Serba Salah

2590 Words
Siapa yang bisa mengira kalau kini Bening harus menjalani hidup dengan kepura-puraan? Benar ternyata kalau dunia hanyalah panggung sandiwara, penuh dengan tipu-tipu. Kini Bening harus dipaksa untuk berbesar hati dengan menerima suaminya memiliki hubungan kembali dengan wanita lain. Rasanya ia ingin memberontak dengan suaminya itu. Ketika berada dekatnya pun laki-laki itu masih berucap manja dengan istri mudanya di balik ponsel, tidakkah laki-laki itu menghargai perasaannya sebentar saja? Dan fokus dengan mereka berdua? Bening pun ingin mendapatkan perlakuan yang sama dari suaminya. Apa gunanya suaminya balik kalau mereka hanya akan sibuk dengan urusan masing-masing? Pandangan Bening teralih pada ponselnya yang berdering menampakkan nama Wahyu pada layarnya hpnya. Seketika bibir Bening melengkung sempurna setengah terbuka, karena Bening bisa mengalihkan rasa bosannya dengan berbicara dengan laki-laki itu, tanpa menunggu lama Bening menerima panggilan tersebut. “Hallo bang ada apa?” “Aku tidak mengganggu akhir pekan mu bersama Bayu kan?” “Makanya nikah bang! biar gak bini orang abang telepon,” seloroh Bening pada lawan bicaranya “Aku tidak tertarik dengan pernikahan Bening, ribet. kalau bisa bebas kenapa harus terikat? Kalau bisa kawin ngapain nikah?” “Itu aja lah terus, nggak pula aku lihat abang gandeng perempuan. ku tengok paling jauh ibu-ibu minta cerainya yang hubungi abang,” balas Bening tak ingin kalah. “Jangan lupa mereka semua adalah salah satu sumber penghasilanku, mereka rata-rata cerai banyak duit sedikit banyaknya kecipratan juga lah awak.” Tanpa diundang senyum Bening terbit begitu saja, moodnya kembali baik mendengar penuturan ngaco dari seniornya dulu. “Jadi cuma mau curhat lah abang nelepon? awak kira ada kabar baik pula dari lamaran kerja awak kemarin.” “Sekalian sebenarnya, jadi kau diminta untuk ke kantor hari ini, bisa?” “Harus hari ini bang?” “Iya dek, bisa kan atau kau lagi sibuk?” “Bukan gitu bang, mertua ki hari ini datang, gak mungkin aku keluar, lagian mana ada wawancara hari libur?” “Ada. Aku lah orangnya, gak ada yang protes, mau kerja kapan.” “Yah itu karena Abang jomblo, udah aku bilang, gak usah nunggu aku.” Bening geli sendiri dengan kepedeannya barusan. “Kau tau pepatah kutunggu jandamu? nah itu lah dia yang aku lakukan sekarang.” Bening menggeleng tak percaya dengan apa yg barusan laki-laki itu katakan. “Gak baik doain orang jadi janda, lagian aku bercanda aja pun, yah udah kalau gitu hari senin aku kekantor yah?” “Sukak kau lah, selagi masih ada aku di sini bebas.” “Makasih loh aku bang, mertua ku pula mau datang, gak mungkin aku gak siap-siap.” “Yah lah, aku matikan lah yah? Senin pagi jangan lupa kalau telat awas kau.” “Iya bang siap.” Meski panggilan sudah berakhir namun senyum Bening belum hilang, bahkan moodnya pun membaik seketika. “Siapa?” tanya Bayu yang entah kapan sudah berdiri di belakangnya. “Ya ampun mas kaget aku,” ucap Bening mengelus dadanya mundur beberapa langkah, karena entah sejak kapan suaminya berada di sana? Dan ketika ia membalik hidung Bening tak sengaja bersentuhan dengan pipi Bayu. “Siapa yang menelepon kamu barusan?” “Bang Wahyu, calon atasanku mas senior aku dulu ketika kuliah.” “Wahyu siapa? Aku kenal?” “Mungkin enggak karena kalian beda angkatan,” jawab Bening sambil mengerjakan pekerjaannya yang tadi tertunda sebelum Wahyu meneleponnya. “Lihat aku kalau aku bicara Bening!” sentak Bayu menarik bahu istrinya. “Sakit mas, kamu kenapa sih? Nggak usah kaya suami cemburuan nggak kamu banget mas.” “Cemburu atau tidak itu urusan aku siapa Wahyu?” “Kan udah aku bilang mas, bang Wahyu itu seniorku ketika kuliah, salah satu pengacara lumayan terkenal, kebetulan firma hukum tempatnya bekerja sedang menerima pengacara baru, dan aku berminat untuk bekerja di sana.” Usai mengatakan hal itu baik Bening dan suaminya sama-sama bungkam. “Tolong buatkan aku opor ayam kampung sama sambal kecap yang dua minggu lalu kamu buat, setelah ini aku langsung ketempat Rina, mama gak jadi kesini katanya beliau ada urusan mendadak.” Setengah terpaksa Bening menganggukkan kepalanya, tanpa membantah sedikitpun Bening keluar dari kamarnya menuju dapurnya berharap stok ayam kampungnya masih ada. “Mas," panggil Bening menghampiri Bayu. “Ada apa Bening?” “Ternyata stok ayam kampungnya sudah habis, kalau kamu gak keberatan temani aku ke pasar, jam segini mang ujang udah lewat. Yang jualan ayam di gang depan gak ada ayam kampung kalau mas tetap mau ayam kampung yah tetap ke pasar.” “Kamu tuh gimana sih? udah tau aku cuma bisa makan ayam kampung kenapa gak kamu stok? Aku udah kepengin banget makan opor ayam buatan kamu, mentang-mentang aku udah nikah lagi kamu merasa udah bebas? lupa sama kewajiban kamu?” Mentang-mentang katanya? ingin sekali bening berteriak di hadapan suaminya tapi ia tahan. “Aku mintanya baik-baik kamu nya ngomel-ngomel, kalau gak mau temenin aku ke pasar gak masalah mas, aku bisa naik ojek. Lagian kamu bisa aja minta buatin sama istri kamu satunya lagi kenapa harus marah-marah sama aku? Aku juga gak tau kalau kamu bakalan balik ke sini.” “Rina itu gak bisa masak kaya kamu, lagian aku nikahin dia bukan untuk memasak.” Praktis Bening tersenyum sumbang. “Secara gak langsung kamu mangatakan statusku tidak ada bedanya dengan pembantu, yang tugasnya nyiapin kebutuhan kamu iya kan mas?” Bening menjeda ucapannya ia tak ingin menangis dihadapan suaminya. “Kalau gitu aku ke pasar dulu, tunggu lah sebentar.” Dengan cepat Bening mengganti dasternya dengan baju yang lebih sopan untuk ketempat umum. “Ning biar aku antar," cegat Bayu menahan Bening. “Gak perlu nanti pamor kamu jatuh kalau ngantar aku ke pasar, lagi pula aku udah biasa melakukan apa-apa sendiri.” Tak ada pembelaan dari Bayu, laki-laki itu hanya diam memperhatikan istri pertamanya berjalan seorang diri benar-benar sendiri, ia sedikit merutuki mulutnya yang selalu kelepasan. Ia akui ia salah tapi ia juga tidak bisa menutupi fakta kalau Rina tak bisa memasak dan iapun tak mengharapkan perempuan itu repot memasak untuk dirinya. Dan juga ia sedikit kesal mendengar pembicaraan Bening dengan Wahyu barusan, apa maksud laki-laki itu bercanda seperti itu pada istrinya? Hampir dua ratus meter berjalan Bening belum menemukan ojek ataupun angkutan umum, terik matahari mulai terasa panas membuat kepalanya berdenyut. “Ojek neng?” Bening merasa menemukan oase di padang pasir mendengar hal tersebut. “Boleh mang, ke pasar Dupa yah?” “Lumayan jauh neng kalau 25000 rupiah berangkat kita.” “Nanti saya bayar tiga kali lipat kalau mamang mau mengantar saya kembali ke sini, bagaimana?” “Siap neng, jangankan tiga kali lipat lima kali lipat pun mamang mau, mari naik neng.” Bening hanya tersenyum kemudian menaiki motor tua tersebut setidaknya ia bisa nyampai ke pasar kemudian kembali kerumahnya dengan selamat. **** “Kamu sudah sampai? Kenapa lama sekali?” “Mas kamu bisa bayarkan ongkos ojek aku dulu? Aku kelupaan ngambil duit tadi.” Bayu mengangguk pelan, kemudian keluar menemui ojek yang dikatakan Bening, membayarkan tagihan sang istri. Sementara Bening, perempuan itu sudah berkutat dengan olahan makanan pesanan suaminya, setelah sebelumnya mengganti pakaiannya dengan daster kembali. Tak sampai satu jam opor ayam kampung serta sambal kecap pesanan suaminya telah terhidang tepat sebelum jam makan siang berakhir. “Sudah masaknya?” tanya Bayu masih lengkap dengan peci, kain sarung serta baju kokohnya “Sudah, kamu bisa makan duluan aku mau solat duhur dulu mas.” “Kalau gitu cepatlah aku tunggu.” Makan siang kali ini hanya diisi keheningan diiringi dentingan sendok dan garpu. “Kalung kamu kemana?” Bening yang merasa kehilangan, meraba area lehernya kemudian melanjutkan makannya seolah tak ada yang penting. “Tadi aku kelupaan bawa duit lebih, aku lupa kalau ayam kampung lebih mahal, karena sudah terpotong tiga ekor tidak mungkin aku hanya bayar dua ekor, aku kasih kalung itu dulu sebagai jaminannya,” jawab Bening tanpa beban. “Maksudnya kamu gadaikan kalung itu? Kenapa harus kalung sih? Itu kan pemberian aku?" tanya Bayu tak terima. “Terus bagaimana dong aku kelupaan bawa duit, ponsel aku juga kelupaan bawa mau menghubungi siapa aku juga gak tau.” Kali ini Bayu tak bodoh, ia paham kalau yang dimaksud istrinya itu ia tidak berguna sebagai suami. “Setelah ini kita tebus!” “Biar aku aja, mereka sudah pulang jam segini besok aku ambil pulang wawancara.” “Yah sudah kalau gitu sebelum wawancara kita tebus.” “Tapi aku besok wawancara pagi mas, takutnya nanti gak terkejar.” Bayu menggeleng pelan, menyudahi makan siangnya, “tunggu aku dan kita tebus bersama atau gak ada wawancara, sekalian aku mau melihat tempat kau bekerja.” “Tapi mas.” “Aku pulang. Besok pagi aku kemari,” ucap Bayu meninggalkan Bening dengan segudang protes di dadanya. Pulang katanya? Lalu dirinya disebut apa kalau istri satunya lagi lah tempat laki-laki itu pulang? Tempat persinggahan? *** “Iya bang sabar lah, abang kiranya beli kopi disini gak antre? Abang lah dulu yang punya biar gak antre!” Dihari pertama kerja ia harus terlambat wawancara dan sebagai gantinya ia harus membelikan laki-laki itu kopi dalam waktu dua puluh menit dan harus di warung kopi yang terkenal sangat banyak pengunjung. Saat yang sama Bening tak sengaja menoleh ke salah satu meja yang membuat matanya memanas dan berharap ia bisa keluar dari sana tanpa berpapasan dengan Bayu dan Rina yang sedang duduk menikmati kopi mereka. “Itu rupanya hal penting kata kamu yah mas,” lirihnya dalam hati. Ketika waktu sudah menunjukkan 9 kurang lima belas menit suaminya baru mengatakan kalau beliau sedang ada urusan penting dan sangat terpaksa Bening harus memutar otak agar sampai tepat waktu untuk wawancaranya. “Terima kasih” ucap Bening ketika mendapati pesanannya kemudian tanpa babibu Bening langsung menuju pintu keluar bahkan desert incarannya tadi pun terlupakan begitu saja. Bukan karena teror dari Wahyu yang menginginkan kopinya, melainkan tatapan Bayu padanya. Ia tak ingin menangis di tempat seperti ini, sekuat tenaga Bening berjalan tanpa memperdulikan panggilan dari belakang memanggil namanya. “Bening sebentar," cegat Bayu berhasil menangkapnya. “Eh mas, kamu disini juga?” “Please gak usah pura-pura gak tau, aku tau kamu juga melihat aku tadi.” “Masa sih mas? Aku gak lihat apa-apa loh soalnya mata aku rada minus, kalau gitu aku duluan yah mas taksi aku udah sampai.” “Aku sudah bilang kan kalau aku mau berkenalan dengan atasanmu?” cegat Bayu menarik tangan Bening. “lain kali saja yah mas, kasian kalau mba Rina sendirian di dalam, aku bisa sendiri kok.” tolak Bening menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya. Melihat mata sang istri yang sudah memerah, Bayu mengangguk pelan, ia tau kalau Bening sedang menghindarinya, meski jauh dalam lubuk hatinya nya ia ingin minta maaf mengenai kejadian tadi pagi, tapi entah kenapa sangat sulit untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf. *** “Lama kali pun ah, mana udah dingin pula." “Kalau gitu ngapa gak pesan online aja?” tukas Bening. “Bah, marah rupanya kau sama aku?” “Bukan marah bang ... baiklah, aku minta maaf” “Ngapa pula kau minta maaf?” “Salah terus dari tadi aku.” “Dia pula yang marah, kenapa memangnya? diganggu nya kau tadi?” Bening menggeleng pelan, dengan kepala tertunduk. “Suka sama mu lah dek, perhatian kali aku sama mu nanti ada yang marah, serba salah aja aku.” “Mending kau masuk aja lah ke ruangan mu dek, pusing aku lihatnya.” “okey.” Blam. Sekuat tenaga Bening membanting pintu tempatnya bekerja secara resmi beberapa jam yang lalu. “Dasar Bening KW,” maki Wahyu kesal sendiri yang tidak tau apa-apa mendapat getahnya. “Kirim lokasi tempat kamu kerja nanti sore aku jemput.” Bukannya segera membalas pesan suaminya ia malah mulai membuka-buka kasus yang akan ia dan wahyu tangani beberapa pekan ke depan. *** “Ya ampun mba jangan ngambek dong, masa dikasih kejutan mukanya bete gitu, niat kita baik loh menyambut mba Bening, iya kan bang Wahyu?” “Jadi ini ulah abang?” tanya Bening dengan muka masam. Bagaimana tidak di hari pertamanya bekerja ia sudah mendapatkan jatah lembur bahkan tidak manusiawi menurutnya. Saat akan pulang laki-laki itu malah memberikan pesan kalau malam itu juga ia harus jumpa klien menggantikan dirinya, tanpa pikir panjang Bening meminta taksi pesanannya merubah arah, yang ternyata ia dikerjai satu kantor. Bukannya memberi jawaban laki-laki itu malah mengangkat slokinya menyesapnya beberapa kali membuat Bening semakin kesal dengan ulah tengil laki-laki tersebut namun ia tak melakukan apa-apa mengingat acara ini adalah khusus untuk menyambut dirinya. Bening cukup menikmati malam penyambutan untuk dirinya saat ini, meski tak seperti teman-temannya yang menyibukkan dirinya dengan bernyanyi atau bermain ponsel ditemani minuman-minuman yang cukup menggugah lidah mereka semua. Meski begitu, sesekali perempuan itu menyesap minuman yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan. Tinggal seorang diri di kota besar dengan beragam manusia yang ia temui secara random membuat sedikit banyak terbiasa dengan minuman dan hal lainnya yang tentunya masih memandang batas norma. Kebiasaan buruk itu berubah saat ia bertemu dengan Adelio, laki-laki dewasa yang banyak merubah kebiasaannya namun sayang hubungan mereka kandas, maut lebih mencintai laki-laki itu. “Bang kayanya mereka pada tepar semua deh,” terang Bening melihat teman-temannya yang sudah pada halu. “Yap, seperti biasa.” “Seperti biasa?” tanya Bening tak mengerti. “Yah, setiap menang kasus, ataupun kalah mereka akan merayakannya.” “Apa kau bisa bantu aku untuk mengangkut mereka semua ke mobil ku?” “iya bang” meski sedikit kesusahan Bening tetap membantu Wahyu memapah rekan kerjanya menuju parkiran, mereka ini benar-benar merepotkan. “Bang, aku naik taksi aja yah bisa pulang pagi kalau abang nganterin aku juga” “Jangan! Ini udah malam aku bisa nganterin kau lebih dulu Ning, kalau merasa kurang nyaman.” “Gak apa bang, taksi ku sudah sampai, semangat yah,” teriak Bening memasuki taksi yang sudah ia pesan sebelumnya. Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan akhirnya Bening sampai juga di rumahnya, dengan kepala sedikit berat, Bening memaksakan dirinya untuk masuk kerumahnya, memangnya di mana lagi ia akan istirahat? “Bagus banget yah, pergi tanpa ijin aku, pulang udah hampir pagi! aku hampir gila nungguin kamu Bening, ponsel kamu juga tidak aktif.” “Mas, kamu masih disini?” satu hal yang dapat Bening tangkap, suaminya murka dan perasaan bersalah bermunculan dalam pikirannya. “Kenapa? kamu gak suka kalau aku di sini begitu?” “Bukan mas, aku Pikir kamu sama mba Rina hari ini, maaf mas aku gak tau kalau kamu di sini, hari ini hari pertama aku bekerja mereka merayakan penyambutan aku mas” “Kamu minum?” tebak Bayu memajukan wajahnya. “Eh? tidak mas,” dusta Bening, kalau seperti ini bohong tidak masalah kan? “Jangan bohong Bening kamu pikir aku gak tau?” “Mereka aja yang minum mas, aku enggak. Mas ini udah malam kita bicara baik-baik di dalam yah.” “Gak perlu, aku akan ke rumah Rina.” “Mas tapi ini udah malam.” “Sudah tau kan kalau ini malam? lalu kenapa kamu masih di luar bersama teman-teman mu? Aku mencari kamu kemana-mana Bening ternyata kamu sedang party lupa kalau udah punya suami? Lupa kalau kamu punya kewajiban meminta izin dari ku kemana pun kau pergi?” “Mas aku bakalan terima kalau mau marah sama aku tapi jangan di luar di dalam aja yah kasih kesempatan untuk aku jelasin dulu.” “Basi, aku udah males.” “Mas, mas aku minta maaf. Kamu dengerin aku dulu.” Tak sekalipun Bayu mengindahkan permintaan Bening, dengan tergesa-gesa Bayu melajukan mobilnya meninggalkan Bening yang kalau tidak menghindar mungkin akan terseret sangking kencangnya Bayu melajukan mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD