Cia terbangun dari tidurnya saat suara petir begitu keras menusuk indera pendengarnya. Ia bangun lalu melirik ke arah jam dinding yang berada di samping kanannya. "Pukul tiga pagi," gumamnya lalu kembali merebahkan dirinya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berdekorasikan bulan dan bintang. Ia menghela napas. Seketika, terlintas di otaknya wajah Bundanya yang cantik. Cia tersenyum jika mengingat momen bahagianya sebelum Bundanya meninggalkannya. Momen di mana Ayahnya masih menyayanginya. Keluarga kecil yang bahagia. Tidak sadar, buliran bening dari matanya berjatuhan. "Cia kangen banget sama Bunda," lirih Cia. "Cia nggak tau, kapan Cia bakal bahagia lagi," lanjutnya yang ternyata sudah terisak. Cia mengusap kedua matanya yang basah. Ia mengambil ponselnya yang berada di a

