Cia berlari kecil menyusuri koridor kelas sepuluh. Ia sedikit terlambat hari ini, karena tadi pagi ia sempat mendapat ceramah singkat dari ayahnya. Mengingat ia pulang ke rumah larut malam serta tidak masuk saat hari pertama sekolah.
Jujur, ia sedikit gugup sekarang ini. Pikirannya bergentayangan ke mana-mana. Pasal semua orang mendapatkan teman sedangkan dirinya belum ada. Itu membuat hati Cia gelisah.
Ia berdiri di depan kelas X IPA 4, ia menarik napasnya lalu membuangnya kasar. Tanpa ragu dan percaya diri tingkat dewi, ia melangkah masuk dan sukses membuat semua yang ada di dalam terdiam menatapnya.
Cia menggingit bibir bawahnya dan tersenyum kikuk orang-orang yang menatapnya. Lalu kakinya melangkah ke belakang, menuju satu kursi kosong yang ada di pojok belakang kanan.
"Felicia, ya?"
Cia spontan menoleh saat seseorang menyebut namanya. Terlihat gadis berkuncir kuda berdiri di belakangnya. Cia tersenyum canggung dan mengangguk menanggapi pertanyaan gadis itu.
"Lo duduk sama gue," ucap gadis itu. Lalu menunjuk ke arah kursi nomer dua dari depan, "Di sana."
Gadis itu tersenyum dan mengambil lengan Cia lalu menariknya menuju kursi mereka. Cia mengikut saja dan langsung melepaskan tas-nya dan meletakkannya di kursi miliknya.
"Nama gue Mila. Salam kenal!"
Gadis yang bernama Mila itu menjulurkan tangannya dengan riang. Cia menatap uluran tangan itu, lalu tersenyum dan membalas jabatan tangan itu.
"Cia. Salam kenal juga!"
Mereka melepaskan jabatan tangan itu. Lalu, Mila menatap heran ke arah Cia.
"Lo kemarin nggak masuk, kenapa?" tanya Mila akhirnya. Ia sudah penasaran dengan alasan teman sebangkunya itu tidak masuk pada hari pertama sekolah.
"Ada masalah sedikit," jawab Cia dengan ringisan.
Mila mendengus dengan jawaban tidak memuaskan dari Cia. Seraya berkata, "Untung wali kelas kita itu baik. Jadi dia ngasih toleransi buat lo. Kalo nggak, lo bisa aja langsung di keluarin."
Cia hanya tertawa sambil meringis mendengar itu. Benar, ia sangat beruntung sekarang ini. Ia sangat bersyukur kali ini dewi fortuna berpihak padanya. Ia berdoa, semoga saja takdir baik selalu ada padanya saat ia bersekolah di sini.
-----
Cia keluar dari ruangan guru. Ia tadi ia dipanggil Bu Lisa perihal ia tidak masuk kemarin. Untung saja, masalah ini tidak diperpanjang. Itu juga karena wali kelasnya tidak ingin ribet. Benar apa kata Mila, Bu Lisa benar-benar baik.
Saat ia sudah dekat dengan kelasnya. Ia mendengar suara menggelegar dari dalam kelasnya. Ia memelankan langkahnya dan menajamkan inderan pendengarannya.
"Kalian tidak mempunyai otak?!"
Cia membulatkan matanya lebar dan menutup mulutnya dengan tangannya yang menganga. Apa yang terjadi di dalam sana? Dan, bagaimana dengan dirinya? Apa ia harus nekat masuk atau justru berdiam di sini sampai istirahat selesai?
Banyak pikrian negatif berkeluyuran di otaknya. Memikirkan resiko yang mungkin saja terjadi jika ia nekat masuk atau tidak. Karena pikirnya, kedua tindakan itu sama-sama memiliki resikonya.
"Gimana?" panik Cia sendiri.
Cia mengedarkan pandangannya. Siapa tahu ada yang bisa menolongnya. Namun, koridor saat ini sangat sepi. Karena ini adalah jam kelas sudah di mulai.
Ia mengintip sedikit ke dalam kelas, dan melihat semua teman-temannya menunduk takut. Sama sekali tidak ada yang berani mengangkat wajahnya.
Lihat, bagaimana resiko jika ia masuk saat ini? Tidak, tidak. Memikirkannya saja sudah mampu membuat jantungnya berdegup dengan kencang seakan ingin lepas dari habitatnya.
Cia menggigit bibirnya. Otaknya bekerja untuk mencari solusi. Ia tidak bisa berdiam diri di sini. Tempat duduk Cia cukup anti-mainstream. Begitu nampak karena barisan bagian depan. Guru mengerikan yang ada di dalam sana pasti sadar dan menanyakan ke mana siswi itu jadi kursi itu kosong.
"Masuk aja kali, ya?" ucapnya. Lalu ia langsung menggeleng tidak menyetujui apa yang sudah ia ucapkan.
"Nggak, nggak. Cia nggak mau ngambil resiko terlalu jauh," lanjutnya. Ia kembali memikirkan solusi.
"Kalo Cia nggak masuk, makin parah. Kalo aja nanti guru itu nyari Cia karena nggak masuk, gimana?" ucapnya seakan ber-gelut dengan asumsinya sendiri.
Cia lagi-lagi menggeleng tidak menyetujui rencananya itu, "Nggak, nggak. Cia nggak mau di cap jadi anak tukang bolos."
Sedetik kemudian, ia menepuk jidatnya karena tidak bisa memikirkan solusi untuk dirinya. Rasanya, ia ingin menangis kala itu juga. Hanya saja, rasa takut lebih mendominasi sehingga ia tidak ada waktu untuk bersedih.
Sebenarnya, jika dipikirkan, Cia bisa saja masuk karena alasan gadis itu terlambat masuk kelas karena ke ruang guru. Namun, ia terlalu takut untuk memulai. Melihat bagaimana reaksi guru itu saat melihat dirinya baru saja datang.
Sebentar, namun cukup membuat Cia ingin pingsan.
"Cia harus apa?" ucapnya sendiri dengan frustasi.
Ia mengusap wajahnya, dan langsung terpaku saat seseorang memegang pundaknya. Ia melotot, tidak berani menghadap belakang. Takut itu adalah guru yang lebih mengerikan dari guru di dalam kelasnya.
Apa yang harus ia lakukan?