7. menunggu

1196 Words
Aya menatap dua bilah pintu yang tertutup rapat, duduk di kursi besi dingin tepat di samping wanita paruh baya dengan wajah lelah yang tak lain adalah ibunya. “Temanmu yang ngantar tadi sudah disuruh istirahat di rumah sebentar, Nak?” tanya sang Ibu dengan suara lemah. Aya mengangguk. “Tadi pas Aya pergi ke sini juga dia udah tidur di kamar kosong, Bu.” “Wali dari Bapak Suwarno Winata?” panggilan dari suster langsung membuat perhatian keduanya teralihkan. “Iya, saya,” sahut Aya dengan ragu-ragu. “Silakan masuk ke dalam.” Perawat itu membuka pintu yang sedari tadi ditatap Aya. “Ibu di sini aja, ya. Biar Aya yang ketemu sama dokternya. Kalau nanti Aya lama, Ibu balik ke ruang inap aja, temenin Ayah sekalian istirahat,” ucap Aya sebelum akhirnya pergi memasuki ruangan dokter dengan perasaan tak karuan. Jam di atas meja dokter bernama Arwin itu menunjukkan pukul 8 pagi, kalau dihitung mungkin sekitar 4 jam lebih Aya menunggu di kursi besi dingin hanya untuk masuk ke dalam sini, berusaha mendapatkan kejelasan mengapa ayahnya tiba-tiba saja jatuh sakit. “Dengan Aya Winata, anak dari Bapak Suwarno Winata?’ Dokter itu membaca sebuah berkas yang ada di layar komputernya. Aya mengangguk. “Benar, Dok.” Dari balik meja, perempuan itu meremas jari jemarinya, sebagai pengalih rasa gugup yang membuat otaknya tidak tenang. Dokter itu menghela napas, sambil melepaskan kacamatanya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja seakan tengah meninbamg-nimbang sesuatu. “Saya tahu, sudah pasti pihak keluarga sangat khawatir sekarang. Bapak Suwarno datang ke sini dalam kondisi tidak sadar diri, saat kami periksa, detak jantungnya di atas rata-rata, begitu juga gula darah dan asam lambung. Sampai saat ini, Bapak Suwarno juga masih belum sadarkan diri.” “Bapak saya nggak kenapa-kenapa kan, Dok?” potong Aya yang panik bukan main. Jantungnya seakan-akan mau lepas melihat ekspresi Dokter yang terlihat tidak meyakinkan begitu. “Untuk saat ini, kami masih belum bisa mendiagnosis apa yang diderita oleh Bapak Suwarno karena beliau belum sadarkan diri. Untuk saat ini, kami hanya bisa memantau tanda-tanda vitalnya saja,” jelas Dokter dengan wajah muram. Aya menghela napasnya. Ia tahu sejak awal wajah Dokter itu tidak menunjukkan sesuatu yang baik. “Tapi Bapak saya bakal sadar kan, Dok? Dia nggak kena penyakit parah, kan? Sebentar aja bakal sembuh, kan?” tanya Aya secara bertubi-tubi, berusaha mencari satu saja pertanda baik. “Untuk saat ini, tanda-tanda vital yang ditunjukkan oleh Bapak Suwarno stabil. Jika terus seperti ini, kami yakin sebentar dari beliau akan sadar dan seperti yang saya bilang tadi, kami belum bisa mendiagnosis penyakit apa yang diderita oleh Bapak Suwarno. Oleh karena itu, kami tidak bisa menjamin kalau kondisi belau tidak mengkhawatirkan.” Tanda-tanda vital yang baik. Cukup dengan satu kalimat itu saja sudah membuat Aya bisa sedikit menghela napas lega. Setidaknya saat ia keluar nanti, ada kabar baik yang bisa disampaikan kepada ibunya. “Untuk saat ini, hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Kami akan terus memantau perkembangan kondisi Bapak Suwarno. Berdoa saja kepada Tuhan supaya beliau cepat sadar dan tidak kenapa-kenapa,” ucap Dokter yang menjadi akhir dari pertemuan mereka. Aya mengangguk lalu berdiri. “Terima kasih banyak, Dok.” Sunsets We wander through a foreign town Baru saja perempuan itu melangkah keluar dari ruangan dokter, ponselnya sudah berdering. Bu Amelia. Ketua timnya yang sangat ketat dan tidak bisa berempati menelpon. sebelumnya, Aya sudah menge-chat wanita itu untuk meminta izin, pasti sekarang dia menelpon untuk marah-marah. “Halo, Bu?” Aya mengangkat telepon untuk setelah berada cukup jauh dari keramaian. “Kamu sekarang sudah di Jogja?” tanyanya dari seberang sana dengan suara datar yang terdengar dingin. “Iya, Bu. Bapak saya tiba-tiba saja pingsan, sampai sekarang dia belum sadar. Ibu saya sudah tua, kasihan kalau ngurus Bapak saya sendirian,” jelas Aya ulang untuk menarik simpati dari ketua timnya itu. “Terus kenapa Ryan pakai acara izin segala?” “Saya berangkat malam, Bu. Bus juga sudah habis jadi saya terpaksa minta bantuan Ryan untuk mengantar saya ke Jogja. Nanti siang dia baru balik lagi ke Jakarta, Bu,” jelas Aya sedetail mungkin. “Kamu pikir ini perusahaan punya kamu bisa seenaknya begitu saja? Setidaknya kamu harus sadar diri, kalau mau kena masalah jangan ajak rekan kerja kamu juga,” sindir Bu Amelia yang tidak tahu cara berempati itu. Bahkan Bu Amel tidak mengucapkan satu pun kalimat bela sungkawa. Aya terdiam sejenak. “Tapi Ryan cuma izin satu hari kok, Bu. Besok dia pasti masuk,” bela Aya. “Kamu bawa laptop kamu?” Meski tidak dapat dilihat oleh Bu Amelia, Aya tetap menggelengkan kepalanya. “Tapi di rumah saya ada laptop lama saya, Bu.” “Ya sudah, karena kamu minta izinnya secara mendadak, saya sama sekali tidak prepare. Saya cuma bisa kasih kamu keringanan berupa perpanjangan deadline seluruh kerjaan kamu selama seminggu. Saya pikir perpanjangan itu cukup, hitung-hitung sebagai peringatan supaya kamu tidak seenaknya. Jadi, biarpun kamu sedang di luar kota, kamu tetap harus menyelesaikan pekerjaan kamu. Mengerti?” Rasanya, kaki Aya berubah menjadi jelly. Membayangkan betapa lelahnya dia bekerja dan merawat ayahnya sekaligus. Meski ingin sekali protes, Aya tidak bisa melakukan apa-apa selain menyetujuinya. “Baik, Bu. Terima kasih banyak atas keringannya.” Hidup Aya memang tidak jauh-jauh dari kesialan. Sambil merutuki ketua timnya, Aya berjalan menuju bangsal pasien yang berada di lantai tiga. Ryan: Bokap lo udah sadar? Pesan itu masuk tepat sekali setelah Aya membuka pintu ruangan di mana ayahnya masih terbaring lemah di atas kasur rumah sakit yang tidak nyaman dengan mata tertutup. “Apa kata Dokter, Nak?” tanya Ibu yang langsung berdiri dari kursinya. Aya tersenyum, berusaha untuk memperlihatkan wajah bahagia. “Kata Dokter tanda-tanda vital Bapak stabil, sebentar lagi juga bangun. Ibu nggak usah khawatir,” jawab Aya. “Bapak nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Ibu lagi yang masih tak puas dengan jawaban Aya. “Baru bisa diperiksa lebih dalam kalau Bapak sudah bangun. Ibu berdoa aja supaya Bapak nggak apa-apa,” jawab Aya lagi. Pandangan perempuan itu lalu tertuju pada nakas di samping kasur yang masih kosong. “Ibu belum sarapan?” Wanita paruh baya itu menggeleng. “Nggak tenang Nak Ibu kalau makan sebelum Bapak bangun.” “Nggak boleh gitu, Bu.” Aya menggeleng tegas. “Aya beliin bubur di depan rumah sakit, ya? Nanti takutnya Ibu juga ikutan sakit kalau nggak makan sama sekali. Mana tadi malam Ibu nggak ada istirahat,” paksanya. Untungnya, wajah memelas Aya bisa membuat ibunya itu luluh. “Ya sudah, tapi porsinya jangan banyak-banyak ya. Takutnya nanti nggak habis.” Aya mengangguk. “Kalau gitu Aya pergi dulu ya, Bu. Kalau ada apa-apa langsung telpon aja.” Sambil berjalan menuju lift, Aya kembali membuat ruang obrolannya dengan Ryan, bermaksud membalas pesan dari pria itu yang belum sempat ia balas. Aya: Belum sadar, Yan. Lo mau bubur ayam nggak? Nanti gue anterin ke sana. Ryan: Nggak usah, Ya. Ini gue udah mau balik lagi ke Jakarta. Aya: Nggak mau sarapan dulu? Gue balik sekarang ya, buat lo sarapan Ryan: Nggak usah, lo fokus ngerawat bokap lo aja. Semoga cepat sembuh, ya Aya: Makasih banyak doanya, Yan. Sorry gue nggak bisa ngurus lo. Ryan: Santai aja kali. Lagian gue bisa ngurus diri gue sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD