07. Orang ketiga

1085 Words
Amanda duduk dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di kepala kasur. Ia menoleh ke arah nakas, mengambil ponsel Cia yang sedari tadi mencuri perhatiannya. Tujuannya tidur di sini adalah, ingin mengetahui sesuatu yang harus ia ketahui. Ia menoleh ke samping, Cia sudah terlelap memeluk gulingnya. Lalu, menyalakan ponsel Cia dan melihat notif pesan di atas layar. Kak Revan. Nama itu yang tertera saat ia menyalakan ponsel itu. Ia menggeram. Menggenggam keras ponsel Cia seakan ingin memecahkan ponsel itu. Amanda kembali meletakkan ponsel itu ke atas nakas. Ia sengaja tidak membaca pesan itu. Lalu beranjak turun dari kasur. Meninggalkan Cia yang sudah tertidur. Sesuatu itu sudah ia ketahui. Nanti, ia akan mencari tahu lebih lagi. Cia menyukai pacarnya. Apa yang harus ia lakukan terhadap adik tirinya itu? ----- Revan menghela napasnya. Begitu banyak pesan masuk di ponselnya.Jarinya sangat lelah untuk berkutat dengan ponsel lagi. Pada saat seperti ini, ia menyumpahi Adi yang membagikan nomer-nya dengan sukarela. Mulai dari yang normal, hingga gila. Dari normal dengan menanyakan bagaimana bergabung di OSIS, sampai para ciwi-ciwi dengan terang-terangan bahwa mereka ingin PDKT-an dengannya. Ia memijit pelipisnya. Kalau begini caranya, ia tidak bisa mengerjakan tugas. Ingin mengabaikan semua pesan, tapi siapa tahu, mereka ada yang serius untuk bergabung. Kalau diladenin terus-menerus, sampai besok pun, tidak akan ada habisnya. Hingga satu pesan masuk. Ia menghela napas. Lagi-lagi, sapaan selamat malam tiba di ponselnya. Dengan tangan amat terpaksa, ia membalas pesan itu. "Malam. Ada yang bisa dibantu?" Send. Sudah lelah, Revan mematikan ponselnya. Sebanyak ini, hanya pesan konyol yang masuk ke ponselnya. Tidak, ia tidak bisa lagi membalasnya satu per-satu. Ia lebih baik berkutat dengan bukunya dibanding lebih lama berkutat dengan benda pipih itu. Namun, belum saja ia beranjak dari kasurnya untuk beralih ke meja belajar, ponselnya tiba-tiba berdering sekilas. Ia lagi-lagi menghela napas. Ia lupa mematikan deringnya. Revan tipikal cowok yang tidak bisa mengabaikan kalau ada orang yang mengirimkan pesan padanya. Tidak sopan menurutnya, sudah tahu ada yang chat, tapi tidak diperdulikan. Amanda. Nama itu menjadi salah satu diantara orang-orang yang mengirimkan pesan padanya. Tanpa pikir panjang, ia langsung membukanya dan tak memperdulikan orang-orang tahu kalau ia tengah online. "Lagi ngapain?" Revan langsung membalas pesan itu. "Nggak. Kenapa?" Send. Revan masih menunggu di roomchat Amanda. "Nggak papa. Cuman kangen hehe." Revan membalasnya. "Aku juga." Ia mematikan notif w******p dan meletakkan ponselnya. Jika ia terus-menerus chat-an dengan Amanda. Jamin, tugas Fisika serta Biologi tidak akan selesai malam ini. Tuk tuk tuk Suara ketukan pintu kamar membuat Revan lagi-lagi gagal mengambil tugasnya. Ia menghela napasnya. Entah kenapa dia malam ini. Yang jelas, kenyataan seakan melawan dirinya untuk mengerjakan tugas-tugas itu. "Masuk!" teriak Revan. Pintu terbuka. Terlihat lah seorang wanita paruh baya dengan nampan di kedua tangannya. Wanita itu tersenyum dan melangkah memasuki kamar putranya. Meletakkan nampan itu dan memberikan segelas jus tomat ke hadapan Revan. Revan tersenyum seraya mengambil gelas itu, "Makasih, Ma." Zara--ibunya Revan tersenyum juga. Wanita itu mengusap lembut puncak kepala putranya. Seraya berkata, "Sama-sama." Zara duduk di sofa sebelah meja belajar Revan. Menatapi putranya yang meneguk segelas jus itu hingga tandas. Lalu kembali tersenyum saat Revan menghabiskannya. "Sibuk nggak di sekolah?" tanya Zara. Ia tahu kalau Revan melibatkan diri dengan kegiatan sekolah. Sudah pasti, putranya itu tengah sibuk. Revan mengangguk, "Banget." Zara menatap malang putranya itu saat Revan menampilkan ekspresi lesu. Tangannya terulur untuk mengusap punggung tegap itu seakan menguatkan. Lalu tersenyum dan berdiri dari duduknya. "Mama keluar, ya. Kalo mau minta sesuatu, Mama ada di ruang kerja Papa," ucap Zara yang langsung diangguki patuh oleh Revan. Setelah ibunya keluar, Revan kembali berkutat dengan buku tebalnya. Ia mem-bolak-balik buku-buku itu. Tangannya sudah lihai untuk menuliskan rumus-rumus yang bisa saja membuat Alfa mual di tempat. Namun, tidak bagi Revan. Baginya, rumus ini adalah kunci masa depannya. Malam ini, Revan kebanyakan mengeluh. Lihat saja, ia lagi-lagi menghela napas dan beranjak dari duduknya. Menuju tempat tidurnya dan mengambil ponselnya. Tidak ada balasan dari Amanda. Ia menoleh ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukan waktu gadis itu sudah tertidur. Lalu, ia kembali meletakkan saja ponselnya. Menghiraukan chat-chat yang masuk. Bahkan, ada yang nekat nge-spam dirinya. Ia kembali menuju meja belajarnya. Membuka lagi buku-buku itu. Berusaha untuk melupakan Amanda yang tiba-tiba saja menguasai pikirannya malam ini. ----- Rutinitas wajib sebelum bangun tidur, nge-cek ponsel. Benar saja, baru saja bangun, tangan Cia sudah menjalar ke nakas untuk mengambil ponselnya. Menyalakan ponselnya dan langsung terbangun saat melihat satu nama nongkrong manis di layar ponselnya. "Dibales?!" pekik Cia dengan suara tak santai. Tanpa pikir panjang lagi, ia membuka pesan itu dan langsung tersenyum gembira saat pesannya kemarin malam memang dibalas. Ia tidak halu. Lalu, ia berdeham. Jari-jarinya kembali aktif menari-nari di atas layar pipih itu. "Cia mau gabung. Bisa, Kak?" Send. Cia memeluk ponselnya. Lalu, berlari ke kamar mandi dengan cepat untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Ia tidak ingin membuang-buang waktu. Karena hari ini, ia ingin sekali menghabiskan seharian penuh di sekolah. Asalkan ada Revan Alvaro Pratama. ----- Cia melangkah riang sambil bersenandung pelan menyusuri koridor kelas sepuluh. Suasana hatinya sangat baik sekarang ini. Apalagi, melihat balasan dari kakak kelasnya sebelum ia berangkat ke sekolah. "Bisa. Ke ruang lab hari ini pas jam istirahat." Cia tertawa malu-malu, "Berarti, Cia ketemuan dong?" "Semoga, nggak ada yang minat buat masuk OSIS." Cia tertawa sendiri saat melangkah.Membuat orang di sekitarnya melihat aneh dirinya. Namun, Cia hanya menanggapinya dengan senyum lebar karena suasana baik hatinya. Mila yang berada di depan kelas sedang piket pagi, melihat Cia berjalan dari kejauhan. Tapi, ia melihat raut wajah riang yang gadis itu tampilkan. Ia heran, ada apa dengan temannya? Pagi-pagi sudah seperti mendapat kabar gembira. "Kenapa lo, Ci?" tanya Mila. Cia berhenti di hadapan Mila. Lalu tersenyum menatap temannya itu. "Mila ikut jadi OSIS?" Mila menggeleng, "Nggak. Gue nggak suka ngurus-ngurus. Urusan hidup gue aja masih random." Cia lagi-lagi hanya tersenyum. Membuat Mila aneh sendiri. "Kenapa kok senyum-senyum? Dapat THR?" Cia menggeleng. Lalu berkata, "Cia mau ketemuan sama Kak Revan!" Mila melongo mendengar itu. Apa? Revan? Jadi, temannya ini suka dengan pria misterius itu? "Revan? Dih, serius?" tanya Mila. Cia mengangguk sebagai jawaban, "Kenapa?" "Lo nggak mungkin bisa juga dapetin dia. Lagian, dia nggak ketemuan sama lo. Tapi sama semua orang yang mau ikut tuh program. Juga, yang mau ketemu sama lo itu bukan cuman Kak Revan, tapi ada Kak Adi juga," jelas Mila. Memberikan isyarat kalau Cia mundur saja. Cia merubah ekspresinya, "Kok Mila gitu?" "Ya, emang gitu faktanya. Terus mau gimana?" tanya Mila balik. Cia menatap tajam Mila. Lalu melangkah meninggalkan Mila tanpa mengucapkan apa-apa. Gadis itu mengerjapkan matanya. Apa yang salah dengan yang ia katakan? Terlebih, semua fakta, bukan? "Marah?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu, ia mengangkat kedua bahunya acuh dan kembali melanjutkan aksi menyapunya. Urusan nge-bujuk Cia, belakangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD