Nara perlahan membuka matanya. Cahaya putih yang menyilaukan membuatnya kembali memejam, lalu mencoba lagi. Bau obat dan suara mesin membuatnya sadar. Ia berada di rumah sakit. “Nara… Syukurlah,” suara Raka bergetar. Ia langsung berdiri dari kursinya, mendekat, matanya merah karena kurang tidur. “Kamu sadar… Kamu dengar aku?” Raka menggenggam tangan Nara erat, seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Kamu mau apa? Air? Dokter? Kamu lapar? Atau mau istirahat? Bilang ke aku, Ra… Apa pun.” Namun Nara hanya menatap langit-langit. Matanya kosong, bukan karena tidak sadar, tapi karena terlalu lelah. Secara fisik dan perasaan. Tenggorokannya kering, tubuhnya berat untuk digerakkan. Dan di dadanya, ada amarah yang belum padam. Raka menunggu. Detik berlalu. Menit berlalu. Tak ada jawaban. “

