TBB 9 Kembali Fokus

1049 Words
“Aku tidak tahu soal itu, selama kau menerima pekerjaan itu sepertinya aku harus bergerak cepat, sebelum project itu jatuh kepada orang lain. Kau harus berusaha kali ini.” Austin secara tidak langsung menyuruh Ally untuk lebih berusaha menghasilkan karya yang bagus. “Tapi aku tidak memiliki bahan-bahan yang cukup misal menerima pekerjaan itu.” Ally memandangi beberapa cat warnanya yang rata-rata tinggal sedikit. Ia juga tidak memiliki canvas dengan ukuran besar. Parahnya ia juga tidak memiliki uang untuk membeli alat-alat itu. Jangankan membeli alat-alat lukis, untuk memenuhi kebutuhannya saja ia masih bergantung kepada orang lain. “Aku tidak sabar untuk melihat gambar wajahku, nanti setelah ini kita bisa membeli semua alat-alat lukis yang kau butuhkan. Lagipula kita masih memiliki seminggu lagi untuk mulai bekerja. Selama itu kau bisa menjadi teman disaat aku berlibur.” Ally mengangguk mengerti, padahal dia ingin segera menghasilkan uang demi membantu pekerjaan Austin. “Dalam waktu seminggu buatlah gambar sebaik mungkin. Semuanya ditentukan dari sample kecilmu, Allynna.” “Aku mengerti.” Ally mengangguk lagi dan kembali fokus dengan objek dan canvas di depannya. Austin sangat tenang menunggu Ally menyelesaikan karyanya. Butuh waktu dua jam bagi Ally untuk menyelesaikan permintaan Austin. Sudah ada gambar yang sangat mirip dengan Austin. Pria itu begitu terpana dengan hasil lukisan Ally yang sangat bagus dan sangat mirip dengan wajahnya itu. Ally benar-benar memiliki bakat yang bagus. Kalau dilihat-lihat lagi wajah Austin di canvas malah lebih menarik daripada foto yang biasa ia ambil. Sepertinya Austin sudah menemukan orang untuk membuat lukisan. Ia butuh sangat banyak untuk kamar-kamar mahalnya. Tahun ini memang dirinya membuka kurang lebih lima puluh kamar dengan tarif sangat mahal. “Ini bagus sekali.” Austin tersenyum bangga dengan bakat Ally. “Terima kasih.” Ally sembari membereskan cat dan kuas yang ia gunakan tadi. “Aku akan sangat mendukungmu misal kau memiliki galeri sendiri. Aku melihat kalau kau memiliki bakat yang bagus. Sayang jika disia-siakan begitu saja.” “Aku memang ingin memilikinya, tapi aku masih sangat pemula. Mungkin suatu hari nanti.” Ally memang sangat ingin memiliki galeri seninya sendiri yang memajang karya-karyanya dan menjualnya. Ia sangat senang ketika orang lain juga bisa menikmati lukisannya. “Waktunya makan siang, kita malah sudah melewatkan jam makan siang kita. Ini sudah hampir sore.” Austin mengajak Ally untuk makan siang. Ally memang sudah merasa lapar sejak tadi, tapi ia tidak berani untuk menginterupsi kegiatannya, karena ia tidak mau Austin kecewa. Ally tidak mau membuat Austin menunggu terlalu lama atas permintaannya. Austin sudah banyak membantunya selama dua hari ini. Tanpa adanya pria itu, mana mungkin Ally dapat bertahan hidup hingga detik ini. Austin meminta pelayan untuk menyediakan menu makanannya. Ally hanya mengikuti dan mengamati apa yang dilakukan oleh Austin. Ally diam-diam mengerti jika Austin suka memerintah orang untuk hal-hal kecil. Hal itu sangat dipahami oleh Ally karena Austin terlihat sangat kaya dan kemungkinan sudah kaya sejak kecil. Ally memiliki pelayan, tapi sejak ibunya meninggal segala tugas rumah diberikan kepada Ally dibantu oleh seorang pelayan. Kehidupan Ally berubah sangat banyak ketika ibunya meninggal. Saat ibunya meninggal, Ally belajar lebih mandiri untuk melakukan apa saja. Misal ibunya masih ada, mungkin ia masih seperti seorang putri yang manja dan tidak bisa melakukan apa-apa. Beruntung Allynna bertemu dengan Austin, selain baik pria itu juga tidak pernah mengungkit-ungkit perihal kebaikannya apalagi mencari keuntungan atas dirinya. Austin begitu sopan dan menghargainya. Pria itu langsung memiliki nilai tambah di mata Ally. Para pelayan sudah datang membawa makanan dan meletakkan bermacam-macam menu di meja makan. Lagi-lagi Ally merasa kalau ini terlalu banyak untuk dimakan oleh mereka berdua. Sejak kemarin Ally tidak menemukan orang tua atau saudara Austin. Apa ia tidak memiliki saudara? Tapi pertanyaan itu hanya ada di benak Ally saja, tidak pernah ia lontarkan kepada Austin. Tidak baik terlalu banyak bertanya, Ally takut itu akan menyinggung Austin. Ia juga penasaran dengan pekerjaan Austin, karena meskipun terlihat tampan, pria itu terlihat sudah dewasa. Tidak tahu berapa umurnya, yang jelas Ally yakin jika Austin beberapa tahun lebih tua darinya. “Ayo dimakan, apa makanan favoritmu? Kalau aku sangat suka dengan lobster.” Austin sudah mengambil makanan yang ia inginkan, lalu disusul oleh Ally. “Tidak ada yang spesifik untuk makanan kesukaanku, tapi aku suka makan buah strawberry.” “Apakah ada makanan yang tidak kau sukai?” “Aku alergi dengan kacang.” Kata Ally. Austin mengingat-ingat apa yang Ally katakan. Gadis itu sungguh menarik bagi Austin. Sejak pertemuannya di hotel beberapa puluh jam yang lalu, gadis itu sudah merubah hidup Austin. Pria itu jadi memiliki semangat baru untuk terus bersama dengan Ally. Austin yakin jika Ally belum memiliki kekasih. Jika ia sudah memiliki kekasih seharusnya dia pergi meminta bantuan kepada kekasihnya daripada berdoa di gereja. Austin sempat ragu jika wanita secantik Ally tidak memiliki kekasih, tapi itu adalah hal yang baik. Paling tidak Austin tidak memiliki saingan. Ally sudah menyelesaikan makan siangnya dan sudah sangat kenyang. Austin juga sudah menyelesaikan makan siangnya, tapi mereka masih berada di meja makan. “Terima kasih untuk semuanya.” Ally berkata tulus kepada Austin karena sudah banyak membantunya. Ia ingin segera pergi dari sisi Austin, tapi ia belum memiliki gambaran untuk kehidupannya. Disaat dia tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa yang bisa dijadikan tempat bernaung. “Kau berjanji akan melukis, itu bisa meringankan perasaanmu. Aku tahu kalau kamu adalah gadis yang mandiri.” “Terima kasih. Aku akan bersungguh-sungguh agar gambarku bisa masuk. Kira-kira siapa yang akan menilainya mengenai layak tidaknya lukisanku.” “Ada seseorang yang akan mengabarimu, aku akan memberikan nomor ponselmu kepadanya untuk memberikan gambaran ruangan mana saja yang akan dijadikan tempat lukisanmu, agar besarnya lukisan dapat disesuaikan, karena beberapa kamar memiliki cat dinding yang berbeda.” Ally mengangguk mengerti. Sepertinya penjelasan dari Austin cukup bisa diterima oleh dirinya. Ia hanya perlu melukis sebagus-bagusnya, karena itu menentukan masa depannya. “Untuk bayaran, kau ingin dibayar berapa untuk setiap lukisanmu?” Austin memberikan penawaran. “Aku tidak mematok harga untuk lukisanku. Aku lulusan baru dan karyaku masih baru. Aku juga belum memiliki nama. Ada yang suka dengan lukisanku saja aku sudah sangat bersyukur sekali.” “Oke. Nanti bisa dilihat dari hasil lukisanmu. Ingat seminggu lagi aku meminta samplenya.” “Baik. Aku mengerti. Aku akan membuat sebaik mungkin.” “Kau harus berjuang, Allynna.” Austin tersenyum dan memang benar jika nama Allynna begitu enak diucapkan dengan lidahnya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD