20.00 pm
"Sayang? Gimana Cia? Udah ada kabar?" tanya Maya nada cemas.
Entah sudah ke-berapa kalinya Putra menghubungi ponsel Cia. Namun, gadis itu tidak mengangkatnya. Putra semakin merasa bersalah karena telah membentak putrinya itu tadi pagi.
Putra menggeleng menanggapi pertanyaan cemas yang dilontarkan istrinya itu. Tapi tetap sibuk menelpon kembali putrinya.
Maya mendengus, "Ke mana sih anak itu! Tidak tau orang rumah mengkhawatirkannya."
Maya mondar-mandir di hadapan Putra seakan ikut cemas tentang Cia. Ketahuilah, itu hanya drama-nya saja.
"Aku akan menghubungi polisi." Baru saja Putra ingin menelpon polisi, Maya langsung merebut ponsel suaminya itu. Putra tercengang.
"Apa yang kau lakukan!" heran Putra apa yang telah dilakukan Maya.
Maya mengerjapkan matanya beberapa kali bingung beralasan apa. Lalu berkata, "Bukankah kalau menelpon polisi itu hilangnya sudah 24 jam? Ini belum 24 jam, Putra! Kita tunggu sampai besok, jika Cia belum pulang juga, kita menghubungi polisi," alasan Maya. Putra menghela napas, sedangkan Maya tersenyum miring.
"Baiklah, jika Cia tidak pulang malam ini, aku akan menelpon polisi," ucap Putra.
Maya tersenyum lalu mendekatkan dirinya ke tubuh Putra.
"Kau tau? Aku sangat mencintaimu," ucap Maya lembut.
Putra tersenyum, "Aku juga sangat mencintaimu "
"Ayo kita tidur sekarang. Kau sangat lelah, sayang," ucap Maya yang langsung diangguki oleh Putra.
-----
Cia membuka matanya perlahan dan mengedarkan pandangannya. Sensasi pertama yang ia rasakan adalah, kepalanya terasa sangat pening. Cia berusaha untuk duduk walau kepalanya terasa sangat sakit.
"Cia di mana?" ucap Cia lirih dan mengedarkan pandangannya.
"Siapa yang bawa Cia ke sini?" tanya Cia lagi.
Cia sekarang berada di kamar seseorang yang entah itu kamar siapa. Cia menjadi takut. Ia jadi teringat film yang sering ia tonton tentang kasus penculikan anak dibawah umur lalu menjual organ tubuh anak tersebut.
Ah, Cia berimajinasi terlalu jauh.
Lalu Cia turun dari ranjang untuk melihat keluar kamar.
Ceklek
Cia mengeluarkan kepalanya untuk melihat keadaan diluar. Tidak ada siapa-siapa. Sepi. Lalu, ia memberanikan diri untuk keluar bersama tubuhnya. Berjalan pelan menyusuri rumah itu.
Gelap. Ruangannya sangat gelap. Untung saja Cia tidak phobia dengan gelap.
Ting!
Cia mendengar suara dentingan sendok terjatuh ke lantai. Ia langsung menoleh ke asal suara, dan hanya ruangan itu yang terang. Ia perlahan berjalan ke arah ruangan itu.
"Kamu bisa masak nggak sih?!"
Cia memberhentikan langkahnya karena mendengar suara seseorang. Merasa penasaran, ia melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan tersebut.
Akhirnya Cia sampai di ruangan itu yang ternyata adalah ruang makan. Cia celingak-celinguk dimana asal suara tadi.
"Di mana asal suaranya tadi?" tanyanya pada diri sendiri.
"Sini biar kakak aja yang masak!"
Cia mendengar suara orang itu lagi. Ia melihat ke sebelah kiri yang ternyata ada ruangan lagi. Cia melangkah pelan menuju ke asal suara itu.
Saat Cia sudah dekat dengan ruangan itu, seseorang yang juga keluar dari sana dan akhirnya menabrak tubuh mungilnya.
"Awwwwww!" Cia terduduk di lantai sambil mengusap bokongnya yang terasa perih.
"Astaga, maaf kan aku," ucap orang itu bersalah dan membantu Cia berdiri.
"Kamu baik-baik aja?" tanya orang itu saat Cia sudah berdiri.
Cia mengangguk, "Kamu siapa, ya?" tanyanya. Karena sedari tadi, ia sangat penasaran di mana dan bersama siapa ia sekarang.
Orang itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Cia menatapi uluran tangan itu.
"Kenalin, nama aku Suci," ucapnya memperkenalkan diri.
Dengan ragu Cia membalas uluran tangan orang yang bernama Suci itu.
"Fellicia. Panggil aja Cia," balas Cia kikuk. Lalu mereka melepaskan jabatan tangan mereka.
"Kok Cia bisa ada di sini?" tanya Cia akhirnya.
Suci tertawa pelan, "Iya, jadi, sekitar jam sepuluh pagi itu, aku sama adek aku nemuin kamu di makam. Kamu ketiduran. Jadi ya aku panggil aja warga buat nge gendong kamu untuk bawa kesini," jelas Suci.
Cia mengangguk mengerti lalu tersenyum, "Makasih banyak ya udah ngerepotin. Kalo Suci nggak ada, pasti Cia udah diganggu sama hantu di makam," kekeh Cia berusaha mencairkan suasana.
Suci tertawa mendengar ucapan Cia.
"Kok kamu bisa ketiduran disana? Dan itu makam nya siapa?" tanya Suci.
Seketika, raut wajah Cia berubah menjadi muram. Suci yang merasa ada yang berbeda dari raut wajah Cia, Suci meringis,
"Ma-maaf ya. Pastinya itu makam orang yang kamu sayang, ya?" ucap Suci hati-hati.
"Itu makam Bunda-nya Cia," jawab Cia lirih.
Mendengar jawaban Cia, Suci merasa sangat bersalah.
"Maaf Cia, bukan maksud--" ucapan Suci terpotong.
"Gapapa kok, Suci. Cia nggak papa," sela Cia.
Suci menghela napas lalu mengangguk, "Sekali lagi, maaf, ya."
Cia tersenyum lemah dan mengangguk.
"Astaga!" Cia menepuk pelan jidatnya. Suci mengerutkan kening
"Kenapa?"
"Cia belum ngabarin Ayah. Pasti Ayah Cia khawatir sama Cia," jawab Cia.
"Cia pulang dulu, ya."
"Nggak makan dulu? Aku udah bua--"
Cia langsung menggeleng cepat, "Nggak usah, Cia kenyang. Makasih, ya." Cia langsung memeluk Suci sekilas dan berlari kekamar yang ia tiduri untuk mengambil tas nya.
"Cia pulang dulu. Assalamualaikum, Suci," salam Cia dan langsung berlari keluar untuk menuju mobilnya yang berada di depan gerbang pemakaman.
Cia berlari dengan sekuat tenaganya padahal sedang hujan deras. Ia takut Ayah nya mengkhawatirkannya. Sejak tadi, Cia tidak ada menghubungi Ayahnya.
Akhirnya Cia sampai ke mobilnya dan langsung memasuki mobilnya.
Dan pandangan Cia terkunci ke ponselnya yang tergeletak di dasbor. Cia langsung mengambil ponselnya.
"Astaga, banyak banget Ayah nelpon Cia," ucap Cia. Ia langsung menyalakan mobilnya dan melesat dari sana.
Di sepanjang perjalanan, Cia gelisah. Ia takut Ayahnya mengkhawatirkannya. Ia sangat tidak menyukai orang yang disayangnya cemas karenanya.
Akhirnya Cia sampai di rumah dan langsung membunyikan klaksonnya agar Pak Darma membukakan pagar.
Setelah tiga kali Cia membunyikan klaksonnya, akhirnya Pak Darma membukakan pagarnya dan Cia langsung masuk tapi tak lupa mengucapkan terimakasih ke Pak Darma.
Cia memakirkan mobilnya di bagasi dan langsung turun dari mobil.
Baru saja Cia membuka pintu rumah, Cia sudah di hadapkan dengan Ibu tirinya.
"Dari mana?"
"Maaf, Ibu. Cia ketiduran ditempat temen Cia," jawab Cia.
"Yasudah sana masuk," suruh Maya yang langsung diangguki Cia.
Cia menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya, tapi saat ia ingin membuka knop pintu kamarnya, ia melihat ke pintu kamar Ayahnya yang berada sekitar 15 langkah dari kamarnya. Ia melangkah perlahan.
Cia membuka pintu kamar Ayahnya lalu masuk perlahan. Ia melihat Ayahnya yang tertidur pulas di ranjang. Tidak sadar, air mata Cia berhasil lolos dengan santainya,
"Cia kira Ayah khawatir sama Cia" lirih Cia
"Ternyata Cia salah," lanjutnya. Ia mengusap kasar pipi nya yang basah.
"Malam, Ayah. Mimpi indah. Cia sayang Ayah," ucap Cia sebelum ia beranjak dari sana.
---
Tbc