TBB 12 Kucing Yang Tersesat

1116 Words
“Kau kerja di mana?” Allynna bertanya. “Curtis Hotel.” Austin tidak memberitahu Allynna kalau dialah pemilik hotel itu. “Pantas kau terlihat kaya. Pasti gajimu banyak sekali.” Ada yang mengatakan kalau di sana para karyawannya memiliki tingkat kesejahteraan yang baik. “Lumayan. Selain itu aku sudah bekerja lama di sana, sejak aku lulus kuliah.” “Tidak ingin pindah?” “Tidak. Aku nyaman di sana.” Jawab Austin yakin. “Aku akan bersungguh-sungguh mengerjakan project melukisku, agar kau tidak malu.” Allynna tersenyum. “Kau hanya perlu bekerja sesuai dengan kemampuanmu. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik. Tapi aku yakin kau itu sebenarnya sangat berbakat.” “Banyak orang mengatakan hal serupa. Tapi aku merasa kalau apa yang aku lukis masih biasa-biasa saja.” Allynna merendah. Allynna tidak suka diberi pujian, karena baginya dia belum bisa dikatakan profesional. “Kita memang tidak akan pernah puas dengan pencapaian diri kita. Akan tetapi ada orang lain yang bisa lebih selektif dalam menilai.” “Iya, benar.” Austin dan Allynna tidak banyak berbicara lagi, karena mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Sesekali Austin mengintip ke arah Allynna yang sedang makan. Sejak malam itu, Austin hanya ingin berdekatan dengan gadis di depannya. *** Makanan penutup sudah dihidangkan. Kini hanya tersisa gelas anggur di meja Allynna dan Austin. Angin malam yang sedikit dingin membuat Austin menanggalkan jaketnya dan diberikan kepada Allynna. Awalnya gadis itu menolak, tapi Austin bukan tipe pria yang akan menerima sebuah penolakan. Akhirnya Allynna mengalah. Waktu terus merangkak tapi tempat itu masih terdapat orang-orang yang sedang mengobrol. Satu dua pasangan sudah pulang, tapi yang merasa nyaman lebih memilih mengobrol dan memesan beberapa makanan lagi sebagai cemilan. “Aku masih penasaran mengenai alasan kau diusir dari rumah.” Austin meminum anggurnya seteguk lalu meletakkannya di meja, tepat di depannya. Allynna mendongak dan menemukan kedua manik Austin yang melihatnya intens. Ditatap seperti itu malah membuat Allynna gugup. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu oleh pria. Dulu Allynna pernah memiliki kekasih, tapi hanya dalam waktu yang sangat pendek. Alasannya karena ada Belinda yang akan membuat semuanya berantakan. Adik tirinya itu tidak pernah rela jika Allynna merasa bahagia walau hanya sedikit saja. “Hmn … karena kesalahpahaman dan aku tidak tidak bisa meluruskannya. Lalu aku diusir.” “Tentang?” Austin tampak tertarik. “Aku susah mengatakannya secara detail. Intinya dalam sebuah hubungan kekeluargaan yang namanya keterbukaan dan kepercayaan itu sangatlah penting.” Austin mengangguk, “Ya, itu memang benar.” Allynna merapatkan jaket milik Austin yang melekat di tubuhnya. Aroma parfum Austin begitu tajam masuk ke hidung Allynna. Aromanya enak dan membuat Ally ingin menciumi jaket milik Austin, tapi tidak ia lakukan. “Mengapa kau mau menolongku?” Allynna menanyakan hal random kepada Austin. “Ketika melihatmu aku seperti melihat kucing yang tersesat.” Austin tersenyum, sepenuhnya kalimat yang diucapkan oleh Austin adalah kebohongan. Bagi Austin Allynna lebih dari sekadar kucing yang tersesat. Sejenak wanita di depannya mampu membuatnya kehilangan arah. “Kau jahat sekali menyamakan aku seperti kucing yang tersesat.” Allynna menggerutu dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Sepertinya Allynna mengerti jika Austin bercanda kepadanya. “Aku butuh teman. Aku anak tunggal dan aku ingin memiliki perasaan saling berbagi. Ketika aku menemukanmu aku ingin … berbagi.” Austin melakukan improvisasi dengan kalimatnya. “Aku juga anak tunggal sebelum adik tiriku hadir.” “Apa adik tirimu begitu menyebalkan?” Austin mengajukan pertanyaan, walau sebenarnya secara garis besar ia tahu apa yang sedang dialami oleh Allynna. Ando sudah berhasil mencari tahu tentang riwayat hidup gadis bernama Allynna Quinn. “Sangat menyebalkan. Akan tetapi aku tidak mempedulikannya.” Ally berkata sembarangan, ia sebenarnya sudah sangat jengkel dengan adik tirinya yang kurang ajar itu. Austin meneguk anggurnya lagi hingga tandas. Allynna memiliki toleransi yang rendah dengan alkohol, jadi ia hanya meminumnya sedikit. Ia sudah kapok mabuk. Allynna masih bisa mengingat bagaimana rasanya pusing dan sakit di tubuhnya sehabis mengkonsumsi minuman beralkohol. “Ayo pulang. Sudah malam.” Austin berdiri dan meninggalkan restoran itu dengan Allynna yang berjalan di sampingnya. Austin memilih tempat makan yang menjunjung tinggi privasi pengunjungnya. Semua yang ada di sana dan menjadi pelanggan restoran apung ini adalah para orang kaya di negaranya. Penjagaan yang begitu ketat hingga membuat para pemburu berita segan untuk memburu informasi di tempat itu. Austin membutuhkan keamanan meskipun harus membayar sangat mahal untuk mendapatkannya. Sesampainya di rumah, Allynna langsung beristirahat di kamarnya. Austin tidak bisa tidur karena dirinya tidak terbiasa untuk tidur lebih awal jika tidak dalam keadaan yang benar-benar lelah. Austin berada di ruang kerjanya sedang mengerjakan beberapa pekerjaan ringan sebelum tidur. Ketika Allynna dan Austin pergi tadi, Ando dibantu oleh beberapa orang sudah menata tempat kerja Allynna. Kanvas berbagai ukuran sudah ada di kamar dengan cat warna-warni yang berukuran lumayan besar. Aneka kuas sudah tersedia. Barang-barang yang tidak terpakai sudah sepenuhnya dikeluarkan. Kamar itu sudah disulap menjadi studio kecil untuk melukis. Hari ketiga Allynna merasa sudah terbiasa dengan pengaturan-pengaturan di rumah Austin. Mengenai kapan jam makan pagi, siang, dan malam. Ia sudah mengenal beberapa orang yang ada di rumah itu. Mereka cukup baik dan ramah sekali. Sama baiknya dengan sang pemilik rumah, Austin. Setelah selesai sarapan, pagi ini Allynna tidak menemukan Austin. Kata pelayan tuannya masih belum bangun. Allyna menuju ke ruangan barunya yang beberapa hari ini ia gunakan sebagai tempat melukis. Ketika pintu terbuka, Alyynna melihat semuanya berubah. Ruangan itu menjadi lebih lapang karena benda-benda besar dikeluarkan. Yang tersisa hanya sebuah lemari tempat di mana cat-cat berada. Kanvas besar yang sudah dibingkai tertata rapi. Ia memiliki penyangga yang lebih besar yang menyesuaikan ukuran kanvas. Kursi dan meja sudah diganti. Ada tempat air dan cemilan di atasnya yang disediakan khusus agar Allynna tidak perlu kesusahan ketika dirinya haus. Allynna seperti menemukan studio mini. Sepertinya Austin sangat berharap sekali jika dirinya nyaman dan mengerjakan lukisan-lukisan itu dengan sungguh-sungguh. Allynna tersenyum dan akan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Untuk mendapatkan perlengkapan sebanyak itu, tidak bisa dikatakan murah. Bermacam-macam cat ada di lemari dalam jumlah yang banyak. Allynna rasanya ingin menangis karena terharu. Jendela yang tertutup segera dibuka oleh Allynna. Pendingin udara ia matikan karena gadis itu ingin menghirup udara segar sambil melukis di pagi hari. Allynna masih ingat ketika Austin ingin dibuatkan lukisan yang lebih besar dari sample yang diberikan oleh Allynna kemarin. Allyna sudah menyimpan foto ruangan yang akan menjadi tempat lukisan-lukisannya. Ia mencari kanvas dengan ukuran yang sesuai lalu mulai mengerjakan satu lukisan terlebih dahulu. Allynna mencampur warna dan mulai menyapukan kuasnya ke kanvas yang ada di depannya. Gadis itu tampak bahagia sekali. Ketika melukis segala pikiran buruknya dan rasa sedihnya langsung menguap begitu saja. Ketika Allynna bersungguh-sungguh dengan lukisannya, ia seperti masuk ke dimensi lain. Ia tidak akan memikirkan hal lain lagi. Melukis membuat Allynna merasakan kebebasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD