“Mas, kira-kira mama ke rumah mau ngapain yah?” cicit Bening menautkan jemarinya.
“Mana aku tau dek, tapi aku sempat nanya kenapa keluarga Adelio ke rumah, ibu cuma bilang mereka mau berkunjung, mungkin ada urusan di kota ini makanya beliau mampir.” Bening mengangguk pelan. Berusaha untuk terlihat biasa saja meski terasa sangat sulit. Memangnya siapa yang bisa bersikap biasa saja dalam situasi saat ini?
“Gak usah ditutupin, kamu masih sering teringat Adelio yah?” Usapan yang diberikan Abian di kepalnya cukup menenangkan.
“Dia cinta pertama aku tau mas, senior paling baik yang aku kenal.” Bening mengibas tangannya ke arah matanya yang sudah terasa panas, kalau tidak ada Bian mungkin Bening sudah menangis sekencang-kencangnya.
“Kalau mau nangis yah nangis aja Ning, sama mas mu ini, jujur aku merasa bersalah sama diriku sendiri saat kamu butuh teman untuk bicara aku gak punya banyak waktu untuk menemani kamu. tapi aku tau kamu orang yang kuat, kamu adikku dan aku kenal siapa kamu. jadi kalau kamu mau menangis aku bakalan siap meminjamkan pundak kapanpun kamu butuhkan.”
“Udah gak mau nangis-nangis lagi loh sebenarnya ini, tapi susah. Gak segampang orang bilang harus ikhlas, aku ikhlas mas. aku juga mau kak Adelio tenang di sana tapi yah bukan berarti bisa lupain gitu aja, pakai hati loh ini.” Bian mengulurkan tangannya membatu menghapus air mata adiknya kemudian beralih menepuk bahu dan mengusap kepala adiknya, begitu terus selama perjalanan keduanya sampai di rumah mereka.
“Nih tisu lap ingus kamu sama ini minum dulu,” ujar Bian memberikan satu botol air mineral ukuran sedang yang memang selalu tersedia di mobil tersebut.
“Makasih yah mas.”
“Lega?” tanya Bian pelan.
“Banget,” tutur Bening menutup botol minumannya menyerahkan kembali pada yang punya.
“Lega banget mas, aku pikir aku masih sedih banget, ternyata udah gak sesedih yang aku pikirkan,” cengir Bening mengusap air matanya yang masih mengalir, namun sudah tidak ada emosi yang menggebu-gebu, hanya saja air matanya memang sulit untuk ditahan, dan Bening tidak mempermasalahkan hal itu.
“Baguslah, jangan merasa sendiri, kamu punya aku kalau kamu butuh apapun dan kapanpun.”
***
“Kamu masak apa aja untuk hari ini?” bisik Bian melihat adiknya yang begitu fokus dengan masakannya.
“Ya ampun mas, ngagetin banget tau gak? Hampir copot jantung aku kamu buat!”
“Gak usah lebai aku bertanya pelan Bening, bukan teriak tandanya kamu bengong makanya sampai segitu kagetnya.”
“Gimana gak kaget coba kamu nanyanya tepat di telinga aku mas.” Setelah mengusap dadanya beberapa kali Bening melanjutkan masaknya.
"jadi hari ini kamu masak apa dek?" tanya Abian mengulang pertanyaannya.
“ Masak biasa aja mas. Yah memang agak banyak karena mama datangnya siang ini, ibu bilang tadi malam mereka batalin datang karena mereka udah kemalaman, kecapean juga. Mandi sana gih habis itu temani paman di depan, tadi ibu buat ubi rambat rebus sama teh hangat.”
“Oke, eh tapi ibu mana dek?”
“Tadi ke warung depan beli apa aku juga gak tau,” jawab Bening tanpa menoleh kembali pada abangnya.
“Yah sudah kalau gitu aku mandi dulu, Ning persediaan ayam kampung masih ada kah?”tanya Bian kembali menghampiri adiknya.
“Masih, untuk apa mas?” lagi-lagi Bening menjawab pertanyaan Bian tanpa menoleh pada lak-laki itu fokusnya kini pada masakannya yang hampir selesai.
“Buatin aku opor ayam dong, udah lama gak makan masakan kamu yang itu, kok yah rasanya aku jadi ngiler ingat opor buatan kamu.” Praktis Bening menghentikan kegiatannya. Permintaan tersebut berhasil membuatnya menatap heran pada abangnya.
“Lagi? Aku udah kelar masak loh mas, ini tinggal buat pudding setelah itu selesai, udah gerah banget gak tahan lagi mau mandi. Tadi aku tanyain mau dimasakin apa kamu jawab terserah, masa aku masak dua kali?” kebiasaan dari lama memang Bening dan ibunya selalu masak setelah subuh hari.
“Ntar aku traktir jajan deh, ayolah dek kapan lagi aku minta sesuatu sama kamu? tiga hari lagi aku udah balik. Pingin banget akunya”
“Besok deh yah? Janji aku buatin,” Pinta Bening yang sudah sangat risih ingin segera mandi.
“Hari ini Ning, aku maunya makan itu jangan nolak yah dek.”
“Yah udah iya, kalau gak ingat skin care aku udah nipis gak mau loh aku” Bian hanya tersenyum kemudian mengacak rambut adiknya pelan.
“Mas ih! jangan diberantakin rambutnya nanti masuk makanan jorok tahu,” keluh Bening merapikan rambutnya. Tapi tetap tersenyum diujung kalimatnya.
***
“Udah muter dua kali kami mbak. Aduh, papanya Bayu ini lupa ingat jalan ke sini, udah banyak perubahan juga ternyata yah mbak?” itu suara mama Adelio yang begitu antusias ketika kembali menginjakkan kaki di rumah calon besannya satu itu.
“Syukurlah sudah nyampai, tadi Bian sudah siap-siap mau jemput kalau masih tersesat mbak.” Praktis Bian tersenyum menyalami tamu ibunya.
“Wah makin ganteng kamu Bian, kamu dokter bukan? Mama lupa,” tanya mama mencoba mengingat profesi Abian.
“Iya ma, saya dokter tapi memang tidak bertugas di kota ini.”
“Senang sekali yang nanti menjadi istrimu Bi, sudah ganteng, dokter pula. Oh iya mbak, Bening mana? Kangen banget lho aku.” Mendengar pujian tersebut Abian hanya tersenyum tipis.
“Tadi katanya mandi tapi belum turun, nah itu dia.” Pandangan mama Adelio tertuju pada Bening yang sedang tersenyum ke arah mama Adelio.
“Mama apa kabar? Maaf yah ma Bening jarang main ke rumah mama.” Untuk beberapa saat Bening memeluk mama Adelio, bahkan air matanya kembali mengalir.
“Gak papa sayang mama paham, bagaimana kabar kamu sekarang nak? Mama rindu sekali sama kamu”
“Baik ma alhamdulillah Bening juga rindu sama mama, mama sama papa apa kabar?”
“Mama sama papa baik juga alhamdulillah, papa di depan sama pamanmu, dari dulu beliau selalu tertarik melihat kolam ikan di halaman depan, sama Bayu juga.” Belum sempat Bening menjawab apapun terdengar ucapan salam dari luar rumah.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
“Papa, apa kabar pa?” Bening mengecup tangan laki-laki tua yang memiliki wajah persis seperti Adelio, mungkin seandainya Adelio memiliki umur panjang akan mirip papa ketika tua.
“Mas” sapa Bening saat melihat sosok Bayu yang juga memasuki rumah bersama pamannya, yang hanya dibalas dengan sebuah anggukan dari Bayu.
“Mbak, mas, nak Bayu kita langsung ke belakang aja yok makan siang, kebetulan Bening sudah masak banyak.” Ajak ibu membawa tamu mereka untuk dijamu makan siang.
“Wah kami ngerepotin yah mbak?”
“Enggak, enggak sama sekali, ayuk semuanya kita makan siang,” ajak ibu membawa seluruh tamunya bahkan Bening dan Bian saling tatap melihat raut bahagia ibu.
“Bagaimana nak Bayu? Enak masakannya?” tanya ibu dengan senyum yang tak lepas, bukan hanya bayu memang, ibu menanyakan hal yang sama pada mama, papa dan paman, tapi pada Bayu entah kenapa sedikit berbeda, lagi-lagi Bening dan Bian hanya saling tatap, melihat raut ibu mereka.
“Enak tante, saya suka.”
“Opor ayamnya nambah nak Bayu, Bening sendiri yang masak, kalau dia yang masak apa aja enak.” Bening hanya tersenyum canggung menatap papa dan mama. Jujur Bening sedikit kurang nyaman dengan ibunya yang terkesan membanggakan dirinya, tanpa perlu dibanggakan ia sangat yakin mama dan papa tau kalau dirinya bisa masak.
***
Bening memilih banyak diam dan menjawab seperlunya bila ditanya, terlebih abangnya izin pergi karena mendapat telepon entah dari siapa.
“Jadi begini mbak, sebenarnya kami ke sini karena ada surat yang ditulis oleh mendiang Adelio, meskipun sudah berlalu cukup lama tapi kami merasa perlu untuk menyampaikannya, karena itu selain memang mau bersilaturahmi kami ingin memberikan surat ini pada Bening, kami rasa kamu perlu tau isinya.” Cukup lama Bening terdiam sebelum akhirnya benar-benar menerima surat yang dimanksud mama.
“Dan juga ada satu lagi permintaan beliau.” Mata Bening yang tadi tertuju amplop yang berada ditangannya kembali tertuju pada mama.
“Beliau ingin hubungan ini tetap terjalin, beliau minta kamu tetap menjadi anak mama dengan menikah bersama Bayu.” Baik Bening maupun ibu sama-sama tidak bisa menutupi keterkejutan mereka dengan penuturan mama yang menurutnya tiba-tiba.