BENIG& ADELIO
Tak henti-hentinya Bening menangis menatap dua nama yang terpampang dalam papan bunga Yang semula bertulis happy wedding berubah menjadi tulisan turut berduka cita. Hanya berselang satu hari menjelang hari bahagia itu, semuanya harus kandas saat nasib tak berpihak padanya dan Adelio, sepertinya tuhan lebih mencintai laki-laki itu dari pada mereka semua.
“Dek, kamu yang kuat yah sebentar lagi jenazah akan tiba.” Bening hanya bisa menangis dan terus menangis.
“Ibu, Bening gak kuat bu, ya tuhan kenapa harus calon suami aku bu? Kami besok menikah ibu ...” entah sudah berapa kali hari ini Bening bolak-balik pingsan bila mengingat besok adalah hari pernikahannya tapi hari ini calon suaminya harus tertidur selamanya.
“Bening—“
Gelap. Semua terasa gelap bagi Bening, dan entah untuk keberapa kalinya Bening pingsan setiap mendengar jenazah calon suaminya.
“Bening ... syukurlah kamu sudah sadar.”
“Bu ...”
“Masih pusing nak?”
Bening mengangguk pelan, memijit kepalannya.
“Jenazah sudah di depan, lihat lah sebentar sayang setelah itu mayat akan dimandikan dan setelahnya kamu sudah tidak boleh lagi menyentuhnya nak.” Bening semakin menggeliat tertahan mendengar waktu yang ia miliki hanya terbatas, meski begitu sekuat tenaga Bening berusaha berjalan menemui sang kekasih.
“Bening.” panggil Bayu menghampiri Bening.
Bening hanya menoleh dengan linangan air mata yang sudah tidak bisa berhenti meski ia ingin terlihat kuat di depan Adelio.
"Jenazahnya sudah tiba, kamu bisa lihat sebentar sebelum dimandikan." Kembali Bening hanya terpaku.
“Nak, ayo kamu lihat Adelio dulu, lebih cepat lebih baik.” meski dengan terseok akhirnya Bening dapat melihat wajah terakhir Adelio. Rasanya masih sangat sulit dipercaya, padahal kemarin ia baru melihat laki-laki itu mengantarkan pesanannya dan hari ini? Bening benar-benar terasa sedang disambar petir di siang bolong.
“Ka ... kak” lirih Bening sangat pelan.
“Kak.. meski sulit” lagi-lagi Bening memberi jeda ucapannya menarik napas sebanyak-banyaknya seolah seseorang telah mengambil oksigen darinya, dengan lirih Bening berujar.
“Aku berusaha ikhlas, Bening ikhlas kak, di sini ada ibu, mama yang selalu sayang sama Bening, kakak yang tenang di—“
Bening kembali limbung kesamping entah untuk berapa kalinya.
“Biar saya saja bu, di sini terlalu ramai, ibu bisa ikut, di belakang ada kamar dulunya di tempati nenek.” Ujar Bayu mengambil alih tubuh Bening yang sudah tidak sadarkan diri, dengan sigap laki-laki itu mengangkut tubuh Bening yang kembali tumbang.
***
“Kaak.. kak... kakak!“ Bening tersentak dari tidurnya. Lagi-lagi ia masih terus memimpikan sosok Adelio yang sudah setahun ini pergi dengan tenang. Meski begitu ia masih sering disambangi melalui mimpi.
Setelah merasa lebih tenang, Bening memasuki kamar mandi karena memang waktu subuh belum masuk, Bening mendahulukan ibadahnya dengan sunnah dua rakaat, tidak setiap hari memang, tapi ketika ia teringat atau memimpikan Adelio seperti tadi, Bening selalu meng-hadiahi shalat sunah pada laki-laki itu.
Cukup lama Bening terdiam tanpa melakukan apa-apa bahkan ia melewatkan Zikirnya. Ingatannya kembali mengenang masa-masa kelam saat dokter mengatakan Adelio tidak tertolong dan mereka semua dipaksa untuk dapat menerima takdir yang sepertinya bercanda pada mereka.
Sayup-sayup Bening mendengar pintu kamarnya diketok sang ibu.
“Ning kamu sudah bangun nak?”
“Bening.” panggil ibu entah berapa kali.
“Eh iya bu Bening sudah bangun kok.” Dengan cepat Bening membuka mukenanya, melipat serta mengusap matanya yang kalau tadi ibunya tidak datang mungkin ia akan menangis seperti biasanya.
“Jangan lupa subuhan, setelah itu langsung mandi siap-siap jemput mas mu di bandara tidak perlu bantu ibu masak.”
“Bening udah subuhan kok bu, kalau gitu Bening mandi dulu setelah sarapan baru ke bandara yah. Mas Bian kemungkinan sampai jam delapan atau setengah sembilan.”
“Yah sudah kalau gitu terserah kamu saja, yang penting mas mu tidak menunggu lama.”
“Siap bu.”
“Langsung mandi jangan tidur lagi!” peringat ibu.
“Iya bu, siap,” ujar Bening meletakkan tangan kanannya ke atas pelipisnya seperti posisi hormat.
***
Terik matahari terasa sangat menyengat, padahal masih pukul delapan pagi, tapi matahari sudah seperti jam sebelas siang. sebenarnya tidak terlalu panas hanya saja Bening terlalu lebai menyamakan matahari jam 8 pagi dengan sebelas siang.
“Sudah tau panas ngapain kamu nunggu di sini?” itu suara Bian dengan sebuah tas ransel di punggungnya.
“Nih kontak motor, kamu yang bawa yah mas.”
“Kamu lah yang bawa! Kan hari ini kamu tugasnya menjemput ku,” tolak Bian mengembalikan kontak tersebut pada Bening, adik satu-satunya yang laki-laki itu miliki.
“Memangnya kamu gak malu disupiri perempuan mas?”
“Siapa yang perduli? Anggap saja kamu sebagai tukang ojek pesanan ku.” mendengar itu Bening hanya memasang tampang datar pada saudara laki-lakinya tersebut, enak saja dirinya disamakan dengan tukang ojek.
“Aku baru dari perjalanan panjang lho dek,” tutur Bian memelas yang dibuat-buat.
“Oke tapi aku mau nanti malam ditraktir nonton plus makan, gimana?”
“Oke nanti malam kita kencan, sekarang kamu jadi ojek ku dulu.”
“Jangan salahkan aku pokoknya kalau kamu harus sampai nguras tabungan, aku gak tanggung jawab pokoknya”
“Tenang, mas mu ini dokter, yah meskipun belum punya duit banyak banget tapi untuk traktir kamu nonton sama makan doang mah gampang.”
“Kalau gitu kita sekalian belanja,” pungkas Bening, dengan senyum yang sedang membayangkan belanja tanpa perlu melihat harga.
Sebenarnya Bening tidak terlalu dekat dengan saudara laki-lakinya, namun semua berubah saat pernikahannya batal, abangnya berubah menjadi sosok yang sangat perhatian padanya. sebenarnya Abian bukan tipe yang banyak bicara, laki-laki itu lebih suka membaca buku dan melakukan hal-hal bermanfaat yang berbanding terbalik dengan Bening yang lebih banyak bicara dan menikmati hidup versinya, bukan berfoya-foya hanya saja memang tidak masuk dalam kategori berhemat juga, sehingga ketika ayahnya meninggal saat dirinya masih di bangku SMA, Bening lumayan terguncang secara finansial. Meski tak benar-benar berantakan hanya saja semua berubah saat itu juga.
Kembali kepada Bian, meskipun dari dulu laki-laki itu selalu menjadi unggulan tidak pernah sekalipun memandang remeh sang adik, kalau pada umumnya anak perempuan identik dengan rajin, pintar, ambisius, kompetitif tapi itu semua Bian lah yang memilikinya. Saat satu keluarga menatap bangga pada prestasi Bian yang berhasil lolos masuk kedokteran, berbanding terbalik dengan dirinya yang memilih terjun bebas mengambil hukum. Bukan berarti anak hukum bodoh, sama sekali bukan. Mana bisa orang “bodoh” menentukan keputusan yang harus memiliki kemampuan analisa yang tajam. Sebenarnya Bening sudah mencoba menuruti jalan sang abang dengan mengambil jurusan IPA saat SMA. Dan itu sukses membuatnya menangis satu bulan sebelum ujian karena harus mengejar semua materi yang ketinggalan, dan hampir semua materi yang harus ia pelajari ekstra adalah materi inti, dan saat kuliah ia memilih hukum, karena menurutnya itu adalah passionnya.
“Akhh mas kamu ngapain gerak gitu nanti kita jatuh,” pekik Bening merasakan ada guncangan dari belakang siapa lagi kalau bukan Bian yang iseng padanya.
“Jangan bengong, kamu mau kita terjatuh karena kelalaian yang kamu lakukan? Tak hanya jatuh, akibat kelalaian yang terjadi dari melamun? Cidera, patah...“
“Iya paham lagian siapa yang bengong? Lagi fokus ini kamu bisa kena pasal kalau mengganggu kenyamanan aku dalam berkendara loh yah mas.”
“Makanya jangan bengong.” kalau tidak di atas motor mungkin Bening akan mengajak duel sang Abang.
“Dibilingin gak bengong juga!”
***
“Mas, lebih cocok yang mana menurut kamu? yang ini atau yang pertama aku pakai tadi?” tanya Bening keluar dari kamar pas dengan dua baju yang berada di kedua tangannya.
“Ning kamu bisa cepat? Ibu suruh kita segera pulang, paman Diman di rumah katanya mama Adelio bakalan datang berkunjung.
Seketika baju yang berada dalam genggamannya terjatuh kelantai, untung saja Bian dengan cepat memahami respon tubuh Bening yang sudah sepeti lilin akan mencair.
“Mas?”
“Kita hadapin bersama yah, ada aku. Kamu tidak perlu mencemaskan apapun, semua akan baik-baik saja.” Meski pelan tapi Bening menganggukkan kepalanya, dan berkali-kali menghela napas keras seraya mengatakan “Aku pasti bisa.”