Malam di kampung itu sunyi. Terlalu sunyi bagi hati seorang Ibu. Ibu Nara terbaring di atas ranjang bambu, memandangi langit-langit rumah yang sudah ia hafal setiap retaknya. Lampu kecil di sudut kamar menyala redup, namun matanya tak kunjung terpejam. Dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Entah sejak kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba saja. Seperti angin dingin yang menyusup pelan, membuat hatinya gelisah. “Nara…,” lirihnya memanggil, seolah anak itu bisa mendengarnya dari kejauhan. Ia bangkit duduk, meletakkan telapak tangan di d**a. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukan karena sakit, melainkan karena firasat. Firasat yang hanya bisa dimengerti oleh seorang Ibu. Seharian ini ia mencoba menepis perasaan itu. Mengira hanya rindu biasa. Tapi semakin malam, rasa

