01. Ayah jahat!

1265 Words
Hari senin, hari dimana Cia memulai sekolah barunya di SMA Harapan. Cia sudah siap dengan seragam putih abu-abu barunya. Tak lupa ia mengambil ponsel serta tas-nya. Cia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia menuju dapur untuk sarapan. Namun, langkahnya memelan saat melihat Ayah, Ibu dan Kakak tirinya sudah duduk di meja makan dan sudah memulai sarapan mereka tanpa menunggu dirinya. Ini sudah sangat sering terjadi. Tetapi, Cia belum bisa menerima dengan sepenuh hati. Setelah Ayahnya menikah dengan wanita yang sekarang menjadi Ibu tiri-nya, Cia sangat jarang makan bersama di meja makan. Ia lebih memilih sarapan di sekolah atau makan di dalam kamar dengan alasan tidak enak badan. Ia menatap miris ke arah keluarga kecil itu. Rasanya, begitu menyesakkan. Hanya saja, Cia tidak tahu lagi cara agar hatinya bisa lega. Karena menurutnya, hal seperti ini tidak lah mudah untuk diatasi. Cia berjalan menghampiri kakak tirinya yang dulu kursi yang diduduki kakak tirinya itu adalah kursi miliknya, dulu. Saat ibunya masih ada. Namun semuanya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi keluarga Cia yang harmonis. Keluarga Cia sekarang ini memang harmonis. Tapi ia tidak ikut serta dalam ke-harmonisan keluarga itu. Hanya Ayah, Ibu dan Kakak tirinya yang harmonis. Harmonis tanpa dirinya. Cia duduk disebelah kakak tirinya. "Eh, Cia. Cie sekolah baru," seru Kakak tiri Cia yang bernama Amanda. Amanda orang yang sangat cantik. Kepribadian gadis itu begitu baik. Sangat cocok dengan wajahnya. Terkadang, Cia merasa iri. Terlihat, Amanda begitu sempurna. Seakan tidak ada celah sedikit pun pada gadis itu. Bahkan, Amanda adalah salah satu murid famous di SMA Garuda. Mengingat betapa cantiknya kakak tirinya itu, sangat wajar jika ia menjadi primadona di sekolahnya. Cia menjadi bangga, mempunyai kakak seperti Amanda yang bisa dibilang paket komplit itu. Cia mengangguk antusias, "Iya dong!" Tangan Amanda terulur untuk mengacak gemas puncak kepala Cia. Seraya berkata, "Belajar yang bener, biar kayak kakak," ucapnya dengan nada bangga diperkataan terakhir. "Emang kakak gimana?" tanya Cia polos. Jujur, walau Amanda sangat baik kepadanya, tapi Cia tetap cemburu. Ia cemburu ayahnya lebih menyayangi kakak tirinya itu, dan Cia cemburu, barang dirinya yang dulu sebagian diberikan ke Amanda. Yang dulu itu haknya Cia, sekarang menjadi hak Amanda. Contohnya sekarang, kursi yang di duduki Amanda. Walau hanya kursi, tapi Cia tetap merasa diasingkan oleh ayah kandungnya sendiri. "Kamu nggak ngerasa? Kakak ini pintar, cerdas, cantik," jawabnya percaya diri. "Cia juga pintar, cerdas, cantik. Ya kan, Yah?" tanya Cia kepada ayahnya alias Putra. "Anak-anak Ayah semuanya pintar, cerdas dan cantik," jawab Putra lembut dan menatap kedua putrinya dengan penuh kasih sayang. "Tapi tetap cantikan Cia. Kan Cia anak Bunda." Seketika hening. Mendengar itu, Putra diam tidak menjawab ucapan Cia. "Cia, bisa nggak usah bawa-bawa orang yang udah tiada? Bunda kamu udah nggak ada! Sekarang, Ibu yang gantiin Bunda kamu!" tegur Ibu tiri Cia alias Maya. Cia berdiri dengan keras sampai meja itu bergerak bergeser karena Cia berdiri. Cia menatap Ibu tirinya itu dengan tajam. "Kok Ibu ngomong gitu sih sama Cia? Bundanya Cia masih ada di samping Cia! Bunda nggak pernah ninggalin Cia! Bunda selalu ada dikala Cia sedih! Walau Cia sama Bunda beda alam. Tapi Cia tetep nganggap Bunda masih ada disamping Cia! Dan satu lagi, tentang Ibu gantiin posisi Bunda, jangan mimpi deh, Cia nggak nganggap lebih Ibu seperti Cia nganggap Bunda! Cia tetep nganggap Ibu itu adalah tante Cia aja, bukan Bunda!" Brak! Cia memberhentikan ucapannya dan menatap keasal suara. Ternyata Ayahnya sudah menatap Cia tajam, "CIA STOP!" Hanya dua kata, namun mampu mengiris hati gadis malang itu. Ayah kandungnya sendiri membentaknya dihadapan yang menurut Cia orang asing. Hati Cia sakit. Penglihatan mata Cia mulai memburam, mata Cia mulai memanas. "Ayah bentak Cia?" tanya Cia dengan suara bergetar. Putra diam tidak menjawab seakan menyesali perbuatannya. Cia sungguh sakit. "Cia salah ngomong ya? Kalo Cia salah, tegur baik-baik, Ayah, jangan bentak Cia," ucap Cia pelan. Dadanya terasa sesak, napasnya tercekat. "Cia takut Ayah bentak," lanjut Cia bersamaan air matanya mulai mengalir. Lalu, Cia langsung pergi dari sana dengan air mata yang suda deras mengalir. Cia benar-benar tidak percaya, Ayah kandungnya sendiri membela orang lain. Cia cemburu. Cia keluar dari rumah dan langsung memasuki mobilnya. Cia menarik napas dalam-dalam lalu memgeluarkannya pelan untuk menahan air matanya agar tidak jatuh lagi. Cia tidak mau, hari pertamanya masuk sekolah matanya sembab. Ia ingin hari pertamanya sekolah ia ceria. Sebenarnya Cia ingin minta diantar oleh Ayahnya. Karena sejak kematian Bundanya, Ayahnya lebih memilih mengantarkan Amanda kesekolah dibanding mengantar Cia kesekolah. Padahal dulu Cia tidak mempunyai alat transportasi. Jika tidak diantar, Cia menaiki kendaraan umum. Sangat jahat bukan? Memilih mengantarkan anak orang lain dibanding mengantar anak kandungnya sendiri. Padahal bisa saja Cia ikut Ayahnya satu mobil dengan Amanda. Tapi Ayahnya melarang, dengan alasan telat masuk kantor. Karena Cia dan Amanda berbeda sekolah, jadi terlalu memakan banyak waktu jika mengantarkan Cia juga. Dan lebih Cia sakit hati, sekolah Amanda dan kantor ayahnya berlawanan arah. Sedangkan sekolah dirinya dan kantor ayahnya searah. Segitu besarnya kah sayang Ayah kandung Cia dengan anak tiri Ayahnya? Saat Cia disuruh menaiki angkutan umum, Cia dikasih uang jajan lebih oleh Putra. Tapi ia sama sekali tidak membutuhkan itu, malah Cia merasa ia seperti anak tidak dianggap oleh Ayah kandungnya sendiri. Ia hanya ingin diantar oleh Ayah kesayangannya bukan supir angkot. Apa begitu sulit keinginan Cia untuk dipenuhi? Keinginan untuk diantar seoarang Ayah kesekolah? Kurasa tidak. Cia menyalakan mesin mobilnya dan langsung melesat dari sana. Cia menganggap rumahnya sendiri seperti neraka. Disana, kepala Cia selalu panas jika melihat kedua orang asing itu bermanja-manja dengan Ayah kandungnya. Cia terkadang kesal dan yang pastinya cemburu. Tapi ia berusaha menampilkan wajah biasa saja. Cia memang seperti itu, menampilkan senyum manisnya walau hatinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Cia termasuk orang yang sangat pandai menyembunyikan sesuatu yang menurut Cia sangat pedih dihati Cia. Cia tipe orang yang tidak terlalu meumbar kekesalan dihatinya, ia selalu memendamnya. Menangis. Hanya itu yang bisa Cia lakukan agar hatinya terasa lega. Tapi Cia tidak melakukan hal memalukan itu dihadapan orang-orang. Ia tidak ingin disangka lemah. Cia melakukan itu dihadapan Bundanya, dimana Bundanya memeluknya erat dikala Cia menumpahkan kekesalan dihatinya lewat menangis. Cia rindu Bundanya. Cia sangat rindu. Jika ada yang mengetahui kalau Cia sering menangis, mungkin orang itu akan menyebut Cia munafik. Cia akui, ia sangat munafik, didepan ia terlihat ceria. Terkadang, orang-orang iri melihat Cia yang selalu ceria seperti tidak ada beban hidup. Sedangkan dibelakang, tanpa orang ketahui, ia menangis. Menumpahkan semua keluhan dihatinya. Dan hanya Tuhan dan Bundanya yang melihat itu. Sekarang? Cia tidak tau harus kemana ia menangis. Cia harus memendamnya sendiri. Walau terkadang rasanya sesak didalam d**a jika tidak dikeluarkan. Ketahuilah, orang yang terlihat ceria itu sebenarnya lebih banyak masalah dibanding orang yang diam. Karena dengan itu, ia bisa menyembunyikan masalah dihatinya agar tidak membuat khawatir orang disekitarnya. Cia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia menuju tempat peristirahatan terakhir Bundanya. Ia tidak peduli kalau hari ini hari pertama ia masuk sekolah. Ia hanya ingin mengadu ke Bundanya. Mengadu tentang kejadian hari ini. Cia turun dari mobilnya saat sudah sampai ke makam Bundanya. Sepatu putih Cia berganti menjadi warna cokelat muda karena terkena tanah liat. Cuaca sekarang lagi gerimis. Mendung, seperti hati Cia. Cia jongkok disebelah makam Bundanya. Ia mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Bundanya. "Assalamualaikum, Bunda. Cia datang," ucap Cia dengan suara bergetar. Cia menahan isakannya, "Cia mau curhat, Bunda," lanjutnya lagi. "Cia harap, Bunda denger Cia, ya?" Cia menjeda ucapannya sejenak dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan. "Cia cemburu, Bunda." Air mata Cia mulai berjatuhan di pipinya. "Ayah lebih sayang sama kak Amanda daripada Cia," ucap Cia lagi dengan suara putus asa. "Cia cemburu, Bunda. Cia cemburu." Cia menangis disertakan isakannya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa menangis dibawah guyuran hujan deras. "Cia kangen, Bunda," ucapnya pelan sambil memeluk nisan Bundanya. Cia terisak hebat. Kakinya terasa sangat lemah, ditambah dinginnya hujan. Tak sadar, Cia tertidur dengan posisi duduk dan memeluk nisan ibunya. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD