Untuk yang ketiga kalinya, Aya bangun dari tidurnya yang sangat tidak nyaman. Sofa panjang yang tidak empuk itu membuat semua tulangnya sakit sehingga membuatnya sulit untuk terlelap.
Perempuan itu melirik jam yang menempel di dinding. Pukul 4 dini hari. Seharusnya Jo sudah terlelap sekarang lantaran tidak ada tanda-tanda Jo membutuhkan bantuannya.
Aya menghela napas, bergegas mengambil botol air mineral di atas nakas, tepat di samping Ayahnya yang masih terbaring lemah. Perempuan itu tidak menyangka merawat orang sakit akan melelahkan ini.
Tok … tok … tok ….
Dahi Aya langsung berkerut heran saat mendengar ketukan pintu secara tiba-tiba. Jam 4 dini hari, siapa yang berkunjung subuh-subuh begini?
Untuk menunaikan rasa penasarannya, Aya segera berjalan mendekati pintu. Mungkin saja ada suster yang ingin mengecek kondisi Ayahnya.
“Iya, sebentar … loh?” Semakin terheran saja perempuan itu saat melihat siapa orang yang berada di balik pintu.
Jo, dengan baju hitam putih bergaris milik pasien bersama dengan tiang infusnya berdiri di depan pintu dengan wajah nelangsa.
“Kenapa? Ada yang sakit? Berdarah?” tanya Aya bertubi-tubi, mengecek kondisi Jo dari ujung rambut sampai ujung kakinya yang tidak mengenakan alas apapun.
Dengan lemas, Jo menggeleng.
“Jadi kenapa? Lapar? Haus?” tanya Aya lagi yang masih berusaha menebak. Saking paniknya, perempuan itu sampai lupa untuk mempersilakan Jo masuk terlebih dahulu.
“Bukan ….” Jo menjawab dengan lirih.
Aya mengacak-acak rambutnya. “Jadi apa dong? Jangan buat panik gitu ah!”
“Anu, aku … aku nggak bisa tidur, Ya,” jawab Jo dengan suara yang kelewat pelan.
“Hah?” Sebenarnya, Aya mendengar apa yang dikatakan Jo, tapi mulutnya refleks berkata begitu karena ucapan Jo yang sungguh-sungguh diluar dugaan.
“Nggak bisa tidur, dari tadi udah coba tetap nggak bisa,” ulang Jo. “Kepalaku rasanya penuh, nggak bisa berhenti mikir.”
Mendengar penjelasan Jo, Aya langsung meringis kasihan. Jika sekarang jam empat, itu artinya Jo sudah dua jam berusaha untuk tidur.
Meski Aya tidak tahu kenapa Jo seperti itu, Aya refleks menarik tangan pria itu untuk masuk ke dalam ruangannya. “Sini, duduk di sofa dulu.”
Jo yang kini terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidup menurut saja, mengikuti apapun instruksi Aya.
“Ini, minum dulu.” Aya menyodorkan segelas air hangat.
Tanpa berucap apa-apa, Jo menerima pemberian Aya da meminum air itu walau hanya satu teguk. Sungguh, tubuh pria itu sudah terlihat lelah sekali tapi entah kenapa matanya tidak bisa diajak bekerja sama untuk istirahat.
“Udah makan?”
Jo mengangguk. “Tadi sore Lana kasih bubur.”
“Kalau sekarang lapar nggak?”
Pria itu kini menggeleng. “Nggak.”
Aya membuang napasnya kasar. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Selama dia di Jakarta, perempuan itu sama sekali tidak pernah merawat orang sakit. Dia tidak tahu harus bertindak apa.
“Em … kalau nggak bisa tidur lo bisanya ngapain?” tanya Aya ragu-ragu.
“Ya … nggak tidur. Kerja.”
“Kalau kerja kepala lo emang rasanya nggak penuh lagi?”
“Nggak.”
Aya menggigit bibirnya. Tidak mungkin juga dia menyuruh Jo kerja sekarang, bisa-bisa Lana menggoroknya hidup-hidup.
“Nah gini aja!” dengan penuh semangat, Aya menjentikkan jarinya.
“Hah?”
“Lo tidur disini aja, di sofa. Gimana?” usul Aya sambil menaik-turunkan alisnya, seakan-akan usulannya adalah ide paling brilian di muka bumi.
Jo mengernyitkan keningnya. “Kan aku nggak bisa tidur. Gimana mau tidur di sini, coba?” balas Jo yang skeptis.
“Pakai metode baru,” keukeuh Aya.
“Metode baru gimana?”
Bukannya menjawab, Aya malah duduk di sisi sofa paling ujung. “Sini!” Aya memberi isyarat pada Jo dengan memukul pelan pahanya yang sudah ditutupi oleh bantal. “Kepalanya direbahkan ke sini.”
Jo mengerjap. Pria itu tidak menyangka kalau Aya akan bertindak seperti itu. “Beneran?” tanyanya memastikan.
Aya mengangguk. “Cepetan! Gue juga mau tidur.”
Jo menelan ludahnya. Dengan gerakan seperti robot. pria itu akhirnya mendaratkan kepalanya pada bantal yang terletak tepat di atas paha Aya. Dengan posisi terlentang seperti ini, Jo bisa melihat dengan jelas setiap inci wajah Aya yang tampak begitu sempurna di mata Jo.
“Nggak usah lihatin gue begitu. Tidur cepat,” tegur Aya yang sadar akan gerak-gerik Jo selama ini.
Sedangkan Jo, pria itu dengan cepat menutup matanya, mengganti posisi miring menatap tembok. Dalam hati, Jo berharap Aya tidak menyadari telinganya yang merah lantaran menahan malu.
Melihat itu, Aya langsung terkekeh ringan. Upaya terakhir yang muncul di otak Aya adalah mengelus kepala Jo. Dengan lembut dan penuh kehati-hatian, Aya menelusuri satu-persatu rambut cepak Jo dengan jarinya.
Di kepala Aya, entah dari mana tiba-tiba muncul alunan musik romantis. Dirinya tahu tidak pantas berpikir seperti itu. Sekarang dirinya sedang tertimpa musibah, Jo juga sedang sakit, terlebih pria itu juga sudah memiliki pasangan—perempuan paling sempurna yang pernah dilihat Aya. Tapi sungguh sulit menyingkirkan halusinasi liar itu dari kepalanya.
“Aya,” panggil Jo dengan suara parau.
“Hm?”
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya suara Jo kembali terdengar. “Makasih ya.”
Aya mengernyitkan dahinya. Belum sempat perempuan itu bertanya, Jo sudah terlebih dahulu berkata, “Kepalaku udah nggak penuh lagi. Makasih, ya.”
***
“Nak, ada yang cariin kamu diluar tuh.”
Ucapan Ibu Aya langsung membuat fokus Aya pada laptop putus sepenuhnya. Dengan berat hati, Aya melepaskan stylus pen yang sudah digenggamnya lebih dari dua jam.
“Siapa, Bu?” tanyanya kebingungan.
Ibu Aya mengedikkan bahu. “Ndak tahu, temanmu mungkin. Tapi yang perempuan Ibu kaya pernah lihat dimana gitu,” jawab Ibu yang yang sibuk mengisi ulang air mineral di atas nakas.
Mendengar penjelasan dari Ibunya membuat Aya semakin bingung saja.
“Sekalian pulang, Nak. Makan, mandi, biar Ibu yang jaga sampai siang.”
Aya mengangguk setuju. Selain tulangnya yang pegal semua, kulit perempuan itu juga sudah lengket bukan main. Dia tidak yakin akan tahan jika tidak mandi segera.
“Iya. Bu. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon Aya, ya.”
Ibunya mengangguk. “Hm, kalau bisa juga kamu tidur dulu sebentar di rumah. Ibu jaga Bapak di sini seharian juga ndak apa-apa.”
Aya tersenyum, lantas menghampiri Ibunya untuk memberikan kecupan singkat di pipi. “Sebentar aja kok. Nanti kalau udah siap mandi sama makan juga Aya bakal balik lagi. Oke?”
“Hm … sudah sana pulang!”
Aya terkekeh. Kalau diingat-ingat, sudah lama juga Aya tidak mencium pipi Ibunya seperti itu. Pantas saja dia selalu terkena kesialan, ternyata karena kualat pada orang tua.
“Eh?”
Baru saja Aya membuka pintu, dirinya sudah dikejutkan dengan kehadiran Lana dan Jo yang kini sudah mengenakan setelan jas rapi. Pantas saja Ibunya bilang pernah melihat perempuan yang mencarinya tadi, ternyata yang dimaksud adalah Lana yang memang sering wara-wiri di layar kaca.
“Hai, Aya!” sapa Lana dengan semangat.
“Oh, hai!” sapa balik Aya yang berusaha mengalihkan pandangannya dari genggaman tangan Jo pada jari-jemari Lana.
“Udah mau pulang?” tanya Aya basa-basi meski dirinya sudah tahu Jo akan pulang dengan setelan serapi itu.
Lana mengangguk. “Ini berkat kamu. Makasih banyak ya Aya udah bantu jagain Jo.”
Aya tertawa canggung. “Bukan apa-apa, kok. Aku cuma ngecek dia ke kamar sekali,” jawab Aya canggung.
Lana berdecak. “Kata Jo dia bisa tidur nyenyak semalam karena kamu. Jarang banget Jo bisa tidur nyenyak. Makasih banyak, ya. Aduh … rasanya aku nggak enak kalau cuma bilang makasih doang,” jelas Lana.
Refleks, Aya menatap Jo yang langsung menghindari tatapannya. Orang gila, jangan bilang Jo cerita soal kejadian semalam pada pacarnya.
“Kalau kapan-kapan aku traktir kamu gimana, Ya?” usul Lana.
"Eh, gimana?”
“Nanti kalau kamu udah balik ke Jakarta, aku traktir kamu makan, ya? Sebagai ucapan terima kasih aku. Mau ya, please ….”
Aya meringis tak enak hati. “Ya … nanti kalau sama-sama ada waktu ya.”