Cia berjalan menuju rumahnya saat Revan baru saja mengantarkannya pulang. Sebenarnya, jam masih menunjukan jam sembilan malam. Mengingat ia sudah berjanji kepada Ayahnya untuk tidak pulang terlalu larut. Ia tidak ingin kepercayaan Ayahnya kepadanya rusak hanya karena telat pulang ke rumah. Saat Cia ingin membuka pintu, seseorang lebih dulu membuka pintu itu dari dalam, membuat Cia refleks mundur terkejut. "Dari mana?" Cia mengernyit dahi karena bingung. Tapi, ia berusaha membuang ekspresi bingungnya itu. "Jalan-jalan sama temen, Kak." Dia Amanda. "Siapa teman kamu? Kok nggak bilang Kakak?" Memang biasanya, jika Cia ingin kemana-mana bersama teman-temannya, ia selalu memberi tau dan melapor kepada wanita yang sekarang ini berstattus menjadi Kakak tirinya. Tapi, haruskah Cia mel

