Eight - Sudden Holiday with You (1)

1102 Words
        Pesawat Kim telah tiba di Licenciado Benito Juarez International Airport, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat setengah jam. Kim merupakan perwakilan dari kantornya untuk mengikuti meeting dan workshop di kantor cabang Orange Inc. Meksiko.         Meeting dan workshop akan berjalan selama empat hari, dimulai dari hari Senin hingga Kamis. Kim mengambil cuti satu hari sehingga dia bisa memiliki waktu libur selama tiga hari. Jadi, ia baru akan kembali ke New York di hari Minggu. Ia ingat akan perkataan Dave kemarin, tak ada salahnya setelah bekerja ia menikmati liburan.         Hari pertama dan kedua diisi dengan meeting yang dihadiri oleh seluruh Product Manager untuk region Amerika. Hari ketiga diisi dengan workshop yang dijadwalkan akan dilaksanakan dalam dua hari tetapi ternyata selesai hanya dalam satu hari saja. Kim dan peserta lainnya menginap di Four Seasons Hotel. Hari keempat, beberapa peserta memilih untuk check-out lebih awal karna banyak dari mereka yang ingin mengexplore Meksiko lebih luas lagi daripada hanya stay berada di satu tempat. Pagi ini, Kim ingin berenang sebentar di kolam renang hotel, baru setelah itu dia akan mulai berjalan-jalan.         Ketika sudah sampai di area kolam renang, ia duduk di bangku pinggir kolam sambil mengoleskan sunblock di tubuhnya sebelum mulai menceburkan dirinya ke kolam. Sedang asyik mengoles, ia seperti melihat sosok di ujung sana yang tak asing baru saja naik dari dalam kolam, lalu duduk di bangku. Ia menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya.         "Dave..??? Apa benar itu dia?" tanyanya pada diri sendiri. "Sedang apa dia disini?" ia membelalakkan matanya.         Meskipun ia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya, Kim mencoba tetap bersikap biasa. Ia tak ingin mendatangi Dave. Ia tetap berada di tempatnya seolah-olah memang tak melihat ada Dave diujung sana. Wanita itu lalu menceburkan diri ke dalam kolam dan berenang seperti biasa. Ketika ia berenang ke arah dimana Dave duduk, ia tak melihat Dave berada di sana.         'Mungkin dia sudah pergi dari sini,' pikirnya.         Lalu ia berenang kembali ke arah tempat dia duduk semula. Ketika sudah sampai di ujung kolam dan mengeluarkan kepalanya dari dalam air dan ingin naik ke atas, ia dikagetkan oleh wajah pria itu yang muncul tiba-tiba di hadapannya.         "Mencariku..???" tanyanya sambil tersenyum.         "Aaaaaahhhhh...." Kim tercebur kembali ke dalam kolam, ia kehilangan keseimbangannya akibat terkejut, ia tak sengaja menelan air kolam.         Panik.         Dave yang melihat Kim kehilangan keseimbangan dan panik seperti itu, sontak menceburkan diri ke dalam kolam untuk menolongnya. Ia lalu mengangkat Kim ke pinggir kolam.         "Kau baik-baik saja?" tanya Dave cemas. Kim hanya menggangguk.         "Kau?? kenapa kau bisa ada di sini?"         "Aku ada pemotretan di sekitar sini sejak dua hari yang lalu. Kau sedang apa disini?"         "Aku ada internal meeting, mewakili kantorku." jawabnya sambil merubah posisinya menjadi duduk.         "Woww.. kalau begitu kita berjodoh." ucapnya tersenyum.         "Kau tidak sedang menguntitku kan?" tanya Kim menyelidik.         "Bicara apa kau ini. Tentu saja tidak. Kau pikir aku  ini orang yang tak ada kerjaan, menguntitmu sampai kemari."         Mereka pun terdiam.         Dave yang baru saja menyadari penampilan Kim saat ini yang sangat menggugah selera, dengan balutan bikini berwarna merah menempel di kulitnya yang putih mulus, serta kedua bukitnya yang terpampang setengahnya menyembul keluar membuat Dave menelan ludah. Kim yang merasa diperhatikan seperti itu sontak mengambil jubah outwearnya.         "Kau sampai hari apa disini? pekerjaanku sudah selesai mungkin aku akan pulang nanti malam." tanya Dave.         "Aku masih sampai hari Minggu. Aku teringat ucapanmu waktu itu. Aku memang butuh liburan."         "Oh yaa.. kalau begitu aku akan merubah jadwalku juga. Bagaimana kalau aku menemanimu, apa kau tak keberatan?" tawar Dave.         "Apa kau tak sibuk? Kau tak perlu seperti itu Dave." Kim merasa tak enak membuat pria itu jadi mengubah jadwalnya. Dia pasti orang yang cukup sibuk.         "Its okay, Kim. Aku free sampai minggu depan," jawabnya tersenyum.         "Kau menginap di kamar berapa? Aku di kamar 723." tanya pria itu.         "Aku di kamar 510."         Setelah percakapan itu, keduanya kembali ke kamar masing-masing untuk kemudian bersiap pergi lagi. Dave mengajak Kim untuk berjalan-jalan di seputaran kota. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di Mexico City. Kemudian, mereka menonton parade budaya yang saat itu sedang berlangsung di jalanan kota Mexico. Begitu banyak peserta yang mengikuti parade tersebut menggunakan kostum yang unik-unik. Kim yang berdiri di pinggir jalan banyak mengambil foto-foto para peserta, Dave pun demikian. Bedanya, Dave lebih banyak mengambil foto Kim secara candid yang tentunya tak ia sadari. Sesekali mereka berselfie ria, keduanya sangat senang sekali hari ini. Ada untungnya juga Kim bertemu dengan Dave. Dave sudah pernah beberapa kali ke negara ini karna ia memiliki banyak teman disini. Jadi, setidaknya liburan Kim kali ini benar-benar dapat dimanfaatkan dengan baik karna ada seseorang yang sudah mengenal tempat-tempat unik di Mexico. Mereka pun kembali ke hotel dengan hati riang, terutama Kim. Meskipun lelah melanda, namun ia sangat puas sekali. Mereka harus tidur cepat malam ini karna besok pagi-pagi sekali harus check-out, Dave akan mengajak Kim melancong ke Acapulco. Kim tak sabar untuk perjalanan berikutnya.         Mereka berangkat pagi-pagi sekali, setelah sarapan dan check-out langsung menuju ke mobil yang dipinjam Dave dari seorang temannya di kota ini. Sepanjang perjalanan menuju Acapulco dipenuhi dengan tawa dan nyanyian. Kim merasa lebih 'hidup'. Ia tak pernah sebahagia ini, ditambah lagi berlibur dengan seseorang yang ia kagumi. Hanya berdua. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama tiga setengah jam mereka tiba di kota Acapulco.         "Finally arrived. Wohooooo..." sorak Kim yang masih berada di dalam mobil. Dave yang melihatnya begitu gembira hanya tersenyum memandang Kim.         Mereka lalu menuju ke salah satu hotel yang berada tepat di pinggir pantai. Hotel ini merupakan hotel dengan pemandangan pantai dan memiliki fasilitas terbaik.         "Whaaatttt!! Kau hanya memesan satu kamar saja?!" teriak Kim di depan meja resepsionis saat mengetahui kamar yang dipesan untuk mereka ternyata hanya satu kamar, dan saat akan memesan kamar lagi ternyata semua kamar sudah terisi penuh, karna saat ini sedang musim liburan.         "I'm so sorry. Sepertinya ada misscommunication, karna yang memesankan kamar adalah temanku. Sepertinya dia tidak mendengar jelas saat aku meminta dua kamar," jawab Dave merasa bersalah.         "Kalau kau tidak mau kita bisa mencari hotel lain. Aku akan membatalkan pesanan ini." lanjutnya.         Kim terdiam cukup lama, berpikir apakah sebaiknya mencari hotel lain atau mengambil kamar tersebut. Tapi bagaimana kalau di hotel lain juga sudah penuh? Mereka sudah menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai ke tempat ini. Akan sangat egois jika melepas kamar ini yang sudah dipesan lalu mencari hotel lain dan bagaimana jika ternyata kamar itu sudah full. Kasihan Dave, dia sudah terlihat sangat lelah menyetir selama tiga setengah jam.         "Kita ambil kamar ini saja, Dave." ucap Kim tersenyum tipis.         "Apa kau tak apa kita menginap dalam satu kamar?" Kim pun mengangguk.         "Asal kau tidak macam-macam saja kepadaku." ancam Kim sambil mengepalkan tangannya tepat didepan muka Dave. Pria itu hanya tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD