Cia memejamkan matanya. Ia berusaha menoleh ke belakang dengan perlahan, dan terkejut bukan main saat seorang lelaki tampilan bad boy berada di belakangnya. Yang ternyata adalah pelaku membuat jantung Cia hampir lepas.
"Lo ngapain diri disini? Mau bolos?" tanya lelaki itu seakan telah men-ciduk seseorang.
Cia menggeleng cepat, "Nggak! Cia tadi dipanggil sama Bu Lisa ke kantor. Pas Cia mau masuk, Cia denger suara guru lagi marah. Jadi Cia takut buat masuk ke kelas," cicit Cia diperkataan terakhir.
Lalu, lelaki itu menoleh ke arah dalam kelas Cia, kemudian kembali beralih menatap Cia.
"Ini ya, gue kasih tau. Bahwa, guru yang ada di dalam kelas lo itu memang galak. Galaknya mengalahkan kegalakan kak Ros! Apalagi dia akan marah besar jika tahu ada murid yang telat masuk kelas," bisik lelaki itu.
Warna wajah Cia semakin memucat.
Merasa senang dengan perubahan raut wajah Cia, lelaki itu ingin kembali menakuti adik kelasnya itu.
"Dan lo mau tahu apa hukuman buat murid yang telat masuk kelas kayak lo ini?" tanyanya dengan serius. Cia mengangguk cepat sambil menggigit jarinya kuat.
"Di pukul pake rotan!" lanjut lelaki itu dengan suara yang menyeramkan.
Mendengar itu, Cia membulatkan matanya, "Serius?!" tanya Cia tak percaya sekaligus panik. Lelaki itu mengangguk dan bersorak dalam hati.
Lalu Cia beralih menatap kesamping dengan cemas, "Kok di sini gurunya serem-serem sih?!"
Lelaki itu tersenyum kemenangan.
"Kak, bantuin Cia dong," ucap Cia tiba-tiba.
"Bantuin apa?" tanya lelaki itu.
"Bantuin Cia bolos."
Lelaki itu membulatkan matanya tak percaya.
"Serius?" tanya lelaki itu memastikan. Cia mengangguk.
"Buset dah anak zaman sekarang," ucap lelaki itu. Sedetik kemudian, ia tersenyum penuh arti.
"Adik cantik, ikut gue aja ke kantin. Nggak usah bolos, gue lagi nggak mood bolos," ucap lelaki itu dengan lembut.
Cia mengernyit dahi, "Bukannya itu namanya bolos juga, ya?"
Daffa diam. Lalu mengangguk-anggukan kepalanya, "Oiya, ya."
Setelah itu, Daffa mengibaskan tangannya tak peduli, "Ahh, biar aja. Mau ikut nggak?"
Cia langsung mengangguk, "Mau. Lindungin Cia kalo nanti Cia kena marah sama guru ya."
Lelaki itu mengacungkan jempolnya dan langsung menarik pergelangan tangan Cia lalu membawa gadis itu menuju kantin.
Saat mereka sudah sampai dikantin, Cia melihat segerombolan kakak seniornya sedang duduk disalah satu meja kantin.
"Ceilahhhhh, Daffa. Baru juga lewatin kelas junior, udah dapet aja," celutuk salah satu kakak seniornya yang Cia tidak tau namanya.
'Oh, Daffa, ya, namanya?' batin Cia.
"Bukan gila!" jawab Daffa.
Lalu Daffa menoleh ke arah Cia.
"Adik manis, lo duduk dulu di sini. Gue mau pesanin makanan buat lo." Cia mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Daffa.
"Eh lo semua, awas aja lo semua gangguin dia. Gue gampar lo semua," peringat Daffa menyeramkan lalu Daffa beralih menatap Cia.
"Tunggu ya, adik manis." Daffa langsung beranjak pergi dari sana.
Cia menunduk menatap sepatunya. Suasana sekarang ini sangat canggung. Apalagi di depan Cia sekarang kakak-kakak seniornya yang juga jadi panitia saat MOS kemarin.
"Eh lo."
Cia spontan mendongakan wajahnya menatap kakak kelasnya.
"Nama lo siapa?" tanyanya.
"Felicia Aurelia," jawab Cia canggung.
Lelaki itu mengangguk lalu kembali memakan baksonya.
"Lo kenal sama Daffa?" tanya salah satu dari mereka lagi. Cia menggeleng sebagai jawaban.
"Lo nggak kenal tapi mau aja ikut sama dia? Lo nggak takut apa?" balasnya.
"Betul itu. Kalo lo di ajak dia ke hotel, lo mau?" sahut yang lain yang langsung dapat tampolan gratis dari lelaki yang menanyakan nama Cia tadi.
"Kalo mau ngomong kotor, liat sikon dong! Anak orang masih polos!" kesal lelaki itu.
"Santai napa," gerutunya.
Lalu, lelaki yang menanyakan nama Cia tadi kembali menatap Cia.
"Jangan didengerin ya, adik manis. Dia emang suka ngaco," ucap lelaki itu.
Cia mengangguk, "Nggak papa kok, kak."
Mendengar itu, lelaki itu kembali memakan baksonya.
"Oiya, nama Kakak siapa?" tanya Cia memberanikan dirinya.
Lelaki itu mendongakan kepalanya, "Siapa, gue?" tanyanya memastikan. Cia mengangguk.
"Gue Alfa," jawab lelaki yang menanyakan nama Cia tadi.
"Gue Rangga," sahut lelaki yang ditampol Alfa tadi.
"Dia nggak ada nanya lu, nyet," sahut seorang lelaki yang duduknya disebelah kanan Cia.
"Nama kakak juga siapa?" tanya Cia kepada lelaki yang berada di sebelah kanan Cia.
"Gue Bima," jawabnya. Cia mengangguk sebagai jawaban.
Lalu seketika hening. Semua sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Sampai akhirnya, Daffa datang dengan membawa dua mangkuk mie ayam di kedua tangannya.
"Adik manis, nih makan. Ntar gue yang bayar," ucap Daffa dan meletakan kedua mangkuk mie ayam itu dihadapan Cia.
"Gila! Lo nyuruh dia makan sebanyak itu?" ucap Bima tak percaya.
"Gue nitip bentar, mau ambil minum. Tangan gue cuman dua, Bim. Nggak mungkin gue langsung bawa dua mangkuk plus dua es teh. Nggak mungkin kan? Dan nggak mungkin juga mie ayam punya gue, gue bawa lagi kesana buat ngambil minum. Lebih baik ditaroh dulu kan? Gue hanya manusia biasa, Bim!" ucap Daffa dramatis sambil memgguncang kedua bahu Bima saat diperkataan terakhir.
Entah mimpi apa Cia semalam jadi bisa kenal dengan Kakak senior gila seperti ini. Cia bingung.
"Daf! Gue pusing ini!" ucap Bima lebay sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tak sengaja," balas Daffa sambil memegang kepala Bima dengan dramatis.
Lalu Bima menepis tangan Daffa dari kepalanya seperti adegan di sinetron alay biasanya.
"Jangan pegang-pegang gue! Gue mau kita putus, tus, tus, tus" ucap Bima seperti menggema.
Lalu Daffa memegangi kepalanya, "TIDAKKK!!!"
"Semua sudah terlambat, Daffa. Aku sudah tak mencintaimu," ucap Bima dengan nada dibuat-buat. Memberikan kesan menjijikan.
"WOY!"
Seketika, Daffa dan Bima menoleh keasal suara itu. Ternyata suara itu adalah suara Alfa.
Daffa dan Bima menatap kesal.
"Apa?! Lo ganggu kita lagi akting aja!" teriak Daffa alay. Sampai-sampai, mereka menjadi pusat perhatian beberapa siswa di kantin. Untung saja bukan jam istirahat.
"Bukan temen gue."
"Dua deh."
Daffa mengerucutkan bibirnya kesal kepada kedua temannya ini.
"Eh, Daf. Lo kapan ngambil minumnya? Adik manis lo nungguin," celutuk Rangga.
"Oiya, lupa. Gara-gara lo nih, Bim! Tunggu dulu ya adik manis," ucap Daffa lalu beranjak pergi dari sana.
"Lah kok gue?" bingung Bima.
Cia hanya melongo melihat kelakuan kakak seniornya ini.
Cia kira, kakak-kakak seniornya ini sikapnya terkesan dingin seperti cowok-cowok keren biasanya. Ternyata tidak, kelakuannya melebihi penghuni rumah sakit jiwa. Cia merasa nyaman berteman dan berdekatan dengan kakak-kakak seniornya ini.
Cia tidak menyangka, dihari pertama ia masuk sekolah, ia sudah bisa berteman dengan kakak senior yang bisa dibilang famous disekolah ini.
Tak lama dari itu, Daffa datang dengan membawa dua teh es di kedua tangannya. Lalu ia menaruh satu gelas teh es dihadapan Cia.
"Adik manis, silahkan dimakan," ucap Daffa dengan nada dibuat-buat.
Cia tersenyum ke arah Daffa, membuat Daffa membeku seketika saat melihat senyum manis dari Cia.
"Makasih," balas Cia tulus dengan senyuman yang masih terbentuk diwajahnya. Lalu Cia memakan mie ayamnya.
Sedangkan Daffa, dengan ketiga temannya yang lainnya, juga sama-sama melongo saat melihat senyum manis dari Cia.
Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ckck, bidadari ini mah."
Alfa mengangguk setuju, "Iya, kok gue baru nyadar, ya?"
Sedangkan Bima, entahlah, dia hanya diam memperhatikan Cia makan.
Daffa? Sama. Dia hanya diam tidak berkomentar.
Cia yang merasa diperhatikan, ia mengangkat wajahnya menatap ke-empat lelaki yang memang sedang menatap nya secara terang-terangan.
Cia mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Ada yang aneh ya dimukanya Cia?" tanya Cia.
Ke-empat lelaki itu tersadar dari lamunannya dan membuang pandangan mereka dari Cia, membuat Cia bingung sendiri.
"Nggak ada apa-apa kok, adik manis. Lanjutin aja makannya," ucap Daffa. Cia mengangguk dan kembali memakan makanannya.
---
Saat bel istirahat berbunyi, Cia bergegas kembali ke kelasnya untuk menemui Mila dan menjelaskan mengapa ia tidak masuk kelas tadi.
Cia merasa menjadi anak paling bandel disekolah.
Baru saja Cia ingin memasuki kelas, ada empat cewek sedang berdiri diambang pintu seperti menunggu kedatangan Cia. Cia hanya diam menatap keempat gadis dihadapannya itu.
"Baru juga masuk, udah berani bolos aja," ucap salah satu dari ke-empat gadis itu.
Tapi Cia ingat betul, ke-empat gadis didepannya ini adalah gadis yang Cia tanyakan dimana kelas Cia berada.
"Cia nggak bolos," jawab Cia.
Keempat gadis itu hanya terenyum sinis menatap Cia.
Astaga, Cia mencium bau-bau ia akan dibully nantinya.
"Jangan ganggu dia."
Suara itu, baru beberapa menit yang lalu Cia mendengarnya. Cia menoleh kebelakang menoleh keasal suara.
"Lo semua itu baru juga masuk, udah berani bully orang aja," sambungnya, tidak lain dan tidak bukan adalah Daffa.
Ke-empat gadis itu saling tukar pandang dan terlihat cemas. Sedangkan Cia, menampilkan wajah biasa saja, namun dalam hatinya ia bersorak kemenangan.
"Kalian berani nyakitin dia, kalian akan tahu akibatnya," peringat Daffa dengan ancaman, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merinding. Entah kenapa, lucu saja mendengar Daffa bersikap jagoan seperti ini.
Ke-empat gadis itu langsung pergi dari sana dengan wajah ketakutan.
Sifat Daffa yang sekarang dengan yang dikantin tadi sangat jauh berbeda. Dikantin dia sangat riang dan bertingkah konyol, berbeda dengan sekarang, menyeramkan.
Cia membalikan badan seutuhnya menghadap Daffa. Cia kembali tersenyum dan membuat Daffa terpaku melihatnya.
"Makasih lagi ya, kak, udah nolong Cia," ucap Cia.
Daffa membalas senyuman Cia dan tangannya terulur mengacak puncak kepala Cia gemas.
"Iya adik manis," balas Daffa
Cia makin melebarkan senyumannya, "Yaudah, Cia masuk ke kelas Cia dulu, mau nemuin temen Cia."
Daffa mengangguk, "Iya, gue ke sana dulu."
Cia tersenyum dan mengangguk beberapa kali dan melambaikan tangannya.
"Dadahh," ucap Cia riang.
Daffa membalas lambaian tangan Cia, "Dadah."
Lalu Cia masuk ke dalam kelasnya meninggalkan Daffa yang masih diam ditempatnya.
"So cute."