Belinda sedang menikmati harinya dengan bermalas-malasan bersama dengan ibunya, Citra. Sejak Ally berhasil mereka usir, hidup mereka semakin senang karena tidak perlu melihat wajah Ally di rumahnya. Angin sepoi-sepoi mempermainkan rambut mereka, karena mereka berada di halaman rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni.
“Ibu, hari ini hari kelulusan Ally. Aku rasa dia tidak akan datang ke acara besarnya itu.”
“Bukannya kau sedang libur hari ini karena ada upacara kelulusan, untuk apa mempedulikan anak itu. Anak tidak berguna.”
“Tapi dia sangat pandai, Bu.” Kali ini Belinda mengakui kelebihan Allynna.
“Kau ingin pandai juga? Belajar.” Citra menyarankan anaknya.
Belinda tidak berkata-kata lagi. Ia tidak suka belajar, karena ia tidak suka dengan kegiatan membosankan itu. Setiap ujian ia akan meminta bantuan kepada teman-temannya agar bisa mendapatkan nilai baik. Daripada belajar, Linda lebih suka bermain dan melakukan kegiatan bersenang-senang bersama dengan teman-temannya. Citra tidak banyak meminta kepada Belinda agar mendapatkan nilai terbaik, karena ia tahu seberapa besar kemampuan anaknya itu. Citra begitu sayang kepada Linda dan tidak mau anak satu-satunya itu terbebani dengan banyak hal yang tidak ia sukai.
“Minggu depan ada audisi, kau akan datang, kan?”
“Iya, Bu. Doakan aku bisa mendapatkannya.” Belinda mengambil jurusan perhotelan di kampusnya sedangkan Allynna memilih seni rupa. Akan tetapi, Belinda sangat suka dengan dunia hiburan. Meskipun kurang terkenal, Belinda sudah membintangi beberapa iklan kecil dengan bayaran yang kecil pula. Meskipun begitu Belinda sudah sangat senang sekali ketika mendapatkannya.
“Aku selalu akan mendukungmu.”
Belinda senang memiliki ibu seperti Citra, dia selalu mengerti tentang apa yang disukainya. Citra selalu memanjakannya itu sangat membuat Belinda merasa didukung dalam segala hal. Itulah hal yang menyebabkan Belinda menjadi pribadi yang keras kepala, ingin menang sendiri, dan ingin mendapatkan semua yang diinginkan. Ia tidak suka jika Allynna mendapatkan sesuatu yang lebih baik dirinya. Sampai kapanpun Belinda tidak ingin saudara tirinya itu hidup bahagia. Itu adalah janjinya.
Di tempat lain, Ally sedang membongkar kardus besarnya, ada laptop yang belum ia keluarkan. Meskipun sudah sangat tua, ada banyak gambar yang berhasil ia abadikan di sana. Allynna perlu inspirasi untuk membuat sesuatu di buku gambarnya yang kurang lebih ada dua puluhan halaman. Ia berencana untuk mengisi satu gambar untuk setiap lembarnya. Austin tadi sedang ada urusan, sehingga dia ditinggal dan disuruh beristirahat di sore hari yang sebenarnya ingin Ally habiskan dengan mengobrol bersama Austin.
Ally masih berpikir apakah dirinya tidak akan menimbulkan masalah jika berada di rumah Austin. Ally takut kalau kehadirannya akan mengundang rasa tidak suka kepada kenalan-kenalan Austin. Bisa saja Austin sudah memiliki tunangan, pacar, atau seseorang. Ally mendesah, dilihat dari tingkahnya Austin seperti seorang lajang. Ally sangat sebal dengan dirinya sendiri, apakah baru saja ia berharap kalau Austin adalah seorang lajang yang bisa ia dekati? Tidak bisa dipungkiri kalau Austin itu adalah pria yang menarik. Ally langsung merona dengan pikiran bodohnya itu.
Allynna membuka laptopnya dan langsung mendapatkan sinyal internet, karena di rumah Austin terdapat koneksi yang tidak dikunci. Ketika kesempatan itu ada, Ally langsung menghubungkan laptopnya dengan jaringan yang tersedia. Sudah beberapa hari Allynna tidak berkomunikasi dengan teman dekatnya yang sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri. Setelah mengirimkan sebuah pesan lewat email kepada Cilla, Ally memilih mencari-cari file yang sudah sangat lama tidak ia lihat.
Ada banyak foto yang Allynna kumpulkan dalam beberapa file yang merupakan karyanya dari semester pertama sampai terakhirnya. Ada beberapa foto yang berasal dari jaman sebelum kuliah dan itu berjumlah ratusan bahkan ribuan. Ally memang sangat gemar melukis dan menggambar. Karena Austin masih ada urusan, Ally memilih beberapa gambar yang cocok. Ia akan membuat ulang ke dalam buku gambarnya. Ia juga menambahkan beberapa warna agar lukisan mininya itu tampak semakin sempurna.
Hingga jam makan malam, Ally berhasil membuat dua gambar yang indah. Sebuah gambar rumah di tengah hutan dan sebuah jembatan yang dipenuhi dengan kunang-kunang. Ally harus berpikir untuk membuat beberapa tema yang berbeda, ia tidak tahu seperti apa selera dari orang yang akan membayar semua lukisannya itu.
Ally sudah mandi ketika pelayan menyuruhnya untuk makan malam. Austin tidak ada di rumah sehingga ia makan sendirian denga menu yang masih saja banyak seperti biasa. Ally bertanya-tanya kemana Austin pergi. Ia mengatakan kalau Austin memiliki cuti selama satu minggu. Ini baru berlangsung satu hari dan Austin sudah pergi meninggalkannya. Ally tidak mau berpikir tentang sesuatu yang membuatnya pusing, ia kembali ke ruangan menggambarnya dan mulai melanjutkan gambar ketiganya. Di gambar ketiga ini Ally membuat sebuah mobil yang sedang melaju di jalanan perkotaan. Pemandangan kota tengah malam menjadi latar belakangnya.
Hingga tengah malam, Ally sudah menyelesaikan dua gambar lagi. Ia cukup puas lalu pergi tidur ke kamarnya. Ia akan bangun lebih pagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Austin memerlukan beberapa sample dan Ally akan memberikan pilihan yang bisa dipilih. Ally sangat bersemangat karena ia tidak ingin terus menerus menyusahkan Austin. Pria itu cukup baik karena sudah memberikan banyak bantuan dan Ally ingin membalas budi baik Austin.
***
Austin kembali ketika hari menjelang pagi. Ia sudah sangat ngantuk dan langsung tidur. Austin bahkan melupakan kalau Ally ada di rumahnya. Terlalu banyak yang harus ia lakukan sepanjang siang hingga tengah malam. Ia baru bisa kembali setelah memastikan pekerjaannya selesai. Austin terbangun pada siang hari ketika jam makan siang sudah lewat. Ia baru ingat kalau ada seorang gadis yang sudah ia abaikan sejak kemarin.
Dengan piyamanya Austin mencari-cari Allynna yang menurut beberapa pelayan sedang asyik menggambar di ruangannya. Austin membuka pintu dan menemukan Allynna yang menatapnya. Ally melihat rambut Austin yang berantakan. Bukannya terlihat jelek, austin malah terlihat seperti berandalan tampan yang berbalut piyama warna putihnya. Sial, Ally baru saja terpesona oleh penampilan Austin yang baru saja masuk.
“Hai, Allynna. Maaf aku ada urusan sehingga kemarin aku harus keluar.” Austin menyandarkan tubuhnya ke sofa yang berada di sudut. Sesekali Austin tampak menguap.
“Tidak masalah, aku sedang membuat beberapa sample lukisan. Aku sudah memiliki sepuluh gambar yang bisa kau lihat.” Ally menyelesaikan gambar terakhirnya dan berharap itu cepat kering ketika udara dingin menerpa ke permukaan kertasnya.
Austin masih tampak malas sekali untuk membuka mata, ia malah memejamkan mata, tidak peduli dengan Allynna yang mengajaknya berbicara. Ally yang mengerti jika Austin masih lelah hanya berharap ketika mata itu terbuka ia bisa memamerkan hasil pekerjaannya.