Dave POV
"Macet sekali jalanan!" keluh Steve, Managerku yang duduk di kursi kemudi.
"Masih ada tiga puluh menit lagi menuju jam dua, Steve. Santai saja." jawabku sambil memainkan ponsel.
"Kau selalu saja menggampangkan semua hal. Meeting hari ini bukan meeting sembarangan, Dave."
Empat puluh menit kemudian kami tiba di Orange Inc. Building. Salah satu perusahaan perangkat elektronik terbesar di Amerika, dan aku didaulat menjadi Brand Ambassador baru untuk produk mereka. Gedung ini memiliki lima belas lantai dan aku meeting di lantai delapan.
Sesampainya di ruang meeting tujuanku, aku disambut oleh empat wanita cantik. Dua diantaranya aku mengenali wajah mereka. Untungnya hari ini aku memakai kacamata hitam dan belum melepasnya pada saat masuk ke ruangan tersebut, jadi tak ada yang menyadari ekpresi kagetku.
It's her.
Gadis itu. Gadis yang ku temui secara tak sengaja di coffeeshop. Gadis yang tak pernah menyadari akan sosokku bahkan ketika aku berada didepannya ataupun disampingnya, dimana ketika hampir semua gadis-gadis yang baru melihatku dari kejauhan saja sudah menyadari keberadaanku dan pesonaku.
Pertemuan pertama di coffeeshop, ia tepat ada dihadapanku namun sama sekali tak melihat wajahku, hanya sibuk membersihkan pakaiannya yang kotor kena tumpahan kopiku, lalu pergi begitu saja. Pertemuan kedua di Klub Malam, ia berada di sampingku pun tak menyadari adanya diriku. Justru pada saat dia sudah setengah mabuk, baru ia melihatku. Aku pun ragu, mungkin saat itu ia antara sadar dan tidak sadar ketika menjawab sapaanku, sampai akhirnya kami berciuman. Ciuman yang belum pernah kurasakan bisa senikmat ini.
Dia berbeda.
Kulihat ekspresi kedua gadis itu cukup kaget saat melihatku melepas kacamata. Sepertinya gadis yang kucium itu masih mengingatku. Dia terlihat agak salah tingkah. Aku yakin dia pasti shock melihatku, pria yang menciumnya di lantai dansa Klub malam itu, yang kini terlibat hubungan pekerjaan dengannya. Sejujurnya akupun juga salah tingkah namun aku berusaha agar tetap bersikap biasa saja dan profesional.
"Hallo Dave, bagaimana perjalananmu?" tanya gadis yang bernama Mandy, aku sudah pernah meeting dengannya sebelumnya.
"Maaf aku terlambat. Jalanan sedikit macet."
"Oh ya, perkenalkan ini adalah Kimberly, Product Manager yang nanti akan menjelaskan lebih detail tentang product yang akan kau bawakan, dan itu asistennya Erica."
'Oh, jadi namanya Kimberly. Nama yang cantik, sesuai pemiliknya. Cantik.' ucapku dalam hati. Kamipun bersalaman.
"Kimberly. Panggil saja Kim."
Lalu dia memulai presentasinya.
Dia cantik sekali hari ini menggunakan dress kerja warna pink yang panjangnya hanya setengah pahanya. Sangat cocok sekali dengan warna kulitnya yang putih mulus. Dan dadanya itu, cukup besar sehingga membuatku membayangkan seperti apa bentuknya dibalik pakaiannya tersebut. Kakinya yang mulus jenjang sepertinya akan sangat cocok jika dilingkarkan di pinggangku. Rambutnya yang coklat panjang dicurly serta riasan wajahnya yang natural. Dia benar-benar cantik.
'Aaahhh, pikiranku sudah menerawang terlalu jauh. Aku harus tetap fokus pada presentasi. Aku harus tetap tunjukan profesionalitasku.'
"Nona Kim, boleh aku meminta nomor kontakmu? Mungkin nanti aku akan membutuhkanmu, itu.. terkait pekerjaan. Itupun jika kau berkenan." tanyaku usai meeting selesai, aku dan Steve bersiap untuk keluar dari ruangan.
"Hhhmmm... ya tentu saja boleh." jawabnya sedikit kaku.
Lalu aku dan dia bertukar nomor handphone. Sebenarnya itu hanya modusku. Aku ingin tau apa dia nanti akan menghubungiku duluan atau tidak.
Beberapa hari kemudian, aku mencoba mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan kabarnya. Ini kulakukan karna dia belum juga menghubungiku hingga saat ini, tapi rasa penasaranku semakin besar.
'Lalu setelah ini aku harus bahas apa?' tanyaku dalam hati saat mengetik pesan.
Aku menghapus kembali pesan yang sudah kuketik tadi. Aku tak mungkin menghubunginya hanya sekedar menanyakan kabar, bisa jatuh pamorku sebagai seorang penakluk wanita. Biasanya mereka duluan yang mencariku, tapi kali ini aku yang mencari duluan, benar-benar bukan seorang Dave Smithson sekali. Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk menghubunginya dahulu, begitu terus menerus selama beberapa hari, ku coba mengetik pesan lalu kuhapus kembali. Sepertinya aku mulai merindukannya.
Tepat dua minggu setelah meeting itu, aku sudah tak tahan lagi untuk menghubunginya. Akhirnya aku menyapanya terlebih dahulu, kali ini aku punya alasan cukup kuat. Seminggu lagi adalah peluncuran produk baru dari perusahaan mereka, aku beralasan ingin mendapatkan penjelasan lebih detail tentang produk itu.
*
Author POV
Dave sudah tiba di Starbucks terlebih dahulu dan mengambil tempat di sudut. Suasana Starbucks sedang tidak terlalu ramai, mungkin karna ini hari sabtu dan lokasinya dekat dengan kawasan perkantoran. Biasanya tempat ini cukup ramai saat hari kerja. Dua puluh menit kemudian Kim datang dengan setelan casualnya, mengenakan kaos putih ketat yang menonjolkan kedua bukit indahnya yang cukup besar itu dipadukan dengan jaket kulit warna hitam, serta ripped jeans.
"Aku telat ya? Maaf ya. Ada sedikit masalah tadi." ucapnya ketika sudah duduk sambil membuka jaketnya.
's**t! Kim, kenapa kau berpakaian seperti itu, apa kau mencoba menggodaku?' batin Dave terus menatapnya.
"Dave.. hellooo.." panggil Kim sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Aahh.. Sorry sorry. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi."
Kim merasa tersipu, ia menyadari kalau Dave tadi memperhatikannya dengan tajam membuat suasana yang tercipta menjadi sedikit canggung. Kim kemudian mengeluarkan Ipadnya dan mulai menjelaskan beberapa hal terkait produk tersebut. Sebenarnya Dave tidak terlalu memerlukan penjelasan Kim, karna dia sudah mendapatkan softfile tentang detail produk tersebut dari Mandy. Selagi Kim menjelaskan, Dave fokus menatap wajah gadisnya itu, lalu turun ke arah dadanya. Dengan posisi Kim yang agak miring dan membungkuk membuat belahan d**a gadis itu terlihat dengan jelas di hadapan Dave, membuatnya menelan ludah.
"Thank you so much, Kim, kau sudah menyempatkan waktumu untuk menemuiku untuk menjelaskan kembali."
"Never mind, Dave. Aku senang bisa membantumu. Ini kan untuk kepentingan perusahaan juga." jawab Kim tersenyum.
"Sebagai balasannya aku akan mentraktirmu makan malam. Bagaimana? Aku sudah kelaparan. Hehe.."
"Hahaha.. baiklah. Memang sekarang sudah waktunya jam makan malam juga."
Mereka berdua lalu beranjak dari tempat itu, Kim hari ini tidak membawa mobil karna tadi mobilnya bermasalah tidak bisa distarter. Besok dia akan bawa ke bengkel. Mereka berdua pergi ke restoran steak yang terkenal di kalangan anak muda di kota itu. Keduanya terlihat semakin akrab, membicarakan banyak hal, dan ternyata mereka memiliki hobi yang sama, yaitu travelling.
"Ahhh aku sudah lama sekali tidak travelling. Paling hanya bussiness trip dan itu hanya satu atau dua hari, sama sekali tak sempat untuk menikmati keindahan daerah yang ku kunjungi tersebut." cerita Kim.
"Waahh, kau sering menyia-nyiakan waktumu ya ternyata. Padahal kau kan bisa saja mengambil cuti atau extend."
"Jarang sekali aku dapat trip diakhir pekan, biasanya selalu awal pekan. Untuk cuti, aku jarang sekali ambil cuti. Yaa, aku memang terlalu fokus pada pekerjaanku."
"Kau harus menikmati dunia sekali-kali, Kim. Aku bisa menemanimu jika kau ingin mengexplore tempat baru,"
Kim terdiam. Agak kaget dengan pernyataan Dave.
"Mmmm.. maksudku tentu saja jika kita sedang ada di kota yang sama. Mana tau aku sedang ada pekerjaan juga." ujarnya sambil menyengir.
'Oh my, he's so cute dengan gayanya yang menyengir seperti itu' batin Kim.
Pembicaraan terus berlanjut hingga pukul sembilan malam mereka memutuskan untuk pulang. Dave mengantar Kim pulang, sepertinya Mark belum tiba dirumah, ia belum melihat mobil Mark di garasi.
"Dave, terima kasih telah mengantarku" ucapku sambil tersenyum. Diapun mengangguk tersenyum.
Ketika Kim baru akan membuka pintu, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Dave, Kim yang refleks menoleh memutar badannya dan secepat itu bibir Dave sudah menempel pada bibirnya. Hanya menempel, tanpa lumatan. Ciuman singkat. Ketika bibir mereka terlepas, Kim hanya menunduk dan terdiam.
"Maafkan aku Kim. Aku tidak bermaksud tak sopan padamu." ucap Dave menatap Kim tegas.
"Aku masuk dulu. Thanks Dave sudah diantar. Good Night." Kim langsung dengan cepat membuka pintu dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang.