Tepat tengah hari, Ibu Kepala Sekolah tiba-tiba saja meng-instruksikan murid-muridnya untuk berkumpul di lapangan upacara. Suasana sangat riuh, karena ada yang berdecak sebal sebab pancaran sinar matahari membuat kulit mereka terasa gosong. Situasi seperti ini sangat mengerikan bagi kaum wanita.
Bahkan ada yang secara terang-terangan dan meneriaki 'skincare mahal, Bu!' , padahal yang meneriaki itu adalah seorang cowok.
Ternyata sebagian besar, cowok memakai skincare, batin Cia.
"Aduhh, panas! Terik banget lagi!" gerutu Mila sambil mengibas-ngibaskan tangan di wajahnya.
Cia terkekeh. Entah kenapa, ia biasa saja berdiri di atas terik matahari. Mungkin karena ia pernah ikut ekskul Paskibra, jadi ia ter-latih untuk tahan berada di bawah sinar matahari cukup lama.
Jangan remehkan Cia. Lemah-lemah gini, dia pernah ikut ekskul anti-mainstream waktu SMP. Ia tidak pernah tertarik untuk mengikuti ekskul yang sejalur dengan kepribadiannya. Seperti paduan suara, atau menari. Lemah gemulai. Karena menurutnya, melawan diri sendiri itu adalah cara yang paling baik untuk merubah diri.
Tapi, ia tidak berubah sama sekali. Nyatanya, ia tetap gadis yang lemah.
Setelah Ibu Kepada Sekolah itu menyelesaikan pidatonya dan turun dari podium. Lalu, Ketos beserta Waketos-nya naik ke podium menggantikan Ibu Kepsek.
Batin Cia, gantengnya!
"Selamat siang, teman-teman semua!" sapa sang Ketos dengan ceria.
Jawaban dari semua siswa/i tidak terlalu terdengar karena banyak yang tidak bersemangat. Sang Ketos yang bernama Adi itu tertawa melihat itu.
"Maaf kan kami yang nyuruh kalian buat ngumpul di tengah hari begini. Singkat saja, kami dari pihak OSIS ingin memberitahukan kepada adik-adik kelas semuanya, bagi siapa yang ingin berminat bergabung dengan intis OSIS, bisa langsung hubungin kakak yang ada di sebelah ini, ya!" jelas Adi tetap dengan nada cerianya.
"Nama kakak ini, Revan Alvaro Pratama. Kalian bisa hubungin dia ke nomer ini. Catat, ya!"
Adi langsung menyebutkan berapa nomer Revan. Banyak para ciwi-ciwi manja mencatat nomer itu. Padahal, mereka sama sekali tidak berminat masuk OSIS. Apalagi bagian inti. Tahu saja bagaimana sibuknya.
Sama saja seperti Cia. Ia sudah siap dengan note ponsel... Ahh, tidak. Langsung ke aplikasi WhatssApp dan menyimpan nomer itu. Betapa bahagianya Cia sekarang ini. Tidak tahu lagi bagaimana ekspresi antusias yang ditampilkan gadis itu.
"Jangan chat macem-macem, ya! Kata Kak Revan, kalo bukan kepentingan sekolah, dia nggak mau balas. So, yang mau chat-an sama Kak Revan, ayo gabung di OSIS SMA Harapan!"
Revan yang ada disebelah Adi mendengus. Ini seperti dirinya dijadikan tumbal. Ia tidak mengerti lagi nanti bagaimana ramainya ponselnya setelah ini. Mungkin, ia akan selalu ganti nomer jika Adi terus-terusan memberikan nomer-nya pada saat kepentingan seperti ini.
Teman s****n, ya, seperti itu.
"Terimakasih atas waktunya. Selamat siang, para cantik dan para ganteng!"
Adi dan Revan turun dari podium yang diikuti semua siswa/i. Semua berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Ada yang berlari dan langsung ke kantin, ada juga yang tergeletak di pinggir lapangan di bawah sejuknya pohon.
Begitulah, panasnya negri ini.
Cia tersenyum gembira melihat roomchat Revan di ponselnya. Namun, tidak ada foto profil cowok itu. Mungkin, jika Revan menyimpan balik nomernya, foto-nya akan muncul.
Tidak, bukan itu yang Cia pikirkan sekarang. Yang terpenting, ia sudah mendapatkan apa yang selama ini ia cari. Tidak sulit ternyata. Bahkan, nomer itu seakan datang sendiri kepadanya. Setelah ini, ia tidak ingin menyia-nyiakan apapun!
-----
Cia menimang-nimang ponselnya sambil menatapi roomchat dirinya bersama Revan. Ia ingin sekali mengirimkan pesan. Namun, ia tidak terlalu banyak mempunya kepercayaan diri untuk melakukan itu.
Memang benar, tindakan tidak semudah mengatakan. Ia sudah memantapkan hatinya untuk nekat saja. Tapi, saat ia ingin melakukannya, rasanya ada sesuatu membuat dirinya menjadi ragu.
Ahhh, Cia frustasi!
"Chat, nggak, ya?" gumamnya sendiri.
Cia menarik napasnya. Ia perlahan mulai mengetik sesuatu dengan sedikit ragu.
"Halo, Kak Revan, ya?"
Cia melihat lagi hasil ketikannya. Ia menggeleng dan menghapusnya. Lalu, kembali mengetik pesan itu.
"Halo, Kak. Aku mau gabung OSIS. Gimana, ya?"
Cia lagi-lagi melihat hasil ketikannya. Namun, ia lagi-lagi menggeleng tidak menyetujui apa yang telah ia ketik, dan menjambak rambutnya sendiri, ia jadi frustasi.
"Aduhh, kenapa jadi sulit begini?" kesalnya. Ia tidak pernah berniat ingin bergabung dengan OSIS. Tapi, ia harus bagaimana? Sedangkan Revan tidak menanggapi pesan di luar kepentingan sekolah. Jadi, ia harus mengirim pesan seperti apa?
Cia harus memikirkannya malam ini juga. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Telat sehari saja, bisa saja Revan sudah diambil orang. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Tidak akan!
"Sapaan dulu aja kali, ya?" gumamnya. Lalu, ia kembali mengetik pesannya.
"Halo, Kak. Selamat malam."
Ia terdiam sejenak. Menatapi icon send yang jarinya sudah siap menekan. Namun, suara pintu terbuka membuat jarinya refleks menekan icon keramat itu. Ia menatap dengan wajah memelas melihat pesan yang ia ketik tadi sudah ter-kirim. Bahkan, sudah centang dua. Tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Yahhh." Cia meratapi nasibnya.
"Cia?"
Cia sontak mengangkat wajahnya dan melihat Amanda berdiri di ambang pintu kamarnya. Gadis ber-piyama navy itu tersenyum dan melangkah menghampiri adiknya.
"Belum tidur?" tanya Amanda.
Cia menggeleng, "Belum. Kakak sendiri, kenapa belum tidur?"
Amanda tidak menjawab dan langsung duduk di pinggir kasur. Lalu, menatap Cia dan memeluknya. Membuat Cia sedikit bingung.
"Kenapa, Kak? Ada masalah, ya?" tanya Cia. Biasanya, Amanda selalu curhat kepadanya jika ada masalah. Begitu pun Cia.
Hubungan mereka terlalu baik walau hanya sekedar adik dan kakak tiri.
Amanda melepaskan pelukannya lalu tersenyum. Seraya berkata, "Kakak tidur di sini, boleh? Kakak nggak bisa tidur."
Mendengar itu, Cia langsung mengangguk antusias. Sudah lama Amanda tidak menginap di kamarnya. Karena waktu pertama orang tua mereka menikah, Amanda dan Cia selalu tidur sekamar. Baru-baru ini, mereka berbeda kamar. Juga karena mereka mempunyai barang yang lumayan banyak. Tidak mungkin satu kamar menampung barang dua orang sekaligus.
"Boleh!" jawab Cia. Amanda terkekeh dan langsung mengambil tempat di bagian kanan. Begitu pun Cia yang juga berbaring di sebelah kakaknya.
Hingga, Cia melupakan sesuatu. Bahwa, ada satu notifikasi pesan masuk dari ponselnya.
Yaitu, dari Revan.