Prolog

158 Words
Cia menyusuri koridor sekolah dengan hati gembira. Dengan paperbag yang menggantung di genggamannya, serta buku fisika 600 halaman berada di pelukannya. Langkahnya terhenti saat melihat lelaki yang selama ini menguasai hati dan pikirannya, berada tak jauh dari ia berdiri sekarang. Ia tersenyum lebar. Menatap cowok itu dari kejauhan saja, sudah cukup membuat hati gadis itu tenang. Cinta memang buta. Hingga dirinya lupa, bahwa cowok di depan sana yang tengah menunggu dirinya, mungkin saja tidak dapat ia miliki. Karena faktanya, orang lebih dulu mendapatkan hatinya. Bahkan, orang itu adalah orang yang sangat dekat dengan dirinya. Bagaimana nanti akhirnya? Kemungkinan besar, ia harus mundur. Atau justru, takdir mempunyai skenario terbaik untuk dirinya? Mengingat selama ini hanya rentetan kepahitan yang menghampiri hidupnya. Terkadang, ia ingin bersikap egois. Untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Karena menurutnya, ia bisa saja menggapai semua apa yang ia mau jika ia bisa menampilkan sedikit sifat egosinya. Bisakah? Mengingat hal seperti itu begitu mustahil untuk ia lakukan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD