Nara akhirnya berhasil keluar dari rumah Raka. Dengan napas memburu dan tangan gemetar, ia berjalan cepat menuju sebuah rumah sederhana dua blok dari sana. Rumah itu milik Rayyan. Seorang laki-laki yang sudah ia kenal sejak pertama kali Nara pindah ke Jakarta. Dulu, kos-kosan mereka berdampingan. Rayyan adalah orang pertama yang membantunya saat Nara tersesat di kota besar yang asing. Sejak itu, mereka dekat. Tidak banyak kata manis, tidak banyak janji. Hanya rasa aman yang selalu Rayyan berikan kepadanya. Pintu rumah terbuka setelah beberapa kali Nara mengetuk. Rayyan terkejut melihat kondisi Nara. “Nara?” alis Rayyan langsung berkerut. “Kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget.” Tanpa menjawab, Nara langsung masuk dan menutup pintu dengan tergesa. Tangannya gemetar saat ia mengunci p

