Ketika kehidupan terus berbisik tentang kekelaman, dirimu serupa cahaya yang ditaburkan dari langit.”
***
Yang tidak disukai Venus ketika berada di tengah orang-orang, adalah dirinya sendiri. Kutukan yang menyekapnya sejak bertahun-tahun lalu, ketika gadis itu bangun dari koma selama enam bulan, dan hidupnya benar-benar berubah drastis.
Venus pernah mendengar kisah tentang seorang yang bisa melihat hantu setelah koma, tapi dia hanya meliatnya di sebuah drama. Tidak pernah terpikir sebelumnya, kalau ternyata hal seperti itu benar-benar bisa terjadi. Bukan hanya jiwanya yang seperti magnet emosi, sejak saat itu, dia juga bisa melihat hantu, bahkan makhluk itu bisa masuk ke tubuhnya jika dia kehilangan kendali. Lalu dalam sekejap, bisa dipastikan, Venus akan mengetahui hal-hal yang tidak ingin diketahuinya.
Venus memandang ke luar dari balik jendela. Rupanya kaca mobil Jayu tidak mampu memblokir seluruh emosi orang-orang di pemakaman untuk menyerbu ke arahnya. Perasaan sedih mereka yang ada di sana membuat Venus berduka, dadanya berdenyut nyeri, pelupuk matanya panas, dan kesedihan itu berubah menjadi air mata yang sulit dikendalikan.
“Allah, Allah, Allah ….” Venus menggumam lirih, berusaha mengusir seluruh perasaan itu dengan mengingat-Nya.
Pandangan gadis itu beredar mencari sosok Jayu dan Satria, tapi dia tidak menemukannya. Ada begitu banyak orang yang datang ke acara pemakaman Alana. Wajar saja, selama hidup, gadis itu dikenal sebagai aktris yang ramah terhadap penggemar, jadi banyak fans yang datang untuk mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir.
Seekor kucing yang berjalan menjauhi area pemakaman mencuri perhatian Venus. Saat mengikuti pergerakannya, dia melihat sosok Alana yang berdiri di dekat pohon kamboja. Gadis dengan dress putih selutut, persis yang dilihat Venus saat tersedot dalam ingatan Alana. Tatapannya masih sama seperti terakhir kali Venus melihatnya. Ada kekecewaan yang begitu mendalam terpancar dari bola mata gadis itu.
“Boskuh, hari ini kita ada syuting iklan dan nanti malam Boskuh harus rapat dengan orang dari Blue Sky untuk membahas tentang project film terbaru.” Satria berbicara sambil mengenakan sabuk pengaman. Dia duduk di kursi belakang.
“Itu saja?” Jayu bersiap menyalakan mobil, dia hendak mengingatkan Venus untuk mengenakan sabuk pengaman ketika gadis itu sedang memandanginya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
“Tentu saja, Boskuh. Meski sekarang malam minggu, kamu tidak pernah berkencan, jadi aku tidak perlu membuat agenda tambahan untukmu, kan?” Satria mencibir.
Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa laki-laki normal yang sudah cukup dewasa seperti Jayu tidak pernah berkencan dengan satu wanita pun. Wajar kan kalau orang-orang menuduhnya gay?
“Ada apa?” Jayu bertanya dengan nada yang kurang bersahabat ketika mendapati Venus masih belum mengalihkan pandangan darinya.
Venus mengernyitkan kening, pertanyaan yang sama juga muncul dalam benaknya. Ada apa? Kenapa hawa pengap yang tadi membuatnya sesak, mendadak hilang begitu Jayu masuk? Kesejukan yang dia rasakan bukan berasal dari AC mobil, perasaan tenang dan nyaman itu berasal dari Jayu. Ada sesuatu yang sangat kuat dalam diri pria itu, yang memblokir seluruh emosi di sekitar Venus dan membuatnya bisa bernapas lega.
“Siapa kamu? Apa kamu titisan malaikat maut atau semacamnya?”
Pertanyaan macam apa itu? Jayu hanya menggeleng pelan, fokusnya kembali pada jalanan, memilih untuk mengabaikan gadis kurang waras yang selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal padanya.
“Di mana rumahmu?” Jayu bertanya sambil melepaskan kancing baju dengan tangan kirinya.
Sepertinya dia penggemar berat Kapten Amerika. Selain bantal mobil yang berbentuk tameng super hero marvel yang satu itu, dia juga sepertinya memiliki banyak koleksi kaos dengan tema serupa. Terbukti, saat ini dia juga mengenakan kaos hitam dengan gambar tameng Kapten Amerika.
“Kos melati.”
“Kost melati?” Satria bersuara dari kursi penumpang.
“Kamu tahu tempatnya?” Jayu menoleh ke arah Satria sebentar, mencoba memastikan kalau asistennya itu benar-benar tahu tempat tinggal gadis aneh di sebelahnya.
“Iya, itu ada di seberang jalan, belakang apartemen kita. Yang depan gangnya ada penjual es kelapa muda. Benar, kan?”
“Iya. Aku tinggal di sana.”
“Ya ampun, ternyata tempat tinggal kita tidak terlalu jauh,” ucap Satria dengan suara mendayu-dayu.
“Ngakunya banyak uang, tapi tinggal di kos-kosan? Dasar penipu!”
Jayu melihat wajah Venus melalui spion. Gadis itu terlihat lelah, wajahnya sedikit pucat, dan penampilannya benar-benar berantakan. Namun di balik itu semua, Venus memiliki wajah yang lumayan cantik. Jayu mengakuinya.
Sebentar ... cantik? Kenapa tiba-tiba Jayu memikirkan tentang wajah Venus? Untuk apa dia menilai cantik atau tidak, itu bukan urusan dia, kan? Otaknya pasti geser karena kekacauan yang diciptakan gadis itu sejak semalam.
“Kekayaan tidak selalu harus digambarkan dengan rumah megah. Buat apa kemewahan, kalau hidupnya selalu kosong dan harus dilalui dengan kesendirian?”
Venus sedang membicarakan diri sendiri. Ada banyak hal yang sudah diraihnya dengan menulis, ada banyak yang bisa dibeli dengan hasil dari imajinasinya, tapi untuk apa dia memiliki semua itu kalau pada akhirnya hanya akan membuatnya semakin merasa sendiri?
“Kesendirian tidak selalu menyedihkan. Dan kemewahan adalah jawaban bagi orang-orang tentang siapa kita.”
“Dan mereka menjauh, lantas membuatmu semakin kesepian?” Venus menegakkan tubuh, menatap Jayu lebih intens dari sebelumnya.
Tidak bisa dipercaya, ternyata pria yang membuatnya penasaran setengah hidup, memiliki pemikiran yang sangat picik tentang kehidupan.
“Kasihan Juna ya, Boskuh. Mereka seharusnya menikah sebentar lagi, tapi Alana malah kecelakaan.” Satria berusaha mengalihkan obrolan. Dia paham betul kalau Jayu tidak nyaman dengan pertanyaan Venus barusan.
“Juna? Maksudnya Arjuna Ramadhan, novelis dan penulis skenario yang terkenal itu?”
Satria tersenyum sangat tipis. Berhasil! Sekarang Venus sudah melupakan obrolannya dengan Jayu, dan bahkan gadis itu terlihat sangat antusias dengan topic yang dipilih Satria.
“Iya, Cyin. Dia kan tunangannya Alana. Mereka sering terlibat di project film yang sama, jadi cinta tumbuh di antara mereka tanpa disadari. Sekarang, saat kisah cinta mereka sebentar lagi akan sampai ke pelaminan, Alana malah mati duluan. Duh, kasihan deh Arjuna.”
Satria mendramatisir ucapannya dengan mengelap wajah seolah sedang menghapus air mata, padahal satu tetes pun air matanya tidak ada yang jatuh.
“Eh, omong-omong namamu siapa? Kita belum sempat kenalan. Namaku Satria, orang-orang kecuali Boskuh, mereka memanggilku Sasa. Tapi bukan micin, yess.” Satria mengulurkan tangan dari jok belakang sambil tertawa kecil sok malu-malu.
Venus terlihat ragu untuk menyambut uluran tangan Satria. Dia sempat melihat Jayu sebentar, satu hal yang sangat dia sukai setiap melihat wajah pria itu, adalah ketenangan yang mengingatkannya pada sosok Gus Ayas. Seseorang yang telah abadi dalam novelnya.
Gus Ayas? Venus berdecih dalam hati ketika mengingat nama itu. Pandangannya terlihat kosong sejenak, sebelum kembali pada tangan Satria yang masih menggantung di udara, menunggu untuk disambut.
“Venus.”
“Tunggu, Venus? Nama itu terdengar tidak asing. Tategat! Jangan bilang, kamu Venus yang menulis novel Mahar Seribu Nadhom.” Satria melongo saat menyadari dengan siapa dia berbicara.
“Sayangnya iya. Aku Venus yang itu.”
Venus memandangi tangannya sendiri. Ada apa ini, kenapa dia tidak merasakan apa-apa? Pandangannya beralih ke arah Jayu, lalu kembali pada Satria.
“Mustahil. Apa dia juga bukan manusia?” Atau mungkin itu karena ada Kapten di sini?” Venus menggumam lirih, tapi suara gadis itu tidak luput dari pendengaran Jayu dan membuatnya menginjak rem mendadak.
“Ada apa?”
“Tidak.” Jayu terlihat sedikit berpikir saat mengamati sosok Venus, tapi dia segera kembali pada setirnya dan melanjutkan perjalanan.
“Ya ampun, tujuh tahun aku selalu membaca novel-novelmu, aku sudah semuanya. Janji Ashilla, Escape, Biru, Ghost Love Story, dan yang paling aku suka, novel terakhirmu yang Mahar Seribu Nadhom itu, aku suka sekali membacanya. Aku benar-benar penggemarmu, dan sekarang kamu ada di depanku. Ternyata dunia ini begitu luas, yah?”
“Mungkin maksudmu sempit karena kita bisa bertemu di sini.”
“Tidak, Cintaaah. Kalau sempit, tidak akan butuh waktu tujuh tahun untuk kita bisa bertemu.” Satria mencubit lengan Venus gemas. “Ternyata Kak Venus sangat mungil, ya.” Satria mengganti panggilannya, dia mengamati sosok Venus penuh rasa kagum. “Pokoknya nanti Sasa mau minta tanda tangan Kakak.”
“Astaga, Sat, kamu kesurupan, ya? Kenapa mendadak jadi centil begitu?” Jayu memutar bola matanya malas. Lalu menghentikan mobil di depan sebuah gang.
“Benar di sini?” Jayu bertanya pada Venus untuk memastikan.
“Benar.”
Venus melihat keadaan di luar. Ada banyak orang yang sedang duduk di warung es kelapa. Kakinya terasa gemetar, gadis itu memilin-milin ujung jilbab, ragu untuk keluar dari mobil.
“Ada apa? Kenapa tidak turun? Apa aku juga harus mengantarmu sampai kamar?”
Mendengar ucapan Jayu, Venus mengedip berulang-ulang. Otaknya berusaha keras mencerna setiap kalimat yang diucapkan pria itu.
“Aku bukan perempuan murahan.” Tangan Venus menyilang di depan d**a. “Tapi, sepertinya iya.”
“Apa!”
“Bukan maksudku bukan begitu. Aku bukan perempuan murahan, tapi sepertinya kamu benar.”
Lagi-lagi kalimat Venus membuat Jayu menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa ada seorang yang bahkan mengakui kalau dirinya adalah perempuan murahan?
“Antar aku setidaknya sampai di depan kos. Ya?” Venus menatap Jayu penuh permohonan.
“Sulit dipercaya.”
“Aku ....” Venus menundukkan kepala. “Aku hampir tidak pernah keluar di siang hari. Aku takut bertemu banyak orang, karena itu akan membuatku dalam keadaan sulit.”
Jayu mengembuskan napas kasar. Tangannya menyambar jaket hitam di jok belakang, lalu memakai topi dan kaca mata hitam yang ada di dasbor mobil. Pria itu keluar dan berjalan ke arah pintu Venus lalu membukakannya.
“Kapten?”
“Keluar. Aku akan mengantarmu.”
Jayu masih berdiri di depan pintu, tangannya terulur, berusaha melindungi kepala Venus agar tidak terpentok saat keluar. Tanpa sadar, Jayu merangkul pundak Venus, ada keinginan dalam dirinya untuk melindungi gadis itu, entah karena alasan apa.
Hampir tidak ada yang memedulikan keberadaan Venus. Bagi sebagian orang, mungkin dia tidak pernah ada, karena memang sangat jarang terlihat di luar rumah. Seharusnya hal itu membuat hidup Venus lebih nyaman karena tidak harus berpura-pura di depan orang lain. Tidak harus menjadikan wajahnya seperti kanvas, dan melukiskan senyuman-senyuman palsu hanya untuk membuat mereka bungkam. Namun ada saatnya, dia juga benar-benar merasa sendiri karena hal itu.
“Kapten ...” Venus berhenti setelah melewati segerombolan orang di warung es kelapa. Jayu yang menyadari tangannya ada di pundak Venus segera menjauhkan diri. Dia terlihat salah tingkah karena dua bola mata bening Venus kini menatapnya. “Terima kasih.”
“Kamu bisa berterimakasih dengan cara tidak pernah muncul lagi di hadapanku,” ucap Jayu setelah sempat diam beberapa saat.
“Aku tidak yakin.” Venus malah tersenyum. “Aku bisa saja menghindar saat bertemu denganmu, aku juga bisa menjauhimu, tapi kalau takdir menyuruh kita saling mendekat, aku bisa apa?”
“Ck! Ternyata benar. Kamu memang Venus.” Jayu segera pergi. Dia yakin, berlama-lama di dekat gadis itu hanya akan membuatnya ketularan sinting.
“Venus!” Tisna berlari dan segera memeluknya. Gadis itu sempat melihat Jayu berjalan menjauh, sebelum pemuda itu menghilang di persimpangan.
“Kamu dari mana saja? Ibu bilang kamu tidak ada saat dia dan Syafa datang kemari untuk mengantarkan makan siang.”
“Aku ... aku minta maaf, Tis. Semalam aku keluar untuk mencari keperluan bulanan, tapi di depan sana ada kecelakaan, dan aku tidak sadarkan diri. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, aku sendiri tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.” Venus merasakan kekhawatiran Tisna sampai membuatnya gemetar.
“Tak sadarkan diri? Lalu di mana kamu semalaman? Kamu pasti sangat menderita di luar sana.”
“Jangan khawatir, Tis. Aku baik-baik saja.”
“Ve, kamu tahu kan, dengan kamu tinggal sendirian di sini saja sudah membuatku khawatir. Jadi jangan pernah menghilang lagi, ya?” Tisna memeluk Venus dengan perasaan takut.
Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya.
“Kamu tahu persis alasanku memilih tinggal di sini, Tis.”
“Aku tahu, tapi ....”
“Sudahlah, lagi pula aku baik-baik saja. Dan karena kejadian semalam, aku jadi bertemu dengan Kapten. Aku rasa ini adalah cara Tuhan untuk membawanya pada kehidupanku.”
“Kapten? Kapten siapa?” Tisna menghapus air matanya. Mereka berjalan menuju lantai tiga melalui tangga yang memutari bangunan.
“Kapten Kapas Ajaib.” Venus berhenti sebentar, dia memandangi tangannya sambil mengingat-ingat tentang betapa spesial orang yang sudah menolongnya semalam.
“Kapas Ajaib?”
“Iya.”
“Dia seperti kapas ajaib. Saat berada di dekatnya, aku tidak perlu merasakan emosi orang lain. Seolah dia telah memblokir kutukan itu dari dalam diriku.”
“Oh, ya? Siapa namanya?” Tisna meletakkan kotak makanan di meja kecil dekat tempat tidur Venus.
Kamar kos yang ditinggali sahabatnya itu sangat mungil, semungil penghuninya. Di sana hanya ada kasur kecil yang tergeletak di lantai, lemari pakaian, sepasang meja dan kursi hijau yang terbuat dari plastik, juga beberapa dus yang isinya buku-buku bacaan dan peralatan makan.
“Ya ampun, Tis.” Venus menjatuhkan dirinya di kasur.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu siapa namanya.”
Tisna menepuk jidat, menatap sahabatnya penuh rasa tidak percaya, lalu mengembuskan napas lemah. Bagaimana bisa, Venus bahkan bersama orang itu semalaman tapi dia tidak tahu namanya?
Yassalaaam ….
***
Gelap dan sunyi. Hanya remang-remang yang berasal dari lampu kecil, tak mampu menerangi seluruh sudut tempat itu. Bocah laki-laki duduk di balik tumpukan kusen yang berdebu. Dia membungkam mulut sendiri, pandangannya berkeliling mengawasi sekitar. Napasnya pendek-pendek, wajahnya penuh luka lebam, ada bekas sayatan kecil di lengan kanannya. Pakaiannya lusuh dan robek di beberapa bagian.
