TBB 13 Hari Ketiga

1036 Words
Sampai pagi, Austin belum bisa memejamkan matanya. Ada tanda kelelahan di kedua manik milik Austin yang tidak dapat ditutupi. Ia melihat kembali rekaman di mana Davian Black sedang bertemu dengan beberapa orang yang menurutnya mencurigakan. Sudah sejak lama Austin curiga kalau beberapa hal yang hampir mencelakainya disebabkan oleh Davian. Austin hanya memerlukan bukti yang dapat mengungkap kalau tersangkanya berasal dari kelurga yang berpikir kalau keberadaan Curtis adalah sebuah masalah. Para keluarga kaya memiliki intriknya sendiri. Sama halnya dengan hubungan Curtis dan Black. Sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu selalu menjaga jarak. Publik kebanyakan pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya mereka seperti air dengan minyak yang saling berdampingan tanpa bisa bersatu. Di sebuah café kelas atas, Davian terlihat serius dengan dua orang pria. Entah apa yang sedang mereka rencanakan, dan itu terjadi sehari sebelum Austin dan Pablo dikejar oleh dua mobil asing beberapa waktu yang lalu. Meski sudah sangat lama, Austin tetap harus mencari tahu. Penyelidikan ini sangat lambat karena ada banyak hal yang harus Austin selesaikan. Pekerjaannya lebih utama tapi nyawanya pantas untuk dipertahankan juga. Austin menghela napas. Merenggangkan tubuh ternyata tidak mampu mengurangi rasa lelah yang mendera tubuhnya. Austin menutup laptopnya dan beranjak ke ranjangnya. Tidak membutuhkan waktu lama ia pun tertidur tanpa bermimpi. Ketika ia bangun hari sudah sangat siang. Mungkin sudah tiba waktu makan siang. Masih dengan penampilan bangun tidurnya, Austin menuju ke ruangan di mana Allynna bekerja. Austin tersenyum ketika melihat gadis itu begitu serius dengan pekerjaannya. Allynna mengikat rambutnya menjadi satu. Kaos merahnya sangat sederhana dengan penutup kain agar cat tidak mengotori baju dan celana pendeknya. Tangan kanannya memegang palet dan ia menggunakan tangan kiri untuk menggoreskan kuas ke canvas. Ia baru melihat sekali ini kalau Allynna kidal. Allynna bisa menggunakan tangan kirinya dengan begitu terampil dalam melukis. Austin mengerti jika Allynna memiliki bakat yang luar biasa. “Hai, baru bangun?” Allynna menyapa Austin. “Pagi. Aku baru bangun.” Jawab Austin. Allynna seperti tidak setuju, “Ini sudah siang. Matahari sudah bersinar sangat terang.” Tambah Allynna. “Iya, kau benar.” Austin duduk di sofa dan bermalas-malasan di sana tanpa berkata-kata. Pipi Austin menempel pada sofa dan melihat ke arah Allynna yang sedang melukis. Karena media canvas yang besar, Austin tidak bisa melihat tubuh Allynna. Hanya wajahnya yang terlihat karena sebenarnya tinggi Allynna mencapai 176 cm. Allynna mungkin bisa lolos jika dia mendaftar sebagai model. Sangat tinggi untuk ukuran wanita dan tubuhnya juga proporsional. Sebenarnya Austin bertanya-tanya pada dirinya kenapa dirinya begitu tertarik kepada Allynna. Apa hanya karena dirinya terobsesi dengan bentuk kaki Allynna yang indah? Akan tetapi wajah Allynna sangat imut dan cantik, seperti peri. Diam-diam Austin tersenyum geli dengan pemikirannya. Allynna tentu saja tidak tahu apa yang dilakukan oleh Austin di depannya, karena lukisannya lebih menarik daripada memperhatikan Austin yang sering membantunya. Allynna takut kalau hatinya akan menjadi tidak baik kalau terlalu mengamati Austin dengan sepenuh hati. Ia masih ingin menganggap Austin sebagai penolongnya. Austin ingat beberapa waktu yang lalu Allynna menggedor-gedor kamarnya sangat keras. Tidak hanya membuat keributan Allynna berulang kali menekan bel yang ada di dekat pintu. Austin yang baru saja ingin memejamkan mata menjadi sangat kesal. Sudah pukul satu malam dan masih ada orang gila yang dengan kurang ajarnya mengganggu. Dikarenakan sudah sangat jengkel, Austin pun langsung membuka pintu dan berniat marah-marah. Belum sempat mengeluarkan sepatah kata pun, wanita asing yang ia kenal sebagai Allynna langsung menerjangnya. Sebuah ciuman mendarat sempurna di bibir Austin. Pria berusia 28 tahun itu hanya terpaku dengan sensasi lembut yang tiba-tiba dirasakan oleh bibirnya. Aroma alkohol mendominasi, Allynna dalam keadaan mabuk dan langsung memeluknya setelah melumat bibirnya beberapa menit. Austin membatalkan niatnya untuk marah-marah, karena ia sendiri melupakan tentang kemarahan itu. “Kau tampan.” Allynna terkekeh setelah membuat Austin terdiam lalu melewatinya dan mendaratkan tubuhnya ke kasur Austin tanpa peduli kalau pemiliknya sama sekali belum mempersilakan Allynna masuk. Austin tertawa tanpa suara kalau mengingat-ingat kejadian malam itu. Ternyata Allynna merasakan sesuatu, dan tampak Austin yang sedang melamun sambil tertawa. “Austin.” Allynna menghentikan kegiatannya. “Ya?” Austin kembali ke raut normalnya dengan dipaksakan. “Apa yang kau tertawakan?” “Tidak ada.” Jawab Austin. “Apa sudah ada lukisanmu yang selesai?” Austin mengalihkan pembicaraan. “Aku baru memulai.” “Ayo makan siang, aku sudah lapar. Aku melewatkan sarapan dan hari ini aku ingin jalan-jalan.” Austin membuat rencana. Ini sudah hari ketiga rumahnya dihuni oleh Allynna. “Oke. Aku akan merapikan ini dulu.” “Aku tunggu di bawah.” Austin kembali ke kamarnya untuk mandi terlebih dahulu sebelum makan siang. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi. Allynna sedang duduk dan makanan sedang dihidangkan. Austin terlihat segar dan rapi dengan baju santainya. Allynna tadi menyempatkan diri untuk menyisir rambutnya dan mencuci muka. Tangannya memiliki noda cat dan perlu dibersihkan sebelum makan bersama dengan Austin. Allynna tidak tahu kalau pria itu menyempatkan untuk mandi terlebih dahulu. Austin dan Allynna memulai makan siang mereka tanpa suara. Pipi Allynna bersemu merah. Makan bersama dengan Austin memang sudah sering ia lakukan, tapi semakin diamati Austin memiliki penampilan yang tidak biasa. Membuat Allynna kesulitan menjaga dirinya untuk terus memuji dalam hati. Seperti biasa, Austin menyelesaikan makanannya lebih dulu. Ia menatap ke arah Allynna yang masih mengunyah menu makan siangnya dengan santai. Austin sedang berpikir bagaimana caranya agar Allynna tidak menjaga jarak dengan dirinya. Akan sangat bagus sekali jika Allynna sama konyolnya saat pertama kali mereka bertemu. Austin yakin sekali jika Allynna melupakan dirinya. Gadis pemalu itu pasti akan menyembunyikan seluruh tubuhnya andai dia tahu apa yang sudah ia lakukan kepada Austin. Austin pun tidak akan lupa soal itu, karena hal itu Austin Curtis langsung mengambil cuti untuk mengulangi kebersamaan mereka yang hanya sebentar itu. Allynna membalas tatapan Austin, dalam gerakan mata Austin dapat mengetahui jika Allynna sedang menanyakan mengapa Austin melihatnya seperti itu. “Tidak. Aku sedang berpikir soal pekerjaanku. Kau pasti tahu saat seseorang yang tidak pernah mengambil cutinya lalu tiba-tiba meliburkan diri. Aku seperti tidak biasa menjadi pengangguran. Meskipun akan ada banyak kegiatan bersenang-senang yang bisa kulakukan bersamamu.” Allynna tidak bisa membalas perkataan Austin. Kenapa mendengar Austin ingin melakukan kegiatan bersama membuat Allynna merasa kalau Austin sangat romantis. Pasti ada yang tidak benar dengan pikirannya. Bersama dengan Austin membuat Allynna mengkhayalkan sesuatu yang manis dan romantis.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD