TBB 11 Ribuan Sketsa

1084 Words
Selama Austin memejamkan matanya, Ally sudah menggambar dua sketsa wajah Austin di dalam layar komputernya. Walaupun hanya sketsa hitam putih, gambar itu begitu bagus dan mendekati aslinya. Ally tidak tahu mengapa ia ingin sekali mengabadikan wajah tidur itu dalam ribuan sketsa yang ada di laptopnya itu. Sadar jika tingkahnya begitu aneh, ia langsung melihat kembali ke buku gambar yang sudah kering itu. Gadis itu tidak tahu harus melakukan apa. Wajahnya tiba-tiba merah. Austin membuka matanya dan melihat ke arah Allynna. Gadis itu sudah membuat Austin tidak tenang. Ada sesuatu yang membuatnya begitu tertarik dengan Allynna. Ia berjanji akan terus membuat wanita itu terus berada di dekatnya. Ada ketenangan ketika dirinya dapat melihat Allynna. Sejak malam itu, hatinya sudah dimiliki oleh Allynna sepenuhnya. Tidak ada gadis yang menyentuhnya tepat di hatinya. Ini adalah kali pertama untuk Austin, meskipun sudah banyak wanita yang berada di sekitarnya dengan pesona mereka masing-masing. Sejak pertama bertemu dengan Allynna ia sudah jatuh begitu dalam. Rasanya sulit untuk Austin kembali. Allynna tidak sengaja melihat Austin yang menatap ke arahnya. “Austin, kau sudah bangun.” Ally memamerkan senyumannya. Austin bersumpah ingin selalu melihat Allynna ada di dekatnya. Ia harus berpikir agar Allynna berada di sekitarnya dan bergantung kepadanya. “Ya?” Austin mengucek matanya dan menguap lagi. Tidak lupa ia merenggangkan tubuhnya. Semua kegiatan Austin tidak luput dari pandangan Ally. Gadis itu mendekati Austin yang masih dalam posisi duduknya lalu menyodorkan buku gambarnya. “Aku sudah menggambar beberapa.” Austin membuka buku gambar itu. Ia baru tidur tidak dalam waktu yang lama, tapi Ally sudah berhasil membuat karya yang cukup bagus. Ia semakin yakin untuk menggunakan jasa Ally untuk memberikan sentuhan seni di setiap kamar hotelnya. “Ini bagus sekali.” Austin membalik selembar demi selembar dan tampak puas dengan lukisan mini milik Ally. “Apa ini bisa diperbesar?” Austin bertanya. “Tentu saja, ini baru gambaran kecilnya.” Ally mengatakannya dengan perasaan senang, karena Austin terlihat puas dengan apa yang ia buat. “Semuanya bagus.” Austin kembali ke lembar pertama ketika sudah tidak menemukan gambar-gambar yang lain. Austin mengamati setiap lembarnya dan Ally memperhatikan Austin yang sudah berkali-kali membolak-balik buku gambarnya. “Kau catat saja cat yang kau butuhkan, untuk canvas nanti biarkan orang hotel yang akan menentukannya. Itu tidak menganggumu, kan? Aku takut jika nanti kau kesulitan mengaplikasikannya di media yang lebih lebar.” “Tentu saja tidak masalah. Aku akan memberikan merk dan warna yang kubutuhkan. Aku senang kalau lukisanku sesuai.” Austin segera menyuruh Ando untuk mengukur besar lukisan yang akan ditempatkan di beberapa ruangan. Ando juga mengambil gambar ruangan sehingga Allynna dapat meyesuaikan paduan warna catnya dengan warna dinding yang ada di setiap kamar. Ally mempelajari detail yang ia terima dari Ando. Orang itu sudah berkenalan dengan Ally dan mereka saling membantu meskipun belum pernah bertemu secara langsung. Ando cukup terbantu dengan adanya Allynna. Ia tidak perlu lagi mencari-cari orang yang bisa memenuhi selera atasannya yang serba sempurna itu. Dalam keadaan tertentu Austin Curtis bisa menjadi orang yang menyebalkan, apalagi mengenai hotelnya. Memang benar kalau Curtis Hotel menjadi hotel terbesar dan bekelas di negara itu. Austin sudah percaya kepada Allynna, ia sudah tidak perlu mengerjakan sample mininya. Itu menghemat waktu Ally. Tidak harus menunggu seminggu ia sudah bisa bekerja. Semakin cepat bekerja maka dirinya bisa segera membantu Austin. Ia tidak mau hidup tanpa menghasilkan apa-apa untuk orang yang sudah banyak membantunya. Malam ini Ally disuruh bersiap-siap, rencananya Austin ingin mengajak Ally pergi ke luar. Ia ingin makan malam di luar. Ally dengan patuh menuruti perintah Austin. Karena tidak tahu akan pergi ke mana, Allynna memilih dress lengan panjang sebatas lutut yang berwarna hitam. Allynna mengikat rambutnya membentuk ekor kuda lalu berdandan ala kadarnya. Austin tidak menunggu terlalu lama, karena Allynna sudah berdiri di depannya dengan penampilan sederhananya. Akan tetapi, di mata Austin gadis di depannya memiliki daya tarik tersendiri. “Ayo.” Austin menarik tangan Allynna. Allynna tidak keberatan meskipun dirinya harus mengimbangi langkah kaki Austin yang lebar. Beruntung dia tidak menggunakan high heels-nya yang menyusahkan. Bukan hal baru jika Austin kali ini menggunakan mobil yang berbeda lagi. Sebenarnya Ally cukup penasaran dengan jumlah mobil milik Austin. Austin membawa Allynna ke sebuah tempat makan yang berada di atas kapal besar. Ada banyak meja yang ditata di atas kapal, hari yang cerah membuat Austin berani mengajak Allynna menghabiskan waktu di tempat terbuka yang memiliki pemandangan yang indah. Allynna dapat melihat bintang yang bertaburan di atas kepalanya tanpa penghalang. Kebanyakan tamu-tamu yang datang adalah pasangan yang ingin menikmati keromantisan. Musik lembut menyapa pengunjung yang sedang menikmati makan malam. Austin sudah memesan makanan dan Allynna mengikuti apa yang dipesan oleh Austin. Tempat yang Austin pilih terlalu bagus untuk Allynna. Seumur hidup Allynna belum pernah datang ke tempat seperti ini. Tidak menunggu waktu yang lama, makanan sudah dihidangkan dan terlihat begitu menggiurkan. “Ini best menu di tempat ini, Allynna.” Austin memberitahu. “Terlihat cantik.” Allynna tidak tega untuk memakannya karena irisan daging yang ada di piringnya ditata begitu baik, sayang jika pisau dan garpunya membuatnya berantakan. “Dimakan, rasanya lumayan.” Kata Austin. “Aku sudah lama tidak kemari. Mungkin sudah satu atau dua tahun, aku sendiripun lupa.” “Kapal ini cukup stabil, kupikir di sini kita akan mengalami insiden makanan tumpah.” Allynna mengakui jika selama berada di atas kapal dirinya tidak mengalami perasaan terombang-ambing. Meskipun hanya berupa sungai, tapi tidak jauh dari tempatnya berada terdapat lautan yang memiliki ombak yang besar. “Inilah keistimewaannya. Selain itu di sini meja-meja diatur agak berjauhan agar melindungi privasi ketika sedang berbincang-bincang.” Allynna mengangguk mengerti, dan mulai memakan makanannya. Rasa steak yang Allyna makan sangat enak. Anggur merah yang disajikan juga enak. Allynna tidak tahu berapa banyak uang yang harus ia keluarkan jika suatu hari nanti datang lagi ke tempat seperti ini. “Masa cutimu tinggal enam hari lagi.” “Benar. Sebenarnya aku sengaja mengambil cuti karena sudah lama sekali aku tidak melakukannya.” “Di perusahaanmu biasanya hak cuti setiap karyawan berapa lama dalam setahun? Aku belum begitu mengerti tentang dunia kerja.” “Ada libur dari perusahaan yang waktunya menyesuaikan, ada libur nasional, belum lagi ada hak cuti ketika menikah atau kerabat yang meninggal. Selama bertahun-tahun aku baru mengambil cutiku sekarang.” “Apa atasanmu tidak menyuruhmu meliburkan diri?” “Aku yang tidak memiliki kegiatan jika tidak bekerja.” Austin menatap Allynna dalam. Kalau bukan karena Allynna ia tidak mau meliburkan dirinya. Sebenarnya ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan, tapi semuanya menjadi tidak penting selama dia bisa melihat Allynna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD