8. bantuan

1088 Words
Untuk yang kesekian kalinya, Aya melirik ayahnya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, berharap mata yang tertutup itu terbuka. Kata dokter, sebentar lagi ayahnya akan sadar, tapi sudah seharian penuh dia menunggu di sini, sama sekali tidak ada tanda-tanda ayahnya akan bangun. Aya membuang napas kasar, memilih untuk menutup laptop-nya dan berjalan keluar dari kamar rawat inap untuk menyegarkan pikiran sejenak dari tumpukan pekerjaan dan kondisi ayahnya yang memenuhi kepala Aya seperti semut yang mengerumuni sebutir gula. Koridor rumah sakit yang sepi sekaligus sejuk dapat membuatnya sedikit lebih rileks. Setidaknya kondisi ayahnya tidak memburuk, kata itu terus diulang Aya demi mempertahankan kewarasannya. “Kamu yakin nggak apa-apa aku tinggal di sini sendiri?” “Iya nggak apa-apa, kamu istirahat aja sana, balik ke hotel.” “Serius nggak apa-apa?” “Iya, sayang ….” Pembicaraan sepasang kekasih itu berhasil mengalihkan fokus Aya. Dari cahaya yang remang-remang ini, dia bisa melihat perlahan sosok perempuan berjalan menjauhi sebuah kamar pasien yang di depannya berdiri seorang pria dengan tiang infus di sampingnya. “Eh, Aya?” Ingin rasanya Aya terbang ke langit paling atas untuk bertemu dengan Tuhan, mempertanyakan garis takdir macam apa yang dia tulis untuk perempuan itu sampai-sampai di rumah sakit pun, dia bertemu dengan seseorang yang paling ingin dia hindari seumur hidupnya. “Kok kamu ada di sini, Ya?” tanya Lana yang terlihat shock. “Iya, kebetulan Ayahlagi sakit,” jawab Aya yang juga terlihat shock. Mendengar jawaban Aya, Lana langsung menunjukkan wajah prihatin sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Astaga … sakit apa?” Aya menggeleng. “Belum bisa didiagnosis.” “Ah … gitu, semoga papa kamu nggak apa-apa, ya.” “Makasih banyak doanya, Na.” Aya tersenyum dengan tulus, “Kamu ngapain kok ada di sini?” tanyanya balik yang juga penasaran ada apa gerangan tiba-tiba saja Lana berada di Jogja, mana di rumah sakit pula. “Itu, Jo—” “Sakit?” tanpa bisa ditahan, Aya langsung memotong ucapan Lana yang tentu saja langsung disesali oleh perempuan itu. Lana terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum canggung. “Iya, sakit. Dia kebanyakan kerja sampai lupa makan. Asam lambungnya naik, untung aja dia nggak kenapa-kenapa.” Aya meringis. Dibalik kesuksesan Jo, ternyata pola makan pria itu sangat tidak sehat. “Papa kamu juga dirawat inap?” tanya Lana lagi yang berhasil memecah kecanggungan sesaat di antara keduanya. Perempuan itu mengangguk, sambil menunjuk pintu ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Iya, itu di ruangan nomor 2.03,” jawab Aya. “Oh, berarti satu lantai sama kamarnya Jo, dong!” “Oh iya? Hehehe.” Tidak tahu harus menimpal apa, Aya hanya bisa tertawa canggung. Semoga saja wajahnya yang panik ini tidak terbaca oleh Lana. “Aku boleh minta tolong sama kamu, nggak?” Lana tiba-tiba saja menyatukan kedua tangannya di depan d**a, berpose seakan-akan dia tengah memohon. Dahi Aya berkerut, entah kenapa Lana tiba-tiba saja begitu. “Minta tolong apa?” tanyanya. “Kamu tahu kan, Jo itu keras kepalanya gimana?” Tidak ingin kembali membuat kesalahan, Aya hanya membeku, sama sekali tidak bereaksi akan pertanyaan yang diajukan Lana barusan. “Walaupun lagi sakit begitu, aku yakin dia bakal terus kerja sampai tengah malam. Makanya dia maksa aku buat balik ke hotel. Aku takutnya dia tengah malam nanti kenapa-kenapa,” jelas Lana dengan wajah super khawatir. Aya mengangkat alisnya, sama sekali tidak memiliki gambaran apa yang akan dia hadapi selanjutnya. “Jadi?” “Aduh … aku bener-bener nggak enak minta tolongnya. Aku yakin kamu sendiri pasti kecapean ngurusin papa kamu.” Aya tersenyum, mengelus pundak Lana yang dibaluti jaket. “Nggak apa-apa kok, santai aja.” “Serius nggak apa-apa?’ tanya Lana ulang, berusaha meyakinkan dirinya. Aya mengangguk optimis. “Iya, nggak apa-apa kok, serius!” “Em … boleh minta tolong jagain Jo juga nggak?” Lagi-lagi, Aya membeku mendengar permintaan dari Lana. Separuh rohnya seakan-akan melayang ke luar angkasa sedangkan setengahnya lagi sedang terheran-heran. Bagaimana bisa Lana meminta itu pada seseorang yang notabe-nya pernah menjalin “sesuatu” dengan pacarnya itu. “Nggak mau ya, Aya?” “Eh?” “Nggak lama kok. Kata dokter Jo cuma perlu dirawat satu hari aja. Jadi kemungkinan besar cuma malam ini aja. Aku udah di suruh Jo balik ke hotel soalnya, kalau aku ngotot di sini takutnya dia marah.” Sepasang mata indah milik Lana itu terlihat penuh harap. “Kamu serius?” Aya bertanya setengah harap apa yang dia dengar barusan itu salah. “Iya, Ya. Cuma liatin dia beberapa kali aja, kalau asik kerja langsung suruh istirahat sama nanti kalau misalnya Jo terasa sakit atau gimana aku bakal suruh dia untuk nyamperin kamu. Mau nggak?” Aya terdiam, tidak tahu harus memberi respon apa untuk permintaan tidak terduga dari Lana. Sumpah, perempuan itu masih tidak habis pikir bagaimana bisa lana menyuruhnya untuk menjaga Jo. Aya menghela napas. “Tapi kan Na, aku sama Jo—” “Aku tahu, kok,” potong Lana yang langsung membuat Aya mengerjapkan matanya. “Aku tahu dulu kamu sama Jo pernah ada sesuatu.” Aya refleks menelan ludah. Sekali lagi, Lana berhasil membuat perempuan itu melongo tidak habis pikir. “Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu, kan? Aku yakin kalian berdua sudah sama-sama move on. Kita udah dewasa, aku nggak bisa ngendaliin masa lalu, begitupun kamu atau Jo. Kita cuma bisa nerima, dan aku sudah menerima seluruh masa lalu Jo. Aku minta tolong ke kamu untuk jagain Jo itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalu kalian. Jadi kamu nggak usah khawatir,” jelas Lana panjang lebar. “Tapi kalau kamu nggak mau, well … apa boleh buat. Aku juga nggak ada hak buat maksa kamu untuk bantuin aku,” lanjutnya. Aya menyerah. Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Lana seakan-akan berhasil menghipnotis perempuan itu, membuatnya merasa seperti manusia paling jahat jika berani menolaknya. “Oke, aku bakal bantuin kamu jagain Jo. Tapi aku nggak bisa sepenuhnya merhatiin dia, ya. Mungkin sekali dua kali aku bakal datangi kamarnya. Soalnya aku juga perlu jagain bokap,” ucap Aya yang akhirnya setuju. Seketika, Lana langsung tersenyum bahagia. “AAAAA MAKASIH BANGET AYA!” tanpa aba-aba, Lana langsung memeluk Aya, membuat mereka berdua sedikit oleng, untung saja kaki Aya cukup kuat untuk menahan beban Lana, membuat mereka tidak sampai terjatuh. Aya mengangguk. “Iya, sama-sama.” “Nanti aku bilangin Jo ya, kamu yang bakalan jagain dia. Kalau nanti dia keras kepala, omelin aja nggak apa-apa, siapa tahu dia mau dengerin kamu. Oke?” “Em, oke.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD