Five - Feel Unintended

1098 Words
        "Bagaimana permintaanku beberapa minggu lalu?"         "Yang mana?"         "Tentang pengunduran dirimu"         "Mark, maafkan aku. Aku tidak bisa menurutinya. Ini terasa sulit bagiku. Aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Aku memulainya dari bawah, kau tau kan dalam enam tahun ini karirku melesat hingga pencapaianku sekarang. Aku bekerja sangat keras, Mark. Apa sih yang membuatmu berpikiran seperti itu? Apa kau ingin membuatku menua dengan hanya berdiam diri di rumah?" Kim terlihat sudah mulai kesal.         Mark diam saja tak menjawab, ia hanya menatap langit-langit kamar entah apa yang sedang  dipikirkannya. Ia memang sosok yang dingin, tak pernah banyak bicara. Mereka masih tidur bersebelahan di atas ranjang, hanya mengenakan selimut yang menutupi tubuh. Pertanyaan itu terlontar begitu saja seusai melakukan having s*x. Having s*x? Ya, Kim selalu menganggap kegiatan yang mereka lakukan tersebut adalah hanya 'having s*x'  bukan 'making love'. Making love is only for them who love each other, who did it full of love. Tidak seperti yang terjadi pada mereka berdua.         "Percuma berdebat denganmu. Asal kau tau saja, aku tak akan pernah melepaskan karirku. Kurasa pembahasan ini sudah selesai. Jangan pernah kau tanyakan lagi, kau sudah tau jawabannya, dan aku tak akan mengubah keputusanku." wanita itu kemudian beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Matahari sudah mulai meninggi, saatnya ia bersiap-siap menuju kantor. Flashback * Satu setengah tahun lalu.         "Apaaaaa?! Ma, Pa, aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang tidak aku cintai!" gadis itu sedang ada di ruang keluarga di rumahnya, duduk dihadapan kedua orang tuanya.         "Ini yang terbaik untukmu, Nak. Kami hanya ingin kau bahagia." jawab Papa Kim.         "Tidak. Papa hanya memikirkan keuntungan perusahaan saja. Aku tau ini semua agar bisnis Papa semakin besar kan. Pokoknya aku tidak mau dijodohkan. Titikkk!!" Kim meninggalkan kedua orang tuanya.         "Kim, Papa melakukan semua ini demi mu Nak. Aagghhh.. Aaaagghhhh.." Tiba-tiba Papa merasa jantungnya terasa sakit sekali. Mama yang berada disamping Papa berteriak histeris.         Kim yang mendengar suara teriakan tersebut, menghentikan langkah kakinya saat akan menaiki tangga. Ia melihat papanya yang kesakitan seperti itu, hatinya terasa sakit sekali. Dengan berat hati, akhirnya ia mau menuruti permintaan papanya. *         "Jangan kau pikir aku menerima perjodohan ini." ujar pria itu datar, Kim diam saja. Mereka berdua berdiri bersebelahan sambil memandangi air mancur yang ada di taman di tengah-tengah restoran, seusai acara pertemuan antar keluarga sekaligus membahas tanggal pernikahan.         "Sejujurnya, aku memiliki kekasih yang sangat kucintai, aku berencana menikahinya. Tapi Ayahku tidak setuju dengannya karna dia hanya gadis biasa. Jika aku menolaknya, maka namaku akan dicoret dari daftar penerima hak waris."         "Kau pikir aku mau menikah denganmu? Aku pun melakukannya hanya demi orang tuaku." balas Kim tak kalah dingin.           Awalnya gadis itu berniat akan mencoba belajar mencintai lelaki yang akan menjadi suaminya ini. Tapi, begitu mendengar pernyataan laki-laki itu bahwa ia memiliki kekasih yang sangat dicintainya, hatinya terasa sakit, secara tidak langsung ini adalah penolakan baginya.          Tiga bulan semenjak pertemuan keluarga, pernikahan Kim dan Mark dilangsungkan. Seminggu setelahnya, Kim mengetahui bahwa ternyata Mark masih berhubungan dengan mantan kekasihnya yang ia ketahui bernama Kate. Bahkan Kim dan Mark belum melakukan malam pengantin. Pernah sekali ia melihat Mark dan Kate pergi bersama dan saat itu ia melihat Mark tertawa begitu lepasnya. Tawa yang tak pernah Kim lihat selama ia tinggal bersama Mark. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menutup rapat-rapat hatinya untuk pria itu. Ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya, tak memikirkan hal lain selain karir, karir, dan karir. Mereka benar-benar seperti dua orang asing yang tinggal satu atap. Ingin rasanya Kim kabur jika saja ia tak memikirkan perasaan orang tuanya, namun ia tak ingin terjadi hal buruk kepada papanya.          Enam bulan setelah pernikahan, Kate pergi ke Inggris mendapatkan beasiswa melanjutkan studinya. Sepertinya hubungan mereka berakhir di hari itu. Sejak saat itu, Mark sering pulang malam dalam keadaan mabuk, bahkan beberapa kali pernah tak pulang ke rumah. Kim tidak buruk, ia gadis yang cantik dan sexy. Tapi entah mengapa Mark memang tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, meskipun Kate sudah meninggalkannya. Terlebih lagi ia selalu berpikir bahwa kehadiran gadis itu dalam hidupnya telah mengacaukan segalanya, rencana masa depan yang sudah ia atur bersama Kate.   * Kim POV         Di sela-sela pekerjaanku, sesekali aku melihat ke layar handphone, melihat apalagi yang diupdate di akunnya. Sudah beberapa hari ini, aku semakin sering 'kepo' akan setiap aktifitas lelaki bernama Dave itu, seolah menjadi makananku sehari-hari. Melihatnya seakan menjadi moodbooster bagiku. Rasa bibirnya masih saja teringat dengan jelas bagiku, meskipun saat itu aku dalam keadaan setengah mabuk dan sudah lewat sebulan yang lalu.         Apa aku sedang jatuh cinta? Apakah akan ada ciuman yang berikutnya?         'Ahh, Kim. Kau ini jangan terlalu banyak berkhayal!' ucapku dalam hati.         'Aku kan memiliki nomornya, apa ku telpon saja dia? Tapi apa yang harus kukatakan?'         "Daaarrrrrrr!!!"         "Apa yang sedang kau lamunkan, Kimmy? Sampai kau tak menyadari kehadiranku, padahal aku sudah ada disini sejak lima menit yang lalu." Erica tiba-tiba mengagetkanku, membuatku berlonjak dari posisiku yang sedang berpangku tangan.         "Sssshhhh... kau ini mengagetkanku saja, untung jantungku tidak copot."         Beeeppp.. beeeppp         Ada pesan singkat masuk.         Dave : Hi apa kabar? Ini aku Dave.         Mataku seakan mau copot membacanya. Tapi aku sembunyikan perasaan senangku karna ada Erica duduk di depanku.         "Sudah sudah, kau kembali bekerja sana. Aku sedang sibuk. Jangan sampai aku memberikan nilai buruk pada performancemu karna kau mengganggu atasanmu yang sedang sibuk ini." aku pura-pura mengetik sesuatu di laptop, sembari menyuruh Erica pergi dari ruanganku.         "Issshhh, aku tau kau hanya pura-pura sibuk." jawab Erica memutarkan kedua bola matanya. Tak lama iapun keluar dari ruanganku. Aku hanya tersenyum melihatnya kesal.         Setelah Erica keluar dari ruanganku, aku kembali mengambil handphoneku dan membalas pesan singkat Dave.         Kim : Ohh Hi. Kabarku baik. Ada apa kau menghubungiku?         Dave : Uumm.. bolehkah aku minta waktumu sebentar. Ada yang ingin kutanyakan, masalah detail product yang kemarin. Launching akan dilakukan minggu depan kan?         Oohh ternyata Dave menghubungiku hanya menyangkut pekerjaan. Raut wajahku berubah manyun.         Kim : Okay. Kapan kau ingin membahasnya?         Dave : Bagaimana kalau besok sore, kita bertemu di Starbucks dekat kantormu. Jam empat. How? Tapi itu kalau kau tidak ada acara, mungkin kau ada acara malam mingguan besok :p         Kim : Aku free besok. Okay, see you tomorrow. *         Aku sibuk memilih pakaian apa yang cocok untuk kukenakan nanti sore. Untungnya hari ini Mark sudah keluar rumah, ia ada pertemuan dengan teman-teman perkumpulan olahraganya, sehingga ia takkan keheranan melihat kehebohanku pagi ini. Tenis. Itulah olahraga favoritnya. Kadang-kadang ia sering menghabiskan hari Sabtunya untuk berolahraga dan bertemu dengan teman-temannya sesama pecinta Tenis.         Meskipun ini hanya meeting urusan pekerjaan, tapi aku ingin sekali terlihat maksimal dengan penampilanku. Aku bingung apakah harus memakai pakaian formil, casual, atau dress. Aku tak ingin terlihat aneh di depan Dave.         Aaahh... benar-benar membuatku sakit kepala memikirkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD