20.00 malam -Ruang Makan- Terpaksa. Hanya kata itu yang dapat di deskripsikan perasaan Cia sekarang. Terpaksa harus makan malam bersama. "Bagaimana sekolah kamu, Cia?" tanya Putra di sela keheningan. Cia mengangkat wajahnya malas. Entah mengapa, sejak kejadian Ayahnya membentaknya, ia merasa jarak di antara ia dan Ayahnya semakin menjauh. "Baik," jawab Cia seadanya. "Berbicaralah dengan sopan, Cia. Ibu tidak pernah mengajarkanmu seperti itu," sahut Maya tiba-tiba. Cia menghela napas. Ia sangat malas untuk berdebat lagi dengan Ibu tirinya. "Iya. Maaf, Ayah." Putra mengangguk, "Iya, sayang." Setelah itu, terjadi keheningan kembali. Hanya suara dentingan sendok garpu mengenai piring yang mengisi suara di ruang makan besar itu. Sekitar sepuluh menit kemudian, Cia telah menghab

