“Aku? Kenapa denganku?”
“Iya, Kak Ve. Katanya kemarin mereka mendatangi rumahmu, itu adalah kesempatan terakhir mereka untuk mendapatkan andil dalam project film di BSP, tapi kamu menolak. Sekarang, hanya tinggal menunggu Pak Abimanyu memanggil, pekerjaan mereka akan berakhir.” Satria memasang wajah nelangsa, berharap Venus akan berubah pikiran. Lagi pula, dia sendiri juga berharap novel Mahar Seribu Nadhom milik Venus benar-benar difilmkan.
“Memangnya, kenapa Kak Ve selalu menolak novelnya difilmkan? Bukankah itu impian setiap penulis?”
Venus mengambil selimut yang masih berserakan di lantai. Gadis itu menghindari tatapannya bertemu dengan Satria. Jayu sedang tidak ada di ruangan itu, kalau Venus melihat ke dalam mata Satria, dia takut akan terpengaruh. Dia tidak bisa ambil risiko kalau tiba-tiba otaknya mendorong untuk menerima tawaran dari BSP.
“Subuh.”
Jayu keluar dari kamar, dia melemparkan mukena ke arah Venus, entah dari mana dia mendapatkannya. Seingat Satria, dia tidak menyimpan barang seperti itu di rumah.
Venus menerimanya dengan wajah terperangah, Jayu terlihat ratusan kali lebih berseri saat wajahnya basah oleh air wudu.
“Kamu juga.” Pria itu menyikut Satria sambil membenarkan lengan bajunya.
“Tapi, Boskuuuh, aku belum tidur.”
“Ya sudah, kamu tidur saja. Kalau nanti kamu tidak bangun lagi, jangan mengemis pada malaikat untuk membiarkanmu sholat dulu sebelum mati.”
Venus tersenyum mendengar ucapan Jayu. Dia memandangi mukena di tangan, lalu pergi mengikuti Jayu ke tempat sholat. Ada ruangan kecil di dekat tempat makan, di sana juga ada sajadah yang sudah terbentang.
“Kamu belum ambil wudu.” Jayu mengingatkan Venus yang hendak mengenakan mukena.
Gadis itu terlihat salah tingkah. Dia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang lupa mengambil wudu sebelum shalat? Otaknya pasti masih berhamburan di udara, karena pesona Jayu yang ternyata bertambah ribuan kali lipat saat bersikap baik begitu.
***
Lagi, pagi ini Jayu juga harus mengantar Venus pulang. Dia mengantarkan gadis itu begitu selesai sholat, karena saat langit sudah terang, maka Jayu akan menjadi bintang. Itulah bedanya Jayu dengan bintang yang ada di langit. Kalau bintang di langit hanya bersinar saat malam hari, Jayu bahkan lebih terang dan mencuri perhatian saat siang hari.
“Terima kasih.”
“Lupakan saja. Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita.
Jangan pernah datang lagi.”
“Diusahakan.”
Jayu segera pergi setelah mengucap salam.
“Oh iya, Venus ....”
“Ya?”
“Tidak ... tidak.” Jayu menggaruk bagian samping topi yang ia kenakan.
Jelas itu tidak gatal, tapi tangannya bergerak begitu saja. Dia memang selalu seperti itu saat sedang salah tingkah.
“Hari ini aku pindah rumah.” Dia kembali berhenti, dan berbicara meski tanpa menoleh. “Aku tidak akan tinggal di apartemen Satria lagi, jadi aku harap kamu benar-benar tidak pernah datang ke sana.”
Venus terkekeh saat mendengar ucapan Jayu. Kentara sekali kalau pria itu sedang khawatir padanya.
“Baiklah. Aku tidak akan ke sana lagi.”
***
“Tunggu!”
Seseorang menghentikan langkah Jayu yang baru menuruni tangga.
Kos Melati tidak dihuni oleh banyak orang, hanya ada beberapa mahasiswa. Di sana memang tidak ada aturan tentang membawa orang asing ke rumah, jadi seharusnya Jayu juga tidak perlu mendapat masalah. Pemiliknya sendiri tinggal agak jauh dari tempat itu. Pagi ini juga masih sepi, baru satu kamar yang terlihat sudah ada aktivitas di dalam.
“Apa kamu yang menolong Venus kemarin?”
Jayu hanya mengangguk. Dia memegangi masker yang menutup wajahnya.
“Tunggu sebentar.”
Tisna menarik jaket Jayu, yang hendak melanjutkan langkahnya.
Dia merasa sangat perlu berterima kasih pada orang itu.
“Kamu terlihat tidak asing.”
“Maaf, Mbak. Mbak pasti salah orang.”
“Tidak.”
Tisna berdiri di depan Jayu, mengamati wajah pria itu, yang tersembunyi di balik masker hitam.
“Kamu ... kamu Jayu Samudra, kan? Ya, Allah.” Tisna membungkam mulut, gadis itu mengamati sekitar. Masih terlihat sepi.
“Ayo kita ke rumahku. Ada yang ingin kubicarakan.”
“Tapi ....”
“Ayo. Ikut saja, ini penting.”
***
Apa rasanya, melihat bintang film idola remaja masa kini ada di rumahmu? Seperti mendapatkan purnama jatuh ke pangkuan. Melihat ledakan kembang api dengan ribuan warna, atau melihat pelangi di malam hari? Itulah yang sedang Tisna rasakan, tapi bukan itu yang penting, dia harus berbicara dengan Jayu. Tentang Venus.
“Jadi, ternyata kapas ajaib yang diceritakan Venus itu seorang bintang?”
“Kapas ajaib?”
“Iya. Venus menyebutmu Kapas Ajaib. Sejak bertahun-tahun, dia hidup mengasingkan diri dari dunia luar. Dia tidak bisa bertemu dengan banyak orang, jika matanya bertemu pandang dengan orang lain, maka dia akan merasakan emosi orang itu sebagai emosinya sendiri.”
Saat menceritakan tentang Venus, ingatan Tisna memutar ulang bagaimana Venus terlihat sangat tak berada ketika beberapa kali dirinya harus berada di tempat umum.
“Jika berada di tengah orang banyak, dia akan merasa mual, kesulitan menghalau emosi mereka, kehabisan energi, lalu biasanya dia akan pingsan. Jika tangannya menyentuh orang lain, dia akan melihat hal-hal yang menyebabkan emosi terkuat dari orang itu, termasuk rahasia yang mereka sembunyikan. Itulah sebabnya ..." Tisna menghindari mata Jayu yang memandangnya penuh rasa ingin tahu. “itulah sebabnya dia hendak ikut bunuh diri waktu itu. Karena dia memegang tanganku. Namun setelah kamu menyelamatkan kami, dia bilang dia bisa merasakan emosinya sendiri.” Kali ini wajah Tisna terlihat semringah.
“Dia tidak harus merasakan emosi orang lain, meski berada di tengah orang-orang, asalkan di sana ada dirimu. Katanya kamu seperti kapas ajaib yang menyerap dan memblokir energi emosi orang-orang di sekitarnya.”
“Jadi itu sebabnya dia selalu bertingkah aneh?”
“Bukan hanya itu, dia juga bisa melihat hantu. Bahkan, kalau dia kehilangan kendali, makhluk itu bisa masuk dan menguasai tubuhnya.”
“Venus itu gadis yang baik.” Lusi, ibu Tisna keluar dengan segelas teh hangat di nampan. Perempuan itu meletakkan gelasnya di depan Jayu. “Saat pertama kali kami bertemu dengannya, kami baru saja diusir dari kontrakan. Dia menghasilkan banyak uang dari novel-novel yang dia tulis, tapi uangnya tidak pernah digunakan untuk kebutuhan sendiri. Dia selalu bilang, kalau dia ingin membawa uangnya sampai mati, jadi dia menitipkannya pada orang-orang yang membutuhkan, agar suatu saat kembali padanya sebagai penghalang dari api neraka. Itu yang selalu dia katakan jika kami berusaha menolak pemberiannya karena tak enak hati terus-terusan menjadi beban baginya.”
Aroma teh hangat yang wangi, menghampiri indra penciuman Jayu. Pria itu melihat sekilas setiap sudut rumah Tisna. Rumah itu terlihat kecil, tapi Jayu bisa merasakan kehangatan keluarga di dalamnya.
“Rumah ini juga Venus yang membelikannya.” Lusi tersenyum, wajahnya terlihat semakin keibuan “Kalau benar apa yang dikatakan Tisna, saya harap Nak Jayu bisa menjaga Venus. Bawa dia kembali pada kehidupan yang sesungguhnya.” Tangan lembut Lusi menepuk punggung Jayu, sebelum perempuan setengah baya itu kembali ke dapur. Jayu bisa melihat kasih sayang dan ketulusan, juga harapan yang begitu besar di wajah Lusi, agar dirinya mau membantu Venus.
“Apa dia tidak punya keluarga? Kenapa dia berkeliaran malammalam, dan bahkan pergi ke tempat laki-laki asing yang tidak dia kenal?”
“Ibunya meninggal saat dia lahir. Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Keluarga, dan juga orang yang sangat dicintainya sudah tiada. Dulu dia sempat mengalami koma selama enam bulan, saat bangun, Venus menjadi orang yang seperti sekarang. Selalu menyendiri, dan berusaha mengasingkan diri dari dunia luar, karena kemampuannya menyerap energi dari emosi orang-orang di sekitar, yang menurutnya itu adalah kutukan.”
“Pantas dia terlihat setengah normal.” Jayu merasa iba saat mendengar kisah hidup Venus yang ternyata begitu kelam. “Lalu ...” Pandangan Jayu beralih dari gelas tehnya ke Tisna. “Kamu sendiri kenapa? Kenapa kamu mau bunuh diri, saat memiliki seorang ibu yang sangat menyayangimu?”
Tisna tersenyum miris. Dia sedang mencemooh dirinya sendiri. “Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku berpikir kalau hidup ini begitu berat. Sejak bertemu Venus, aku selalu menjadi beban untuknya. Keluargaku hidup dari jerih payahnya menulis, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku merasa tidak berguna, rasanya hidup ini terlalu sulit untuk orang sepertiku. Aku bahkan tidak bisa menjadi penulis yang baik.”
Jayu melepaskan topi. Selama ini Tisna hanya melihat wajah mulusnya di layar televisi, dan sekarang wajah itu benar-benar nyata ada di hadapannya.
“Apa yang kamu pikirkan, itulah duniamu. Makanya, orang yang pesimis kebanyakan sulit diajak maju. Kamu terlalu memandang sempit dan picik terhadap dunia. Padahal jika kamu memenuhi hati dan jiwamu dengan semangat, kerja keras, dan optimisme, apa pun yang kamu cita-citakan pasti bisa diraih. Bahkan tidak mustahil, kamu juga bisa mengubah dunia. Agar kelak, di masa depan tidak ada lagi orang yang berpersepsi sepertimu.”
“Kamu benar, dan mulai sekarang aku tidak akan lagi berpikiran seperti itu. Aku yakin, suatu saat, tulisanku juga pasti akan bertemu dengan takdirnya, seperti Venus yang akhirnya menemukanmu.”
***
“Bagaimana perkembangan kasus kecelakaan Alana? Apa polisi sudah menemukan penyebab kecelakaan itu?” Arjuna berdiri di depan seorang polisi yang sedang memeriksa beberapa catatan.
“Tim forensik tidak menemukan adanya alkohol dalam darahnya.” Polisi itu mengamati lembaran kertas yang ada di tangan kanan. Pandangannya bergantian dari kertas ke Arjuna.
“Dia memang bukan peminum. Aku yakin ada hal lain.” Arjuna tampak berpikir. “Bagaimana dengan mobilnya?”
“Masih diperiksa. Mobil itu meledak, jadi butuh waktu yang tidak sebentar untuk menelitinya.”
“Boleh saya melihatnya?”
“Tentu.”
Seorang polisi mengantarkan Arjuna ke tempat pemeriksaan barang bukti. Mobil itu sudah hancur dan hangus. Pria itu mendekati bangkai mobil Alana. Wajahnya terlihat begitu sedih, saat tangannya menyusuri bagian luar mobil.
“Alana.” Pria itu mengembuskan napas kasar. Kekasihnya tiada bersama mobil itu.
“Pak, saya harap bapak bisa menemukan penyebab kematiannya. Saya tidak akan mengampuni siapa pun yang mencelakainya, kalau memang kecelakaan itu disebabkan oleh orang lain.”
“Baik, Pak Arjuna. Kami pasti akan berusaha keras untuk kasus ini.”
BestRegards,
MandisParawansa