Raka tidak suka menunggu terlalu lama. Sore itu, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari rumah Rayyan. Raka duduk di kursi belakang, menatap bangunan sederhana itu dengan mata dingin. Dari laporan yang masuk sejak pagi, satu hal menjadi jelas. Rayyan tidak sendirian hari ini. “Dia pulang lebih cepat dari biasanya,” ujar salah satu anak buahnya pelan. “Dan sejak siang, ada perempuan masuk ke rumahnya. Belum keluar sampai sekarang.” Raka tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kemenangan. Hanya kepastian. “Panggil dia keluar,” perintahnya singkat. Beberapa menit kemudian, Rayyan yang baru saja keluar rumah untuk membeli makan terhenti langkahnya ketika dua pria berbadan besar berdiri di depannya. “Mas Rayyan?” salah satu dari mereka bertanya sopan, tapi nadanya

