Suara ketikan laptop masih terus terdengar meski sekarang sudah menunjukkan pukul 2 tengah malam. Seorang pria yang duduk di atas ranjang rumah sakit yang tidak nyaman itu seakan terhipnotis oleh tampilan data penjualan perusahaan yang ada di layar laptopnya, membuatnya seakan buta waktu.
Meski tangan kirinya yang ditusuk jarum infus terasa amat nyeri, pria yang tidak lain adalah Jo sama sekali tidak niat untuk mengalihkan sejenak perhatiannya untuk mengecek kondisi tangan kirinya.
Entah sejak kapan, Jo menjadi seorang yang gila kerja. Waktu tidurnya semakin lama semakin berkurang. Kini, pria itu hanya tidur paling lama 2 jam dalam sehari. Bukan hanya itu, pola makannya juga sangat tidak teratur. Pergi kerja tanpa sarapan, sering melewatkan makan siang, dan jika terlalu kelelahan dia akan melewatkan makan malam juga.
Dengan pola hidup yang sangat tidak sehat itu, tidak heran kini Jo berakhir di rumah sakit.
Tok … tok … tok ….
Sudah dua kali Jo mendengar ketukan pintu dalam jarak waktu yang tidak sampai menit. Entahlah, siapa orang iseng di luar sana yang jahil mengetuk-ngetuk pintu ruangan pasien tengah malam begini. Tapi yang pasti, Jo juga tidak ada minat untuk menanggapi ketukan pintu itu.
Tok … tok … tok ….
“Ck, siapa sih itu!” kesal Jo yang akhirnya terdistraksi juga.
Dengan kesal, dia melepaskan kacamata bacanya dan berjalan menuju pintu.
“Tolong ya, ini rumah sakit jangan buat keributan.”
Satu …
Dua …
Tiga …
Rasanya, seperti dunia berhenti selama 3 detik begitu Jo melihat siapa yang berdiri di balik pintunya.
“Aya?” ucap Jo tertahan, berusaha meyakinkan apa yang di depan matanya itu nyata.
“Kok lo belum tidur, sih?” pandangan Aya bergerak jauh, menuju ranjang Jo di mana terletak laptop yang masih menyala ditambah dengan berkas-berkas yang berserakan.
Seketika, darah tinggi Aya langsung naik. Tanpa izin perempuan itu langsung masuk ke dalam kamar rawat inap Jo, mengambil satu-persatu berkas yang berserakan itu dan menutup laptop Jo begitu saja.
Sedangkan Jo yang masih shock, pria itu hanya bisa menatap setiap pergerakan Aya dengan raut heran. Bagaimana bisa dia ada di sini?
“Loh … kok diberesin semua?” Jo akhirnya sadar kini, ranjangnya sudah bersih tanpa ada satupun berkas dan laptop.
Dengan kedua tangan yang berada di pinggang ala ibu-ibu, Aya berkata, “Tidur.”
Kening Jo berkerut. Ini dia sedang mimpi atau gimana? Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Aya muncul, lalu membereskan berkas-berkasnya, lalu kini dia malah memerintah Jo, menyuruh pria itu untuk tidur.
Apa jangan-jangan halusinasi berlebihan juga termasuk ke dalam efek samping asam lambung naik?
“Kok masih berdiri di situ? Lo denger nggak gue ngomong apa?”
Teriakan Aya membuat Jo kembali tersadar. Dengan ragu, pria itu bergerak maju. “Kok kamu bisa ada di sini?” tanyanya balik.
Kini, berganti wajah Aya yang terlihat kebingungan. “Memangnya lo nggak dikasih tahu sama Lana?”
“Lana?”
Tangan Jo lantas bergerak membuka laci nakas dimana ponselnya selama ini disembunyikan. Tidak disangka, ada belasan pesan masuk dari Lana dan tiga panggilan tidak terjawab dari orang yang sama.
Jo hendak menelpon Lana balik, tapi mengingat waktu yang sudah tengah malam dan kemungkinan Lana sudah tidur, pria itu mengurungkan niatnya.
Lana: Sayang, tadi aku ketemu sama Aya
Lana: Aku minta tolong sama dia buat jagain kamu sama ngecek kamu istirahat atau enggak
Lana: Kalau ada apa-apa, minta tolong ke Aya, ya
Lana: Tolong jangan marahin dia kalau dia ganggu kamu kerja karena aku yang suruh begitu
Lana: Have a good night
“Oh, maaf baru baca pesannya,” ucap Jo dengan kaku, kembali menaruh ponselnya ke dalam laci.
“Ini udah jam dua loh, kok lo belum tidur?” tanya Aya yang entah kenapa bisa sekesal ini menangkap basah Jo yang sedang sakit malah masih kerja sampai tengah malam. Mungkin karena dia juga lelah menjaga ayahnya sepanjang hari, jadi lebih sensitif.
“Anu, aku masih ada kerjaan penting. Sebentar lagi siap kok, kamu balik aja. Nanti kalau udah siap aku pasti langsung tidur,” jawab Jo yang tentu saja berbohong. Pekerjaannya masih menumpuk, bahkan jika pria itu begadang semalaman penuh, dia masih belum bisa menuntaskan semua pekerjaannya.
"Ya nggak bisa gitu, dong! Lo itu sakit, mau nggak mau ya harus istirahat. Gimana sih, udah besar gini juga masa nggak bisa ngurus diri sendiri!” omel Aya yang langsung menarik tangan kiri Jo, memaksa pria itu untuk naik ke atas ranjang.
“Aw, sakit!” erangan dari Jo membuat Aya langsung melepaskan cengkramannya.
“Kenapa? Kenapa?” tanya Aya panik dengan mata melotot yang untung saja tidak keluar.
“Tanganku ….” Karena cengkraman yang cukup kuat dari Aya pada tangan kirinya yang sedari tadi ngilu, tangan kiri Jo itu langsung nyut-nyutan bukan main.
“Kenapa tangan lo kok … ASTAGA JO!”
Kini, tidak hanya mata Aya melotot, mulutnya juga ikut menganga tidak percaya saat ia melihat selang infus yang kini sudah dipenuhi oleh darah.
“INI KOK INFUSNYA BISA HABIS GINI LO NGGAK KASIH TAHU PERAWAT, SIH?!”
“Ya … aku nggak tahu,” cicit Jo sambil meringis menahan rasa nyeri.
“Kok bisa nggak tahu? Gimana sih, lo ini. Aghh!” omel Aya dengan raut wajah yang seakan-akan ingin memakan Jo saat itu juga.
“Aduh Ya … ini tanganku sakit banget. Kamu panggil perawat dulu deh, baru ngomel lagi,” pinta Job yang masih memegangi tangannya
***
“Ya, udah dong jangan lihatin mulu. Aku mau tidur,” ucap Jo yang terdengar ragu-ragu.
Setelah kekacauan tadi, Aya langsung berlari memanggil perawat. Kini, Jo sudah terbaring manis di ranjangnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya dari bawah sampai bagian d**a.
“Ya?”
Jo sama sekali tidak berbohong saat dia mengaku tatapan Aya dari sofa di dekat pintu masuk itu sangat menyeramkan. Perempuan itu sudah menatapnya begitu selama 5 menit tanpa berkedip, membuat Jo merasa tidak nyaman.
Jangankan tidur, mau bernafas saja rasanya susah jika Aya masih menatapnya seperti itu.
“Umur lo berapa sih sekarang, Jo?” tanya Aya tiba-tiba.
“Em … 28 tahun.”
“Sebentar lagi mau kepala tiga juga, masa ngurus diri sendiri aja masih nggak becus,” sinis Aya tanpa rasa iba.
“Cepat atau lambat, lo pasti bakal nikah sama Lana, lo harus belajar bagi waktu lo. Kerja ya kerja, istirahat ya istirahat. Lo itu bukan robot tau!”
Jo menelan ludahnya. “Iya, maaf.”
“Lo nggak perlu minta maaf sama gue. Minta maaf tuh, sama diri lo sendiri. Sama Lana juga. Lo bayangin betapa khawatirnya dia pas lo seenak jidat nyuruh dia ke hotel aja.”
“Iya, nanti aku minta maaf sama Lana juga.”
“Gue ada di kamar sebelah, nomor 2.03. Kalau ada apa-apa, ke sana aja langsung.”
“Iya ….”
Masih dengan tatapan tajamnya, Aya bangkit dari sofa. “Awas aja kalau gue ke sini lagi lo belum tidur.”
“Iya, ini juga mau tidur kok.”