Seven - The Fact is Hurt

1149 Words
Kim POV         Aku masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Jantungku berdetak sangat keras sekali. Dia baru saja menciumku lagi, meskipun hanya ciuman kilat. Aku masih terus memegangi dadaku berusaha menormalkan kembali detaknya dan tanganku yang lain memegang bibirku yang baru saja disentuh oleh bibir pria itu. Ohh Tuhan, apakah aku salah, mengingat aku sudah menikah dan memiliki suami, meskipun kami tidak saling mencintai.         Tapi ciuman barusan benar-benar membuatku gila.  Apakah Dave menyukaiku? Ah, tidak mungkin, dia kan publik figur. Ada apa dengan diriku, kenapa jadi semakin membayangkan yang macam-macam.Oh My God! Aku benar-benar bisa gila! *         "Kim, thanks God yaa acara launching kemarin berjalan sukses." ucap Erica puas sambil menikmati makanannya. Sekarang aku dan Erica sedang merayakan kesuksesan acara tersebut.         "Yap. Aku juga sudah lega. Semoga saja produk baru kita laku cepat dipasaran."         "Dan Dave kemarin terlihat cute sekali, ya kan Kim." aku hanya tersenyum menanggapi Erica. Dia bukan hanya cute. Dia sempurna.         "Hey, bagaimana rasanya?"         "Apanya?"         "Jangan pura-pura bodoh. Tentu saja ciumannya," selidiknya dengan tatapan tajam superkepo. "Sebenarnya sudah dari awal aku ingin bertanya hal itu padamu, tapi aku selalu saja lupa..haaiisssshhhhh."         "Eemmmm.. sepertinya aku tidak terlalu mengingatnya. Lagipula itu sudah lama kan dan saat itu aku juga sedang mabuk." jawabku acuh sambil mengangkat bahu.         Tidak. Tidak benar adanya. Aku akan selalu mengingat ciuman di lantai dansa malam itu dan takkan pernah melupakannya. Sensasinya saja masih ku ingat dengan jelas. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. Terlebih, dia menciumku lagi untuk yang kedua kalinya. Meskipun hanya sesaat. Tapi, kira-kira apa yaa maksudnya malam itu ia menciumku? Apa baginya itu hanya seperti ucapan selamat malam biasa atau ada makna lain? Ahhh, sepertinya aku mulai 'baper'.         "Kau bohong Kim. Bagaimana mungkin kau lupa, apalagi dia tampan, cute, dan terkenal.." ucapnya memicingkan mata.         "Oh iya, apa kau tau, ternyata Dave itu jauh lebih muda dari kita. Empat tahun dibawah kita, Kim. Wah, aku jadi mundur deh kalau harus dekat dengannya. Bukan seleraku."         'Oh ya? Dia empat tahun dibawahku? Muda sekali, masih 24 tahun?'         'Jadi, aku jatuh cinta pada pria yang lebih muda dariku. Bagaimana mungkin? Pantas saja dia masih terlihat begitu menggemaskan.'         'Tunggu... apa iya aku sudah jatuh cinta padanya? Ahhh, ini pasti akan menjadi semakin rumit nanti.'         "Kim, kau sedang melamunkan apa?"         "Haahh, tidak aku tidak melamun apa-apa," jawabku berbohong.         "Kau pasti sedang melamunkan Dave ya, hey dia itu 'brondong' apa kau masih mengidolakannya setelah tau dia itu jauh dibawah kita?"         "Kau ini jangan berbicara ngawur. Ahh sudah lah. Kenapa kita jadi bahas dia? Oh ya, apa kau sudah urus tiketku ke Meksiko untuk minggu depan?"         "Sudah. Semua sudah beres ditangan Erica. Aku tadi sudah minta konfirmasi ke Alana tentang tiketmu.." jawabnya sambil meletakkan tangannya di d**a.  "Aaaakkk.. kau ini membuatku iri saja. Kenapa hanya kau yang pergi kesana? Kenapa Assistant Manager tidak diikutkan juga di meeting itu, satu minggu pula. Kau bisa punya banyak waktu untuk bersenang-senang setelahnya."         "Hey, itu semua tidak akan terjadi. Kecuali kau gantikan posisiku dulu, tapi aku takkan membiarkannya. Kapan lagi aku bisa menikmati liburan ditengah perjalanan bisnis." balasku pongah.         Saat kami sedang tertawa, aku tak sengaja menoleh ke arah samping, dari tempat kami makan. Aku melihat Mark sedang berjalan menggandeng mesra seorang wanita, tapi sepertinya bukan Kate. Erica tak melihat pemandangan tersebut. Wanita itu bergelayut manja disamping Mark, lalu kulihat Mark mencium pipi wanita itu.          'Dasar jalang murahan!' umpatku dalam hati.          'Dia saja bersikap seolah-olah masih lajang. Lalu kenapa aku harus menjaga sikapku?!'         "Ada apa denganmu Kim. Kenapa raut wajahmu tiba-tiba berubah jutek seperti itu. Apa sih yang kau lihat?" Erica mengikuti arah pandanganku, tapi mereka sudah menghilang diantara keramaian Mall malam ini. Bagus lah, jadi aku tidak kehilangan mukaku di depan Erica karna menjadi seorang istri yang diselingkuhi suaminya.         "Haahh?? Eee... tidak apa-apa. Hanya saja.. aku tadi seperti melihat seseorang yang kukenal"         "Kau ini semakin hari semakin aneh. Sering sekali aku lihat kau sedang melamun. Ada masalah apa?" tanyanya.         "Tidak ada. Ayo cepat habiskan makananmu. Aku lelah sekali, ingin pulang. Aku ingin berendam air hangat."         Tak lama setelah itu kamipun pulang. Benar saja, sepertinya Mark memang sedang bersenang-senang dengan wanita barunya itu. Ia tak pulang ke rumah. Well, I don't care!  Aku melanjutkan pembicaraanku di pesan singkat dengan Dave. Yaa, semenjak hari itu kami menjadi semakin dekat. Dia juga sangat perhatian kepadaku. Aku teringat ucapan Erica tadi. Jadi, Dave itu jauh lebih muda dibawahku empat tahun. Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria yang jauh lebih muda dibawahku? Mungkin saja dia hanya mengganggapku teman biasa, atau hanya main-main. *Beberapa hari kemudian         "Aku besok akan ke Meksiko, ada meeting sekaligus workshop. Mungkin sekitar satu minggu." ucapku pada Mark saat menjelang tidur.         "Kenapa mendadak sekali?" tanyanya terlihat terkejut.         "Sebenarnya aku ingin bilang sejak beberapa hari yang lalu, tapi aku lupa. Maaf."         "Kau akan pergi ke luar negeri selama satu minggu dan kau baru bilang semalam sebelum keberangkatanmu?!" Mark mulai meninggikan suaranya.         "Sudahlah, Mark. Jangan perpanjang lagi. Aku benar-benar lupa." Kenapa Mark bertingkah aneh? Bukankah hal yang biasa bagi kami untuk tidak mengurusi urusan satu sama lain.         "Mudah sekali kau bicara."         "Apa maksudmu..?!"         "Kau itu istriku dan aku suamimu. Aku pemimpinmu! Harusnya kau bilang dulu dari awal, kalau kau bersikap seperti ini artinya kau tak menghargaiku!" nada suara Mark semakin meninggi membuatku terkejut dengan reaksinya.         "Oh yaa?? bukankah kita sudah saling tau bahwa pernikahan ini hanya sandiwara saja. Demi orang tua kita!"         "Kalau kau merasa tak dihargai, lalu bagaimana dengan sikapmu selama ini? Jangan kau kira aku tak tau hubunganmu dengan Kate, bahkan disaat kita sudah menikah. Lalu siapa lagi wanita yang beberapa hari lalu kulihat mesra denganmu? Haaaahhh!!!!! Apa kau bisa menjawabnya?!!" suaraku pun mulai meninggi,  mataku terasa panas. Setitik air mata lolos dengan mudahnya, setelah kucoba bertahan agar tak jatuh.          Mark terdiam.         Aku kemudian bangkit dari ranjang dan memilih untuk tidur di kamar tamu. Menangis menahan kesal, hanya itu yang kulakukan.         "Daveeee..." aku menelpon Dave, setelah tangisku reda.         "Yes Kim. kenapa suaramu serak? Apa kau habis menangis?"         "Tidak, aku hanya sedang flu. Aku tak bisa tidur. Kau sedang apa? Apa aku mengganggumu?"         "Aku baru saja akan tidur. Oh, tentu saja tidak. Its okay. Akan kutemani. Lagipula aku belum terlalu mengantuk."         Dave memiliki banyak bahan pembicaraan dan membuat moodku kembali membaik. Kami terus saja saling bertukar cerita dan  percakapan itu berlangsung hingga akupun tak sadar tertidur. *          Aku kini sudah berada di JFK International Airport, Mark bersikeras mengantarku. Setelah pertengkaran semalam, paginya dia meminta maaf padaku. Dia benar-benar tidak bermaksud menyakitiku. Dia berjanji ingin memperbaiki hubungan kami. Namun, aku sudah tidak peduli lagi apapun itu. Sudah lama aku tidak peduli dengan sikapnya, semenjak aku tau dia masih berhubungan dengan Kate. Namun kenyataan yang membuatku sakit adalah ketika dia bersikap seolah-olah tak punya istri.         Aku tau aku memang tidak berhak apa-apa atas dirinya. Tapi selama menjalani pernikahan, aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun. Itu karna aku menghargainya sebagai suamiku, mekipun aku tidak mencintainya, tapi tidak dengan dirinya.         Sampai kemudian Dave hadir di hidupku. Mengubah banyak hal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD