Setelah memastikan suaminya meninggalkan pekarangan rumahnya, dengan sempoyongan Bening memasuki rumah, perasaannya campur aduk antar kesal marah dan sedih semua menjadi satu.
Perempuan berambut sebahu itu memijit tengkuk dan keningnya yang terasa berat, disaat yang sama pandangannya tertuju pada satu paper bag kecil berwarna pink keunguan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, tangannya terulur melihat benda yang entah punya siapa, namun ia kembali meletakkan benda tersebut ketempat semula ia ia khawatir kalau itu milik madunya yang mungkin tak sengaja tertinggal oleh suaminya.
Rasa penasaran Bening makin sulit ia hindari toh benda itu ada di dalam rumahnya yang berarti apapun yang ada di dalam rumah itu miliknya.
Satu detik
dua detik
tiga detik
seketika Bening membekap mulutnya melihat isi dari kotak mungil yang ternyata berisi kalung yang ia gadaikan tempo hari, sakit kepalanya kian terasa dengan perasaan tak menentu pada Bayu.
Perasaannya tak karuan kali ini lebih pada khawatir, laki-laki itu sukses mengacak-acak persaannya. “Angkat lah mas ...” pinta Bening memijit tengkuknya yang semakin berat.
“Halo mas kamu ...”
“Maaf mba, Bayu nya di kamar mandi, beliau sedang emosi kalian bertengkar yah?” Bukan suaminya yang mengangkat melainkan madunya.
“Bukan eh tidak, eh maksudnya iya, maaf. Yah sudah yang penting mas Bayu sudah sampai kalau begitu aku tutup yah mba,” tutup Bening sepihak.
Tak ada yang mampu dilakukan Bening saat ini, perempuan itu hanya diam mencerna nasibnya kini, hingga tanpa sadar ia terlelap tanpa membasuh wajah dan mengganti pakaiannya.
***
“Lecek amat wajah kamu Bening sudah seperti setrikaan numpuk,” protes Wahyu mengepak beberapa berkas kliennya.
Bukannya merasa tersindir Bening malah mengacak rambutnya semakin kencang alhasil bukan hanya lecek melainkan kusut masai tak berbentuk.
“Kalau ada masalah di rumah jangan dibawa ke kantor, gak profesional namanya.”
“Bening kau dengar atau tidak?”
“Lho kau menangis dekku?”
Bening menggeleng pelan menghapus air mata nya kasar,“Maaf bang, kepala ku sedang sakit biasanya kalau seperti ini, memang ujung-ujungnya akan menangis,” dusta Bening berusaha tersenyum.
“Yah sudah kalau kau mau istirahat kau boleh pulang, sepertinya efek minum tempo hari masih belum hilang?”
“Mana ada aku minum bang,” tolak Bening.
“Terus siapa lah yang ku tengok perempuan rambut sebahu malam itu? ada rupanya iblis cantik macam kau?” sindir Wahyu tepat sasaran.
Bukanya menjawab Bening menjatuhkan kepalanya ke atas tumpukan berkas calon kliennya.
“Bah! Jangan pula kau basahi kertas-kertas itu. Kalau kau memang sakit pulang aja gak papa.” Belum sempat Bening menjawab, terdengar ketukan pintu dari luar yang membuat Bening kembali merebahkan kepalanya.
“Bang Wahyu, pak Ryan nyariin abang, ku suruh masuk aja?” tanya karyawan Wahyu dari balik pintu.
“Langsung saja,” jawab Wahyu merapikan kemejanya.
“Gak jadinya kau pulang Bening?” tanya Wahyu tanpa menghentikan kegiatannya merapikan kemeja dan dasi yang melingkar di lehernya.
“Bening.”
“Bah! Tidur pula rupanya dia?” Karena tidak ada sahutan apapun dari Bening, Wahyu mengguncang pundak perempuan itu dan benar dugaannya, Bening tertidur.
“Asal gak mati aja kau di sini,” ucap Wahyu asal, sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
_____
“Masih tidur rupanya dia?” lirih Wahyu memperhatikan Bening yang masih dengan posisi yang sama sebelum laki-laki itu keluar dari sana. Padahal ia menemui Ryan sudah hampir tiga jam dan perempuan itu masih betah tidur dengan posisi membungkuk di atas meja kerja, ia yakin ketika perempuan itu bangun dari leher hingga punggungnya akan terasa sangat sakit.
“Malang kali nasib kau dek, ditinggal mati sama Adelio, dimadu pula sama suaminya,” bisik Wahyu memperhatikan Bening dalam tidurnya
“Dibilang jelek cantiknya kau, memang buta mata suami kau itu, entah apa pula yang dilihat dari istri barunya itu cuma karena cinta tega dia sama kau dek, ini lah yang ku sebut bodoh itu.”
“Eugh ...” lenguh Bening memegang pundaknya hendak bangun.
“Ya ampun Astaga.”
“Krak ... Aww sakit,” teriak bening.
Seketika Wahyu memasang tampang horor, benar dugaannya tulang-tulang punggung Bening saling bertautan menimbul kan bunyi yang Wahyu yakin sangat sakit.
“Aduh sakit kali punggung ku gara-gara abang ini,” keluh Bening menyentuh punggungnya, bukannya simpati laki-laki jangkung itu tertawa lepas, baru saja ia memikirkan nasib punggung Bening dan benar saja perempuan itu kesakitan bukan main.
“Lah kenapa aku pula yang kau marahi? enggak aku apa-apain nya kau.”
“Puas, lihat aku kesakitan? Dasar boss nyebelin mampus lah kau bang!”
“Bah ... awak pula yang salah, siapa yang suruh kau tertidur sambil duduk? ronda rupanya kau tadi malam?” tutur Wahyu masih dengan ketawanya.
“Iya bang, ronda aku tiga hari ini biar puas abang.”
“Sama siapa rupanya kau ronda? Kata kau suami mu dia lagi ke luar kota.” Lagi-lagi Wahyu terkekeh melihat raut wajah Bening yang seperti akan siap menerkamnya hidup-hidup.
“Udah lah marah-marah pula! bercanda awak, siap-siap lah sebentar lagi jumpa klien kita, untuk sekarang kau temani aku dulu biar punya pengalaman kau.”
“Dah lah keluar abang dulu mau berberes aku.”
“Diusir pula awak, gak paham lah aku punya bawahan macam kau bening, untung sayang.”
Tak ada respon dari perempuan itu malah dengan sengaja ia membuka satu kancing atasnya. Melihat itu Wahyu malah bergidik ngeri, berlalu meninggalkan Bening seorang diri. Kali ini Bening lah yang tertawa dengan tingkah Wahyu yang seperti orang ketahuan mengintip orang mandi, benar-benar lucu.
***
“Akhirnya sampai juga, pegal kali badanku bang.” keluh Bening keluar dari mobil Wahyu, pertemuan kali ini cukup membuat tenaganya terkuras
“Duduk aja kerjamu pun dari tadi.”
“Iya bang duduk aja kerja ku memang, macam aku pun bosnya kurasa,”sindir nya memijit pelan kakinya yang terasa keram. Laki-laki itu benar-benar membuat sekujur tubuhnya sakit, naik turun tangga entah berapa kali, belum lagi drama-drama nggak penting lainnya.
“Padahal awak lah tadi yang menampung semua keluhan tu nenek sihir, wajar aja suaminya minta pisah lah dianya begitu.” Bening ngedumel pelan mengikuti langkah bosnya satu itu.
“Dia adalah klien kau dan kau wajib hukumnya memberi dia pelayanan yang terbaik.” Bening mundur beberapa langkah ketika jaraknya dengan wahyu hanya beberapa senti, bahkan Bening bisa merasakan deru napas laki-laki itu menerpa kulit wajahnya.
“Kasih ke yang lain aja deh bang, aku kayanya gak sanggup kalau menangani kasus itu, banyak mintanya dia.”
“Kau tenang aja, akan aku dampingi sampai selesai.”
“Tapi bang.”
“Jangan sampai kau kucium dulu biar paham Bening, kau akan ku dampingi!”
“Jangan bang udah ada yang punya aku,” jawab Bening menyatukan kedua tangannya dengan nada bercanda melihat kekesalan dari Wahyu.
Sangking asiknya mereka bercengkrama, tak menyadari sedari tadi Bayu tengah menatap datar dua sejoli tersebut, bahkan laki-laki itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak melabrak keduanya, yang terlihat sangat mesra untuk ukuran bos dan bawahan, dan apa yang laki-laki itu katakan mencium istrinya? Enak saja, Bening miliknya.
Merasa tak ada tanda-tanda kalau istrinya akan menyadari kedatangannya, Bayu memilih berdehem dan benar saja keduanya terdiam menatap dirinya.
“mas,” lirih Bening melihat sosok Bayu. Seketika tubuhnya lemas bukan main, mengingat amarah Bayu padanya tempo hari membuat nyalinya ciut, dan kali ini ia merasa tengah dipergoki berselingkuh dengan Wahyu.
“Hai bro bagaimana keadaanmu? Kata Bening kau ada kerjaan ke luar kota.” Itu suara Wahyu.
“Tidak usah berbasa-basi, urusanmu dengan istriku sudah selesaikan? Kalau begitu ia akan ku bawa, ayo Bening.”
“Iya mas, bang aku pergi yah terima kasih tumpangannya,” jawabnya kikuk. Setelah berpamitan dengan Wahyu Bening masuk ke dalam mobil suaminya.
Selama perjalanan mereka hanya diselimuti keheningan, bahkan Bening merasakan kecanggungan luar biasa.
“Mmm ... mas.”
“Kita akan ke kenduri sepupu aku.” Seperti sudah menebak pertanyaan istrinya, Bayu membalas panggilan istrinya dengan jawaban singkat, tidak ada basa-basi.
“Iya mas.”
“Tapi mas aku tidak membawa baju ganti bahkan aku belum mandi.”
“Semua sudah dipersiapkan mama, kau bisa mandi di rumah mama saja setelah kita sampai.”
“Tapi mas aku ...”
“Apapun itu akan kita bicarakan setelah sampai,” semprot Bayu solah faham isi kepala istrinya.
“Iya mas.”
“Mas, maaf untuk yang ...”
“Apa kamu tidak paham kalau aku sedang tidak ingin membahas apapun?”
Meski sudah sering mendengar mulut pedas suaminya tak membuat hatinya batu, selalu ada yang terluka di dalamnya, Bening memilih diam saja.
Bening benar-benar hanya diam tanpa kata sepanjang perjalanan, air mukanya sudah menunjukkan kesedihan sedari tadi, kalau tidak berada satu atap dengan Bayu, ingin rasanya Bening menumpahkan air matanya, tapi ia tahan, Bening tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan suaminya.
“Kita singgah makan dulu, perjalanan masih jauh, sudah waktunya makan malam.”
Bening hanya mengangguk patuh, entah kemana hilangnya keceriaannya sehari ini bersama Wahyu, seperti biasa Bening menghabiskan makan malamnya dengan porsi sedikit, padahal perutnya sudah sangat lapar, namun ia kehilangan selera makannya.
“Apa kau selalu makan sedikit itu?” tanya Bayu akhirnya, mulutnya sudah sangat gatal ingin mengomentari cara makanan istrinya.
“Ii... iya mas.”
Tak ingin berpanjang lebar Bayu memilih mengangguk saja dan tidak mengatakan apapun lagi. “Kita menginap dua hari di sana, setelah resepsi kita langsung balik.”
“Iya mas.”
“Apa kau tidak punya jawaban lain selain iya?” Kali ini justru Bayu lah yang protes mendengar jawaban Bening yang seperti tak memiliki kosa kata selain iya. Kemana kecerewetan perempuan ini ketika bersama Wahyu tadi?
“Iya mas.”
“Terserah kau saja lah, aku bayar dulu,” pasrah Bayu pada akhirnya.
Usai menghabiskan makan malam, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka mengejar pagi hari karena kenduri akan dilakukan pagi hari hingga petang, lalu akan dilanjutkan dengan akad pernikahan malam hari, sementara resepsi akan dilakukan esok siang hingga menjelang malam hari.
“Mas apa kita bisa menepi sebentar?” pinta Bening menyeka keringatnya yang mulai bercucruan.
“kenapa? kita sedang di dalam toll, nanti saja setelah menemukan rest area.” tak ada jawaban dari Bening, melainkan mencoba menahan rasa mual.
“Mas Bening mohon, kita menepi sejenak.”
“Kau kenapa?”
“Aku mau muntah ough....” jawabnya kesusahan dengan mulut yang sudah penuh
“Tahan sebentar” pinta Bayu mencoba menepi, untung lah kali ini tidak seramai biasanya.
Entah sudah berapa lama Bening mengeluarkan isi perutnya, bahkan air matanya pun sulit untuk berhenti mengalir. bagaimana tidak, di saat dirinya sedang sakitpun laki-laki itu enggan membantunya bahkan Bayu bertahan di dalam mobilnya.
“Apa masih lama?” tanya Bayu akhirnya
Jangankan untuk menjawab, untuk berhenti muntah saja rasanya Bening sangat sulit.
Entah dorongan dari mana Bayu menyentuh pundak Bening membantu memijitnya tengkuk itu lembut, memegang rambut halus bening yang terurai kebawah.
“Minum dulu, sekalian ini handuk bersih, tadi aku sedikit kesulitan mencarinya, maaf kalau terlalu lama.”
“Kau demam?” tanya Bayu menyadari suhu tubuh Bening yang terasa menyengat tangannya ketika menyentuh pipi istrinya.
“Masih ingin muntah?”
Bening kembali menggeleng
“Yah sudah kau masuk lah dulu, pakai selimut ini setelah ini kita mencari rumah sakit.”
“Tidak perlu mas, aku hanya perlu tidur sebentar,” tolak Bening.
“Aku tidak terima penolakan, lebih baik periksa dari pada nanti kau hanya akan merepotkan ku.”
Bening membuang mukanya, meratapi nasibnya yang begitu mengenaskan, dengan entengnya mulut laki-laki itu mengatakan kalau dirinya hanya beban.
“Bening, makan lah dulu, setidaknya kau perlu tenaga untuk bertahan sampai kita tiba di rumah sakit, makanan yang sudah kau makan tadi sudah keluar semua. Ya tuhan panas mu semakin tinggi.” Tiba-tiba Bayu memberikan sepotong roti yang entah laki-laki itu dapat dari mana.
“Maaf mas bening gak punya selera.”
“Sedikit saja, kau harus makan.” paksa Bayu, alhasil Bening memakan roti tersebut pelan-pelan hingga tandas.
***
“Mas kita di mana?” tanya Bening menyadari kalau dirinya bukan lagi di dalam mobil, bukan pula di rumah keluarga Bayu.
“Kita berada di klinik 24 jam, bagaimana keadaanmu masih pusing?”
“Sudah mendingan mas, besok pagi insyaallah sembuh.”
“Kapan terakhir kali kau makan Bening?”
“Maaf mas.”
“Aku bertanya bukan mendengar maaf mu, sejak kapan?”
“Sejak mas pergi malam itu dengan marah, aku tidak selera untuk makan kecuali benar-benar lapar.” secara tidak langsung Bayu lah penyebab istrinya satu itu menjadi sakit.
“Kau harus istirahat, kondisimu sedang tidak fit, setidaknya sampai dokter memutuskan kau bisa kembali melanjutkan perjalanan.”
“Tapi mas.”
“Tidak ada tapi-tapi sebaiknya kau tidur saja.”
“Mas.”
“Apa lagi Bening?”
“Hmm aku lapar mas.”