Di luar ruang rawat, suasana rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Nara berdiri bersandar di dinding, matanya masih sembap karena terlalu banyak menangis. Raka berdiri di depannya, wajahnya tenang namun sorot matanya penuh tekanan. “Nara,” ucap Raka pelan tapi tegas. “Kita perlu bicara soal perjanjian kita.” Nara mengangkat wajahnya perlahan. Tangannya mengepal, seakan sudah menebak ke mana arah pembicaraan itu. “Apa lagi yang harus dibicarakan, Mas?” suaranya bergetar. Raka menarik napas sebentar. “Aku minta kamu pulang ke rumahku malam ini. Kamu tidur di sana.” Nara terbelalak. LApa?” Ia langsung menggeleng. “Aku tidak bisa. Ibuku masih di sini. Aku mau tetap menemaninya sampai dia benar-benar sembuh.” “Aku tidak melarang kamu menjenguk ibumu,” jawab Raka datar. “Tapi perj