Ketukan sepatu yang beradu dengan ubin terdengar semakin mendekat.
“Kamu di sini rupanya.”
Sepasang sepatu hitam berhenti tepat di depan bocah itu.
“Jangan. Jangan bunuh aku.”
Sebatang besi melayang tepat ke kepala, membuat segalanya menjadi gelap seketika. Hanya samar-samar, dia melihat sesosok orang yang menyeret tubuhnya. Seorang pria dengan pakaian serba hitam. Darah segar mengucur deras bercampur air mata. Punggungnya terasa perih. Tubuhnya terus diseret sampai dia tidak bisa melihat dan merasakan apa pun.
Pria itu berhenti di dekat sebuah kotak. Dia mengambil pisau yang terlihat mengkilap di bawah remang-remang, membauinya sebentar, sebelum menempelkannya ke leher bocah tadi. Perlahan, dia menggoreskan pisau itu, membuat darah mengalir deras sampai kepalanya benar-benar terpisah dari tubuh.
“Manis sekali.”
Pria dengan sarung tangan hitam itu mengangkat kepala sang bocah, lalu memasukkannya ke dalam kotak. Pandangannya beralih ke bagian tubuh yang lain. Dia mengangkat tinggi-tinggi pisau di tangan, lalu menusuk bagian perut secara brutal.
“Tidak! Jangan ... Hentikan!” Venus terbangun dengan napas terengah-engah.
Laptop di depannya masih menyala. Dua buah buku tergeletak di lantai dekat kaki, dan kepalanya terasa berat.
“Astaghfirullah hal’adzim.” Venus mengusap wajah dengan kasar.
Matanya tertuju pada jam dinding di dekat jendela. Jam dua belas tiga puluh menit.
“Tolong aku.”
Suara itu lagi. Suara yang sama, yang juga didengar Venus saat kecelakaan kemarin malam.
“Tolong aku.”
“Tidak, jangan datang kemari.” Venus menutup telinganya sendiri, tapi suara itu malah terdengar semakin keras.
“Tolong.” Alana berdiri di depan Venus yang kini berusaha menyembunyikan diri di bawah meja.
“Tidak. Aku tidak mendengarmu. Pergi dari sini.” Venus mengibas-ngibaskan tangan di udara, berusaha memberikan isyarat agar hantu Alana segera pergi.
Tengkuk dan punggung Venus terasa ngilu. Ada rasa seperti terbakar, dan hawa panas mengelilingi tubuh. Alana berusaha merasukinya, Venus tahu itu. Pada saat seperti ini, dia jadi teringat tentang kapas ajaib. Mungkin jika dia berada di dekat pria itu, Alana tidak akan bisa melakukannya. Berbagi energi dengan orang yang sudah mati, selalu membuatnya kehilangan banyak tenaga.
“Ya Allah. Tolong hamba.”
Venus melangkah keluar, dia hanya melilitkan pashmina untuk menutup rambutnya tanpa menggunakan peniti. Gadis itu menuruni tangga dan berjalan tanpa arah. Satu-satunya tujuan yang ada di kepalanya adalah rumah Jayu. Gedung apartemen itu tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
“Tolong aku.” Suara itu terus berdengung di telinga.
Jalanan malam ini masih sedikit ramai walau sudah larut. Mungkin karena malam minggu, banyak anak muda yang menghabiskan malam di luar rumah dengan kekasihnya. Gadis itu berjalan sempoyongan sambil terus memegangi tengkuk yang semakin ngilu, dan berusaha mengusir Alana. Beberapa orang yang ada di jalanan melihatnya dengan tatapan mencemooh.
“Gadis tidak waras.”
“Dia pasti baru saja diputuskan pacarnya. Makanya jadi seperti itu.”
Satu dua orang di antaranya mulai berbisik. Venus mendengar dengan sangat jelas kalimat-kalimat yang mereka ucapkan. Manusia memang selalu begitu, bersikap seperti hakim pada keadaan orang lain, padahal tidak tahu apa pun. Menyedihkan!
Venus merasa begitu tidak berdaya. Energinya terkuras karena terus melawan keinginan Alana. Dia berdiri tepat di depan ruang 203. Tangannya berusaha menggedor pintu tempat tinggal Jayu dengan tenaga yang tersisa.
BestRegards,
MandisParawansa